Hendra Wijaya bertahan empat tahun di neraka beku pasca-kiamat, hingga orang terdekat meracuninya. Ia terlahir kembali tiga bulan sebelum bencana—kini hafal jadwal gelombang panas, banjir, dan badai −50°C.
Kali ini ia bersiap di bunker mewah, sambil menyaksikan dunia saling bunuh. Cincin tembaganya mampu menyimpan kapal tanker, mengawetkan makanan, dan naik level via Lima Unsur. Ia borong logistik, bangun benteng, dan balas dendam pada perampas perusahaan serta pembunuh orang tuanya.
Namun kiamat ini bukan alamiah—ada konspirasi, Bestia, dan ras kuno dari Antartika. Hendra menjelma jadi senjata pamungkas umat manusia.
Pertanyaan: apa sebenarnya cincin itu, dan sejauh mana ia bisa naik—hingga jadi penguasa dunia baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Surya Mandala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2
Bab 002: Dendam yang Diam
Hendra kembali ke ruang rapat lima menit kemudian.
Tidak ada yang tahu apa yang baru saja terjadi di toilet eksekutif. Bagi mereka, Hendra hanya tampak lebih pucat daripada sebelumnya. Tangannya sudah bersih, jasnya rapi, dan cincin tembaga di jari manisnya terlihat kusam seperti benda tua biasa.
Om Rusli menyandarkan punggung ke kursi.
"Sudah lebih tenang?"
Hendra mengangguk kecil. "Sudah, Om."
Jawaban itu membuat beberapa komisaris saling pandang. Mungkin mereka mengira ia akhirnya patah. Bagus. Hendra membiarkan mereka berpikir begitu.
Pulpen masih berada di atas map hitam.
Hendra mengambilnya.
Saat ujung pulpen menyentuh kertas, ingatan kehidupan lalu melintas singkat. Dulu, tanda tangan ini terasa seperti pisau yang memotong urat nadinya sendiri. Sekarang, ia melihatnya dengan cara berbeda.
Ini bukan penyerahan.
Ini umpan.
Ia menulis namanya dengan tenang.
Hendra Wijaya.
Ruang rapat hening selama satu tarikan napas. Lalu Om Rusli tersenyum.
"Keputusan yang bijak."
"Saya hanya tidak ingin mempermalukan keluarga di depan dewan," jawab Hendra.
Kalimat itu terdengar rendah hati. Bahkan sedikit kalah.
Om Rusli tampak puas.
Handoko, di sisi lain, menatap Hendra sedikit lebih lama. Senyum pria itu tidak hilang, tetapi matanya menyipit.
"Kadang, anak muda baru terlihat matang saat berani melepas sesuatu," kata Handoko.
Hendra menutup map itu dan mendorongnya kembali. "Mungkin benar, Pak Handoko."
"Mungkin?"
"Saya masih belajar."
Om Rusli tertawa pelan. "Nah, itu baru sikap yang benar."
Hendra ikut tersenyum tipis.
Di dalam dadanya, rasa dingin itu diam.
Belajarlah tertawa dulu, Om.
Tiga bulan lagi, kau akan belajar mengetuk pintu.
Rapat selesai tidak lama setelah itu. Para komisaris pergi satu per satu, membawa dokumen, membawa rasa aman palsu, membawa keyakinan bahwa ahli waris muda keluarga Wijaya akhirnya bisa diatur.
Di koridor luar ruang rapat, Om Rusli menepuk bahu Hendra.
Sentuhan itu hampir membuat Hendra mual.
"Om tahu kamu kecewa," ujar Om Rusli. "Tapi nanti kamu akan paham. Semua ini demi menyelamatkan apa yang ditinggalkan ayahmu."
Hendra menatap tangan di bahunya.
Tangan yang sama pernah menabur bunga di makam ayahnya.
Tangan yang sama, jika semua fakta hidup lalu benar, juga ikut menutup jalan hidup ayahnya.
"Saya paham," kata Hendra.
Om Rusli tersenyum lebih lega. "Pulanglah. Istirahat. Jangan banyak berpikir. Besok kita bicarakan langkah berikutnya."
"Baik, Om."
Handoko berjalan melewati mereka. Sebelum masuk lift pribadi, pria itu berhenti sebentar.
"Pak Hendra."
Hendra menoleh.
"Anda lebih tenang dari yang saya duga." Handoko tersenyum ramah. "Itu bagus. Orang yang bisa menahan diri biasanya masih bisa dipakai."
Kalimat itu halus, tetapi maknanya jelas.
Masih bisa dipakai.
Di mata mereka, nilai Hendra berhenti di sana.
Hendra menunduk sedikit. "Terima kasih atas nasihatnya, Pak Handoko."
Pintu lift menutup.
Begitu angka lantai di atas lift bergerak turun, senyum di wajah Hendra menghilang.
Di dalam pantulan kaca koridor, ia melihat wajahnya sendiri. Tenang. Terlalu tenang.
Bagus.
Mulai sekarang, topeng ini harus dipakai sampai waktunya tiba.
Apartemen Hendra berada tidak jauh dari pusat kota. Bukan penthouse mewah seperti yang dibayangkan orang terhadap ahli waris Wijaya, hanya unit dua kamar di lantai tinggi. Setelah orang tuanya meninggal, banyak aset atas nama keluarga mulai "diurus" Om Rusli. Hendra dulu bahkan merasa bersyukur masih diberi tempat tinggal.
Sekarang, ia tahu itu bukan kebaikan.
Itu kandang yang nyaman.
Malam turun saat Hendra masuk ke apartemen. Ia mengunci pintu, menutup gorden, lalu mematikan sebagian lampu. Setelah memastikan tidak ada orang di luar koridor, ia melepas jas dan berdiri di tengah ruang tamu.
Di meja kecil ada gelas kaca, buku tebal, remote TV, dan vas keramik kecil.
Hendra mengangkat tangan kanan.
"Masuk."
Cahaya emas muncul singkat.
Gelas kaca lenyap.
Hendra memejamkan mata. Di dalam Ruang Penyimpanan, gelas itu diam, menggantung dalam kekosongan, utuh seperti saat masuk.
"Keluar."
Gelas kembali ke telapak tangannya.
Ia mencoba buku tebal.
Masuk.
Keluar.
Vas keramik.
Masuk.
Keluar.
Koper kosong di kamar.
Masuk.
Keluar.
Hendra mulai menguji ukuran. Kotak penyimpanan plastik bisa masuk. Kursi makan bisa masuk, meski memakan ruang lebih banyak. Meja lipat kecil juga bisa masuk, tetapi saat ia mencoba sofa ruang tamu, ruang itu terasa menolak. Kapasitas awalnya belum cukup longgar untuk benda terlalu besar.
Hendra tidak kecewa.
Justru ia lega.
Kapasitas awalnya memang terbatas, tetapi cukup untuk barang kecil dan menengah. Makanan, obat, emas, uang tunai, dokumen, senjata, amunisi, komponen mesin. Untuk tahap awal, itu lebih dari cukup.
Kapal tanker belum mungkin.
Tapi kapal tanker memang bukan pekerjaan hari ini.
Ia mengambil sebotol air mineral dari kulkas, membuka tutupnya, lalu menyimpannya ke Ruang Penyimpanan selama beberapa menit. Ketika dikeluarkan kembali, embun dingin di botol masih sama. Suhu tidak berubah.
Waktu benar-benar berhenti.
Hendra menatap botol itu lama.
Di kehidupan lalu, ia pernah membunuh dua orang demi setengah botol air hangat.
Sekarang, ia berdiri tiga bulan sebelum kiamat dengan ruang yang bisa menjaga jutaan botol tetap utuh.
Inilah bedanya.
Inilah alasan ia tidak boleh terburu-buru membalas dendam.
Dendam yang baik bukan hanya membuat musuh mati.
Dendam yang baik membuat musuh sadar bahwa sejak awal mereka tidak pernah memegang kendali.
Hendra masuk ke kamar kerja kecil. Di sana ada meja kayu sederhana, laptop lama, dan beberapa berkas pribadi yang dulu tidak pernah ia pedulikan.
Ia mengambil buku catatan kosong.
Di halaman pertama, ia menulis tanggal hari ini.
Lalu tiga baris besar.
Pertama: rebut hak saham.
Kedua: cairkan semua jadi uang.
Ketiga: timbun sebelum dunia runtuh.
Hendra berhenti sejenak, lalu menambahkan satu garis di bawahnya.
Om Rusli: pelaku.
Handoko: dalang.
Pengkhianat suaka: ditunda.
Baris terakhir itu membuat tangannya berhenti lebih lama. Wajah orang yang menyodorkan gelas beracun belum perlu ditulis hari ini. Orang itu masih jauh di masa depan, masih belum memakai gelar besar, masih belum membangun pasukan sendiri.
Tapi Hendra tidak akan lupa.
Satu wajah pun tidak.
Ia membuka laptop dan mulai membuat daftar kebutuhan.
Beras.
Mi instan.
Daging beku.
Air mineral.
Obat demam, antibiotik, vitamin, perban, antiseptik.
Genset diesel.
BBM.
Baterai litium.
Panel surya.
Pakaian termal.
Plat baja.
Beton.
Kamera CCTV.
Pencitra termal.
Kendaraan.
Senjata, kalau jalurnya sudah ditemukan.
Daftar itu panjang.
Sangat panjang.
Tapi untuk pertama kalinya sejak ia membuka mata di ruang rapat, Hendra merasa napasnya teratur.
Ia bukan lagi korban yang diseret arus.
Ia punya waktu.
Ia punya cincin.
Ia punya ingatan tentang semua bencana yang akan datang.
Dan ia tahu musuh-musuhnya.
Hendra menulis satu kalimat terakhir di bagian bawah halaman.
Jangan jelaskan. Jangan marah. Ambil semuanya.
Ia menatap kalimat itu, lalu menutup buku catatan.
Di luar jendela, Jakarta masih menyala. Lampu kendaraan mengalir di jalan raya. Orang-orang makan malam, belanja, tertawa, mengeluh soal macet, dan hidup seolah besok akan sama seperti hari ini.
Hendra berdiri di depan jendela, cincin tembaga dingin di jarinya.
Besok, ia akan mulai dari notaris.
Om Rusli mengira ia sudah menundukkan kepala.
Handoko mengira ia baru saja kehilangan langkah pertama.
Mereka salah.
Hari ini Hendra memang diam.
Tapi dendam yang diam biasanya bertahan paling lama.