Rian Prasetyo dapat sistem gila: rugi = uang pribadi.
Masalahnya, setiap kali dia mencoba bangkrut, bisnisnya malah meledak sukses. Gaji karyawan selangit? Mereka jadi super loyal. Jual murah-murah? Pelanggan membludak.
Bikin game asal? Jadi bestseller dunia. Semua orang yakin dia jenius. Padahal dia cuma mau rugi.
Dari sarjana pengangguran dengan Rp 15.000 di kantong, Rian terpaksa menjadi bos konglomerat terkaya se-Indonesia — dan dia BENCI setiap rupiahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18
Bab 018: Lingkaran Investor
Sejak media memanggilnya Dewa Saham, hidup Rian Prasetyo menjadi jauh lebih merepotkan.
Dulu, ia hanya perlu menyembunyikan Sistem Rugi.
Sekarang, ia juga harus menyembunyikan fakta bahwa Dewa Saham itu masih merasa sakit hati saat membeli air mineral mahal.
Di sebuah lounge privat di Jakarta, enam investor duduk mengelilingi meja panjang. Pak Budiman Hartono tenang seperti biasa. Pak Wahyu Santoso tertawa keras setiap kali membahas angka besar. Raka Wijaya duduk santai sambil memainkan ponsel. Pak Agung Permana, Pak Djoko Susanto, dan Pak Ferry Salim datang dengan gaya masing-masing.
Mereka menyebut pertemuan itu diskusi santai.
Bagi Rian, rasanya seperti sidang pengadilan yang semua hakimnya terlalu percaya pada terdakwa.
Di meja ada kopi mahal, air mineral dalam botol kaca, dan kue kecil yang harganya mungkin cukup untuk makan siang normal. Rian menatap semuanya dan secara naluriah menghitung berapa porsi Soto Ayam yang bisa dibeli dari satu piring kecil itu.
Lalu ia sadar: orang-orang di ruangan ini sedang menitipkan triliunan, sementara ia masih menghitung soto.
Perkembangan hidupnya benar-benar tidak sopan.
"Mas Rian masuk ke saham yang diremehkan bukan karena nekat," kata Pak Budiman. "Beliau membaca arah psikologi pasar."
"Betul," kata Pak Ferry cepat. "Data sosial setelah pembelian Garuda Emas menunjukkan lonjakan sentimen positif. Itu efek reputasi."
Pak Agung mengangguk. "Keberanian seperti itu jarang."
Pak Djoko tersenyum tipis. "Di properti juga begitu. Orang takut saat proyek bermasalah, padahal kadang nilai terbaik justru muncul di sana."
Rian yang baru saja mendengar kata properti langsung sedikit tegak.
Raka menangkap gerakan itu dan menyeringai.
"Bang Rian masih kepikiran Taman Hijau?"
Rian menyesap kopi untuk menyembunyikan semangatnya. "Saya hanya tertarik pada proyek yang sulit."
Semua investor mengangguk kagum.
Bagas yang duduk di sampingnya menunduk dan berbisik, "Kalimat lu selalu punya dua arti. Yang didengar orang cuma arti mahal."
Sebelum Rian sempat menjawab, seorang pria muda mendekat dengan wajah tegang. Ia memakai jas rapi, membawa tablet, dan matanya bersinar seperti orang baru menemukan guru hidup.
"Pak Rian," katanya, "maaf mengganggu. Nama saya Indra Sasmita. Saya trader saham."
Rian menatapnya. "Ada perlu?"
Indra menunduk cepat. "Saya mengikuti transaksi Bapak di IDX. Awalnya saya hanya penasaran. Setelah saya ikut beberapa posisi, portofolio saya naik besar. Saya sadar cara berpikir Bapak jauh di atas analisis biasa."
Rian merasa firasat buruk.
"Saya tidak berpikir sejauh itu."
Indra terdiam.
Lalu matanya makin bersinar.
"Luar biasa."
"Apa?"
"Kesederhanaan. Tidak terikat pada indikator rumit. Tidak terjebak ego analisis. Saya paham, Pak. Pasar bukan soal melihat lebih banyak, tapi melihat inti."
Rian membuka mulut.
Menutupnya lagi.
Bagas berbisik, "Selamat, Bos. Lu punya murid."
Indra membungkuk. "Izinkan saya belajar dari Bapak. Saya tidak minta jabatan. Saya hanya ingin berada di dekat proses berpikir Bapak."
Rian ingin berkata bahwa proses berpikirnya adalah memilih yang terlihat paling jelek.
Tapi di depan enam investor yang menatapnya seperti patung kebijaksanaan, ia hanya bisa berkata, "Kalau kamu mau membantu analisis risiko, silakan."
Indra langsung membuka tabletnya. "Saya sudah membuat ringkasan portofolio Bapak, termasuk volatilitas, volume, dan pola sentimen publik."
Rian melirik sekilas.
Grafiknya rapi.
Terlalu rapi.
Orang ini benar-benar profesional.
Bagas berbisik, "Bos, murid lu bawa PR sendiri."
Rian merasa satu beban baru lahir dengan sopan.
Indra tampak hampir menangis.
"Terima kasih, Pak Rian. Saya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan."
Pertemuan investor selesai dua jam kemudian dengan hasil yang membuat Rian lelah: sebuah daftar kontak resmi, jadwal pertemuan rutin, dan grup komunikasi yang diberi nama Lingkaran Garuda oleh Raka.
"Nama itu terlalu keren," kata Rian.
"Justru harus keren," jawab Raka. "Kalau grup investor namanya 'rapat biasa', auranya turun."
Pak Budiman bahkan meminta asistennya membuat ringkasan berkala untuk semua anggota. Dengan begitu, setiap keputusan Rian akan dibaca, dirapikan, lalu disebarkan sebagai bahan belajar.
Rian merasa seperti sedang membangun kuil untuk kesalahpahamannya sendiri.
Masalah lain datang dari Bagas.
"Bos," katanya saat mereka keluar dari lounge, "lu nggak bisa terus datang ketemu investor naik ojek online."
"Kenapa?"
"Karena lu sekarang Dewa Saham. Dewa Saham turun dari motor sambil nyari diskon ongkir itu merusak narasi."
Rian memegang dadanya.
"Itu uang pribadi."
"Justru karena uang pribadi, lu harus pakai buat mempertahankan wajah publik."
Kalimat itu menyakitkan karena masuk akal.
Hari berikutnya, Rian berdiri di sebuah showroom mobil sport, menatap Lamborghini bekas yang tetap terlihat terlalu mahal untuk manusia normal.
Sales tersenyum lebar.
Bagas tampak puas.
Rian tampak seperti menghadiri pemakaman saldo.
Mobil itu berwarna kuning menyala.
Terlalu terang.
Terlalu rendah.
Terlalu tidak cocok dengan jiwa Rian yang masih merasa Indomie adalah keputusan finansial penting.
"Ini perlu," kata Bagas.
"Aku tahu."
"Investor akan lebih percaya."
"Aku tahu."
"Lu jangan kelihatan seperti mau menangis."
"Aku sedang berduka."
Transaksi dilakukan dengan dana pribadi. Setelah itu, Rian juga membeli satu unit apartemen kecil di Jakarta, bukan yang paling mewah, tapi cukup layak untuk membuat wartawan berhenti menulis bahwa Dewa Saham masih tinggal seperti mahasiswa hemat.
Saldo pribadinya yang baru terasa hangat langsung menipis.
Rian berdiri di apartemen kosong itu dan menatap lantai.
Ia akhirnya punya rumah sendiri.
Ia juga merasa baru saja ditipu oleh reputasinya sendiri.
Apartemen itu tidak besar. Satu kamar tidur, satu ruang tamu kecil, dapur rapi, dan jendela yang menghadap gedung lain. Tapi dibanding kamar kos lamanya, tempat itu terasa seperti wilayah asing.
Rian meletakkan kunci di meja.
"Ini semua cuma demi citra," gumamnya.
Namun ketika membayangkan Bu Sri datang dan tidak perlu khawatir melihat dinding lembap, hatinya sedikit melunak.
Sore harinya, Raka membawa Rian dan Bagas ke lokasi Taman Hijau Lestari.
Perjalanan keluar dari pusat Jakarta membuat gedung kaca berubah menjadi jalan lebar, lalu kawasan setengah ramai, lalu tanah luas yang terasa ditinggalkan waktu.
Gerbang proyek berdiri miring.
Tulisan Perumahan Taman Hijau Lestari masih terlihat, tapi catnya mengelupas. Di balik pagar, deretan rangka beton berdiri tanpa jendela. Besi tulangan berkarat keluar dari lantai seperti tulang patah. Rumput liar menutupi jalan proyek. Beberapa alat berat tua dibiarkan mati di sudut.
Angin bergerak melewati bangunan kosong dan menghasilkan suara panjang, seperti napas orang yang terlalu lama menunggu.
Rian berjalan pelan.
Setiap langkah menginjak debu.
Di satu sisi, ia melihat papan lama berisi gambar rumah indah dan keluarga bahagia. Di sisi lain, kenyataannya hanya beton terbuka dan genangan air.
Raka membuka map. "Developer lama kabur. Ada lebih dari dua ribu pembeli yang sudah bayar uang muka. Sebagian masih menuntut. Sebagian menyerah. Hak tanahnya rumit, tapi bisa dibersihkan kalau ada dana dan tim hukum kuat."
Di dekat pos keamanan lama, seorang pria paruh baya memperhatikan mereka dari jauh. Raka menjelaskan bahwa beberapa pembeli lama kadang datang hanya untuk memastikan bangunan itu masih ada.
"Mereka tidak percaya lagi pada janji," kata Raka. "Kalau ada investor baru masuk, mereka pasti curiga dulu."
Rian melihat pria itu berdiri di depan pagar berkarat.
Di balik angka dan risiko, ada orang yang pernah menaruh harapan di tempat ini.
Itu membuat proyek ini terasa lebih berat.
Dan entah kenapa, lebih perlu diselesaikan.
"Biaya menyelesaikan proyek?"
Raka meniup udara. "Bisa beberapa triliun kalau mau benar-benar layak huni."
Mata Rian menyala.
Beberapa triliun.
Kata itu terdengar seperti musik.
Pak Djoko, yang ikut turun ke lokasi, berkata pelan, "Mas Rian, proyek seperti ini bukan cuma soal bangunan. Ada luka sosial. Kalau masuk, Anda harus siap menghadapi pembeli lama, notaris, izin, kontraktor, dan reputasi buruk."
Rian mengangguk makin puas.
Luka sosial.
Izin rumit.
Biaya besar.
Reputasi buruk.
Lengkap.
Bagas memandang wajahnya dan langsung curiga. "Bos, kenapa lu senyum?"
"Karena ini sulit."
"Sulit buat orang normal biasanya bukan kabar baik."
"Aku butuh yang tidak normal."
Rian naik ke salah satu rangka bangunan tertinggi dengan hati-hati. Dari sana, ia melihat seluruh kawasan: blok kosong, jalan belum selesai, pondasi setengah jadi, dan rumah-rumah beton yang menunggu seseorang cukup gila untuk menghidupkannya lagi.
Panel biru Sistem Rugi berkedip di depan matanya.
Rp 2.000.000.000.000.
Rian menarik napas.
"Raka."
"Ya, Bang?"
"Bantu saya cek seluruh hak tanah, daftar pembeli lama, utang proyek, dan siapa yang berwenang menjual. Saya mau membeli seluruh proyek ini."
Raka bersiul. "Bang Rian, lu tahu ini bisa makan uang berapa?"
Rian tersenyum.
"Semakin banyak, semakin baik."