NovelToon NovelToon
Sistem Informasi Mingguan

Sistem Informasi Mingguan

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Crazy Rich/Konglomerat / Fantasi
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Rachmat Rachimullah

Suatu malam, entah kenapa, muncul semacam notifikasi aneh di kepala Doni — seperti pesan sistem di game, tapi ini nyata. Sistem ini memberinya satu informasi akurat setiap minggu: bisa berupa saham yang akan melejit, barang langka yang harganya bakal meroket, atau peluang bisnis kecil yang menguntungkan. Masalahnya, modal Doni nyaris nol. Jadi cerita ini bukan tentang tiba-tiba kaya, tapi soal gimana Doni pelan-pelan memutar informasi terbatas jadi modal, sambil tetap kuliah, kerja part-time, ngurusin teman-teman kos yang berisik, dan menghindari kecurigaan orang-orang di sekitarnya kenapa dia tiba-tiba "beruntung" terus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachmat Rachimullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

proposal Dadakan

Sabtu-Minggu itu Doni habiskan hampir seluruhnya di depan laptop Herman, nyusun proposal riset soal potensi ekonomi desanya sendiri. Awalnya dia kira bakal gampang toh dia hidup di sana selama delapan belas tahun tapi begitu mulai nulis, dia sadar ada beda besar antara "tau" dan "bisa jelasin pake bahasa akademik yang masuk akal."

"Ini gimana ya nulis 'potensi agrikultur' biar kedengeran ilmiah, bukan cuma 'sawah Bapak gue lumayan subur'," gumamnya sambil garuk kepala, laptop menyala terang di kamar yang gelap jam sebelas malam.

Herman, yang lagi ngemil keripik sambil nonton video di HP, nyeletuk tanpa nengok.

"Tulis aja apa adanya, Don. Dosen kan pengennya jujur, bukan yang sok-sok ilmiah tapi ngarang."

"Lo tau dari mana soal begituan?"

"Nggak tau juga sih, asal ngomong doang."

Doni mendengus, tapi entah kenapa omongan asal Herman ada benarnya.

Dia mulai nulis ulang dengan gaya lebih jujur menceritakan gimana desanya bergantung sama musim tanam padi dua kali setahun, gimana banyak pemuda desa milih merantau karena penghasilan tani nggak menentu, dan gimana sebenarnya ada potensi olahan hasil pertanian kayak keripik singkong atau gula aren yang belum digarap maksimal karena keterbatasan modal dan akses pasar.

Semakin ditulis, semakin dia sadar proposal ini bukan cuma buat nyenengin Pak Hardianto, tapi juga refleksi dari apa yang selama ini dia pengen benerin dari kampung halamannya sendiri.

Senin siang, dengan map plastik biru berisi proposal yang dicetak di warnet dekat kampus karena printer di kos rusak dari semester lalu dan nggak pernah diperbaiki Doni berdiri di depan ruangan Pak Hardianto, jantung berdebar lebih kencang dari waktu nawar di lelang keris.

"Masuk," suara dari dalam terdengar datar seperti biasa.

Pak Hardianto membaca proposal itu dalam diam, sesekali mengangguk kecil, sesekali mengernyit, bikin Doni nggak bisa nebak arah penilaiannya sama sekali.

Doni duduk kaku di kursi, tangannya berkeringat dingin, sampai-sampai dia lupa kalau tadi udah janji sama diri sendiri buat kelihatan tenang.

"Data penduduk desa kamu ini sumbernya dari mana?" tanya Pak Hardianto akhirnya, menunjuk salah satu paragraf.

"Itu... perkiraan saya sendiri, Pak, berdasarkan yang saya lihat langsung. Saya belum sempat cek data resmi dari kantor desa."

"Berarti ini bukan riset, ini opini."

Doni menelan ludah, ngerasa proposalnya bakal ditolak mentah-mentah.

Tapi Pak Hardianto malah lanjut ngomong dengan nada yang sedikit melunak.

"Tapi opininya jujur dan kelihatan kamu paham betul kondisi lapangan, bukan sekadar copy-paste teori dari jurnal orang lain. Itu jarang saya temuin di proposal mahasiswa lain."

"Jadi... gimana, Pak?"

"Perbaiki bagian data, minta ke kantor desa kalau perlu telepon langsung. Sisanya, lumayan. Kamu bisa mulai bantu saya minggu depan, urus administrasi surat tugas dulu ke bagian akademik."

Doni nyaris melompat saking senengnya, tapi untung masih sempat nahan diri di depan dosen yang terkenal jaim itu. "Siap, Pak! Terima kasih banyak!"

Kabar itu langsung dia sebarin ke Sinta lewat pesan, saking nggak sabar pengen cerita ke orang yang selama ini paling sering nanya-nanya soal kesibukan anehnya belakangan ini.

"Sin, gue diterima jadi asisten riset Pak Hardianto!"

Balasan Sinta datang cepat, penuh emoji bertepuk tangan.

"WOY SERIUS?? Selamat, Don! Pantesan lo akhir-akhir ini rajin banget ke perpus. Kirain lo lagi PDKT sama pustakawan."

"Ngawur lo. Ini beneran usaha, Sin, bukan modal hoki doang kayak biasanya." jawab Doni

"Nah gitu dong. Btw, kapan-kapan cerita gimana caranya lo bisa deket sama dosen sekiller itu. Kudengar dari senior, mahasiswa yang berani deketin dia bisa dihitung jari."

Doni tersenyum sendiri baca pesan itu, nggak nyangka rasa bangga karena usaha sendiri ternyata jauh lebih memuaskan dibanding untung besar dari jaket vintage atau saham yang naik mendadak.

Ada rasa lega yang beda, lebih tenang, nggak dibarengi was-was takut ketauan orang.

Malam itu, sebelum tidur, Doni sempat kepikiran soal info sistem yang udah lama nggak muncul sejak kekalahan lelang keris minggu lalu jaraknya emang lebih panjang dari biasanya, entah karena kebetulan atau memang polanya berubah seiring dia makin sibuk sama urusan riset dan kuliah.

"Lagi istirahat kali sistemnya," gumamnya sambil terkekeh sendiri, ngebayangin ada semacam server sistem gaib yang lagi maintenance kayak aplikasi game.

Herman, yang kebetulan lewat mau ke kamar mandi, sempat denger gumaman itu dan berhenti sejenak.

"Lo ngomong sama siapa sih, Don? Akhir-akhir ini makin sering ngomong sendiri, jangan-jangan lo butuh liburan."

"Nggak, Man, cuma capek doang, kebanyakan mikir proposal."

"Ya udah, tidur gih. Besok lo mulai kerja asisten dosen kan? Jangan sampe telat gara-gara begadang mikirin hal aneh."

Doni mengangguk, mematikan lampu kamar, dan berbaring sambil menatap langit-langit yang samar diterangi cahaya lampu jalan dari luar jendela.

Ada kepuasan tersendiri malam itu bukan dari angka di rekening, melainkan dari rasa bahwa dia berhasil buka satu pintu lewat usahanya sendiri, terlepas dari sistem yang selama ini jadi andalan.

Tapi jauh di dalam hati, dia tetap penasaran, kapan dengingan khas itu bakal muncul lagi, dan info macam apa yang bakal dibawa selanjutnya.

1
Aisyah Suyuti
good
Wk Annuar
😍😍
Mamat Stone
🤩
Mamat Stone
🥰
Mamat Stone
/Proud/
Mamat Stone
/Smile/
Mamat Stone
/Sneer/
Mamat Stone
/Smirk/
Mamat Stone
/Determined/
Mamat Stone
/Angry/
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
/Casual/
RR: terimakasih banyak untuk supportnya, izinn namanya nanti saya masukan sebagai salah satu karakter di beberapa bab kedepan 😁🙏
total 1 replies
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
/Determined/
Mamat Stone
/Angry/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!