Dalam hidup Kyra, ia hanya ingin merasakan arti sebuah keluarga. Namun, keinginan sederhananya itu harus ia pendam, karena kedua orang tuanya tidak menginginkan kehadirannya yang dianggap sebagai pembawa sial.
Setelah banyaknya penderitaan, Kyra akhirnya melangkah keluar dari bayang-bayang trauma untuk menuntut balas pada orang tuanya yang telah membuangnya.
Namun, saat Kyra berhasil bertemu dan tinggal dengan kedua orang tuanya, ia justru dijadikan kambing hitam untuk menggantikan posisi sepupunya dalam sebuah pernikahan bisnis. Jebakan takdir ini justru dimanfaatkan Kyra sebagai senjata untuk menghancurkan keluarganya sendiri.
Bagaimana cerita selanjutnya? Apakah rencana balas dendam Kyra berhasil? Siapa pria yang harus Kyra nikahi? Mengapa kedua orang tua Kyra menganggap jika Kyra adalah pembawa sial?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19
Brian mengenakan tuxedo hitam, dipadukan dengan dasi kupu-kupu dan kemeja putih bersih yang membungkus dada bidangnya dengan sempurna. Rambut hitam tebalnya ditata rapi ke belakang, mempertegas garis rahangnya yang kokoh dan tampan luar biasa.
Brian berdiri dengan posisi tubuh yang sangat tegap, kedua tangannya tertaut santai di depan tubuhnya. Manik mata gelapnya yang setajam elang menatap lurus ke arah Kyra yang sedang melangkah pelan membelah lorong gereja.
Tidak ada kehangatan atau senyuman di wajah pria itu. Yang ada hanyalah aura dominasi yang sangat pekat, dingin dan penuh intrik. Papa Freddy menuntun langkah Kyra dengan senyum lebar yang dipaksakan ke arah para tamu, sementara Kyra melangkah dengan anggun, menatap balik manik mata Brian tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun.
Langkah demi langkah berlalu. Setiap detik terasa begitu lambat dan menegangkan, hingga akhirnya Kyra dan Papa Freddy tiba di anak tangga pertama menuju altar.
Brian melangkah turun satu anak tangga, berdiri tepat di hadapan Papa Freddy dan Kyra. "Tuan Muda Brian... saya serahkan putri kami, Kyra," tutur Papa Freddy dengan suara bergetar ramah dan menyerahkan jemari Kyra ke arah Brian.
Brian menatap tangan Papa Freddy sejenak dengan kilatan mata penuh penghinaan terselubung, sebelum akhirnya perlahan mengulurkan tangannya sendiri. Jemari Brian yang besar, hangat dan kokoh menyambut jemari Kyra.
Saat kulit mereka saling bersentuhan, Kyra merasakan sengatan dingin bercampur getaran aneh yang merambat cepat dari telapak tangannya hingga ke ulu hati. Cengkeraman jemari Brian begitu erat dan protektif, namun di saat yang sama terasa sangat mengikat, sebuah penanda bahwa Kyra kini sepenuhnya berada di dalam genggamannya.
Brian menarik pelan tangan Kyra untuk membimbingnya naik ke atas altar, membiarkan Papa Freddy kembali melangkah mundur untuk duduk di jajaran kursi terdepan bersama Mama Dania dan Nenek Fia yang menatap dengan binar keserakahan.
Keduanya kini berdiri berhadapan di depan pastor yang sudah siap dengan kitab suci di tangannya.
"Mempelai pria dan mempelai wanita, di hadapan Tuhan dan para saksi yang hadir malam ini, apakah kalian siap untuk mengikat janji suci pernikahan?" suara berat pastor bergema lembut memecah keheningan katedral.
Brian memiringkan sedikit kepalanya, menatap lurus ke dalam manik mata Kyra dari balik veil tipis transparan yang menutupi wajah gadis itu. Sudut bibir pria itu terangkat sangat tipis, membentuk sebuah seringai dingin yang hanya bisa ditangkap oleh Kyra seorang.
"Saya, Brian Sebastian Raymond... menerima engkau, Kyra Daniela Andreas, sebagai istri saya yang sah. Untuk saling memiliki dan menjaga, dalam suka maupun duka, kaya maupun miskin, sehat maupun sakit... hingga maut memisahkan kita," ucap Brian dengan suara baritonnya yang berat, tegas dan menggema sempurna di seluruh sudut ruangan tanpa ada keraguan sedikit pun.
Napas Kyra tertahan di tenggorokan. Gilirannya kini telah tiba, ia menarik napas panjang dan memantapkan pijakan kakinya di atas lantai marmer, lalu menatap lurus tanpa gentar ke dalam mata pria berbahaya yang kini resmi menjadi suaminya.
"Saya, Kyra Daniela Andreas... menerima engkau, Brian Sebastian Raymond, sebagai suami saya yang sah," sahut Kyra dengan suara yang tenang, jernih dan penuh ketegasan yang mengejutkan semua orang.
Pastor mengangguk penuh hikmat. "Atas nama Tuhan, saya nyatakan kalian berdua sah sebagai suami dan istri. Mempelai pria, Anda dipersilakan mencium mempelai wanita Anda,"
Keheningan melingkupi seluruh isi katedral, Brian melangkah satu tapak lebih dekat dan mengikis jarak di antara tubuh mereka hingga aroma parfum woody dan bergamot miliknya sepenuhnya menguasai indra penciuman Kyra. Kedua tangan Brian yang panjang perlahan terangkat, merogoh bagian bawah veil transparan Kyra, lalu mengangkat kain halus itu ke atas kepala Kyra secara perlahan.
Wajah cantik Kyra yang terpoles riasan sempurna kini sepenuhnya terekspos di bawah pendar lampu kristal gereja. Jemari Brian yang hangat menyentuh dagu Kyra, mendongakkan wajah gadis itu sedikit ke atas. Pria itu menundukkan tubuhnya, mendekatkan wajahnya hingga hembusan napas hangatnya menyapu bibir Kyra yang sedikit gemetar.
Sebelum bibirnya menyentuh bibir Kyra, Brian membisikkan sebuah kalimat yang sangat pelan, sebuah bisikan yang hanya bisa didengar oleh Kyra seorang di tengah riuh tepuk tangan para tamu undangan yang mulai membahana.
"Selamat datang, Nyonya Raymond...,"
Bisikan dingin itu bergesekan tipis di permukaan bibir Kyra, bagai hembusan angin dari jurang yang dalam. Belum sempat Kyra mencerna makna tersembunyi dari kalimat tersebut, Brian bergerak.
Cengkeraman di dagu Kyra menguat seketika, menghentikan segala gerakan dan sisa keraguan yang sempat berkecamuk di benak gadis itu. Bibir Brian menubruk bibirnya, ci*man itu bukanlah ci*man seremonial pernikahan yang manis, lembut atau sekadar formalitas di hadapan ratusan tamu undangan. Ci*man itu datang dengan penuh dominasi, menuntut dan terasa begitu beringas, seolah pria itu sedang menancapkan tanda kepemilikan mutlak atas jiwa dan raga Kyra.
Kyra terkesiap, matanya membelalak lebar di balik riasan wajahnya. Napasnya langsung tercekat saat lidah pria itu mendesak masuk, merangsek menguasai rongga mulutnya dengan gerakan yang sarat akan paksaan dan rasa haus yang tak bernama. Kyra sempat mencoba menarik kepalanya mundur, namun sebelah tangan Brian yang bebas dengan cepat melingkar erat di pinggang rampingnya dan merengkuh tubuh Kyra begitu rapat hingga tidak ada lagi celah udara di antara mereka berdua.
Para tamu undangan di dalam katedral bersorak pelan diiringi tepuk tangan meriah yang bergemuruh, keluarga Andreas yang duduk di jajaran kursi depan langsung bernapas lega dan mengira ci*man itu adalah bentuk gairah cinta dari sang pewaris Raymond kepada pengantinnya.
Hanya Nyonya Ivy di barisan seberang yang menyipitkan mata, menatap putranya dengan kilatan pandangan penuh arti yang sulit ditebak.
Bagi Kyra sendiri, detik-detik itu terasa seperti terseret ke dalam pusaran badai. Ci*man ganas Brian menyisakan rasa perih dan manis yang bercampur aduk, membakar sekujur saraf tubuhnya dan mengirimkan sengatan listrik yang membuat lututnya mendadak lemas.
Brian baru melepaskan bibirnya setelah beberapa detik yang terasa begitu panjang dan menyisakan deru napas hangat yang berkejaran di antara bibir mereka yang sedikit basah, pria itu menatap lurus ke dalam manik mata Kyra yang masih bergetar hebat, sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah seringai tipis penuh kemenangan.
"Apa kau suka, Nyonya Raymond? Kalau kau suka kita bisa melakukannya sepuasnya nanti malam," bisik Brian sekali lagi tepat di telinga Kyra dengan suara baritonnya yang serak, sebelum akhirnya ia menegakkan tubuhnya dan menggenggam erat tangan Kyra untuk menghadap ke arah para tamu yang berdiri memberikan penghormatan.
Bisikan Brian yang terlalu intim itu membuat wajah Kyra panas, dan ia mencoba untuk tetap tenang.
.
.
.
Bersambung.....
Sikap tegas suami melindungi, mendampingi, dan memvalidasi trauma sang istri dapat memulihkan rasa aman serta mempercepat proses pemulihan mental dan fisik korban...👍🏻👍🏼👍
Bagus,tu
Panggilan sederhana ini membawa dampak emosional yang luar biasa mendalam.
Perasaan hangat dan pemulihan jiwa yang hadir dalam momen tersebut merupakan pemulihan luka masa kecil.
Rasa sakit karena dibuang oleh ibu kandung sejak kecil perlahan terobati oleh penerimaan yang tulus.
Penebus kerinduan keinginan mendalam selama bertahun-tahun untuk mengucapkan kata "Mama" akhirnya terwujud.
Rasa tidak diinginkan di masa lalu digantikan oleh perasaan sangat dihargai.
Kehangatan dan rasa aman, akhirnya menemukan sosok ibu dan pelukan keluarga yang seutuhnya.
Status menantu lebur menjadi status anak kandung yang disayangi tanpa syarat.
Air mata yang keluar bukan lagi karena sedih, melainkan haru karena merasa berharga...🥴🥹🤧