Dulu kopilot yang satu kokpit dengannya. Lalu istri siri yang dibuang dengan selembar talak. Tapi Anindya kembali—terbang lagi ke maskapai sang Kapten yang mencampakkannya, sambil menyimpan rahasia: dia pemilik Klub Enggar dan pewaris Grup Wicaksana. Ibunya dibunuh ibu tiri dan saudari tirinya. Amara cuma pramugari di kabin; hanya Anindya yang duduk di kokpit. Kini sang Kapten berlutut, menyesal… terlambat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21
Bab 21
Kau Tidak Boleh Pergi
“Aku membencimu, Arka.”
Hujan berderak di jendela ujung koridor. Arkana berdiri di ambang pintu, seolah tiga kata itu telah menghapus kemampuan tubuhnya untuk bergerak.
Anindya tetap memegang daun pintu dengan tangan kiri. Perban putih di tangan kanannya mulai ternoda titik merah kecil.
“Saya pantas mendapatkannya,” kata Arka.
“Kalau begitu, berhenti meminta jawaban yang membuat Anda merasa lebih baik.”
Arka menunduk pada perban itu. “Darahnya merembes.”
“Saya bisa menggantinya.”
“Tekan lebih lama. Kalau tidak berhenti, hubungi petugas medis.”
“Saya tahu.”
Ia mengangguk. Untuk sesaat, Anindya mengira ia akan pergi.
Lalu pengeras suara hotel menyala. Petugas mengumumkan bahwa akses jalan masih ditutup karena genangan bertambah. Para tamu diminta tetap berada di kamar sampai pembaruan berikutnya. Lift hanya digunakan untuk kebutuhan mendesak.
Arka mengangkat wajah. “Kamu tidak boleh pergi malam ini.”
Tubuh Anindya langsung kaku. “Anda tidak berhak menentukan ke mana saya pergi.”
“Bukan itu maksud saya.” Arka mundur satu langkah dari pintu. “Jalan masih ditutup. Jangan mencoba pulang sendiri hanya karena tidak ingin berada di gedung yang sama dengan saya.”
“Saya tidak sebodoh itu.”
“Saya tahu. Saya sedang takut dan mengatakannya dengan cara yang salah.”
Anindya memandang jarak yang sengaja ia buka. “Kamar Anda di lantai tujuh.”
“Saya akan ke sana.”
“Dan Anda tidak akan menunggu di depan pintu saya.”
“Tidak.”
“Tidak akan menelepon setiap lima menit.”
Rahang Arka mengeras, tetapi ia mengangguk. “Saya hanya minta satu pesan kalau perdarahannya berhenti.”
“Saya akan mengirim laporan kepada dokter penerbangan dan Fajar sebagai perwakilan perusahaan. Anda bisa membaca status tugas saya lewat jalur kerja.”
Penolakan itu begitu tepat sampai tidak menyisakan alasan pribadi.
“Baik.”
Anindya mulai menutup pintu.
“Nindya.”
Ia berhenti, menyisakan celah sempit.
“Saya akan mengakhiri seluruh pembicaraan keluarga tentang Amara secara resmi. Kamu tidak perlu percaya sekarang. Saya hanya ingin kamu tahu sebelum mendengarnya dari media.”
“Lakukan dengan nama Anda sendiri. Jangan bawa nama saya.”
“Saya mengerti.”
Pintu tertutup.
Di dalam kamar, Anindya menyandarkan punggung pada kayu. Lututnya hampir kehilangan tenaga. Ia menekan perban seperti yang dikatakan Arka, marah karena nasihat itu benar, lebih marah lagi karena suara laki-laki itu masih bisa membuat dadanya sakit.
Tiga tahun tidak menghilang hanya karena talak dijatuhkan. Kebiasaan tubuh menyimpan hal-hal yang sudah ditolak pikiran. Cara Arka mencuci tangan sebelum merawat luka, cara ia berhenti ketika diminta, bahkan koreksi kecil dari duduk menjadi tolong, semuanya menyeret Anindya kembali pada versi laki-laki yang dulu ia cintai.
Namun cinta yang hanya lembut di kamar dan diam di depan keluarga bukan perlindungan.
Ia mengganti perban, memotret luka, lalu mengirim laporan singkat kepada dokter penerbangan. Setelah perdarahan berhenti, ia tidak mengirim pesan pribadi kepada Arka.
Di lantai tujuh, Arka duduk di tepi ranjang dengan pakaian masih lembap. Ponselnya menampilkan pembaruan operasional dari Fajar: Bu Anindya telah melaporkan cedera ringan, tidak ada tugas terbang keesokan hari, evaluasi lanjutan menunggu pagi.
Itu cukup untuk memastikan ia aman.
Tidak cukup untuk menenangkan apa pun.
Arka membuka dompet, melihat kantong kecil tempat cincin Anindya disimpan, lalu menutupnya lagi. Ia tidak berhak memakai benda itu sebagai jembatan. Besok ia harus mulai dengan sesuatu yang tidak meminta balasan: menghentikan kebohongan tentang pernikahan dengan Amara.
Menjelang subuh, hujan melemah. Petugas jalan membuka satu jalur setelah air surut di bawah batas aman. Pengemudi rombongan mengabarkan bahwa ia hanya tidur singkat dan menyarankan keberangkatan ditunda sampai terang.
Arka menunggu di lobi, bukan di depan kamar Anindya.
Ketika Anindya turun, ia telah mengganti pakaian dan membungkus perban dengan pelindung tipis. Ia berhenti saat melihat Arka.
“Pengemudi kita belum cukup istirahat,” katanya sebelum Arka berbicara. “Saya memesan kendaraan hotel dengan dua pengemudi.”
“Saya bisa membawa mobil kedua.”
“Anda juga tidak tidur.”
Arka menerima teguran itu. “Kalau begitu kita gunakan kendaraan hotel. Saya duduk di depan. Kamu di belakang.”
Anindya mempertimbangkan. Kendaraan tersebut resmi, pengemudinya bergantian, dan rute telah diverifikasi petugas hotel. Menolak hanya demi menghindari Arka akan bertentangan dengan keputusan keselamatan yang ia tuntut dari orang lain.
“Baik,” katanya. “Turunkan saya di Klub Enggar.”
Perjalanan menuju SCBD berlangsung dalam diam. Arka duduk di kursi penumpang depan seperti janjinya. Ia tidak menoleh berulang kali. Anindya memperhatikan kota yang basah dari balik kaca, mencoba meyakinkan diri bahwa jarak satu baris kursi cukup untuk mengembalikan ketenangan.
Di lampu merah pertama, ponsel Arka bergetar. Fajar telah mengirim rancangan jadwal rapat pagi. Arka membalas dengan tiga instruksi: batalkan pertemuan keluarga tentang pertunangan, minta tim komunikasi menyiapkan pernyataan fakta tanpa menyebut Anindya, dan jadwalkan pembicaraan langsung dengan Ratna sebelum siang.
Ia memperlihatkan layar itu dari kursi depan tanpa menyerahkan ponselnya.
“Saya tidak meminta bukti,” kata Anindya.
“Saya tahu. Saya hanya tidak ingin kamu mengira ucapan tadi akan hilang setelah hujan berhenti.”
“Pernyataan publik tidak menghapus talak.”
“Tidak. Itu hanya menghentikan kebohongan baru.”
Anindya kembali menatap jendela. Ia tidak berterima kasih. Arka pun tidak memintanya.
Beberapa kilometer berikutnya, Arka menerima balasan singkat dari Fajar bahwa semua instruksi dicatat. Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa sedang melakukan sesuatu demi memenangkan Anindya. Ia sedang membersihkan akibat keputusan yang memang menjadi tanggung jawabnya sendiri.
Matahari baru muncul ketika kendaraan berhenti di depan Klub Enggar.
Enggar sudah menunggu di bawah kanopi. Tatapannya jatuh pada perban Anindya, lalu berpindah kepada Arka yang turun dari pintu depan.
“Bu Anindya,” sapanya pelan.
Arka mendengar. Anindya melihat perubahan kecil di wajahnya, tetapi tidak memberi penjelasan.
“Hanya luka kaca,” kata Anindya kepada Enggar. “Sudah dilaporkan.”
Enggar menatapnya, meminta jawaban lain tanpa kata. Apakah Arka memaksa? Apakah ia perlu dipisahkan?
Anindya menggeleng tipis.
Arka berdiri di sisi kendaraan. “Saya akan kembali setelah menyelesaikan urusan yang seharusnya sudah lama saya selesaikan.”
“Jangan datang tanpa janji,” jawab Anindya.
“Saya akan meminta janji.”
Itu bukan janji untuk mengambilnya kembali. Setidaknya, belum. Arka masuk ke kendaraan dan pergi.
Anindya baru mengembuskan napas setelah mobil menghilang di tikungan. Tubuhnya bersandar sesaat pada tiang kanopi, lalu segera tegak lagi.
Enggar mendekat. “Ada dua orang yang sejak kemarin menanyakan jadwal Anda. Mereka memakai perantara acara seni, tapi jalurnya mengarah ke orang Amara.”
“Biarkan Sisi lanjut mencatat.”
“Mereka juga mendapat kabar Anda dan Pak Arkana menginap di hotel yang sama.”
Anindya memandang pantulan pagi pada pintu kaca Klub Enggar. Senyumnya hilang, digantikan ketenangan dingin.
“Kalau begitu, sudah waktunya Amara melihat hanya apa yang kita pilih untuk ia lihat.”