Selama sua tahun, Kiara menjalin hubungan dengan Vino, hubungan mereka berjalan dengan sangat baik, bahkan sampai bertunangan. Namun tiga bulan terakhir semua perhatian Vino beralih kepada wanita bernama Shela. Wanita yang katanya adalah keponakan Vino yang baru datang. Kiara meredam cemburu, menelan kekecewaan, dan terus percaya bahwa cinta bisa mengalahkan segalanya.
Namun, pengorbanan ada batasnya. Kebohongan yang terus dikemas rapi akhirnya terkuak saat Kiara menemukan fakta bahwa kedekatan Vino dan Sheila melampaui ikatan keluarga yang selama ini digembar-gemborkan. Di titik itulah Kiaramenyadari, dia bukan sekadar dikhianati, melainkan tak pernah benar-benar dijadikan yang utama.
Tanpa amarah yang meledak-ledak, Kiara memilih meletakkan kembali seluruh perasaannya. Dia mengembalikan semua kenangan dan melangkah pergi. Saat Vino akhirnya tersadar dan mencoba mengejar, Kiara hanya menyisakan satu kenyataan dingin. Masa berlaku cintanya telah habis, dan tidak ada kesempatan kedua
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kiara 28
Jam lima sore lewat sedikit, ketukan pelan di kaca meja kerja Kiara menyentakkannya dari tumpukan dokumen akuisisi. Ia mendongak dan menemukan Gabriel berdiri di samping mejanya dengan mantel hitam terlipat rapi di lengan kiri.
"Sore pertama yang sangat padat, bukan?" tanya Gabriel dengan senyum tipis.
"Sangat padat, Pak. Selain memeriksa jadwal rapat internasional Bapak untuk seminggu ke depan, saya juga menyempatkan diri beradaptasi dengan ritme kerja kantor pusat."
Gabriel menaikkan satu alisnya, tertarik. "Begitu? Dan bagaimana kesan pertamamu tentang atmosfer di gedung ini?"
"Jauh lebih cepat dan dinamis dibanding kantor cabang, Pak," jawab Kiara jujur sembari menata berkas-berkasnya.
"Tadi siang saat makan siang di kantin lantai bawah, saya sempat berkenalan dengan Nadia dari divisi Marketing. Dia banyak memberi saya gambaran umum tentang peta politik internal dan kultur kerja di sini. Juga ada Raka.
Gabriel terkekeh pelan, menyilangkan kedua tangannya di dada. "Nadia? Dia memang informan yang handal untuk urusan seluk-beluk kantor pusat. Baguslah kalau kamu cepat membaur. Tapi, bagaimana impresimu sendiri sejauh ini?"
"Semuanya sangat profesional," tutur Kiara mantap. "Lingkungan yang fokus pada hasil, tanpa drama yang tidak penting. Ini persis seperti yang saya butuhkan."
"Senang mendengarnya," sahut Gabriel. Ia kemudian melirik koper ukuran sedang yang masih bersandar di sudut meja resepsionis Kiara.
"Kopermu masih di sini. Kamu belum ke apartemen dari kemarin?"
"Saya baru tiba pagi ini dan langsung ke kantor, Pak..." Gabriel mengangguk.
"Sudah selesai membereskan barang-barangmu, Kiara?" tanya Gabriel ramah, bersandar santai pada bingkai pintu.
"Sudah hampir selesai seluruhnya, Pak Gabriel. Terima kasih banyak atas fasilitas apartemen untuk saya," jawab Kiara tulus.
"Tapi kalau boleh saya tahu, kenapa Bapak memilihkan unit yang tepat di sebelah unit Bapak? Apa ini tak terlalu berlebihan, pak? Karena saya menempati hunian dengan fasilitas yang sama dengan anda..."
Gabriel tersenyum tipis, matanya memancarkan ketegasan yang tak membingungkan.
"Efisiensi. Sederhana saja, Kiara."
"Ini bukan fasilitas percuma, Kiara. Ini bagian dari strategi kerja kita," tegas Gabriel, suaranya berubah menjadi mode eksekutif yang dingin namun rasional. Ia menopang kedua tangannya di atas meja Kiara, menatap langsung ke manik matanya.
"Saya menempatkanmu di unit persis di sebelah unit saya. Besok pagi, saya akan membongkar kebocoran anggaran senilai puluhan miliar di tiga divisi utama. Perombakan total. Kita akan berhadapan dengan orang-orang lama yang tidak akan menyukai kehadiran saya dari London."
Kiara sedikit mundur duduknya, namun tetap mendengarkan dengan penuh perhatian.
"Kerja kita tidak akan mengenal jam kantor standar 9 to 17," lanjut Gabriel mendetail.
"Akan ada malam-malam di mana kita harus membedah laporan audit rahasia hingga subuh. Saya tidak mau membuang waktu satu atau dua jam hanya untuk menunggu kamu menembus kemacetan Jakarta saat ada dokumen darurat yang harus ditandatangani. Tinggal di sebelah unit saya adalah keputusan paling efisien untuk mobilitas dan keamanan berkas kita."
Kiara tertegun. Keputusrasionalan Gabriel benar-benar presisi. Pria ini tidak menawarkan kasihan atau niat terselubung, ia menawarkan efisiensi eksekusi kerja.
"Apakah ada syarat tertentu untuk penggunaan unit ini, Pak?" tanya Kiara memastikan.
"Hanya satu," jawab Gabriel singkat.
"Saat kita berada di luar gedung kantor ini, di koridor apartemen atau ruang santai lepaskan panggilan 'Pak'. Panggil saya Gabriel. Saya tidak butuh hierarki yang kaku saat kita sedang memeras otak membedah kecurangan para direksi senior."
Kiara menatap kartu akses di tangannya, lalu mengangguk mantap. "Diterima, Pak Gabriel. Terima kasih atas fasilitasnya. Saya pastikan keputusanmu tidak salah."
"Bagus. Ambil kopermu, driver kantor sudah menunggu di basement untuk mengantar kita berdua," kata Gabriel seraya berbalik. "Oh ya, satu hal lagi, Kiara..."
Gabriel menoleh sedikit di ambang pintu keluar.
"Siapkan mentalmu untuk besok pagi. Ruang rapat lantai ini akan menjadi medan perang."
Langkah sepatu bertumit tinggi Kiara berdetak teratur di sepanjang koridor bernuansa marmer hitam menuju area lift eksekutif. Di sampingnya, Gabriel berjalan tenang membawa koper sedang milik Kiara dengan santai, mengabaikan fakta bahwa ia adalah seorang pimpinan tinggi di gedung itu.
"Biar saya bawa sendiri kopernya, Gabriel," bujuk Kiara sungkan saat mereka menunggu pintu lift terbuka.
Gabriel menggeleng pelan tanpa menghentikan pandangannya dari angka lantai yang terus menurun. "Di luar ruang rapat, kita adalah tim. Dan mengangkat koper ini bukan bagian dari job description kamu sebagai asisten pribadi."
Pintu lift berdenting dan terbuka halus. Di dalam kabin yang berdinding cermin mengilat, atmosfer mendadak terasa hening. Kiara memanfaatkan momen itu untuk memperhatikan refleksi pimpinannya. Gabriel memancarkan ketenangan yang matang, sangat berbeda dari kepribadian Vino yang kekanak-kanakan dan haus akan pengakuan.
"Tadi kamu menyebut nama Raka saat di kantin," ujar Gabriel memecah keheningan saat lift meluncur ke lantai basement. "Dia dari bagian Keuangan, kan?"
"Betul, Gabriel. Raka dari bagian Keuangan," jawab Kiara cepat.
"Nadia yang mengenalkannya pada saya saat kami makan siang tadi. Raka cukup terbuka dan memberi sinyal bahwa dia juga merasa ada beberapa kejanggalan dalam alur pencatatan laporan di divisinya, tapi dia tidak punya posisi untuk bersuara."
Gabriel menaikkan alisnya, tampak sangat tertarik.
"Menarik. Kalau Raka di bagian Keuangan punya integritas dan mau kooperatif, dia bisa jadi kunci penting kita. Kita sangat membutuhkan akses data bersih dan informasi internal dari divisinya saat audit dimulai besok pagi. Orang-orang lama di sana pasti sudah menyiapkan pertahanan kokoh untuk menutupi jejak mereka."
Ting.
Pintu lift terbuka di lantai basement. Mobil sedan hitam mewah dengan kaca gelap sudah menunggu tepat di depan lobi lift. Seorang pengemudi berseragam rapi langsung keluar, memberi hormat, dan dengan sigap membukakan pintu serta memasukkan koper Kiara ke bagasi.
"Ke The Royale Executive Residence, Pak?" tanya pengemudi begitu mereka berdua sudah duduk rileks di kursi belakang yang lapang.
"Iya, Pak Mamat. Lewat tol saja supaya tidak terjebak macet," instruksi Gabriel.
Mobil pun melaju mulus membelah keremangan sore Jakarta Selatan. Di dalam kabin mobil yang senyap, Kiara membuka iPad kerjanya, memeriksa kembali poin-poin penting dari dokumen audit awal yang sempat ia baca sekilas.
"Kamu tidak mau beristirahat dulu, Kiara?" tanya Gabriel, melirik layar iPad yang memantulkan bayangan deretan angka di kacamata Kiara.
"Perjalananmu dari luar kota dan hari pertama kerja pasti cukup menguras energi."
"Saya justru merasa berenergi, Pak Gabriel," sahut Kiara tanpa mengalihkan pandangannya.
"Meneliti pola angka-angka fiktif ini jauh lebih menarik daripada membiarkan pikiran saya mengawang-awang. Lihat ini... di Divisi Operasional, ada selisih pengadaan barang yang berulang setiap tiga bulan dengan nilai yang selalu sama, dan lembar verifikasinya berasal dari bagian Keuangan tempat Raka bekerja."
Gabriel mencondongkan tubuhnya mendekat ke arah Kiara untuk melihat lembar kerja yang ditunjuk jari Kiara. Wangi maskulin yang tipis dan elegan dari parfum Gabriel tercium samar, membuat Kiara sempat menahan napas sejenak sebelum kembali fokus.
"Tepat di situ," bisik Gabriel, jarinya ikut menunjuk angka di layar.
"Itu alur pencairan dana ke vendor cangkang. Besok pagi, pertanyakan poin ini di depan Direktur Keuangan, lalu perhatikan respons mereka. Kita lihat apakah informasi dari Raka dan data ini makin mengunci mereka."
"Dengan senang hati," jawab Kiara mantap. Senyum percaya diri terukir di wajahnya.
"Saya akan pastikan angka-angka ini memojokkan mereka tanpa memberi ruang untuk mengelak."
Gabriel menatap Kiara sejenak, senyum tipis mengembang di bibirnya.
"Kamu tahu, Kiara? Saat Human Resources menyodorkan beberapa kandidat, profilmu paling menyita perhatian saya. Dan malam ini, kamu membuktikan bahwa pilihan saya tidak salah."
"Terima kasih atas kepercayaannya," balas Kiara tulus.
"Saya hanya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini."
atasan dan rekan kerja well come dengan kedatangan kamu, Kiara.Semoga kesuksesan kamu ada di sini dan menemukan jodoh yang setia.
lingkungan baru n suasana baru, org² baru
nanti km ketularan rabies ,,