Yasmin Nayara, seorang gadis dengan albinisme yang membuatnya selalu menjadi sorotan negatif—dari orang-orang yang takut dan menghindar, hingga keluarga pamannya yang memperlakukannya begitu buruk. Bahkan, Yaya dijadikan pelunas hutang untuk dinikahkan dengan seorang juragan kaya yang memiliki banyak istri.
----------
Tak mampu menanggungnya, Yaya kabur di hari pernikahannya dan merantau ke kota dengan bermodalkan nekat.
Namun takdir punya jalan lain. Di hari pertamanya di kota, Yaya hampir diperkosa oleh seorang pria dalam pengaruh obat, yang ternyata adalah Baskara Narendra yang sedang dijebak rekan bisnisnya.
Baskara yang kalap menarik Yaya ke dalam mobilnya untuk melakukan sesuatu yang tidak semestinya. Namun aksi Baskara itu dipergoki Warga dan dipaksa menikah secara mendadak.
----------
Apa yang akan terjadi pada hubungan tak terduga ini di tengah perbedaan latar belakang dan masa lalu yang menyakitkan? Apa lagi Baskara terkenal dingin dan pemarah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon QueenMardhiah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Beban Di Hati
Langkah kaki Yasmin terasa begitu berat, seolah ada beban ratusan kilogram yang menindih punggungnya. Matanya yang semula berbinar penuh harap kini telah berubah menjadi redup dan basah oleh air mata. Setiap kali ia melintas di depan cermin atau kaca toko, ia bisa melihat bayangan dirinya sendiri, wanita kecil yang pucat, berjalan tertunduk dengan bahu yang terlihat rapuh di tengah keramaian yang megah.
Roy berjalan beberapa langkah di belakangnya, menjaga jarak sesuai permintaan sebelumnya, namun tatapannya penuh dengan rasa bersalah dan iba. Ia ingin berkata sesuatu, ingin menghibur atau membesarkan hati gadis itu, tapi mulutnya terasa terkunci rapat. Ia sadar betul, sebagai bawahan, ia tidak berhak ikut campur atau menenangkan keadaan yang sudah diperintah langsung oleh tuannya. Ia hanya bisa diam dan mematuhi perintah.
Akhirnya, mata Yasmin tertuju pada sebuah butik yang menjual busana muslimah. Tampilannya elegan dan sangat terjamin kualitasnya, namun saat ia melirik sekilas ke arah label harga yang terpampang, jantungnya kembali berdegup kencang bukan main. Angka yang tertera di sana bahkan melebihi jumlah uang tunai yang ia bawa di dalam tasnya.
'Ini semua uang Pak Baskara... Ini bukan uangku... Aku tidak punya pilihan... Aku harus membeli ini supaya tidak diusir...' batin Yaya berulang-ulang mencoba meyakinkan dirinya sendiri, meski hatinya menjerit kesakitan.
Dengan tangan yang masih gemetar, Yasmin meraih sebuah gamis berwarna soft blue yang bahannya terasa sangat halus dan adem saat disentuh, juga beberapa lembar hijab. Di sebelahnya, ia juga mengambil sebuah mukenah putih dengan bordiran yang sangat indah. Barang-barang itu memang sangat bagus dan layak, namun setiap detik rasanya seperti menyiksanya.
"P-Pak Roy..." panggil Yasmin pelan tanpa menoleh.
"Ya, Nona?" jawab Roy sigap.
"Saya... saya ambil ini saja. Tolong... tolong bayarkan," ucap Yasmin terbata-bata, suaranya terdengar parau karena sering menahan tangis. Ia menyerahkan barang-barang itu kepada Roy seolah menyerahkan sesuatu yang sangat berharga dan berat.
Di kasir, saat Roy menggesekkan kartu kredit atau membayarkan tagihan yang nilainya fantastis itu, Yasmin hanya bisa menunduk mematung. Ia tidak berani melihat struk pembayaran yang keluar dari mesin. Rasanya, setiap lembar uang yang keluar itu seolah menggores luka baru di hatinya. Ia merasa seperti pemeras, merasa seperti wanita tidak tahu malu yang tega menghamburkan harta orang lain hanya demi bertahan hidup.
Setelah selesai, mereka keluar dari toko itu dengan kantong belanja yang terlihat mewah di tangan Roy. Namun, bagi Yasmin, kantong itu terasa seperti beban dosa yang harus ia pikul.
Perjalanan pulang menuju apartemen terasa begitu hening dan mencekam. Di dalam mobil mewah itu, Yasmin hanya duduk menempel di jendela, menatap kosong ke arah jalanan kota yang mulai ramai oleh kendaraan. Pemandangan indah kota sama sekali tidak mampu menarik perhatiannya. Pikirannya kacau balau, terus menerus memutar ulang kata-kata pedas Baskara tadi.
'Gadis bodoh... Tidak tahu diri... Istri siri...'
Semua kalimat itu terus bergema di kepalanya, menusuk-nusuk hatinya tanpa ampun. Air mata yang tadi sempat berhenti, kini kembali menetes perlahan membasahi pipinya, meninggalkan jejak basah di kaca jendela mobil. Ia merasa begitu kecil, begitu hina, dan begitu tidak berdaya.
Sesampainya di lobi apartemen, Roy membantu membawakan barang belanjaan hingga ke depan pintu unit tempat mereka tinggal.
"Terima kasih, Pak Roy," ucap Yasmin pelan, masih dengan wajah tertunduk.
"Sama-sama, Nona. Silakan masuk. Saya akan pulang sekarang. Silahkan hubungi Saya jika ada keperluan." jawab Roy sopan, lalu berpamitan dan meninggalkan Yasmin sendirian di depan pintu.
Dengan tangan gemetar, Yasmin memasukkan kode keamanan dan membuka pintu. Suasana apartemen yang megah dan mewah itu kini terasa begitu asing dan dingin baginya. Tidak ada lagi rasa hangat seperti pagi tadi. Yang ada hanyalah rasa takut dan rasa tidak pantas.
Ia meletakkan tas kecil berisi sisa uang maharnya dan kantong belanjaan itu di atas meja ruang tamu dengan hati-hati. Matanya menatap benda-benda mewah itu tanpa rasa senang sedikitpun. Justru, pemandangan itu membuatnya semakin teringat akan hinaan suaminya.
"Apa memang aku seburuk dan sehina itu di mata Pak Baskara...?" bisik Yasmin pelan di dalam keheningan ruangan, suaranya bergetar menahan isak tangis. "Aku hanya ingin hemat... tidak mau menyusahkan... Tapi kenapa harus dihina seperti ini..."
Dadanya terasa sesak sekali. Rasa sakit karena kata-kata Baskara tadi benar-benar menganga lebar, jauh lebih perih daripada luka fisik manapun. Ia berjalan gontai menuju kamar, lalu merebahkan dirinya di tepi ranjang, memeluk bantal erat-erat, dan akhirnya membiarkan tangisnya pecah sepuasnya, sendirian dalam kesedihan yang mendalam, sambil terus bertanya-tanya apakah dirinya bisa bertahan lama dalam posisi yang begitu menyakitkan ini.
*****>>>{}<<<*****
Waktu menunjukkan pukul dua belas siang, azan Dzuhur berkumandang. Yasmin segera mengambil mukenah putih yang baru saja dibelinya tadi. Dengan hati-hati ia memakainya, merasakan tekstur kain yang begitu halus dan lembut menyentuh kulitnya. Ini kali pertamanya sholat dengan mukenah yang utuh dan indah, bukan lagi menggunakan selimut atau kain seadanya seperti kemarin.
Meski hatinya masih terasa perih, ia berusaha menenangkan diri. Ia menata sajadahnya, berwudhu, lalu memulai sholat empat rakaat dengan khusyuk. Setiap gerakan dan bacaan ia lanturkan dengan penuh harap, seolah ingin melepaskan semua beban dan kesedihannya kepada Sang Pencipta.
Setelah salam, Yasmin tidak langsung bangkit. Ia tetap dalam posisi duduk, mengangkat kedua tangannya, dan mulai berdoa dengan suara bergetar namun penuh ketulusan.
"Ya Allah... Yang Maha Mengetahui isi hati..." bisiknya pelan.
"Jika memang menjadi istri siri Pak Baskara adalah takdir terbaik yang Engkau gariskan untuk hamba, maka berikanlah hamba kesabaran yang luar biasa dan kemudahan dalam menjalaninya, Ya Allah. Kuatkan hati hamba agar tidak mudah menangis atau merasa lemah..."
Yasmin menghela napas panjang, air mata kembali menetes membasahi pipinya.
"Ya Allah... Lembutkanlah hati suamiku, Baskara. Jadikanlah dia suami yang baik, penyayang, dan perhatian sebagaimana suami yang baik pada umumnya. Hapuskanlah amarah dan kekerasan dari hatinya, gantilah dengan kasih sayang..."
"Ya Allah... Jika suatu saat nanti keluarga beliau mengetahui pernikahan kami, bukalah hati mereka agar bisa menerima hamba apa adanya, meski hamba bukan siapa-siapa dan berasal dari latar belakang yang sangat berbeda..."
"Tidak lupa hamba memohon untuknya, Ya Allah. Jagalah Pak Baskara dimanapun ia berada, jauhkan dari bahaya dan kejahatan. Lancarkanlah rezekinya, mudahkanlah segala urusan dan pekerjaannya. Jadikanlah ia orang yang sukses namun tetap rendah hati, Aamiin..."
Yasmin menepuk-nepuk wajahnya dengan kedua telapak tangan, mengakhiri doanya dengan hati yang terasa sedikit lebih tenang meski luka di sana masih terasa perih.
*****>>>{}<<<*****