NovelToon NovelToon
Gairah Musuhku

Gairah Musuhku

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Perjodohan / Teen / Nikahmuda / Enemy to Lovers
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: HyMaira

Emily, Ratu Jalanan sekaligus ketua geng Sport Queen, dipaksa memilih antara masuk pesantren atau menikah setelah terus membuat orang tuanya khawatir. Tak disangka, pria yang dijodohkan dengannya adalah Reyze, ketua geng rival Black Lion Riders sekaligus musuh bebuyutannya.

Meski saling membenci, mereka terpaksa menikah diam-diam dan merahasiakan status mereka. Di depan publik mereka tetap rival, tetapi di balik pintu rumah harus belajar hidup sebagai suami istri.

Saat Emily masih terikat dengan pacarnya dan persaingan di dunia balap berubah menjadi ancaman mematikan, Emily dan Rey harus memilih: mempertahankan permusuhan atau memperjuangkan cinta yang perlahan tumbuh di antara mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HyMaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

balapan

Di sebuah tongkrongan sirkuit, tampak lima orang remaja mencolok dengan motor-motor besarnya. Di hadapan mereka berdiri lima orang lain, para lawan balapan. Yang membuat suasana semakin menegangkan adalah kenyataan bahwa ketua dari salah satu kelompok itu ternyata seorang perempuan.

“Jangan ngaku jadi raja jalanan kalau lo belum bisa ngalahin gue,” ucap Emily menantang.

“Cih! Kalau bukan karena kesombongan lo, males gue ngeladenin lo,” balas lawannya sinis.

“Bilang aja lo takut sama gue,” sahut Emily dengan senyum meremehkan.

“Jangan keburu bangga. Kalau lo udah bisa ngalahin gue, baru lo bisa ngaku jagoan,” jawab Rey dengan tatapan tajam.

“Ayo, siapa takut? Taruhannya apa?

Sepuluh juta, seperti yang sudah ditentukan?” Rey menantang lagi.

“Murahan banget, cuma sepuluh juta…” Emily mendengus.

“Kalau lo nggak mau, ya udah. Masih banyak yang nantangin gue,” ucap Rey, menambah panas suasana.

“Oke, gue terima. Bukan karena uang murahan lo itu, tapi karena gue pengen ngalahin lo!” tegas Emily.

Akhirnya, seorang wasit berdiri di depan, mengibarkan bendera. Seketika, motor Rey dan Emily melaju kencang di lintasan sirkuit, membuat semua orang menahan napas.

Sorak-sorai pecah ketika dua geng motor paling ditakuti di sirkuit malam itu saling berhadapan.

Di satu sisi, berdiri Black Lion Riders (BLR) dengan motor-motor besar yang menderu ganas, dipimpin Rey. Aura mereka sangar, penuh percaya diri.

Di sisi lain, geng cewek tangguh, Sport Queen, dengan ketuanya Emily yang terkenal nekat dan tak pernah gentar menghadapi siapapun.

Bendera start berkibar.

Dalam sekejap, Emily dan Rey melesat bagaikan peluru. Deru mesin memekakkan telinga, lampu neon sirkuit memantul di bodi motor mereka yang melaju semakin kencang.

“Wooo! Gas terus, Rey!” teriak salah satu anggota BLR.

Emily tak mau kalah. Ia menunduk, memeluk setang, dan memutar gas habis-habisan. Rambut panjangnya yang terurai di balik helm berayun liar. Setiap tikungan ia libas dengan lincah, seakan motor itu bagian dari dirinya.

Rey melirik sekilas, senyum sinis terlihat di wajahnya. Ia sengaja memotong jalur Emily di tikungan tajam.

“Coba lo bisa lewatin ini!” serunya.

Namun Emily justru memutar setang dengan presisi sempurna, menyelip tipis di sisi kanan. Suara gesekan ban hampir bikin semua yang menonton menahan napas. Motor Emily lolos dengan selisih tipis, bahkan sempat menyalip Rey.

“Gila! Cewek itu beneran singa betina!” gumam salah satu anggota Sport Queen dengan bangga.

Lintasan terakhir semakin menegangkan. Rey mencoba menambah kecepatan, tapi terlalu agresif di tikungan terakhir membuat motornya sedikit oleng.

Kesempatan itu langsung dimanfaatkan Emily. Ia menyalip dengan mulus, melewati garis finish hanya setengah detik lebih cepat dari Rey.

Sorakan meledak.

“Emily menang! Sport Queen juaraaaa!”

Rey menghentikan motornya dengan wajah masam. Nafasnya terengah, genggaman tangannya di setang sampai bergetar. Sedangkan Emily melepaskan helmnya dengan senyum puas.

“Gue udah bilang, jangan ngaku raja jalanan sebelum bisa ngalahin gue,” ucapnya, menatap Rey tajam.

Semua mata tertuju pada Emily. Malam itu, nama Sport Queen makin harum, dan Emily resmi mengukuhkan dirinya sebagai ratu jalanan yang tak terbantahkan.

Rey turun dari motornya dengan wajah masam, lalu berseru lantang,

“Gue bukan kalah. Gue cuma ngalah aja sama cewek. Kasihan kan kalau kalah lo pasti mewek.”

Emily langsung mendengus sinis. Ia melipat tangan di dada, lalu menjawab tajam,

“Idih, bilang aja lo nggak sanggup ngelawan gue. Capek nggak sih, nyari alasan terus?”

Sambil tersenyum miring, Emily mengangkat tangannya dan memainkan jari tengah tepat di hadapan Rey. Sorak-sorai penonton langsung pecah.

“Ayo, geng! Clubing ! Kita rayakan kemenangan gue malam ini!” teriak Emily penuh percaya diri.

Sport Queen bersorak riuh, musik keras dari motor yang meraung, tawa, dan tepuk tangan membuat suasana semakin panas. Sementara itu, anggota BLR hanya bisa menahan gengsi, menatap tajam tapi tak bisa menyangkal kenyataan: malam itu, Emily adalah pemenangnya.

Di tengah keramaian, geng Sport Queen masuk dengan penuh percaya diri. Emily berjalan paling depan dengan jaket kulit terbuka, rambut tergerai bebas. Di belakangnya ada Ziva yang selalu kalem tapi tatapannya tajam, Caca yang centil dengan dress mini berkilau, Nara yang cuek tapi suka bikin suasana pecah, dan Dion—satu-satunya cowok yang jadi semacam bodyguard sekaligus sahabat dekat mereka.

“Woy, DJ-nya mantap banget malam ini!” teriak Nara sambil langsung menggoyangkan badan ke arah dance floor.

Caca ngakak, menenggak minumannya, lalu ikut turun ke lantai dansa. “Nggak seru kalau kita cuma duduk, ayo lah!”

Ziva memilih duduk dulu, menatap kerumunan orang yang menari dengan tatapan mengamati. “Lo semua heboh banget, gue liatin aja deh dulu,” katanya dengan senyum tipis.

Emily tersenyum miring, lalu menyalakan rokoknya. “Santai aja, Zi. Malam ini kita rayain kemenangan gue lawan si BLR kemarin. Geng kita udah makin dipandang, ngerti?”

Dion hanya geleng-geleng kepala, duduk di samping Emily. “Lo semua kayak singa betina lepas kandang. Untung gue ikut, kalo enggak, pasti ada aja cowok norak yang nyamperin.”

Belum lama Dion ngomong, bener aja. Beberapa cowok asing udah mulai ngelirik ke arah mereka, ada yang coba nyapa Caca dan Nara di dance floor.

Caca dengan gaya centilnya malah ketawa, tapi Nara nyeletuk ketus, “Nggak level, Bro. Jangan buang waktu gue.”

Emily menepuk meja, mengangkat gelasnya tinggi. “Sport Queen! Malam ini punya kita!” serunya.

Gelas-gelas beradu, musik makin liar, dan malam itu geng Sport Queen benar-benar menunjukkan kalau mereka bukan cuma ratu jalanan… tapi juga ratu di mana pun

mereka melangkah.

Hampir menunjukkan pukul setengah dua dini hari, Emily tidak begitu mabuk karena dia hanya meminum beberapa teguk saja, dan dia pulang diantar oleh Ziva.

Diam-diam dia mengendap masuk seperti biasa. Dia pikir cara ini tidak akan pernah ketahuan oleh orang tuanya. Tapi saat dia membuka pintu dapur perlahan, sang papa sudah berdiri sambil memegang pinggangnya, matanya melotot. Di belakangnya ada Ibu Amanda yang setia menemani suaminya.

“Anak gadis jam satu malam baru pulang, bagus! Motor dititip di rumah teman, pulang dianterin teman supaya nggak kedengeran motornya masuk, iya?” ucap Papa Evan dengan nada geram.

“Kamu ini mau jadi apa, Emily? Lihat abangmu, Altan. Dia tidak pernah neko-neko, fokus kuliah kedokteran. Sedangkan kamu? Kamu ini perempuan, kenapa sulit sekali diatur? Apa baik anak perempuan jam segini baru pulang, hah? Kenapa handphone kamu silent? Balapan lagi, iya? Mau Papa bakar motor kamu?”

“Jangan, Pa… jangan. Please, maafin Ily, Pah…” ucap Emily dengan nada panik.

“Sudah berapa kali kamu minta maaf, Ily? Sudah berapa kali Ibu dan Papa maafin kamu? Kamu ini anak gadis, harus bagaimana lagi Ibu dan Papa mendidik kamu? Apalagi sebentar lagi Papa kan tugas ke luar negeri. Bagaimana Ibu bisa membiarkan kamu, sedangkan sama kakakmu saja kamu sudah tidak nurut,” ucap Ibu Amanda dengan nada kecewa.

“Ini yang terakhir kalinya kamu balapan sampai dini hari. Jika besok-besok kamu melakukan hal yang sama, apalagi sampai clubbing dan mabuk seperti ini, pilihannya cuma dua: masuk pesantren atau menikah!”

“Haaaah?! Paaa, kok gituu…” seru Emily kaget.

“Cepat masuk kamar! Bersihkan tubuhmu dari bau alkohol itu!” ucap Papa Evan tegas.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!