Elisa tidak pernah menyangka novel yang baru semalam ia baca akan menjadi awal petaka hidupnya. Saat membuka mata, ia sudah berada di tubuh Lady Nandikara, putri bangsawan dari Wilayah Timur yang terkenal cantik, tapi angkuh, bermulut tajam, dan paling dibenci semua orang.
Tapi bagusnya, Lady Nandikara itu hanya karakter pendukung saja, yang Elisa ingat, dia muncul hanya sesekali, tokoh yang tidak penting.
Ketika mengetahui posisinya dalam novel, Elisa mengambil satu keputusan. Dia tidak akan ikut campur dalam alur cerita. Cukup hidup tenang, menjadi gadis pendiam, lalu bertahan sampai akhir.
Namun, rencananya mulai berantakan. Ketika sepasang mata tajam dan sedingin es milik Putra Mahkota mulai terpaku padanya. Sejak saat itu, kedamaian yang selama ini ia rencanakan dengan matang perlahan hancur, Elisa terseret ke dalam obsesi seorang pria yang tak pernah menerima penolakan.
Semakin Elisa berusaha menjauh dari alur cerita, semakin takdir menyeretnya ke pusat konflik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saasaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memori Nandikara
Pagi itu tidak seperti biasanya.
Elisa terbangun dengan tubuh tersentak. Napasnya memburu, dada naik turun tidak beraturan, sementara keringat dingin membasahi pelipis hingga tengkuknya. Selimut yang menutupi tubuhnya telah berantakan, seolah ia baru saja berjuang melawan sesuatu di dalam tidurnya.
Matanya masih terbuka lebar menatap langit-langit kamar. Butuh beberapa saat sebelum ia benar-benar menyadari bahwa dirinya sudah terbangun."Itu mimpi?" lirihnya serak.
Namun semakin ia mencoba mengingatnya, semakin ia sadar bahwa itu bukan sekadar mimpi buruk. Yang ia lihat terasa begitu nyata.
Bukan bayangan yang kabur seperti bunga tidur pada umumnya, melainkan potongan-potongan kehidupan seseorang yang tersusun sangat jelas. Ia bisa merasakan emosi di setiap adegan, mendengar suara-suara di sekelilingnya, bahkan ikut merasakan sakit yang bukan berasal dari dirinya.
Elisa menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan sambil menarik napas panjang."Itu memorinya Nandikara."
Satu demi satu adegan kembali berputar di kepalanya. Dia melihat Nandikara yang berjalan dengan dagu terangkat, menatap rendah para pelayan yang hanya bisa menundukkan kepala. Kata-kata tajam keluar begitu saja dari bibir wanita itu, membuat beberapa pelayan menangis diam-diam setelah ia pergi.
Lalu berganti lagi.
Para Lady dari wilayah Timur yang selama ini sering menjadi sasaran ejekan Nandikara. Tatapan sinis, senyum mengejek, hingga ucapan-ucapan yang sengaja diucapkan agar mempermalukan mereka di hadapan orang lain.
Kemudian wajah Suri muncul. Berkali-kali.
Elisa dapat melihat bagaimana Nandikara selalu mencari alasan untuk memancing pertengkaran dengannya. Entah karena iri, kesal, atau sekadar ingin menang. Anehnya, Suri hampir tidak pernah membalas dengan cara yang sama. Gadis itu lebih sering memilih diam, meski sorot matanya jelas menyimpan rasa lelah menghadapi semua tingkah Nandikara.
Lalu, adegan terakhir membuat dada Elisa kembali sesak. Seorang pria berambut hitam dengan wajah tampan dan aura aristokrat berdiri di tengah keramaian.
Leonardo Snow.
Tatapan matanya begitu dingin, nyaris tanpa emosi.
Di hadapannya berdiri Nandikara, membawa harapan terakhirnya untuk menunggu jawaban atas perasaan yang selama ini ia simpan. Wajahnya memerah, tangannya gemetar, tetapi sorot matanya dipenuhi harapan.
Harapan yang hancur hanya dalam beberapa kalimat. Leonardo menolak proposal pertunangan dari ayahnya, tanpa sedikit pun menjaga harga dirinya. Penolakan yang disaksikan begitu banyak orang.
Tatapan meremehkan, bisik-bisik para bangsawan, tawa kecil yang terdengar dari berbagai sudut ruangan, semuanya berubah menjadi pisau yang menusuk harga diri Nandikara.
Elisa bahkan bisa merasakan sesak yang memenuhi dada wanita itu.
Rasa malu.
Kecewa.
Dan sakit hati yang luar biasa.
Tanpa sadar Elisa menggenggam selimutnya erat."Astaga..."
Dia akhirnya memahami mengapa kebencian Nandikara terhadap Suri begitu besar. Bukan semata-mata karena Suri, melainkan karena setelah kejadian itu, semua orang mulai membandingkan mereka. Leonardo yang terang-terangan menolak Nandikara justru beberapa kali terlihat memperlakukan Suri dengan sopan. Perbandingan itu menjadi luka yang terus menganga.
Elisa mengembuskan napas pelan."Pantas saja..." Ia menoleh ke arah jendela yang mulai diterpa cahaya matahari pagi.
"Pantas saja Suri bersikap seperti itu kemarin. Mungkin dia takut aku membuat keributan lagi setelah bertemu dengan pria sok ganteng itu." Nada bicaranya terdengar kesal, meski lebih banyak ditujukan kepada Leonardo daripada Suri.
Karena baru saja ia menyaksikan sendiri bagaimana Nandikara dipermalukan di depan begitu banyak orang. Sekeras apa pun sifat asli pemilik tubuh ini, rasa malu seperti itu tetap menyakitkan. Elisa memijat pelipisnya yang masih terasa berdenyut. Kini semuanya masuk akal.
Elisa tidak perlu lagi menebak-nebak hubungan Nandikara dengan orang-orang di rumah ini, maupun para bangsawan lainnya. Semua jawaban sudah ada di dalam kepalanya.
Seolah-olah sebelum benar-benar menghilang, Nandikara telah menyerahkan seluruh kenangan yang ia miliki kepada Elisa. Kenangan yang penuh kebahagiaan hanya sedikit, sementara sisanya dipenuhi amarah, penyesalan, dan luka.
Senyum tipis muncul di bibir Elisa, meski diwarnai rasa iba."Terima kasih, Kara." dia berbicara lirih, seolah wanita itu masih bisa mendengarnya."Kau sudah memberikan semua memorimu. Jadi nanti aku tidak akan bingung lagi menghadapi semua orang di sini."
Elisa menatap kedua telapak tangannya. Tubuh ini kini benar-benar menjadi miliknya. Bersamaan dengan itu, ia juga menerima seluruh masa lalu yang melekat pada nama Nandikara."Aku akan tetap pada keputusanku."
Tatapannya berubah mantap."Aku ingin hidup tenang. Aku tidak ingin masuk ke dalam alur cerita novel ini. Aku akan bersikap baik kepada semua orang, sebisa mungkin tidak membuat masalah."
Ia terdiam sejenak. Bayangan Leonardo yang mempermalukan Nandikara kembali muncul di kepalanya, membuat dadanya sedikit sesak."Meskipun aku ingin sekali membalas sakit hatimu pada Leonardo Snow." Kalimat itu keluar hampir seperti bisikan."Tapi balas dendam hanya akan menyeretku masuk ke konflik yang seharusnya bisa kuhindari. Aku tidak ingin mengubah jalan hidupku menjadi lebih rumit hanya karena emosi."
Elisa tersenyum kecil, kali ini dengan ketulusan yang lembut."Maafkan aku, Kara. Aku tidak bisa membalas semua rasa sakitmu."
"Tapi aku berjanji, akan menjalani hidup ini dengan jauh lebih baik daripada sebelumnya. Setidaknya, nama Nandikara tidak akan lagi dikenal sebagai wanita yang penuh kebencian."