~
Melani, seorang bidan muda yang berdedikasi, harus menelan pil pahit akibat keteguhan prinsipnya. Karena berani menolak lamaran untuk menjadi istri siri dari pejabat Dinas Kesehatan yang berkuasa, ia "dibuang" ke sebuah desa paling terpencil dan terperosok yang nyaris terisolasi dari peradaban.
~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 5
***
Dua hari berlalu sejak peristiwa menegangkan di rumah Seno. Kehidupan di Desa Hulu Rawa perlahan mulai berdenyut dengan warna baru. Di ujung desa, sebuah bangunan kayu panggung berukuran sedang dengan papan nama memudar—Puskesmas Pembantu—kini tak lagi terbengkalai.
Melani, dengan kemeja gulung sesiku dan apron sederhana, sibuk menyapu debu tebal yang bertahun-tahun mengendap di lantai kayu. Beberapa wanita desa dan pemuda setempat dengan sukarela membantunya. Mereka mengangkut ember berisi air, mengelap kaca jendela yang buram, serta menata bangku-bangku panjang di ruang tunggu.
"Bidan Melani, racikan obat-obatan di dalam kotak kayu ini dipindah ke mana?" tanya Bu Minah, seorang warga yang memegang wadah kain berisi perban.
Melani memutar tubuhnya, menyunggingkan senyum manis yang seketika mencerahkan ruangan sempit itu. "Taruh di atas meja periksa saja, Bu Minah. Terima kasih banyak, ya. Tanpa bantuan Ibu-Ibu sekalian, Pustu ini tidak akan bisa bersih dalam dua hari."
"Kami yang harusnya terima kasih, Bidan," sahut seorang ibu muda seraya mengelap meja. "Sudah lama desa kita tidak punya tenaga medis. Anak-anak kalau batuk atau demam cuma bisa minum rebusan daun pahit dari Bi Naya."
Mendengar nama Bi Naya, dada Melani berdesir pelan. Sejak pengumuman di Rumah Adat kemarin, ia jarang melihat dukun tua itu berkeliaran. Namun, Melani memilih tak ambil pusing dan melanjutkan pekerjaannya membersihkan Pustu.
Akan tetapi, ketenangan pagi itu mendadak pecah oleh jeritan histeris seorang wanita dari arah jalan setapak.
"Tolong! Tolong anak saya! Bidan Melani, tolong!"
Melani melepaskan lap kain di tangannya dan bergegas lari keluar pintu Pustu. Di pelataran tanah, seorang ibu berlari terengah-engah sambil menggendong anak laki-lakinya yang berusia sekitar enam tahun. Tubuh anak itu terkulai lemas, wajahnya pucat pasi, dan bibirnya membiru.
"Ada apa, Bu? Kenapa anaknya?" Melani langsung mengambil alih anak itu, membawanya masuk dan merebahkannya di atas dipan kayu periksa.
"Tiba-tiba muntah-muntah hebat, Bidan! Perutnya dipegang sedikit saja langsung menjerit kesakitan! Badannya panas sekali!" tangis ibu itu pecah.
Belum sempat Melani meraba dahi anak tersebut, dari luar Pustu kembali terdengar kegaduhan serupa. Dua... tiga... hingga lima keluarga lainnya berlari berbondong-bondong menuju Pustu. Semua membawa anak-anak mereka yang mengalami gejala persis sama: demam tinggi, kejang perut hebat, serta muntah-muntah tanpa henti.
Ruang tunggu Pustu yang baru saja dibersihkan seketika berubah menjadi medan kepanikan. Tangisan anak-anak bersahut-sahutan memecah keheningan desa, bercampur dengan ratapan panik para orang tua.
"Bu Bidan! Tolong anak saya juga!"
"Anak saya merintih tidak kuat lagi, Bidan Melani!"
Melani melangkah cepat dari satu dipan ke dipan lain. Jemarinya yang cekatan memeriksa nadi, suhu tubuh, serta pupil mata anak-anak itu. Jantung bidan muda itu berdegup kencang secara konstan. Ini bukan sekadar demam biasa atau masuk angin. Ini gejala intoksikasi—keracunan akut!
"Sakit... Ibu, perutku sakit..." rintih seorang anak perempuan kecil sambil memegangi perutnya.
Panik mulai merayap di benak Melani. Ia bergegas membuka kotak penyimpanan obat utamanya di pojok ruangan. Begitu memeriksa isinya, tenggorokannya mendadak terasa tercekat. Perbekalan medis yang ia bawa dari kota sangat terbatas! Ia hanya memiliki beberapa botol cairan rehidrasi oral, sedikit obat penurun panas, dan beberapa ampul obat mual. Stok itu sama sekali tidak cukup untuk menangani belasan anak yang terus berdatangan dengan kondisi kritis.
"Gimana ini... stok obatku tidak cukup untuk sebanyak ini..." gumam Melani lirih, peluh dingin mulai merembes di kening cantiknya.
Tepat saat Melani sedang berpacu dengan waktu mencoba membagi dosis rehidrasi seadanya, gedoran keras menghantam pintu depan Pustu.
Brak! Brak! Brak!
Pintu kayu Pustu terbuka kasar. Bi Naya melangkah masuk dengan tongkat kayunya, diapit oleh Sutan dan belasan warga pria yang membawa raut wajah penuh kemarahan.
"Lihat! Lihat apa yang terjadi pada anak-anak kalian!" teriak Bi Naya nyaring, menunjuk-nunjuk ke arah Melani dengan jarinya yang keriput dan gemetar dramatis.
Para orang tua di dalam Pustu menoleh, terkejut melihat kedatangan sang dukun tua.
"Bi Naya... ada apa ini?" tanya seorang warga bingung.
Bi Naya membelalakkan matanya, menatap Melani dengan penuh kebencian yang berkobar. "Kalian masih bertanya ada apa?! Ini kutukan! Racun! Perempuan kota ini telah membawa bencana bagi Hulu Rawa!"
Melani berdiri tegap di samping dipan pasien, mencoba menetralkan getar ketakutannya. "Bi Naya, bicara apa Anda? Anak-anak ini sedang mengalami keracunan hebat, saya sedang berusaha menolong mereka!"
"Menolong?!" sela Sutan dengan suara membentak, melangkah maju mengintimidasi Melani. "Jangan berbohong, Bidan! Anak-anak ini kemarin sehat-sehat saja! Tapi sejak kamu membagikan vitamin dan membersihkan tempat ini, mereka semua mendadak jatuh sakit! Obat-obatan kimiamu itulah yang meracuni mereka!"
"Itu tidak benar!" tangkis Melani tegas, matanya menatap Sutan tanpa gentar meski dadanya bergemuruh ketakutan. "Vitamin yang saya berikan aman! Ini adalah gejala keracunan zat luar, bisa dari makanan atau sumber air!"
"Bonghong!" pekik Bi Naya memotong ucapan Melani, menghasut warga yang panik. "Leluhur kita murka karena kita membiarkan orang asing ini tinggal di sini! Obat-obatannya bernoda racun! Lihat anak-anak kalian, makin parah karena racunnya!"
Hasutan Bi Naya di tengah kepanikan orang tua bagaikan menyiram bensin ke atas kobaran api. Para orang tua yang semula percaya pada Melani mulai goyah. Rasa takut kehilangan buah hati membuat pikiran sehat mereka tertutup muslihat.
"Bidan... apa benar obat dari kota itu racun?" bisik seorang ibu dengan mata berkaca-kaca, menatap Melani curiga.
"Benar! Bi Naya pasti benar! Anakku sakit setelah minum obat dari Pustu ini!" jerit warga lain yang terhasut.
Sutan maju satu langkah lagi, mencengkeram tepi meja periksa. "Perempuan ini harus bertanggung jawab! Dia sudah meracuni anak-anak desa kita!"
Waktu seolah berjalan cepat dalam kepungan kemarahan. Beberapa warga pria mulai mengerumuni Melani. Langkah Melani mundur secara refleks hingga punggungnya menempel pada dinding kayu Pustu. Wajah cantiknya pucat, napasnya berburu pelan menyaksikan tatapan-tatapan intimidatif dan penuh amarah dari orang-orang yang beberapa jam lalu menyapa dirinya dengan ramah.
Sendirian di dalam Pustu tanpa ada rekan medis maupun perlindungan, rasa terisolasi yang mendalam seketika menyergap dada Melani.
"Tunggu dulu! Dengarkan penjelasan saya dulu, Bapa, Ibu!" seru Melani, mencoba membuat suaranya terdengar melintasi kebisingan amarah warga. "Saya seorang bidan, saya bersumpah demi nyawa saya tidak akan pernah meracuni siapa pun!"
"Cukup bicara manismu, Perempuan Kota!" bentak seorang tetua warga di barisan belakang dengan wajah tegang. "Anak-anak kami menjadi korbannya! Kamu sudah melanggar ketenangan desa ini dan membawa petaka!"
Tetua itu menunjuk ke arah jalan luar. "Bawa perempuan ini ke Rumah Adat sekarang! Serahkan dia ke Ki Rangga Wira! Dia harus diadili karena telah melanggar hukum dan meracuni darah Hulu Rawa!"
"Seret dia ke Rumah Adat! Tangkap!" teriak Sutan memprovokasi.
Sorakan warga makin membahana membasahi ruangan Pustu yang sempit. Beberapa tangan warga bergerak hendak mencengkeram lengan Melani. Bidan muda itu memeluk tas medisnya erat-erat di dada, matanya membelalak ketakutan saat cengkeraman ketidakadilan itu tinggal sejangkauan jari darinya.
Bersambung..
kasih pelajaran lah buat Pak pramono tuuu... gemesssss
pasti lancar ya Thor 🤭