Tiga tahun Arga hidup sebagai menantu miskin yang dipandang rendah keluarga istrinya. Di meja makan, di pesta keluarga, di setiap tatapan dingin, ia diperlakukan seperti beban yang tidak punya masa depan.
Tidak ada yang tahu bahwa pria pendiam itu adalah pewaris tersembunyi keluarga Mahendra, pengendali kekaisaran bisnis bernilai triliunan rupiah yang bergerak dari balik layar. Saat penghinaan berubah menjadi batas terakhir, Arga mulai mengambil kembali semua yang dirampas darinya: nama, kekuasaan, harga diri, dan kebenaran di balik kematian orang tuanya.
Di tengah perang bisnis para konglomerat, intrik keluarga elite, aliansi berbahaya, dan musuh yang bersembunyi di balik hukum, Arga harus memilih cara membalas tanpa kehilangan dirinya sendiri. Sementara itu, pernikahannya dengan Bianca diuji oleh rahasia, luka lama, dan cinta yang ternyata lebih kuat daripada kebohongan.
Ini kisah tentang menantu yang diremehkan, pewaris yang bangkit diam-diam, dan balas dendam yang tidak datang lewat amarah, melainkan lewat kuasa yang tepat sasaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marcos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1
Menantu Miskin Pewaris Kekaisaran
Bab 01 - Koin di Lantai
Lampu kristal Hotel Aryaduta Grand memantulkan cahaya keemasan di atas setelan jas pesanan dan gaun-gaun sutra. Tujuh puluh lilin menyala di puncak kue lima tingkat. Di sudut terjauh ballroom, bersandar pada pilar marmer, Arga memperhatikan pesta itu seperti seseorang yang sedang menonton film yang tidak pernah memberinya tempat.
Tiga tahun. Tiga tahun tinggal di rumah keluarga Kartawijaya, tidur di kamar tamu di ujung lorong, makan setelah semua orang selesai mengambil bagian mereka. Tiga tahun mendengar bisik-bisik yang tak seorang pun repot-repot merendahkan suaranya: benalu, menantu tak berguna, pria kere yang beruntung bisa menikahi Bianca.
Di sisi lain ruangan, Bu Ratih menerima ucapan selamat seperti ratu di singgasananya. Usianya tujuh puluh, punggungnya tetap tegak, kalung mutiaranya sebesar peluru revolver. Di sampingnya, Marlina membenahi rangkaian bunga dengan wibawa seseorang yang telah mengatur setiap detail, termasuk tamu mana saja yang pantas diabaikan.
Arga menarik napas panjang. Ia mengeluarkan ponsel dari saku dan membaca ulang pesan yang diterimanya pukul tiga sore.
Arga, keadaan Bu Ningsih memburuk. Dokter bilang kalau tidak operasi dalam dua minggu ini, beliau tidak akan bertahan. Rumah sakit minta uang muka Rp15.000.000. Maaf aku harus minta, tapi aku benar-benar tidak tahu harus menghubungi siapa lagi.
Andri. Saudara Arga dari panti asuhan. Bu Ningsih, perempuan yang membesarkan mereka saat tak ada orang lain yang mau.
Arga menyimpan ponselnya. Ia menyeberangi ballroom.
Setiap langkah adalah perhitungan. Ia tahu persis apa yang akan terjadi. Ia sudah hafal nada yang akan dipakai Marlina, tawa Bagas, kebisuan pengecut Robert. Ia bisa menebak setiap reaksi, dan tetap berjalan.
Karena Bu Ningsih sedang sekarat.
"Permisi." Arga berhenti di depan kelompok yang berkumpul di sekeliling Bu Ratih. Bianca ada di sana, mengenakan gaun hitam sederhana, matanya terpaku pada gelas sampanye. Robert membenahi dasinya. Marlina melihat Arga lebih dulu.
"Ada apa?" Suaranya memotong percakapan di sekitar mereka seperti pisau dapur. "Makanan prasmanan di sudutmu sudah habis?"
Beberapa orang tertawa. Arga tidak bereaksi.
"Aku perlu meminta sesuatu." Suaranya rendah, terkendali. "Orang yang membesarkanku sedang dirawat. Operasinya membutuhkan Rp15.000.000. Ini mendesak. Aku akan mengembalikannya begitu bisa."
Keheningan bertahan tiga detik. Tiga detik ketika Arga merasakan setiap pasang mata di kelompok itu jatuh ke tubuhnya seperti beban nyata.
Bu Ratih menjadi orang pertama yang bicara.
"Lima belas juta?" Ia mengulang nominal itu seolah sedang mencicipi makanan basi. "Kamu ingin keluargaku membayar Rp15.000.000 untuk perempuan asing?"
"Dia bukan orang asing bagiku."
"Bagimu." Bu Ratih memiringkan kepala, kalung mutiaranya berkilau. "Tapi yang harus membayar adalah keluargaku. Dan kamu, Arga, sebenarnya memberi kontribusi apa untuk keluarga ini?"
Rahang Arga mengeras. Ia tidak menjawab.
Marlina melipat tangan.
"Sudah Ibu bilang, Bianca." Ia bahkan tidak menoleh ke arah Arga. Ia bicara kepada putrinya seolah pria itu tidak berdiri di sana. "Laki-laki ini seperti sumur tak berdasar. Pertama tagihan listrik panti asuhan. Lalu sumbangan sekolah. Sekarang operasi. Besok dia mungkin minta dibelikan apartemen untuk setiap gelandangan di Jakarta."
"Mama..." Bianca mulai bicara, tetapi kata itu mati di tenggorokannya.
"Tidak ada mama-mamaan." Marlina menunjuk Arga tanpa menoleh. "Kamu menikahi orang ini meski Mama menentang. Setidaknya punya harga diri untuk tidak membiarkan dia mengemis di pesta nenekmu."
Bagas muncul dari belakang Robert dengan segelas wiski di tangan dan senyum yang seolah sudah disiapkan sejak tadi.
"Wah, ada apa ini? Ipar hebat kita sedang minta uang jajan?"
"Lima belas juta," seseorang berkata.
Bagas bersiul.
"Gila. Lima belas juta untuk orang yang bahkan tidak punya mobil." Ia meneguk wiski. "Tahu tidak, Arga? Aku akan membantumu."
Ia memasukkan tangan ke saku blazer. Jarinya mengaduk koin dan kunci. Lalu ia menarik sekeping uang logam seribu rupiah dan, dengan gerakan lambat yang disengaja, melemparkannya ke lantai marmer.
Bunyi logam itu menggema di ballroom seperti letusan tembakan.
"Ambil." Bagas tersenyum. "Pungut sana, bro. Itu lebih cocok untukmu."
Tawa Marlina langsung pecah, keras dan tanpa saringan. Dua sepupu di sampingnya saling bertukar pandang canggung, tetapi tidak mengatakan apa pun. Seorang paman yang berdiri agak jauh menutup mulut dengan serbet.
Bu Ratih tidak tertawa. Ia hanya melihat koin di lantai, lalu menatap Arga, dan berkata dengan tenang seperti sedang mengomentari cuaca.
"Itu saja sudah lebih dari yang pantas dia terima."
Arga memandangi koin itu. Logamnya berkilau di bawah cahaya lampu kristal, berputar pelan sampai akhirnya berhenti dengan sisi depan menghadap ke atas.
Ia tidak membungkuk.
Ia menatap Bianca. Perempuan itu tidak bergerak, gelas sampanye bergetar di tangannya, mata merahnya terpaku pada suatu titik di antara lantai dan kekosongan. Bibirnya sedikit terbuka, tetapi tak ada kata yang keluar. Membeku.
Robert mengalihkan pandangan ke jendela. Kedua tangannya masuk ke saku, bahunya mengerut.
Arga bernapas. Ia menelan amarah, rasa malu, dan sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang tak punya nama. Ia menegakkan punggung. Ia menatap Bagas, dan untuk sesaat, Bagas berhenti tersenyum.
Karena di mata Arga tidak ada kehinaan. Ada sesuatu yang dingin. Sesuatu yang tidak mampu dinamai Bagas.
Arga mundur satu langkah. Lalu satu langkah lagi.
"Terima kasih," katanya pelan. "Untuk kejelasannya."
Ia berbalik. Ia berjalan kembali ke pilar marmer. Setiap langkah terukur. Setiap otot di wajahnya berada dalam kendali mutlak.
Koin itu tetap di lantai.
Tak seorang pun memungutnya.
Gumaman menyebar di antara tamu terdekat, rasa tidak nyaman hangat dari orang-orang yang menyaksikan sesuatu yang sebenarnya tak ingin mereka lihat. Seorang sepupu jauh berbisik kepada suaminya, "Kasihan."
Suaminya menjawab tanpa mengangkat mata dari ponsel, "Kasihan apanya. Harusnya dia tahu malu."
Arga bersandar pada pilar. Ia memejamkan mata. Dirasakannya dingin marmer di punggung.
Rp15.000.000. Bu Ningsih akan mati karena aku tidak bisa mengumpulkan Rp15.000.000.
Ia membuka mata.
Dan melihat seorang pria berdiri di pintu masuk ballroom.
Tinggi. Usianya sekitar enam puluhan. Setelan gelap tanpa pamer, jenis pakaian yang tidak menarik perhatian karena memang tidak perlu. Posturnya seperti militer. Kedua tangan di sisi tubuh, diam. Matanya menyapu seluruh ruangan dalam dua detik dan berhenti pada satu titik.
Arga.
Tak seorang pun mengenalinya. Tidak ada tamu yang bergerak untuk menyambutnya. Para petugas keamanan hotel tampak membiarkannya lewat tanpa bertanya, atau tanpa keberanian untuk bertanya.
Pria itu melintasi ballroom dalam garis lurus. Tidak menyingkir untuk siapa pun. Orang-orang justru membuka jalan secara naluriah, seakan merasakan sesuatu yang tidak bisa mereka jelaskan.
Ia berhenti tiga langkah dari Arga.
Ballroom tidak menjadi sunyi, terlalu bising untuk itu. Namun dalam radius lima meter di sekitar mereka, percakapan mati.
Pria itu menatap Arga. Dan untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, seseorang memandang Arga seolah ia adalah seseorang.
"Arga Wijaya Mahendra."
Itu bukan pertanyaan.
Nama lengkap itu, nama yang tidak pernah didengar siapa pun di ballroom itu, menggantung di udara seperti bunyi koin yang masih berkilau di lantai marmer, terlupakan.
Bagas membeku dengan gelas wiski setengah jalan menuju mulut.
Marlina mengernyit.
Bu Ratih, untuk pertama kalinya malam itu, menoleh ke arah Arga.
Dan Bianca, Bianca meletakkan gelas sampanye di meja terdekat lalu menatap suaminya seolah baru pertama kali melihatnya.
Arga menahan tatapan pria asing itu. Detak jantungnya memenuhi telinga. Namun suaranya keluar mantap.
"Siapa Anda?"
Pria itu tidak tersenyum. Tidak mengalihkan pandangan.
"Seseorang yang seharusnya datang sejak lama."