Raja Iblis Vorthar adalah penguasa seluruh wilayah kegelapan yang ditakuti oleh para dewa dan manusia. Setelah perang besar yang memakan korban tak terhitung, ia akhirnya dikalahkan dan dikurung selama ribuan tahun. Namun, kutukan para dewa tak mampu menghapus keberadaannya sepenuhnya.
Saat terbangun kembali, Vorthar tidak lagi berada di istana kegelapan yang megah. Ia terlahir kembali sebagai seorang anak biasa di dunia manusia yang damai dan penuh dengan para kultivator yang menganggap kekuatan kegelapan sebagai hal terlarang. Dengan ingatan dan kekuatan dasar yang masih tersimpan, ia harus menavigasi dunia yang memandangnya sebagai musuh.
Tanpa teman dan dengan banyak musuh yang mengincar nyawanya, Vorthar mulai menapaki jalan kembali menuju puncak kekuatan. Ia tidak hanya ingin memulihkan kekuatannya sebagai Raja Iblis, tetapi juga mencari tahu rahasia di balik perang kuno yang menghancurkan dunianya. Dalam perjalanannya, ia akan bertemu dengan sekutu yang tak terduga
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sulaiman1927, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
final dan pengujian sebenarnya
Hari pertandingan final tiba dengan suasana yang jauh lebih meriah dan tegang dibandingkan hari-hari sebelumnya. Lapangan besar sudah penuh sesak oleh ribuan penonton, tidak hanya warga Kota Gerbang Peradaban, tetapi juga pengembara dan kultivator dari berbagai penjuru wilayah Aetheria. Di sudut lapangan, terdapat sepuluh tokoh berpakaian jubah putih dengan lambang lingkaran emas yang mewakili Persekutuan Dewa, mereka mengawasi segala sesuatu dengan pandangan dingin dan tajam.
Ryn berhasil melaju hingga ke babak final dan akan bertanding melawan Elion, wakil dari Sekte Cahaya Emas yang pernah ia temui di Desa Hutan Kecil. Elion dikenal sebagai murid berbakat tertinggi di Sekte Cahaya Emas, sudah mencapai Tingkat Ahli Tahap Akhir dan memiliki kekuatan energi cahaya yang mampu menembus segala jenis pertahanan.
Saat kedua belah pihak berdiri di tengah arena, suara bisikan terdengar dari penonton.
"Itu Ryn... dia benar-benar sampai ke final,"
"Elion tidak akan mudah kalah. Energi cahayanya sudah dianggap sebagai yang terkuat di generasi muda,"
"Apakah Ryn mampu bertahan melawan kekuatan murni dari Sekte Cahaya Emas?"
Penatua Aldric dari Sekte Cahaya Emas berdiri di samping Elion dan berbicara dengan suara yang cukup keras agar semua orang mendengar.
"Elion mewakili kebenaran dan cahaya yang suci. Kekuatannya tidak bisa dibandingkan dengan yang lain. Dan lawannya... hanya murid dari sekte kecil yang menggunakan kekuatan yang tidak jelas asal-usulnya. Ini adalah pertandingan yang menunjukkan perbedaan antara yang benar dan yang salah."
Kata-kata itu menimbulkan keributan di antara penonton yang mendukung Ryn, namun mereka tidak berani melawan secara terbuka karena takut pada otoritas Persekutuan Dewa.
Ryn berdiri tenang, memegang pedang panjang yang terbuat dari besi biasa namun telah diperkuat dengan energi gelap yang disamarkan. Ia menatap Elion dengan tatapan datar, tanpa rasa takut maupun marah.
"Mulai!" teriak wasit pertandingan.
Seketika itu juga, Elion mengangkat tangan dan cahaya emas menyala terang yang membutakan mata sebagian penonton. Energi itu bukan hanya cahaya biasa, melainkan energi yang telah dimurnikan selama bertahun-tahun, mampu menetralkan dan menghancurkan energi jenis lain.
"Jatuhlah, kejahatan!" teriak Elion sambil menyerang dengan kecepatan yang luar biasa.
Serangannya datang dengan cepat dan kuat, menciptakan jejak cahaya yang panjang di udara. Ryn tidak mencoba menahan kekuatan itu secara langsung. Ia menggunakan teknik pergeseran dimensi yang diajarkan oleh Zarathos dan Tuan Bayangan. Tubuhnya seolah menghilang dari pandangan, bergerak ke sisi lain dengan jarak yang jauh dalam sekejap.
Namun Elion tidak mudah dikalahkan. Ia telah dilatih untuk melawan segala jenis bentuk penyembunyian. Ia menembakkan serangan cahaya yang meluas ke seluruh area arena, menutup setiap kemungkinan jalan keluar Ryn.
"Kamu tidak bisa bersembunyi selamanya!" teriak Elion. "Kekuatan kegelapan tidak bisa melawan cahaya yang suci!"
Ryn bergerak di antara serangan-serangan itu, namun ia mulai merasakan tekanan yang berat. Energi cahaya itu perlahan mulai menekan energi alam di sekitarnya, membuat pernapasannya terasa sedikit sulit. Ia tahu bahwa jika ia terus menyembunyikan kekuatan aslinya, ia akan kalah karena kehabisan tenaga.
"Sudah waktunya," bisik Ryn dalam hati.
Ia menghentikan teknik penyembunyiannya dan melepaskan seluruh energi yang sebenarnya. Energi gelapnya keluar tidak lagi disamarkan, namun kali ini tidak terlihat berbahaya atau jahat. Sebaliknya, ia bersinar dengan cahaya ungu yang tenang dan stabil, memancarkan aura keseimbangan dan kedamaian yang mendalam.
Seketika, seluruh arena menjadi sunyi. Bahkan Elion berhenti menyerang dan menatap Ryn dengan mata terbuka lebar.
"Ini... ini tidak mungkin!" teriak Penatua Aldric dengan wajah pucat. "Itu... itu energi dari Wilayah Kegelapan! Kekuatan terlarang yang sudah lama dikatakan hilang!"
Para pengamat dari Persekutuan Dewa juga mulai bergerak, aura mereka menjadi tajam dan berbahaya. Mereka tidak menyangka bahwa di antara murid-murid muda, ada seseorang yang memiliki kekuatan kuno itu.
Ryn tidak menyerang terlebih dahulu. Ia hanya berdiri di sana, membiarkan energinya bersinar, dan berkata dengan suara yang jelas hingga ke seluruh penjuru arena:
"Kekuatan ini bukan kejahatan. Ia hanya dianggap jahat karena mereka yang memegang kekuasaan menentukan aturan sesuai keinginan mereka. Keseimbangan tidak bisa ada jika hanya ada satu jenis kekuatan yang diizinkan untuk hidup."
Kalimat itu membuat banyak orang terdiam. Beberapa dari mereka mulai mengingat cerita-cerita kuno yang sudah lama terlupakan.
Elion menatap Ryn dengan tatapan campuran antara ketakutan, kebingungan, dan rasa curiga. "Kamu... kamu adalah keturunan Vorthar? Raja Iblis yang dikalahkan oleh para Dewa?"
"Saya adalah Ryn," jawab Ryn tegas. "Dan saya hanya mencari kebenaran, bukan perang."
Namun Penatua Aldric tidak ingin mendengar penjelasan apa pun. "Dia adalah ancaman bagi dunia! Tangkap dia segera!"
Para pengawal dari Persekutuan Dewa segera maju dengan senjata yang bersinar terang, siap menangkap atau bahkan menghancurkan Ryn di tempat.
"Tunggu!" teriak Penatua Ren dari Sekte Angin Bayangan, maju berdiri di samping Ryn. "Ryn adalah murid kami. Pertandingan ini belum selesai. Kita tidak boleh melanggar aturan hanya karena takut pada apa yang tidak kita pahami."
Namun otoritas Persekutuan Dewa lebih kuat daripada sekte manapun. Mereka tidak mendengarkan alasan apa pun.
Saat itu, dari belakang penonton, muncul sosok yang tidak pernah disangka-sangka. Lira dari Sekte Angin Langit melangkah maju dan berdiri di samping Ryn.
"Jangan sentuh dia!" teriak Lira dengan berani. "Dia tidak melakukan kejahatan apa pun. Dia hanya menunjukkan kekuatannya dengan jujur, berbeda dengan mereka yang menuduh tanpa bukti!"
Situasi menjadi sangat tegang. Di satu sisi ada kekuatan besar dari Persekutuan Dewa, di sisi lain ada murid dari tiga sekte besar yang berdiri bersama Ryn.
Ryn menoleh ke arah Lira dan Penatua Ren, lalu mengangguk perlahan.
"Terima kasih," kata Ryn. "Tapi ini adalah ujian yang harus saya hadapi sendiri."
Ia menghadap ke arah pengawal Persekutuan Dewa dan berkata:
"Jika kalian ingin menangkapku, kalian harus membuktikan bahwa aku benar-benar jahat. Tapi ingatlah, kekuatan ini diciptakan untuk menjaga, bukan untuk menghancurkan."
Tanpa menggunakan kekuatan penuh, Ryn menggunakan teknik pertahanan kuno yang membuat semua serangan dari pengawal itu terpental kembali tanpa menyentuh tubuhnya. Dalam waktu singkat, ia berhasil menahan serangan mereka tanpa menyakiti siapa pun.
Penatua Aldric mengerti bahwa mereka tidak bisa menangkap Ryn dengan cara paksa di depan banyak saksi. Ia harus mencari cara lain.
"Kita tidak akan berhenti di sini," kata Penatua Aldric dengan suara dingin. "Kamu akan diawasi terus, Ryn. Dan suatu hari nanti, kita akan menentukan nasibmu yang sebenarnya."
Setelah kejadian itu, pertandingan resmi selesai tanpa pemenang yang jelas secara resmi, namun banyak orang yang mulai melihat Ryn dengan pandangan baru. Ia tidak hanya dianggap sebagai murid berbakat, tetapi juga sebagai simbol kebenaran yang sedang dicari.
Malam itu, saat semua orang sudah kembali ke penginapan, Zarathos muncul di depan Ryn dengan wajah puas.
"Kamu melakukan hal yang tepat, Ryn," kata Zarathos. "Kamu tidak bersembunyi lagi. Kamu menunjukkan siapa kamu sebenarnya. Dan ini adalah langkah besar pertama menuju tujuanmu."
"Apa yang akan terjadi selanjutnya, Guru?" tanya Ryn.
"Mereka tidak akan membiarkanmu hidup tenang lagi," jawab Zarathos. "Persekutuan Dewa akan mulai bergerak lebih cepat. Tapi itu bukan hal yang buruk. Semakin cepat mereka bergerak, semakin cepat kita bisa mengungkap seluruh kebenaran."