NovelToon NovelToon
Mempelai Cantik Untuk Sang Juragan

Mempelai Cantik Untuk Sang Juragan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

~~

Di tengah pekatnya suasana pedesaan yang kental dengan tradisi, Larasati, seorang gadis cantik dan muda, harus merelakan masa mudanya hilang setelah terjebak dalam perjodohan politik. Ia dinikahkan dengan Raden Mas Baskoro, seorang juragan terpandang dengan usia yang terpaut jauh dengannya yang memiliki watak kaku dan dingin. Pernikahan mereka bukanlah didasari oleh cinta, melainkan sebuah kewajiban untuk menjaga martabat dan meneruskan garis keturunan keluarga besar sang juragan.

~~



Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 1

*****

Asap kemenyan membubung kelabu, menari-nari di sela-sela tiang soko guru pendopo yang megah. Bau harumnya yang pekat berbaur dengan aroma minyak melati dari ronce yang menggantung berat di sanggul Larasati. Kepalanya terasa pening. Sudah berjam-jam dia dipaksa duduk bersila, menjadi tontonan ratusan pasang mata dalam upacara pernikahan adat kuno yang seolah tak memiliki akhir.

Jarik beludru hitam yang membungkus tubuh mungilnya terasa mencekik, sementara wiru kain batiknya dilipat begitu ketat, menahan setiap tarikan napasnya yang gemetar. Di usianya yang baru menginjak sembilan belas tahun, Larasati merasa malam ini bukanlah malam pernikahan, melainkan sebuah upacara penyerahan diri.

Di sebelahnya, duduk sesosok pria yang kini resmi menjadi suaminya. Raden Mas Baskoro. Pria gagah berusia tiga puluh lima tahun itu duduk dengan tegap tanpa bergerak sedikit pun. Wajahnya yang kaku berhias kumis tipis terawat, memancarkan aura wibawa yang dingin. Sepanjang ritual kacar-kucur tadi, ketika tangan besar Baskoro menuangkan beras kuning dan uang logam kuno ke bentangan kain di pangkuannya, Larasati bahkan tidak berani bernapas. Gemerincing koin-koin itu terdengar seperti suara rantai yang mengikat kebebasannya.

Malam semakin larut ketika seluruh rangkaian resepsi di pelataran luar akhirnya selesai. Gamelan yang bertalu-talu sejak siang mulai mereda, menyisakan tabuhan saron yang lamat-lamat dan sayup. Suasana pedesaan zaman lampau itu seketika disergap oleh kegelapan yang pekat. Di luar kompleks rumah juragan, desa itu gulita. Hanya ada nyala obor bambu yang dipasang setiap sepuluh langkah dan temaram lampu teplok yang bergoyang ditiup angin pegunungan.

"Mari, Nduk. Langkahnya ditata. Jangan sampai kainmu tersingkap," sebuah suara parau berbisik di dekat telinga Larasati.

Nyai ganal, seorang wanita paruh baya yang dituakan di keluarga besar Baskoro, memegang pundak Larasati. Wanita itu menyelimuti punggung Larasati dan Baskoro dengan kain sinduran—sehelai kain merah putih panjang—lalu menuntun keduanya berjalan perlahan menuju rumah joglo utama yang berdiri angkuh di atas bukit kecil.

Langkah kaki Larasati terasa teramat berat. Setiap kali kakinya melangkah di atas tanah berbatu, cincin di jarinya terasa dingin. Di sepanjang jalan setapak menuju rumah joglo, puluhan abdi dalem dan penduduk desa berdiri berderet. Begitu Baskoro melintas, mereka serentak menundukkan kepala dalam-dalam, sebagian bahkan berlutut di tanah kering. Penghormatan feodal yang begitu mutlak ini justru membuat bulu kuduk Larasati meremang.

Di atas bukit, rumah joglo milik Sang Juragan berdiri kokoh, dikelilingi oleh pohon beringin tua yang daun-daun lebatnya bergerak lambat diterpa angin malam. Suara burung hantu di kejauhan bersahutan dengan derik jangkrik yang tajam, mempertegas kesan bahwa Larasati kini benar-benar terperangkap di sebuah dunia asing yang menyeramkan.

"Hati-hati dengan undakannya, Nduk," bisik Nyai ganal lagi saat mereka mulai menaiki tangga selasar jati.

Larasati hanya mengangguk samar. Matanya menatap bayangan tubuhnya sendiri yang memanjang di dinding kayu akibat pantulan cahaya obor. Di depannya, punggung tegap Baskoro bergerak tanpa keraguan, seolah pria itu adalah raja kecil di wilayah ini.

Begitu melintasi pintu kayu jati yang tebal, mereka tiba di ruang dalam—sebuah ruangan luas yang sunyi, hanya diterangi oleh lampu minyak gantung berukuran besar. Suasana di dalam sini begitu hening, kontras dengan keramaian di pelataran luar tadi.

Baskoro menghentikan langkahnya tepat di tengah ruangan. Ia membalikkan badan perlahan, menghadap Nyai ganal dan para abdi dalem yang mengekor di belakang mereka.

"Tinggalkan kami sendiri," perintah Baskoro. Suaranya bariton, rendah, namun memiliki penekanan yang berat dan tidak membantah.

Nyai ganal langsung mengatupkan kedua telapak tangannya di depan dada, membungkuk takzim. "Inggih, Raden Mas. Segala keperluan di kamar pengantin sudah hamba siapkan."

Setelah itu, pemandangan yang membuat Larasati bergidik terjadi. Nyai ganal dan tiga abdi dalem perempuan lainnya mundur perlahan menuju pintu keluar dengan cara berjalan jongkok—laku dodok. Lutut mereka menyentuh lantai lantai tegel yang dingin, bergerak mundur tanpa sekali pun berani mengangkat wajah menatap Baskoro. Setelah pintu jati ditutup rapat dari luar, keheningan yang mencekam langsung menyelimuti ruangan.

Larasati membeku. Ia berdiri di sudut ruangan dekat sebuah pilar kayu besar, meremas ujung jariknya dengan telapak tangan yang basah oleh keringat dingin. Jiwa remajanya menjerit, ingin sekali ia berlari keluar, pulang ke rumah gubuk orang tuanya yang hangat, lalu bermain di sungai bersama teman-teman sebayanya besok pagi. Namun realita menghantamnya keras; ia adalah istri seorang juragan sekarang.

Baskoro membalikkan tubuhnya, menatap lurus ke arah istri kecilnya yang tampak seperti kijang tersudut. Pria itu menghela napas panjang, membuat dada bidangnya naik-turun. Ia melangkah mendekat, langkah kakinya terdengar berat di atas lantai jati.

"Sampai kapan kamu mau berdiri di sana seperti patung, Larasati?" tanya Baskoro datar. Tidak ada nada amarah, namun dinginnya suara itu sanggup membuat Larasati berjengit.

"I-inggih, Gusti Juragan..." Larasati menjawab dengan suara mencicit, nyaris tak terdengar. Ia langsung menundukkan kepala, enggan menatap mata tajam suaminya.

Baskoro berjalan menuju meja marmer di tengah ruangan. Dengan gerakan takzim namun efisien, ia melepas keris pusaka yang terselip di pinggang belakangnya. Bunyi logam keris yang diletakkan di atas kotak kayu jati terdengar berdentang, klontang, menggema di ruangan yang sepi itu.

"Jangan memanggilku Juragan di dalam rumah ini. Aku suamimu," kata Baskoro sembari melepas kuluk—topi pengantin Jawa—dari kepalanya, menyisakan rambutnya yang tertata rapi.

"Nyuwun sewu, Raden Mas..." Larasati meralat ucapannya dengan tubuh yang semakin gemetar.

Baskoro menatap gadis itu lekat-lekat. Ia melangkah mendekati Larasati, berhenti tepat tiga langkah di depannya. Dari jarak ini, Baskoro bisa melihat dengan jelas bagaimana bahu tipis istrinya naik-turun karena ketakutan. Ada rasa bersalah yang berdenyut samar di dada pria matang itu. Ia tahu pernikahan politik ini merampas paksa masa muda gadis di depannya demi sebuah trah dan garis keturunan. Namun, gengsi dan kewibawaan seorang juragan membuatnya tetap memasang wajah kaku.

"Masuklah ke kamar. Bersihkan riasan wajahmu yang tebal itu. Bau melatinya membuatku pening," perintah Baskoro lagi, lalu berbalik memunggungi Larasati untuk melepas beskap hitamnya.

Larasati tidak menjawab. Dengan gerakan secepat yang bisa dilakukan oleh kain jarik yang melilit ketat kakinya, ia berjalan setengah menyeret langkah menuju kamar utama yang pintunya sedikit terbuka.

Begitu melangkah masuk, aroma dupa ratus yang dibakar di atas anglo kecil langsung menyergap indra penciumannya. Kamar itu sangat luas. Di tengahnya terdapat sebuah ranjang jati raksasa berkaki empat dengan kelambu sutra putih yang menggantung. Di atas ranjang, bertabur kelopak bunga mawar merah dan melati. Bukannya terlihat romantis, di mata Larasati yang polos, kamar itu tampak seperti sangkar emas yang menakutkan.

Larasati berjalan mendekati cermin besar berbingkai ukiran kayu kuno. Ia menatap pantulan dirinya sendiri. Wajahnya yang biasa polos tanpa riasan kini tertutup bedak tebal dengan paes hitam di dahi. Ia terlihat asing bagi dirinya sendiri. Setetes air mata perlahan meluncur, merusak bedak di pipinya.

Krieeek...

Pintu kamar ditutup. Larasati terkejut dan langsung membalikkan badan. Baskoro sudah berada di dalam kamar, kini hanya mengenakan kemeja putih longgar berbahan katun tipis dan kain sarung tenun hitam. Sosoknya terlihat semakin besar di bawah temaram lampu minyak kamar.

"Kenapa menangis? Apa ada ritual yang membuatmu sakit?" tanya Baskoro, suaranya terdengar sedikit lebih berat saat ia duduk di tepi ranjang jati.

Larasati buru-buru menyeka pipinya dengan punggung tangan. "M-mboten, Raden Mas. Kulo... kulo hanya lelah."

Baskoro terdiam sesaat. Matanya tertuju pada jari-jari kecil Larasati yang terus meremas kain. "Jika lelah, kenapa masih berdiri di sana? Kemari. Lepas sanggulmu. Apa lehermu tidak patah menyangga konde seberat itu?"

Mendengar perintah itu, ketakutan Larasati memuncak. Dalam cerita-cerita yang didengarnya dari para wanita di desa, malam pertama adalah saat di mana seorang suami akan menagih haknya dengan mutlak, tanpa peduli sang istri siap atau tidak. Bayangan harus melayani pria yang jauh lebih dewasa darinya itu membuat Larasati gemetar hebat. Ia melangkah maju dengan sangat lambat, lututnya terasa lemas seperti lolos dari persendian.

"Raden Mas..." bisik Larasati saat sudah berdiri di dekat ranjang, matanya menatap lantai tegel. "Kulo... kulo nyuwun pangapunten... kulo dereng siap..." (Saya mohon maaf, saya belum siap).

Suasana mendadak hening. Hanya terdengar suara retakan kecil dari sumbu lampu minyak yang terbakar.

Baskoro menatap Larasati yang menunduk dengan tubuh gemetar. Pria berusia tiga puluh lima tahun itu menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan melalui hidung. Sebagai seorang juragan kaya yang terbiasa dihormati dan dituruti kata-katanya, penolakan tersirat seperti ini seharusnya memicu amarahnya. Namun, melihat kepolosan dan ketakutan yang begitu nyata di wajah istri kecilnya, ego Baskoro melunak.

Baskoro berdiri, membuat Larasati refleks mundur selangkah karena panik. Pria itu tidak menyentuh Larasati. Ia justru berjalan menuju lemari kayu besar, mengambil sebuah kain jarik tebal bermotif sidomukti yang harum karena disimpan bersama akar wangi.

Baskoro kembali ke ranjang, lalu meletakkan guling besar tepat di tengah-tengah kasur kapuk yang luas itu, membagi ranjang menjadi dua bagian yang sama besar.

"Tidurlah di sebelah sana," kata Baskoro dingin sambil menunjuk sisi ranjang yang paling jauh dari pintu. "Aku tidak akan menyentuhmu malam ini. Ataupun malam-malam berikutnya, sampai kamu sendiri yang siap dan memintanya."

Larasati mendongak, matanya yang basah melebar karena terkejut. "Raden Mas... mboten bendu?" (Raden Mas tidak marah?)

Baskoro tidak menjawab pertanyaan itu secara langsung. Ia melemparkan kain jarik tebal ke arah Larasati, yang dengan cekatan ditangkap oleh gadis itu. "Ganti pakaianmu di balik kelambu. Angin malam pegunungan di sini sangat dingin. Aku tidak mau punya istri yang sakit-sakitan di hari pertama pernikahan."

Setelah mengatakan itu, Baskoro langsung berbaring di sisinya, membelakangi guling pembatas dan memejamkan mata. Sikapnya kembali kaku dan sedingin es, seolah-olah percakapan manis baru saja tidak pernah terjadi.

Larasati terpaku memandangi punggung suaminya yang lebar. Ada rasa lega yang luar biasa besar menyeruak di dadanya, namun di saat yang sama, rasa asing dan canggung yang tebal mulai membangun dinding di antara mereka. Dengan hati-hati, Larasati merangkak naik ke atas ranjang di sisi yang lain, meringkuk di bawah selimut jarik tebal, menatap bayang-bayang lampu minyak yang bergoyang gelisah di langit-langit kamar joglo yang sunyi.

Bersambung

1
partini
ko bisa masuk si Bagas ga ada penjaga gitu
partini
kang datang udah di jotos pala mu gass,,ayo nduk di jawab kalau kamu dah cinta sama kang mas kalau ga siap" badai tornado
falea sezi
🤣🤣 aki2 istrimu bukan budak. yg harus di kurung
falea sezi
biar keguguran aja lah😒 biar gendeng😒 ini aki2 cemburuan amat
partini
judul nya di ganti ya Thor
partini
Kya Majapahit ini cerita
falea sezi
senengnya moga aja anak kembar
sunshine wings
Kagum ceritanya..
Sangat menarik..
Love sekebon..
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Alissia
bagus thor ceritanya🤭🤭
New Riska
gemes
lanjut tor semangat
imel
waah ceritanya settingan bangsawan Jawa. jadi ngerti dikit². semangat buat otornya💪💪
Dewi Habibah
lanjut
New Riska
semagat tor, tak tunggu bab selanjutya 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!