Menjadi mahasiswa Arsitektur semester tiga dan aktif dalam kegiatan himpunan sudah cukup menguras energi Gea. Kehadiran Jay yang manis terasa seperti tempat peristirahatan di tengah penatnya kegiatan. Pertama kali menjalin kasih, Gea fikir akan berjalan mulus, penuh rasa menggelitik, dan menyenangkan. Namun, kisah romansanya tidak berjalan mulus seperti yang dia bayangkan.
Kecemburuan dan kekangan dari Jay terasa semakin menyesakkan. Kuliah di jurusan yang di dominasi oleh pria, Gea tidak bisa bebas berinteraksi dengan pria, bahkan dengan sahabat dan sepupunya sendiri. Membuat keretakan dan hubungan mereka pun harus kandas.
Saat Gea tidak berpikir untuk menjalin hubungan baru, atau membuka hatinya untuk orang baru, dia dipertemukan dengan seseorang yang menawarkan kenyamanan yang berbeda. Seseorang yang hadir tanpa menuntut.
Bisakah Gea melepaskan luka masa lalunya dan menyambut dengan utuh seseorang yang datang di waktu yang dia tak sangka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Laila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PUTUS - Part 1
Belakangan ini, Jay terlihat sangat jelas sedang menghindari Gea. Entah untuk satu atau lain hal, pria itu seolah sengaja membangun dinding pembatas di antara mereka. Interaksi mereka mendadak menurun drastis, hanya menyisakan obrolan seputar tugas kuliah atau urusan himpunan yang tidak bisa didelegasikan kepada orang lain.
Saat Gea akhirnya berhasil menemui Jay dan menanyakan ke mana pria itu pergi atau mengapa dia tidak membalas chat-nya semalam, Jay merespon dengan teramat santai.
“Kemaren tiba-tiba aku ditelepon Adam, katanya dia pingsan di kosan dan harus langsung dibawa
ke rumah sakit. Makanya aku gak sempet ngabarin kamu,” jawab Jay tanpa beban.
Ada kata maaf yang meluncur setelahnya, namun kalimat itu sama sekali tidak terdengar tulus di telinga Gea. Nada suaranya datar,kosong, dan terkesan hanya diucapkan sekedar untuk menggugurkan kewajiban agar Gea tidak memperpanjang masalah.
Namun, Gea tidak bodoh. Ketika ia mencoba membawa obrolan ke arah yang lebih serius mengenai hubungan mereka yang sudah lama kehilangan quality time, Jay kembali menepisnya
dengan tameng kesibukan.
“Kita kan emang lagi sama-sama sibuk, Ya. Program kerja himpunan lagi padet-padetnya, belum lagi tugas kuliah kita yang gak ada habisnya,” sahut Jay, memotong pembicaraan dengan mudah.
Padahal, Gea sama sekali tidak menuntut sebuah kencan mewah yang menghabiskan waktu seharian. Ia hanya ingin sekedar duduk berdua di kedai kopi, makan bareng tanpa interupsi, dan
membicarakan benang kusut yang terus-menerus berputar di antara mereka tanpa menemukan
ujungnya. Gea ingin mereka saling meluruskan kesalahpahaman. Namun, setiap kali usaha itu
dimulai, Gea selalu merasa Jay sengaja menutup pintu rapat-rapat dan tidak memberikan izin
sedikit pun bagi Gea untuk masuk.
Frustrasi karena seluruh usahanya membentur dinding keras yang sama, Gea akhirnya menyerah. Ia sudah teramat lelah untuk terus mencoba menjadi satu-satunya pihak yang
memohon-mohon agar hubungan ini diperbaiki.
Setiap kali Gea berinisiatif meluangkan waktu di sela jadwal kuliahnya yang padat demi melepas penat sekaligus menghangatkan kembali hubungan mereka yang kian hari kian mendingin, Jay selalu punya seribu satu alasan untuk menolak. Kata 'tidak bisa' atau 'ada janji lain' selalu menjadi jawaban utama. Kalaupun pada akhirnya pria itu bersedia meluangkan waktu untuk bertemu, Jay akan dengan lihai mengalihkan atau menghindari semua topik serius yang ingin diangkat oleh Gea. Pria itu bertingkah seolah hubungan mereka baik-baik saja, mengabaikan fakta bahwa ada sesuatu yang sedang sekarat di antara mereka.
Ironisnya, di saat Jay berulang kali menegaskan bahwa dirinya teramat sibuk, layar ponsel Gea justru menyuguhkan kenyataan yang sebaliknya.
Gea menyaksikan dengan mata kepala sendiri melalui pembaruan story dan feed media sosial Jay, bagaimana pria itu sebenarnya bisa dengan sangat santai menikmati waktu luangnya untuk berkumpul dan bermain bersama teman-temannya. Bahkan tidak jarang, dalam unggahan-unggahan tersebut, Jay hanya pergi berdua atau bertiga dengan teman wanitanya.
Apakah Gea cemburu? Tentu saja. Namun, rasa cemburu itu kini sudah kalah telak oleh gunungan rasa kesal dan kecewa yang kian menumpuk di dasar hatinya. Gea cemburu melihat bagaimana Jay bisa begitu royal membagikan sisa waktunya yang berharga untuk orang lain, tetapi bersikap teramat pelit untuknya. Dan di atas segalanya, Gea kesal karena ia baru menyadari bahwa dalam hidup Jay, posisinya sebagai kekasih ternyata berada di urutan paling bawah.
...****************...
“Gimana menurut kamu?”
Pertanyaan itu terlontar dari mulut Jay di suatu sore yang mendung. Sebelum rapat koordinasi
himpunan dimulai, mereka berdua memutuskan untuk melipir sebentar ke sebuah kafe dekat kampus sembari menunggu mahasiswa angkatan lain selesai dengan kelas mereka.
Gea yang tengah mengaduk minumannya mendongak bingung. “Soal?”
“Kamu udah sadar belom, salahnya kamu dimana?” tanya Jay, menatap Gea lekat dengan melipat kedua tangannya di atas meja.
“Aku?” Gea mengerutkan kening, benar-benar tidak mengerti arah pembicaraan ini. “Aku ada
salah apa, Ay?”
Isi kepala Gea mendadak berputar cepat, mencoba mengingat kesalahan apa yang mungkin telah ia perbuat hingga membuat pria di depannya ini kembali memasang wajah menginterogasi. Pasalnya, belakangan ini Gea merasa tidak melakukan apapun yang melanggar aturan tak tertulis dari Jay. Dia selalu mengendarai motor sendiri setiap hari saat Jay tidak bisa menjemputnya. Gea juga sama sekali tidak pernah berinteraksi atau bertemu dengan pria mana pun di luar urusan kuliah, kampus, dan himpunan. Lingkaran sosialnya menyusut drastis, hanya menyisakan ketiga sahabat perempuannya. Ia bahkan selalu meminta izin dan rajin bertukar kabar ke mana pun kakinya melangkah. Lantas, di mana letak kesalahannya?
“Kamu selama ini udah bikin aku kesel dengan kedekatan kamu sama cowok-cowok lain,” tukas Jay dengan nada menghakimi. “Kamu bisa dengan santai jalan sama mereka, atau main sama mereka, tanpa pernah mikirin gimana perasaan aku yang cemburu.”
Kedua alis Gea bertaut rapat. Napasnya mulai terasa berat.
“Makanya, aku sengaja belakangan ini kayak gini ke kamu,” lanjut Jay dengan nada teramat santai,
seolah tindakannya adalah hal yang paling logis di dunia. “Biar kamu juga tau gimana rasanya jadi
aku. Perasaan aku yang kamu acuhkan, atau mungkin… kamu menganggap semua perasaan aku ini cuma hal sepele.”
“Ay!” sentak Gea. Untuk pertama kalinya sore itu, nada suaranya naik satu oktaf, memotong kalimat Jay. “Gak pernah sekali pun ya, aku menganggap yang kamu omongin itu sepele.”
“Tapi kamu juga gak pernah paham," potong Jay tidak mau kalah, suaranya tetap ditekan namun
serat akan tuntutan. “Kamu posting satu foto aja, banyak cowok-cowok yang nge-like. Sengaja banget, kan, emang buat mancing perhatian orang lain?”
Dadanya kian bergemuruh hebat. “Gak pernah aku ada niat sedikit pun di hati aku buat mancing siapapun. Aku posting foto karena aku suka, karena aku mau mengabadikan momen berharga aku. Dan itu pun udah lama, Ay! Aku udah gak pernah update apa-apa lagi semenjak kamu suruh aku buat gak aktif di IG.”
“Bagus kalau kamu paham. Aku harap habis ini kamu ada kesadaran buat gak macem-macem, Ya,” ucap Jay final, seolah ia baru saja memenangkan sebuah persidangan.
Gea menghembuskan napas panjang yang bergetar. Bibirnya tertarik sebelah, mengulas sebuah senyum getir yang dipenuhi rasa sakit hati mendalam atas penuturan sang kekasih.
“Pertama, aku udah berusaha buat ngikutin semua maunya kamu. Gak bikin kamu kesel,
cemburu or whatever you named it. Kedua, aku udah mencoba berkali-kali buat mengajak kamu duduk bareng membahas tentang kelanjutan kita, tapi kamu selalu menghindar,” Gea menjeda kalimatnya, menatap lurus ke dalam manik mata Jay yang terasa asing. “Terus, kamu malah sengaja kayak gitu? Sengaja ngediemin aku biar aku ngerasain apa yang kamu rasain?” Gea menggelengkan kepalanya tidak percaya. “Aku udah gak ngerti lagi jalan pikiran kamu, Ay. Kamu
pikir dengan cara kekanak-kanakan kayak gini, masalah dalam hubungan kita bisa selesai?”
“Tentu,” jawab Jay penuh percaya diri. “Dengan kamu ngerasain apa yang aku rasain, aku gak perlu capek lagi berantem sama kamu. Karena apa? Karena kamu udah tau rasanya sesakit apa. Atau… jangan-jangan kamu sebenernya gak ada cemburu sedikit pun pas kau jalan berdua sama cewek lain belakangan ini?”
Pertanyaan retoris itu menjadi pemantik terakhir yang membakar habis sisa-sisa kesabaran Gea.
“Kamu mau bikin aku cemburu? Iya! Aku cemburu!” nada suara Gea meninggi, membuat
beberapa pengunjung di sudut café sempat menoleh ke arahnya. Namun, Gea sudah tidak peduli lagi. “Aku cemburu kamu bisa meluangkan waktu kamu yang katanya SIBUK itu ke temen-temen kamu! Aku cemburu kamu bisa upload foto mereka dengan bebas! Aku cemburu ngeliat kamu bisa jalan berdua sama temen cewek kamu, di saat aku harus mengemis dan berusaha keras ngerencanain waktu luang sekedar buat kita makan bareng. Itu aja susah! Udah puas kamu sekarang?!”
Air mata yang sejak tadi ditahannya kini sudah mendesak di pelupuk mata. Tanpa menunggu respon dari Jay, Gea langsung menyambar ponselnya di atas meja, berbalik, dan melangkah lebar meninggalkan cafe. Ia berjalan secepat yang ia bisa, dengan dada yang kembang kempis dan rasa sesak yang mencekat kuat di tenggorokannya.
Gea ingin berteriak sekeras-kerasnya. Dia marah, kesal, sekaligus luar biasa kecewa. Bagaimana pria yang begitu dia sayangi bisa berpikir sepicik dan sekejam itu? Pandangannya mengabur akibat air maranya yang mulai merebak, membuat Gea berjalan dengan sangat tanpa menyadari ada sosok tubuh tinggi di depannya. Langkahnya terhuyung mundur.
“Sorry,” bisik Gea lirih, suaranya parau menahan tangis yang siap meledak.
“Gea?”
Mendengar suara yang familier menyebut namanya, Gea mengangkat kepalanya yang terasa berat. Sesosok pria tinggi bernama Lyon kini tengah berdiri di hadapannya dengan raut wajah terkejut. Begitu mata mereka bertemu, pertahanan Gea runtuh seketika. Air matanya tumpah ruah membasahi pipi, diiringi deru napasnya yang semakin memburu akibat tangis yang tak lagi mampu dibendung.
Melihat kondisi Gea yang mendadak histeris, Lyon sempat dirundung bingung. Namun tanpa banyak bertanya, pria itu segera melangkah maju, merangkul bahu Gea dengan lembut, membawa gadis itu ke sudut koridor yang lebih sepi untuk menenangkannya. Lyon diam, tidak menghujani Gea dengan rentetan pertanyaan, ia hanya membiarkan Gea menumpahkan seluruh sesak di dadanya hingga tangis gadis itu perlahan mereda menjadi sesenggukan kecil.
Setelah Gea merasa sedikit lebih tenang, Lyon menjauhkan tubuhnya perlahan. “Kita ke kantin dulu yuk? Gue beliin minum dingin buat lo.”
Gea menggeleng lemah, menyeka sisa air mata di pipinya dengan ujung jari. “Gak usah, Yon. Gue ada rapat di himpunan sore ini.”
Lyon menatap lekat wajah di depannya dengan dahi berkerut. “Lo mau ke himpunan dengan mata lo yang sembab gitu? Balik aja yuk, gue anter pulang. Nanti biar gue telpon Malik kalo lo gak enak badan.”
“Tapi motor gue gimana?” tanya Gea bimbang.
“Nanti motor lo gue titip di kosan temen gue, atau lo titip kuncinya ke Karin biar dia yang bawa.”
Gea menimbang-nimbang tawaran itu dalam hati. Logikanya tahu bahwa sore ini ada agenda rapat
penting, tetapi harga dirinya jauh lebih menolak untuk terlihat begitu menyedihkan dan hancur di
depan semua anak-anak himpunan, terutama di depan Jay.
Akhirnya, Gea mengangguk pasrah, mengiyakan ajakan Lyon untuk pulang. Sebelum beranjak ke parkiran, Gea menyempatkan diri menghampiri Karin, Nindy, dan Risa yang kebetulan baru saja berjalan beriringan menuju himpunan. Dengan cepat, Gea menitipkan kunci motornya kepada Karin dan berjanji akan menceritakan segalanya begitu mereka pulang dari rapat nanti.
Beruntung, karena situasi koridor saat itu mulai ramai oleh anggota himpunan lain yang berdatangan, ketiga sahabatnya menahan diri untuk tidak bertanya lebih jauh di tempat. Tidak ada satu pun anak-anak himpunan yang menyadari mata sembab Gea, memberi ruang bagi gadis itu untuk melangkah pergi dari sana bersama Lyon dengan sisa harga diri yang berhasil diselamatkan.
...****************...