Theo, seorang bocah jenius dengan pemahaman luar biasa tentang pasar modal, lahir di keluarga yang serba kekurangan. Kehidupannya yang sederhana berbanding terbalik dengan kecemerlangannya dalam menganalisis grafik saham dan memprediksi tren pasar. Suatu ketika, sebuah kesempatan tak terduga datang saat ia menemukan sebuah buku tua berisi strategi investasi legendaris. Dengan modal nekat dan kecerdasannya yang tak tertandingi, Theo mulai merintis jalan dari nol. Ia bertekad membuktikan bahwa kecerdasan finansial dapat mengubah nasib, bahkan bagi anak dari keluarga miskin sekalipun, dan membawa keluarganya keluar dari jurang kemiskinan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon (Rahu)l, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Pertemuan yang Tak Terduga
Hari berganti hari, dan Theo semakin menikmati kehidupannya di Glory School. Ia menemukan keseimbangan antara pelajaran yang menantang dan pertemanan yang mulai terjalin. Interaksinya dengan Elsa pun semakin intens. Mereka sering belajar bersama, bertukar pikiran tentang berbagai mata pelajaran, dan sesekali berbagi cerita pribadi. Persaingan sehat yang mereka sepakati di taman sekolah perlahan mulai membuahkan hasil, membuat keduanya semakin bersemangat untuk meraih prestasi.
Suatu sore, saat Theo sedang berjalan pulang dari sekolah, ia memutuskan untuk mengambil jalan memutar melalui taman kota yang tidak jauh dari rumahnya. Ia ingin menikmati udara segar dan sedikit merenung sebelum kembali ke kesibukan rumah. Saat ia duduk di salah satu bangku taman, pandangannya tertuju pada seorang gadis yang sedang duduk sendirian di bangku lain, membelakangi arah datangnya. Gadis itu tampak tenggelam dalam pikirannya, sesekali menghela napas panjang.
Ada sesuatu yang familiar dari siluet gadis itu, namun Theo tidak yakin siapa. Ia terus memperhatikannya, hingga akhirnya gadis itu menoleh. Seketika, jantung Theo berdebar kencang. Ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Di hadapannya, duduk seorang gadis yang pernah sangat berarti dalam hidupnya, namun sudah lama tidak ia temui.
"Cristal?" bisik Theo, nyaris tidak terdengar.
Gadis itu tersentak mendengar namanya disebut. Ia menoleh ke arah Theo, matanya membelalak kaget. Ia juga mengenali Theo. Wajahnya memucat, dan ia tampak ragu untuk bereaksi.
"Theo?" ucap Cristal, suaranya bergetar. "Benarkah itu kau?"
...****************...
Theo bangkit dari bangku, melangkah mendekat. Senyum lebar menghiasi wajahnya, senyum yang tulus dan penuh kelegaan. "Ya, Cristal. Ini aku," jawab Theo. "Apa kabar?"
Cristal masih terlihat syok, namun perlahan senyum mulai menghiasi bibirnya. Ia berdiri, dan keduanya saling berhadapan, seolah waktu dua tahun yang memisahkan mereka lenyap seketika. Tanpa berpikir panjang, refleks Cristal memeluk Theo erat. Pelukan itu begitu erat, penuh dengan kerinduan yang terpendam selama ini. Air mata mulai membasahi pipinya, namun kali ini air mata kebahagiaan.
Theo sedikit terkejut dengan reaksi tiba-tiba Cristal, namun ia membalas pelukan itu. Ia bisa merasakan betapa Cristal merindukannya, sama seperti dirinya yang juga merindukan sahabat lamanya itu.
"Aku merindukanmu, Theo," bisik Cristal di telinga Theo, suaranya tercekat oleh emosi. "Aku sangat merindukanmu."
Theo mengelus punggung Cristal dengan lembut. "Aku juga merindukanmu, Cristal," balasnya. "Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu di sini."
Mereka melepaskan pelukan, namun tatapan mata mereka masih saling mengunci. Ada banyak hal yang ingin mereka ceritakan, banyak pertanyaan yang ingin mereka ajukan. Namun, untuk saat ini, keheningan yang nyaman menyelimuti mereka, dipenuhi dengan rasa lega karena akhirnya bisa bertemu kembali.
"Kau bersekolah di sini?" tanya Theo, memecah keheningan.
Cristal mengangguk. "Ya. Di International School. Dan kau? Kau terlihat berbeda, Theo. Kau semakin tinggi."
"Aku bersekolah di Glory School," jawab Theo.
"Glory School? Wah, hebat sekali!" seru Cristal, matanya berbinar. "Aku pernah dengar tentang sekolah itu. Pasti sangat menantang."
"Memang," Theo tertawa kecil.
...****************...
"Memang," Theo tertawa kecil. "Tapi aku menikmatinya. Dan kau, bagaimana kabarmu selama ini?"
Cristal menghela napas, senyumnya sedikit memudar. "Sejak dua tahun lalu, setelah kejadian di rumahku, ayahku melarangku bertemu denganmu lagi, Theo," katanya, suaranya terdengar sedih. "Aku tidak tahu persis alasannya, tapi dia bilang pertemanan kita tidak cocok dengan citra keluarga kami."
Theo mendengarkan dengan saksama, rasa kecewa sedikit menyelimuti hatinya. Ia mengerti betapa kuatnya pengaruh ayah Cristal. "Aku mengerti," katanya pelan. "Aku juga sempat bertanya-tanya kenapa kau menghilang begitu saja."
Kemudian, giliran Theo yang menceritakan pengalamannya di Glory School. Ia menceritakan tentang tantangan akademis yang luar biasa, tentang guru-guru yang kompeten, dan tentang teman-teman sekelasnya yang cerdas. Ia juga menceritakan tentang Elsa, dan bagaimana mereka menjadi teman baik serta bersaing secara sehat untuk meraih peringkat teratas.
...****************...
Mereka terus bercerita, berbagi pengalaman hidup masing-masing selama dua tahun terakhir. Theo menceritakan tentang tantangan akademis yang luar biasa di Glory School, tentang guru-guru yang kompeten, dan tentang teman-teman sekelasnya yang cerdas. Ia juga menceritakan tentang Elsa, seorang teman dekatnya yang juga sangat ambisius. "Elsa itu teman sekelasku," jelas Theo. "Kami sering belajar bersama dan bersaing sehat untuk meraih peringkat teratas. Dia sangat pintar dan pekerja keras."
Saat Theo menyebut nama Elsa dan menceritakan kedekatan mereka, Cristal nampak sedikit kecewa. Ada kilatan kesedihan di matanya, yang tidak luput dari perhatian Theo. Ia bisa merasakan ada sesuatu yang berubah dari raut wajah Cristal. Senyumnya sedikit memudar, dan ia menatap Theo dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Oh, begitu," ucap Cristal pelan, suaranya terdengar sedikit datar. Ia mencoba menyembunyikan perasaannya, namun Theo bisa merasakan ada sesuatu yang mengganjal.
Theo menangkap perubahan itu. Ia sedikit ragu, namun memutuskan untuk melanjutkan ceritanya, berharap Cristal tidak salah paham. "Ya, kami sangat akrab. Dia banyak membantuku beradaptasi di sekolah baru," tambahnya, mencoba menjelaskan lebih lanjut.
Cristal hanya mengangguk singkat, pandangannya kini tertuju pada sepatu yang dikenakannya. Ia mencoba untuk tetap terlihat biasa saja, namun rasa kecewa itu perlahan mulai merayap. Dulu, ia dan Theo adalah sahabat karib. Ia selalu berpikir bahwa Theo adalah satu-satunya sahabat yang ia miliki. Mendengar Theo kini memiliki teman dekat lain, apalagi seorang teman perempuan, membuatnya merasa sedikit tersisih. Ia rindu masa-masa ketika hanya ada mereka berdua, berbagi segala sesuatu.
"Aku senang kau punya teman yang baik di sana, Theo," kata Cristal akhirnya, mencoba terdengar tulus. Namun, ada nada lirih dalam suaranya yang tidak bisa ia sembunyikan sepenuhnya.
...****************...
Ia berharap pertemanan mereka bisa kembali seperti dulu, namun ia juga merasa sedikit takut jika hubungannya dengan Theo tidak akan pernah sama lagi.
Melihat perubahan ekspresi Cristal, Theo menyadari ada sesuatu yang salah. Ia bisa merasakan ketidaknyamanan yang terpancar dari sahabat lamanya itu. Tanpa berpikir panjang, Theo menggenggam tangan Cristal. Genggaman itu terasa hangat dan menenangkan.
"Hei... ayolah," kata Theo lembut, mendekatkan tubuhnya ke arah Cristal. Ia bisa merasakan detak jantung Cristal yang mulai berdebar lebih kencang. Theo berbisik di telinga Cristal, suaranya penuh kelembutan dan ketulusan, "Aku hanya menyukaimu, Cristal. Dan ku harap kita bertemu lagi suatu hari nanti."
Kata-kata itu seperti sihir bagi Cristal. Ia sedikit mendongak, menatap wajah Theo yang kini begitu dekat dengannya. Jantungnya berdegup kencang, seolah ingin melompat keluar dari dadanya. Ia melihat ketulusan di mata Theo, dan rasa cemburu yang tadi sempat menghantuinya perlahan sirna, digantikan oleh kelegaan dan harapan.
"Berjanjilah," jawab Cristal, suaranya sedikit bergetar namun penuh keyakinan. "Saat kita bertemu nanti, jangan ada perpisahan lagi." Ia kemudian memeluk Theo erat,