Di Benua Tianyu, kekuatan adalah segalanya.
Para kultivator menghabiskan seluruh hidup mereka untuk bermeditasi, berburu harta surgawi, dan mengejar puncak Dao.
Keluarga-keluarga besar berlomba melahirkan jenius.
Sekte-sekte kuat mencari murid berbakat.
Namun di tengah dunia yang memuja kekuatan itu, lahirlah seorang anak yang cukup aneh.
Namanya Feng Bai hu
Anak bungsu dari empat bersaudara keluarga Fang, keluarga kalangan menengah ,
Ketiga kakaknya dikenal sebagai jenius yang rajin berkultivasi dan menjadi kebanggaan keluarga.
Sedangkan Feng Bai hu terkenal karena satu hal:
Malas.
Ia sering kabur dari sesi latihan.
Tidur saat kelas kultivasi.
Menghilang ketika guru mengajarkan teknik baru.
Bahkan pelayan keluarga lebih sering melihatnya di pasar daripada di ruang latihan.
Namun yang membuat semua orang kesal adalah kenyataan bahwa meskipun malas, kultivasinya selalu mampu menyamai bahkan melampaui para jenius seusianya.
ayo ,, ikuti keseuan ceritanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon momon Joy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 Pertemuan Para Tetua
Suasana aula utama Istana Tuan Kota dipenuhi keheningan.
Tidak ada seorang pun yang membuka pembicaraan setelah Tetua Agung Keluarga Feng, Feng Jianhong, mengucapkan kalimat terakhirnya.
"Mungkin... lebih buruk."
Kalimat itu masih menggema di benak setiap orang.
Luo Zhentian, Tuan Kota Qinghe, perlahan mengembuskan napas. Tatapannya menyapu seluruh ruangan sebelum akhirnya berhenti pada Tetua Guo Rong.
"Tetua Guo, bagaimana keadaan para kultivator lepas yang berhasil diselamatkan?"
Tetua Guo meletakkan cangkir tehnya.
"Dua orang masih belum sadar. Seorang lagi sudah bisa berbicara, tetapi luka dalamnya cukup parah. Dalam beberapa bulan ke depan, kecil kemungkinan ia dapat menggunakan Qi seperti biasa."
Beberapa tetua menghela napas pelan.
Bagi seorang kultivator, kehilangan kemampuan mengendalikan Qi sama menyakitkannya dengan kehilangan masa depan.
Seorang tetua berjubah hijau dari Keluarga Liu mengernyit.
"Kalau begitu, kesaksian mereka belum tentu dapat dipercaya."
Belum sempat Tetua Guo menjawab, Feng Jianhong menggeleng pelan.
"Tidak."
Semua mata kembali tertuju kepadanya.
"Kalau hanya satu orang yang berkata demikian, mungkin ia salah ,tetapi laporan yang kita terima berasal dari beberapa kelompok berbeda."
"Mereka tidak saling mengenal namun semuanya mengatakan hal yang hampir sama."
Binatang Iblis bergerak tidak seperti biasanya.
Jumlah mereka bertambah.
Dan mereka meninggalkan wilayah masing-masing.
Ruangan kembali sunyi.
Luo Zhentian mengetukkan jarinya perlahan di atas sandaran kursi.
"Aku sudah mengirim pengintai ke pinggiran Pegunungan Seribu Bintang sejak fajar."
"sore ini mereka akan kembali."
Tetua Guo mengangguk pelan.
"Itu keputusan yang tepat, jangan biarkan mereka masuk terlalu jauh."
Luo Zhentian tersenyum tipis.
"Mereka hanya mengamati dari wilayah luar."
"aku tidak berniat mengirim mereka untuk mati."
Pada saat yang sama ,
Di Aula Alkimia.
Bai Hu sedang duduk bersila di depan tungku alkimia kecil.
Di hadapannya tersusun beberapa batang tanaman spiritual.
Rumput Embun Roh.
Daun Giok Hijau.
Serta dua batang Akar Darah Kecil.
Hari itu Liang Chen tidak mengajarinya meracik pil.
Sebaliknya...
Ia mengajarkan cara mengenali perubahan sifat tanaman spiritual.
"Bai Hu ,apa perbedaan tanaman spiritual dengan tanaman biasa?"
"Karena menyerap Qi Langit dan Bumi?"
Jawab Bai Hu
"Benar."
Liang Chen mengambil sehelai Rumput Embun Roh.
"Kalau begitu Apa yang terjadi jika Qi Langit dan Bumi berubah?"
Bai Hu langsung terdiam.
Ia belum pernah memikirkan hal itu.
Liang Chen melanjutkan.
"Tanaman spiritual jauh lebih peka daripada manusia ,kalau Qi berubah, mereka akan berubah lebih dahulu."
Bai Hu memandang tanaman di hadapannya.
"Berarti, kalau tanaman berubah,lingkungan juga berubah?"
Liang Chen tersenyum.
"Kau memang cepat menangkap pelajaran."
Ia mengambil satu pot kecil berisi Rumput Embun Roh yang baru dipanen pagi tadi.
"Lihat daunnya."
Bai Hu memperhatikan dengan saksama.
Biasanya daun Rumput Embun Roh berwarna hijau terang.
Namun sekarang...
Ujung daunnya mulai berubah menjadi kebiruan.
Bai Hu mengangkat alis.
"Guru mengatakan kemungkinan besar perubahan Qi di Pegunungan Seribu Bintang mulai memengaruhi wilayah sekitar Kota Qinghe." ucap Liang Chen
Bai Hu ikut menoleh.
Walaupun tidak bisa melihat pegunungan dari Aula Alkimia...
ia merasa suasana kota hari itu memang berbeda
Di luar kota.
Empat pengintai yang dikirim Luo Zhentian bergerak cepat menyusuri hutan.
Pemimpin mereka adalah seorang kultivator Pembentukan Fondasi Tahap Akhir bernama Han Yue.
Di pinggangnya tergantung Pedang berwarna hitam.
Sementara tiga rekannya berada di Pembentukan Fondasi Tahap Menengah.
Mereka tidak berbicara.
Semua menjaga Kesadaran Spiritual tetap terbuka.
Setelah menempuh perjalanan hampir dua jam...
Han Yue mengangkat tangan.
"Berhenti."
Ketiga rekannya segera berhenti.
"Ada apa?"
Han Yue menunjuk tanah.
terdapat jejak kaki binatang iblis cukup banyak.
Salah seorang rekannya berjongkok.
"ini jejak Serigala Taring Besi."
"Dan ini jejak Beruang Kulit Baja."
Ia terus mengamati tanah.
Semakin lama ekspresinya semakin berubah.
"Mustahil."
Han Yue bertanya singkat.
"Apa?"
"semua menuju arah yang sama."
Tidak hanya satu atau dua.
Puluhan jejak Binatang Iblis memenuhi tanah.
Padahal Serigala Taring Besi dan Beruang Kulit Baja tidak pernah menggunakan jalur yang sama.
Han Yue perlahan menggenggam gagang pedangnya.
"Teruskan."
Namun baru beberapa puluh langkah mereka berjalan.
Terdengar suara kepakan sayap dari atas.
Semua refleks mendongak.
Seekor Elang Angin Tingkat 1 Tahap Puncak melintas di atas kepala mereka.
Ia terbang menuju arah luar pegunungan.
Belum sempat mereka memahami apa yang terjadi...
Langit telah dipenuhi ratusan burung.
Tidak hanya Elang Angin.
Ada Burung Api.
Burung Roh Abu-Abu.
Burung Gagak Hitam.
Semuanya terbang ke arah yang sama.
Meninggalkan Pegunungan Seribu Bintang.
Han Yue merasakan jantungnya berdegup lebih cepat.
"Mundur,, kita harus membawa kabar ini kembali."
Keempatnya segera berbalik.
Namun pada saat itu.
Buuummm!!
Suara ledakan dahsyat mengguncang tanah di bawah kaki mereka bergetar hebat.
Pepohonan bergoyang.
Han Yue spontan menoleh ke arah terdalam Pegunungan Seribu Bintang.
Matanya membelalak.
Jauh di balik puncak-puncak gunung...
Sebuah cahaya keemasan membubung sesaat ke langit.
Kemudian...
Menghilang begitu saja
Keempat kultivator itu saling berpandangan.
Tidak seorang pun mengenali cahaya tersebut.
Pegunungan Seribu Bintang telah berubah.
Cahaya keemasan itu hanya muncul beberapa tarikan napas.
Namun tekanan yang dibawanya membuat Qi Langit dan Bumi bergejolak.
Han Yue berdiri membeku.
Sebagai kultivator Pembentukan Fondasi Tahap Akhir, indranya jauh lebih tajam daripada orang biasa. Walaupun jaraknya sangat jauh, ia tetap dapat merasakan tekanan yang muncul bersamaan dengan cahaya tersebut.
Tekanan itu...
Tidak berasal dari seorang kultivator.
Salah seorang rekannya menelan ludah.
"Saudara Han... apa itu tadi?"
Han Yue menggeleng pelan.
"Aku tidak tahu ,kita tidak boleh tinggal lebih lama."
Keempatnya segera mengalirkan Qi ke telapak kaki. Tubuh mereka melesat di antara pepohonan dengan kecepatan penuh.
Tidak ada lagi keinginan untuk menyelidiki.
Naluri mereka hanya mengatakan satu hal.
Keluar dari Pegunungan Seribu Bintang secepat mungkin.
Di Aula utama Istana Tuan Kota.
Perdebatan di antara para tetua masih berlangsung.
Sebagian mengusulkan mengirim lebih banyak kultivator untuk menyelidiki.
Sebagian lagi memilih menunggu laporan berikutnya.
Tetua Guo Rong tetap diam.
Tatapannya sesekali mengarah ke luar aula.
Entah mengapa, hatinya terasa gelisah.
tiba-tiba seorang penjaga berlari memasuki aula.
"Tuan Kota!"
Luo Zhentian mengangkat kepala.
"Ada apa?"
"Tim pengintai kembali."
"Suruh mereka masuk."
"Baik."
Tak lama kemudian.
Han Yue dan tiga rekannya memasuki aula.
Pakaian mereka dipenuhi debu.
Napas masih belum sepenuhnya teratur.
Begitu melihat para tetua berkumpul, mereka segera memberi hormat.
"Kami memberi salam kepada Tuan Kota."
Luo Zhentian mengangguk.
"Tidak perlu bertele-tele"
Han Yue mengangkat kepala.
Ekspresinya sangat serius.
"kami tidak memasuki wilayah tengah,hanya wilayah luar."
"Tetapi kami menemukan seluruh jejak Binatang Iblis mengarah ke tempat yang sama."
Beberapa tetua langsung saling memandang.
Han Yue melanjutkan.
"Kami juga melihat ratusan burung meninggalkan pegunungan."
"Tidak hanya Binatang Iblis."
"Bahkan hewan liar ikut melarikan diri."
Ruangan menjadi sunyi.
Lalu Han Yue menarik napas dalam.
"Sebelum kembali..."
"Kami melihat cahaya keemasan muncul dari wilayah terdalam,hanya beberapa tarikan napas, tetapi tekanan yang muncul membuatku tidak berani mendekat."
Ucapan itu membuat ekspresi Luo Zhentian berubah.
Han Yue bukan orang yang mudah ketakutan.
Kalau sampai ia berkata seperti itu...
Berarti keadaan benar-benar berada di luar dugaan.
Tetua Guo bertanya.
"Apa kalian melihat Binatang Iblis kuat?"
Han Yue menggeleng.
"Tidak."
"Itulah yang aneh Tetua wilayah luar justru terlalu sepi,tidak ada satu pun Binatang Iblis yang menyerang kami, tetapi kami melihat mereka semua sedang menuju ke tempat yang sama."
Feng Jianhong yang sejak tadi diam akhirnya membuka suara.
"Mereka sedang dipanggil."
Semua orang menoleh.
Tetua Agung Keluarga Feng memandang ke arah utara.
"Binatang Iblis tidak mungkin meninggalkan wilayahnya tanpa alasan,kalau mereka bergerak bersama, berarti ada sesuatu yang memanggil mereka
Seorang tetua Keluarga Liu langsung membantah.
"Siapa yang mampu memanggil begitu banyak Binatang Iblis?"
Feng Jianhong menggeleng.
"Entahlah"
Suasana kembali hening.
Tidak ada yang berani menyela.
Di Aula Alkimia.
Bai Hu selesai membersihkan tungku kecil miliknya.
Ia baru saja hendak menyimpan beberapa tanaman spiritual ketika dua murid berlari melewati halaman.
"Cepat!Guru memanggil semua murid."
"Ada apa?"
"Kudengar seluruh Aula Alkimia diminta bersiap membuat Pil Penyembuh."
Bai Hu mengangkat alis.
Seluruh Aula Alkimia?
Biasanya hanya para alkemis resmi yang menerima perintah seperti itu.
Ia segera mengikuti para murid menuju aula utama.
Di sana, Liang Chen sudah berdiri di depan puluhan murid.
Ekspresinya tidak lagi setenang biasanya.
"Dengarkan baik-baik."
"Mulai hari ini."
"Seluruh tanaman spiritual yang baru dipanen tidak boleh dijual keluar."
"Kita akan menyimpannya sebagai persediaan."
Beberapa murid langsung saling berpandangan.
Salah seorang mengangkat tangan.
"Kakak Senior Liang, apa terjadi sesuatu?"
Liang Chen terdiam beberapa saat.
Kemudian menjawab dengan suara pelan.
"Mungkin ,Kota Qinghe akan membutuhkan jauh lebih banyak pil daripada biasanya."
Tidak ada penjelasan lebih lanjut.
kalimat itu saja sudah cukup membuat suasana terasa lebih berat.
Bai Hu berdiri di antara para murid.
Tatapannya perlahan mengarah ke utara.
Pegunungan Seribu Bintang.
Ia merasa gunung yang selama ini hanya dianggap tempat mencari tanaman spiritual itu...
Menyimpan rahasia yang jauh lebih besar daripada yang pernah ia bayangkan.
Suasana Aula Alkimia berubah jauh lebih sibuk dibanding biasanya.
Para murid berlarian membawa keranjang berisi tanaman spiritual menuju gudang.
Di halaman belakang, beberapa alkemis senior mulai menyalakan tungku-tungku berukuran besar yang hanya digunakan ketika Aula Alkimia memproduksi pil dalam jumlah banyak.
Api Roh menyala satu demi satu.
Panasnya segera memenuhi udara.
Bai Hu memperhatikan semua itu sambil membawa beberapa ikat Rumput Embun Roh ke ruang penyimpanan.
Biasanya, suasana seperti ini hanya terjadi menjelang pelelangan besar atau ketika keluarga-keluarga kultivasi memesan pil dalam jumlah banyak.
Namun hari ini...
Semua persiapan dilakukan untuk menghadapi sesuatu yang bahkan belum terjadi.
Setelah meletakkan tanaman spiritual, Bai Hu keluar dari gudang.
Di halaman, Liang Chen sedang memeriksa daftar persediaan bersama beberapa murid senior.
"Kakak Liang."
Liang Chen menoleh.
"Ada apa?"
"Apakah persediaan kita kurang?"
Liang Chen menggeleng.
"tidak "
Lalu kenapa semua tanaman spiritual disimpan?"
Liang Chen memandang sekeliling lebih dulu sebelum menjawab.
"Guru memperkirakan jumlah orang yang membutuhkan pil akan meningkat."
"Kalau kita menjual semua tanaman sekarang, nanti kita tidak memiliki cukup bahan untuk meramu pil."
Bai Hu mengangguk pelan.
Bagi seorang alkemis...
Tanaman spiritual jauh lebih berharga daripada batu roh ketika bencana mulai mendekat.
Sementara itu...
Di aula utama Istana Tuan Kota.
Pertemuan para tetua telah mencapai keputusan.
Luo Zhentian berdiri dari kursinya.
"Mulai hari ini."
"Seluruh kultivator dilarang memasuki Pegunungan Seribu Bintang."
"Penjaga kota akan ditempatkan di seluruh jalur menuju pegunungan."
"Tetua dari setiap keluarga diminta mengingatkan anggota keluarganya."
"Tidak seorang pun boleh mengabaikan perintah ini."
Beberapa tetua mengangguk.
Namun seorang pria paruh baya berjubah hitam perlahan berdiri.
Ia adalah Tetua Keluarga Zhao.
"Tuan Kota."
"Kalau kita menutup akses ke pegunungan..."
"...banyak kultivator lepas akan kehilangan sumber penghasilan."
"Mereka belum tentu mau mematuhinya."
Luo Zhentian memandang pria itu.
"Aku tahu."
"Tetapi lebih baik kehilangan beberapa hari mencari tanaman spiritual..."
".daripada kehilangan nyawa."
Tidak ada lagi yang membantah.
Di luar kota.
Beberapa kultivator lepas yang baru bersiap memasuki Pegunungan Seribu Bintang berhenti ketika melihat belasan penjaga telah berjaga di jalan utama.
"Mulai hari ini, wilayah Pegunungan Seribu Bintang ditutup sementara."
Seorang kultivator langsung mengernyit.
"Ditutup?"
"Apa maksudnya?"
Penjaga itu mengeluarkan gulungan perintah bermeterai Istana Tuan Kota.
"Perintah langsung dari Tuan Kota."
"Selama keadaan di pegunungan belum jelas, siapa pun dilarang masuk."
Beberapa orang langsung mengeluh.
"Aku baru menerima pesanan Inti Binatang."
"Tanaman spiritualku hampir habis."
"Kalau begini kami hidup dari apa?"
Namun tidak ada seorang pun yang berani memaksa.
Perintah Tuan Kota bukan sesuatu yang bisa disepelekan.
Menjelang sore.
Tetua Guo akhirnya kembali ke Aula Alkimia.
Wajahnya terlihat jauh lebih serius dibanding saat berangkat pagi tadi.
Begitu melihat gurunya, Liang Chen segera menghampiri.
"Guru,Bagaimana hasil pertemuannya?"
Tetua Guo tidak langsung menjawab.
Beliau berjalan melewati halaman, memperhatikan para murid yang masih sibuk bekerja.
Barulah setelah memasuki ruang kerjanya, ia berkata pelan.
"Keadaan lebih buruk daripada yang kita duga."
Liang Chen ikut menegang.
"Bahkan Tuan Kota pun belum berani mengirim kultivator Inti Emas memasuki wilayah dalam Pegunungan Seribu Bintang."
"Mengapa?"
Tetua Guo menggeleng.
"Karena kita tidak tahu apa yang sedang kita hadapi."
Ruangan kembali sunyi.
Malam perlahan turun.
Bulan menggantung tinggi di langit.
Bai Hu duduk sendirian di atap salah satu bangunan Aula Alkimia.
Kebiasaan itu baru ia lakukan beberapa hari terakhir.
Dari tempat itu, ia dapat melihat sebagian besar Kota Qinghe.
Lampu-lampu mulai menyala.
Suasana kota tampak tenang.
Tanpa sadar, ia mengeluarkan lima batu roh dari kantong penyimpanannya.
Batu-batu roh itu berkilau lembut di bawah cahaya bulan.
Bai Hu menggenggamnya erat.
"Masih terlalu sedikit..."
Ia bergumam pelan.
Kalau benar bencana akan datang...
Lima batu roh tidak akan mengubah apa pun.
Ia membutuhkan kekuatan.
Dan untuk menjadi lebih kuat...
Ia membutuhkan sumber daya kultivasi.
Tatapan Bai Hu kembali mengarah ke utara.
Ke arah Pegunungan Seribu Bintang yang tertutup kegelapan.
Ia tidak tahu bahwa jauh di balik pegunungan itu...
Sesuatu telah benar-benar terbangun.
Makhluk yang keberadaannya bahkan telah dilupakan oleh sejarah.
Dan ketika makhluk itu membuka matanya...
Takdir seluruh Benua Timur mulai berubah.
Bersambung
makasih sudah buat novel fantasi timur komedi gw harap lanjut