Samantha Alexander menikah dengan pria berhati dingin bernama Samuel Nugroho CEO yang terkenal arogan dia duda dan mempunyai anak laki - laki berusia 13 tahun saat ini dia sekolah kelas 2 SMP . semenjak ibunya meninggal dia menjadi anak yang nakal. sehingga sering mendapat hukuman dari ayahnya yaitu Samuel membuat Dia sangat ketakutan dan melihat pesan melampiaskan dengan sifat nakal. sampai datang seorang perempuan bernama Samantha yang menikah dengan Samuel . Samuel menikah dengan Samantha karena semenjak sekolah dulu dia sudah menyukai Samantha diam-diam tapi karena dijodohkan samuel dengan almarhum mantan istrinya bernama Ruri .Di balik keputusan pernikahan ini, tersimpan rahasia lama Samuel ternyata telah menyukai Samantha secara diam-diam sejak masa sekolah dulu , namun saat itu ia terpaksa menikah dengan Ruri karena perjodohan. Kini, dengan kehadiran Samantha dalam keluarga itu, harapan baru pun muncul akankah ia mampu menyembuhkan luka batin anak tirinya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Mobil putih Samantha melaju perlahan masuk ke area halaman parkir sebuah salon kecantikan yang sangat mewah dan terkenal di kota itu. Bangunannya terlihat megah dengan hiasan lampu kristal di bagian depan, menunjukkan bahwa tempat ini bukanlah tempat perawatan biasa. Setelah memarkirkan kendaraan, Samantha dan Suci turun dengan senyum yang mulai terukir di wajah mereka, melangkah masuk melewati pintu kaca yang terbuka otomatis.
Suasana di dalam salon itu terasa sangat mewah, beraroma wangi bunga yang menenangkan, dan tertata rapi. Samantha langsung menuju meja pendaftaran dengan langkah tenang.
“Selamat siang, Kak. Kami ingin mengambil paket perawatan VIP untuk berdua,” ujar Samantha dengan ramah kepada petugas yang sedang melayani di sana.
Namun, belum sempat petugas itu menjawab, dari kursi tunggu di samping meja berdiri seorang wanita dengan penampilan yang mencolok, mengenakan pakaian berlebihan dan perhiasan yang berkilauan. Itu adalah Lita, adik kandung dari Ruri, istri mendiang Samuel yang kebetulan sedang menunggu giliran perawatannya.
Lita menatap Samantha dan Suci dari atas hingga ke bawah dengan tatapan merendahkan dan sinis. Bibirnya melengkung ke atas membentuk senyum mengejek saat melihat pakaian yang mereka kenakan terlihat sederhana dan polos, jauh berbeda dengan pakaian-pakaian mahal yang biasa ia pakai.
“Wah, coba lihat deh siapa yang datang ke sini,” ucap Lita dengan suara lantang yang sengaja diperdengarkan ke seluruh ruangan. “Ada saja orang yang sok berlebihan. Katanya mau ambil paket VIP, tapi lihat saja pakaian yang dikenakan, biasa saja sekali. Jangan-jangan kalian salah masuk tempat ya? Ini bukan salon pinggir jalan murah, ini salon khusus kalangan atas!”
Suasana di ruangan itu seketika menjadi hening. Beberapa pengunjung lain menoleh dan melirik ke arah mereka, membuat Suci merasa sangat malu dan menundukkan kepalanya. Samantha tetap berdiri tegak, wajahnya tenang meskipun ia langsung mengenali siapa wanita yang sedang menghina mereka itu.
“Maafkan saya, Nyonya. Kami sedang berbicara dengan petugas pendaftaran, bukan dengan Anda,” ucap Samantha dengan nada santun namun tegas, berusaha tidak terpancing emosi.
Lita justru semakin melangkah maju, semakin berani dan kasar. “Aduh, masih berani menjawab juga ya? Jangan sok tahu! Sudah jelas sekali kalian tidak pantas berada di sini. Jangan sampai nanti kalian tidak bisa membayar tagihannya dan mempermalukan diri sendiri. Lebih baik pulang saja sana ke tempat asal kalian!” sergah Lita lagi sambil tertawa mengejek.
Suci merasa sangat tertekan, ia menarik pelan lengan Samantha seolah memberi isyarat agar mereka pergi saja dari tempat itu. Namun Samantha menggenggam tangan sahabatnya itu erat, memberi kekuatan, dan menatap Lita dengan pandangan yang tidak tergoyahkan. Ia tidak akan membiarkan siapa pun merendahkan dirinya, apalagi sahabatnya yang sedang berusaha bangkit.
Samantha tidak mundur sedikit pun, senyum tipis yang tenang masih tersungging di bibirnya. Ia menatap lurus ke arah Lita yang masih sibuk melontarkan hinaan, lalu dengan tenang ia menjawab,
"Pakaian hanyalah penutup tubuh, Nyonya. Kemewahan bukanlah sesuatu yang harus dipamerkan di luar, melainkan sesuatu yang ada di dalam diri. Dan yang paling penting, kemampuan untuk membayar tidak diukur dari seberapa mencolok penampilan seseorang, melainkan dari apa yang sesungguhnya ia miliki."
Tanpa membuang waktu, Samantha merogoh saku kecil tasnya, lalu menyodorkan selembar kartu berwarna hitam pekat yang berkilau halus ke arah petugas pendaftaran. Itu adalah kartu ATM limited edition eksklusif yang hanya diterbitkan bagi nasabah dengan simpanan dan aset bernilai sangat besar kartu yang bahkan tidak semua orang kaya pun bisa memilikinya.
Seketika itu juga, mata petugas pendaftaran terbelalak kaget, begitu pun Lita yang berdiri di dekatnya. Wajah Lita memucat perlahan, mulutnya terbuka sedikit karena tak percaya, dan matanya menatap kartu hitam itu seolah terpaku. Seluruh pengunjung yang ada di ruangan itu ikut melongo, keheningan yang canggung menyelimuti ruangan mewah itu.
Samantha tetap tenang, lalu menolehkan wajahnya kembali ke arah Lita, kali ini dengan tatapan yang terkesan sinis namun tetap anggun, seolah melihat sesuatu yang tidak berharga.
"Jadi, apakah sekarang Nyonya masih meragukan kemampuan kami?" ucap Samantha dengan nada lembut namun menusuk. "Seringkali orang yang terlalu sibuk menilai kulit luar orang lain justru lupa menata isi hatinya sendiri. Sayang sekali, penampilan Nyonya sangat mencolok, tapi sayang sekali kesopanan dan tata kramanya ternyata tidak sebanding dengan perhiasan yang Nyonya pakai. Lebih baik kita belajar menghargai sesama, daripada hanya pandai merendahkan orang lain untuk memuaskan egomu sendiri."
Lita terdiam seribu bahasa, pipinya memerah padam menahan malu sekaligus marah, namun tak ada satu kata pun yang mampu keluar dari mulutnya.
Setelah selesai membayar biaya paketnya, Samantha mengulurkan tangan menggandeng Suci yang masih terpana, lalu melangkah melewati sisi Lita dengan tegak dan tenang menuju ruang perawatan khusus VIP, meninggalkan Lita yang berdiri kaku dalam kebingungan dan rasa malu di hadapan semua orang.
Begitu pintu ruangan perawatan VIP tertutup rapat, suasana seketika menjadi sunyi, tenang, dan jauh lebih nyaman. Ruangan itu didesain sangat indah dengan pencahayaan lembut yang hangat, beraroma wangi melati yang menenangkan, serta dilengkapi fasilitas yang sangat mewah. Hanya ada mereka berdua di sana, sehingga bisa berbicara dengan leluasa tanpa perlu takut didengar orang lain.
Suci melepaskan napas panjang yang seolah menahan beban berat sejak tadi, lalu menoleh ke arah Samantha dengan pandangan kagum yang tulus. Ia tersenyum lebar, merasa sangat bangga memiliki sahabat sebaik dan secerdik Samantha.
"Wah, Sam... aku benar-benar takjub sekali padamu," puji Suci sambil menggelengkan kepalanya perlahan. "Aku sampai gemetar dan merasa sangat malu tadi, tapi kamu justru tetap tenang dan cerdas sekali menghadapi wanita sombong itu. Caramu menjawabnya begitu santun tapi sangat menusuk sampai ke ulu hati. Apalagi saat kamu mengeluarkan kartu itu... wajahnya yang sombong seketika berubah pucat dan bungkam tak berkutik. Sungguh cara yang sangat elegan untuk membalas kesombongannya!"
Samantha hanya tersenyum simpul mendengar pujian itu, lalu duduk santai di kursi pijat yang empuk sambil menatap sahabatnya.
"Kamu berlebihan memujiku, Suci. Aku hanya ingin mengajarkannya sedikit pelajaran saja," jawab Samantha lembut. "Menjadi kaya itu memang rezeki, tapi tidak pantas jika kekayaan itu membuat seseorang lupa diri dan merasa lebih tinggi dari orang lain. Kita memang harus menghargai diri sendiri, tapi bukan berarti harus merendahkan harga diri orang lain."
Suci mengangguk setuju, lalu duduk di samping Samantha. "Benar sekali. Kamu selalu bisa melihat hal-hal seperti itu dengan bijak. Terima kasih juga ya, tadi kamu tidak membiarkan aku merasa jatuh dan hina karena hinaannya. Kamu benar-benar sahabat terbaik yang pernah aku miliki."
"Sudah, jangan berterima kasih terus. Sekarang waktunya kita santai, lupakan saja wajah menyebalkan wanita tadi. Mari kita nikmati waktu kita di sini agar hati dan pikiran kita menjadi lebih segar lagi," ajak Samantha sambil tersenyum hangat, membuat suasana di antara mereka terasa semakin akrab dan penuh kebahagiaan.
Bersambung...