Tersedak boba membawa petaka! Alara, cewek modern bermulut pedas, mendadak isekai jadi Selir Alara Villin—selir terbuang Dinasti Ruelle yang lemah dan ditindas di Istana Dingin. Tragisnya lagi, dia diberi makan bubur basi yang airnya lebih banyak daripada nasi.
Sebagai pencinta makanan sejati, Alara menolak mati kelaparan. Dia pun nekat menyelinap ke paviliun pribadi Kaisar Kaivan dan mencuri paha ayam panggang sang penguasa.
Sialnya, aksi Alara tertangkap basah. Bukannya bersujud ketakutan menghadapi sang Kaisar yang terkenal kejam dan sedingin es, Alara malah menodongnya:
"Anda kurung saya tanpa makanan layak. Baru ambil satu paha ayam, Anda masih utang sembilan puluh sembilan ayam lagi sama saya. Sini bayar!"
Kaisar Kaivan yang gengsian setengah mati mendadak dibuat jantungan oleh logika absurd selir bar-barnya ini. Siapa sangka, di balik wajah esnya, sang Kaisar aslinya jago lawak, gampang panik, dan takut kecoa!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aera_yong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ujian Kualifikasi Selir (Alara Menggunakan Metode Copy-Paste)
Pagi hari di Aula Kebudayaan Istana Dalam dipenuhi dengan hawa ketegangan yang pekat. Ibu Suri duduk di singgasana pengawas dengan senyum dingin, dikelilingi oleh para selir senior yang sudah siap menyaksikan kejatuhan Alara.
Di tengah aula, sebuah meja kayu jati panjang telah disiapkan lengkap dengan lembaran kertas merang kuno, kuas bulu serigala, dan tinta hitam pekat kualitas terbaik.
Ujian kualifikasi ini tidak tanggung-tanggung. Ibu Suri sengaja mendatangkan Guru Mo, master kaligrafi paling kolot dan killer di seantero kekaisaran, untuk menjadi penguji mutlak.
"Aturan ujian pertama sangat sederhana," ujar Guru Mo dengan suara serak yang berwibawa, janggut putih panjangnya bergerak-gerak.
"Selir Alara harus menuliskan bait puisi klasik 'Rembulan di Atas Sungai Chang-an' menggunakan aksara Hanzi kuno tingkat tinggi. Tulisan harus selesai sebelum dupa ini habis terbakar. Jika ada coretan yang miring atau salah satu titik saja, maka nilainya adalah nol!"
Selir-selir lain langsung berbisik-bisik sambil tertawa mengejek di balik kipas sutra mereka. Mereka tahu betul bahwa Alara berasal dari keluarga perdana menteri yang mengasingkannya sejak kecil, mana mungkin dia menguasai seni kaligrafi kuno yang rumit itu?
Alara melangkah maju ke meja ujian dengan gaun birunya. Dia menatap kertas kosong di depannya, lalu menatap kuas bulu serigala itu dengan dahi berkerut.
'Waduh... jangankan nulis aksara Hanzi kuno yang mirip ranting pohon kusut begini, di zaman modern aja gue kalau nulis nota belanjaan suka mirip ceker ayam,' batin Alara mulai keringat dingin.
Namun, menyerah bukanlah gaya seorang Alara Premium. Otak modernnya segera memindai sekeliling ruangan untuk mencari celah sistemik. Matanya yang jeli mendadak menangkap sesuatu: di pilar besar tepat di seberang mejanya, terdapat ukiran batu giok besar yang memuat...
seluruh bait puisi 'Rembulan di Atas Sungai Chang-an' sebagai dekorasi aula! Ukiran itu posisinya pas sekali di depan matanya, terkena pantulan cahaya matahari pagi dari jendela.
Alara menyeringai licik di dalam hati. *'Wah, ini sih namanya ujian open book! Sori ya Ibu Suri, mari kita terapkan metode copy-paste visual ala mahasiswa kepepet!'*
Alara mengambil kuasnya, mencelupkannya ke dalam tinta. Bukannya memegang kuas dengan gaya anggun mendayu-dayu seperti wanita bangsawan, Alara justru memegang kuas tersebut dengan gaya mantap seperti seorang arsitek yang sedang menggambar cetak biru bangunan.
Mata bulatnya menatap tajam ke arah ukiran di pilar, memproyeksikan bayangan garis tersebut ke atas kertasnya secara presisi menggunakan rumus geometri dasar yang dia ingat di bangku sekolah dulu.
*SET! SRET! SLAM!'
Gerakan tangan Alara sangat cepat, tegas, dan sama sekali tidak ragu-ragu. Alih-alih terlihat seperti sedang melukis aksara, dia kelihatan seperti mesin cetak berjalan yang sedang menduplikasi data.
Setiap tarikan garisnya sangat lurus, proporsional, dan presisi tanpa cela karena dia menghitung jarak antar garis menggunakan skala visual bayangan pilar.
Guru Mo yang tadinya melipat tangan dengan pandangan meremehkan, perlahan-lahan mulai berjalan mendekat. Begitu sang master kaligrafi berdiri di samping meja Alara dan melihat hasil goresan kuas tersebut, matanya mendadak membelalak sempurna hingga janggut putihnya bergetar hebat.
"I-ini... ini..." Guru Mo terbata-bata, tangannya yang keriput gemetaran menunjuk kertas Alara.
Ibu Suri yang melihat reaksi aneh Guru Mo langsung menegakkan duduknya dengan cemas. "Guru Mo! Ada apa? Apakah tulisan wanita barbar itu sekotor kotoran kuda?!"
Guru Mo menggelengkan kepalanya dengan ekspresi syok yang luar biasa.
"Bukan, Ibu Suri! Ini... ini adalah Gaya Tulisan Gothic-Hanzi maksud saya, ini adalah Gaya Tarikan Tegas Sempurna yang sudah punah selama dua ratus tahun! Setiap sudutnya memiliki presisi simetris yang mutlak, tidak terlalu tebal, tidak terlalu tipis, seolah-olah ditulis menggunakan kekuatan penggaris gaib! Ini adalah mahakarya!"
*JDIAARRR!'
Para selir senior langsung menjatuhkan kipas mereka ke lantai. Wajah Ibu Suri mendadak kaku, warnanya berubah menjadi sehijau sayur sawi matang.
"T-tidak mungkin! Guru Mo, kau pasti salah lihat!" seru Ibu Suri tidak terima.
"Hamba tidak mungkin salah lihat, Ibu Suri yang agung," Alara memotong dengan suara lantang penuh percaya diri sembari meletakkan kuasnya dengan hentakan elegan.
"Berdasarkan 'Asas Kebebasan Berekspresi dalam Seni' yang diakui secara universal, estetika itu tidak selamanya harus menye-menye meniru gaya air mengalir. Kadang, ketegasan garis lurus yang presisi adalah bentuk kejujuran jiwa tertinggi. Guru Mo yang berjiwa seni tinggi pasti bisa merasakan getaran modernitas dalam tulisan saya, kan?"
Guru Mo langsung mengangguk-angguk setuju sambil mengusap air mata haru di sudut matanya. "Benar! Benar sekali! Selir Alara adalah seorang jenius murni yang tersembunyi! Nilai untuk ujian pertama ini adalah Sempurna Mutlak!"
Alara memberikan lambaian tangan kecil yang sangat mengejek ke arah barisan selir yang kini menatapnya dengan rahang menganga.
Namun, Ibu Suri belum menyerah. Dia mengepalkan tangannya kuat-kuat di balik jubah sutranya.
"Baik! Kau lolos di ujian pertama karena keberuntungan belaka!" gertak Ibu Suri dengan napas memburu.
"Sekarang, masuk ke ujian kedua yang akan menentukan nasibmu: Merajut Selendang Sutra Naga! Kau harus merajut selembar kain sutra kasar menjadi selendang halus dengan motif naga timbul dalam waktu tiga jam! Jika tanganmu yang kasar itu membuat sutranya robek sedikit saja, kau tetap akan diusir!"
Alara melirik ke arah tumpukan benang sutra mentah yang kusut dan jarum rajut kuno yang besar-besar di meja sebelahnya. *'Merajut sutra motif naga timbul pake tangan dalam tiga jam? Ini sih bukan ujian kualifikasi, tapi kerja paksa romusa namanya!'* batin Alara mendengus sinis.
Namun, sebelum Alara sempat melangkah ke meja kedua, sebuah langkah kaki yang berat dan penuh wibawa mutlak kembali terdengar bergaung dari arah pintu masuk aula.
"Siapa yang berani mengusir wanita yang sudah mendapatkan nilai Sempurna Mutlak di bawah pengawasanku?"
Kaisar Kaivan masuk ke dalam aula dengan jubah naga hitamnya yang gagah, diikuti oleh Kasim Wen yang membawa... sebuah kotak kayu berukuran besar yang ditutupi kain merah misterius.
Kehadiran Kaivan yang mendadak langsung membuat seluruh isi aula bersujud gemetar, kecuali Alara yang langsung tersenyum lebar sambil memberikan kedipan mata kode andalannya.
---
Bersambung~
makasih Thor cerita menghibur bgt ttp semangat ya💪💪💪