Sejak SMA, Amelia Hartono diam-diam mencintai Evan Cristian. Ketika takdir mempertemukan mereka kembali setelah lulus kuliah, Amelia mengira Tuhan akhirnya mengabulkan cintanya. Sebagai pewaris tunggal keluarga Hartono, Amelia yang polos dan kesepian menyerahkan seluruh kepercayaan kepada pria yang dicintainya.
Namun, cinta itu ternyata hanyalah jebakan.
Satu per satu aset perusahaan berpindah tangan. Pernikahan yang selama ini diyakininya sah ternyata palsu. Bahkan, bayi yang dikandung dan dilahirkannya dengan taruhan nyawa ternyata bukan darah dagingnya. Amelia hanyalah seorang ibu pengganti yang ditipu.
Di balik semua itu berdiri Evan Cristian dan istri sahnya, Carolin Baskara, model papan atas sekaligus putri keluarga konglomerat Baskara. Namun, saat semuanya hancur, Elang Anderson teman lamanya muncul kembali, pria yang diam-diam pernah jatuh cinta padanya kini membantunya.
"Kau boleh menangis hari ini, Amelia. Tapi besok, aku akan memastikan mereka yang menangis di hadapanmu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10
Siang itu, Carolin berada di sebuah studio pemotretan ternama di pusat kota. Lampu-lampu sorot telah menyala. Tim penata rias, fotografer, hingga para kru sibuk mempersiapkan sesi pemotretan untuk kampanye produk kecantikan yang akan dibintanginya.
Namun, berbeda dengan biasanya, konsentrasi Carolin benar-benar berantakan.
"Mbak Carolin, kita mulai lima menit lagi, ya."
Sang fotografer menyapa dengan ramah. Carolin hanya mengangguk tanpa benar-benar mendengarkan. Tatapannya kosong menatap pantulan dirinya di cermin ruang rias. Entah mengapa, wajah Laras terus terbayang di kepalanya.
Wanita itu terlalu tenang, dan terlalu sabar. Dan yang paling mengganggunya Aurora langsung merasa nyaman berada di pelukannya.
"Kenapa aku jadi memikirkannya terus?" Gumam Carolin pelan.
Ia menggelengkan kepala, berusaha mengusir pikiran-pikiran itu.
"Ah, mungkin cuma perasaanku."
Namun, semakin ia mencoba melupakannya, semakin jelas bayangan Laras muncul di benaknya. Tatapan mata wanita itu, senyumnya dan cara ia menggendong Aurora semuanya terasa aneh.
Seolah Laras sudah sangat mengenal putrinya.
"Mbak, Car?" Suara sang asisten membuat Carolin menoleh. "Semua sudah siap."
Carolin menarik napas panjang. "Nanti dulu."
Asistennya tampak bingung. "Ada apa, Mbak?"
Carolin berdiri dari kursinya lalu menutup pintu ruang rias. Memastikan tidak ada orang lain yang mendengar percakapan mereka.
"Aku ingin kau membantuku."
"Tentu."
"Cari tahu seseorang."
Asisten itu mengangguk. "Siapa?"
"Laras."
"Laras?" Bingungnya.
"Iya." Carolin menyilangkan kedua tangannya. "Pengasuh baru di rumahku."
Asisten itu terlihat sedikit heran. "Apa dia bermasalah?"
"Aku belum tahu. Makanya aku ingin kau mencari tahu." Carolin menatap asistennya dengan serius.
"Aku ingin semua informasi tentang dia. Mulai dari identitasnya, riwayat pekerjaannya. Keluarganya, tempat tinggalnya. Teman-temannya dan semuanya."
Asisten itu mengangguk pelan. "Baik, Mbak, tapi ... kenapa?"
Carolin terdiam sejenak. "Aku juga tidak tahu." Ia mengembuskan napas pelan.
"Hanya saja, perasaanku tidak enak."
Asisten itu tersenyum tipis. "Mungkin Mbak terlalu khawatir."
"Bisa jadi." Carolin menggeleng pelan. "Tapi aku lebih suka berjaga-jaga. Daripada menyesal belakangan."
Asisten itu mengangguk mantap.
"Saya mengerti. Saya akan mulai mencarinya hari ini juga."
"Secepatnya." Carolin kembali duduk di depan meja rias.
Matanya kembali menatap pantulan wajahnya sendiri. Instingnya mengatakan bahwa wanita bernama Laras itu bukanlah orang biasa. Ia hanya belum tahu, bahwa wanita yang sedang ia selidiki adalah orang yang hidupnya pernah ia hancurkan.
Asisten Carolin menganggukkan kepala dengan hormat.
"Baik, Mbak Carolin. Saya akan mencari semua informasi tentang Nona Laras secepat mungkin."
Carolin mengembuskan napas pelan. "Jangan sampai dia tahu kalau sedang diselidiki."
"Tentu, Mbak. Saya akan melakukannya dengan hati-hati."
Carolin kembali menatap pantulan wajahnya di cermin.
"Aku ingin tahu siapa sebenarnya wanita itu."
Asistennya tersenyum tipis.
"Kalau begitu saya permisi dulu. Tim pemotretan juga sudah menunggu."
"Ya."
"Saya akan segera menghubungi Mbak begitu mendapat informasi."
"Baik."
Wanita itu membungkukkan badan dengan sopan sebelum berbalik meninggalkan ruang rias.
Pintu tertutup perlahan.
Kini hanya Carolin seorang diri di dalam ruangan. Ia menatap pantulan wajahnya beberapa saat, lalu merapikan rambut dan gaun yang dikenakannya. Namun, pikirannya tetap melayang pada sosok Laras.
Entah mengapa, semakin ia berusaha menganggap wanita itu biasa saja, justru rasa curiganya semakin besar.
Suara ketukan terdengar dari balik pintu.
"Masuk."
Seorang kru pemotretan membuka pintu sedikit.
"Mbak Carolin, semuanya sudah siap. Fotografer menunggu di studio."
Carolin menarik napas panjang, lalu berdiri dari kursinya.
"Baik, saya datang."
Dengan senyum profesional yang selama ini menjadi ciri khasnya, Carolin melangkah keluar menuju lokasi pemotretan. Tak seorang pun di sana menyadari. Di balik senyum anggun model papan atas itu, pikirannya sedang dipenuhi rasa gelisah terhadap seorang wanita yang baru dikenalnya dua hari lalu.
Sementara itu, di kediaman keluarga Baskara, Laras baru saja selesai menyusui Aurora.
Bayi kecil itu tampak jauh lebih segar dibanding dua hari sebelumnya. Wajah mungilnya mulai kemerahan, matanya berbinar, dan sesekali ia mengoceh pelan di dalam gendongan Laras. Melihat perubahan itu, tanpa sadar senyum tipis terukir di bibir Laras.
"Anak pintar," bisiknya lembut sambil mengusap pipi Aurora. "Harus cepat sehat, ya."
Aurora membalas dengan senyum kecil, seolah mengerti ucapan wanita yang menggendongnya. Laras pun membawa Aurora keluar dari kamar.
Ia sengaja berjalan menuju taman belakang, tempat beberapa pelayan sedang merapikan tanaman dan menjemur pakaian bayi. Begitu melihat Laras datang, salah seorang pelayan langsung tersenyum lebar.
"Wah, Baby Aurora lagi-lagi anteng." Pelayan lain ikut mendekat.
"Iya, Nona. Kalau digendong Nona Laras, rasanya Baby jadi anak yang berbeda."
Laras tersenyum malu. "Mungkin kebetulan saja."
"Bukan kebetulan, Nona." Pelayan yang lebih tua menggeleng pelan.
"Sudah dua bulan kami di sini. Baru kali ini Baby bisa setenang ini."
"Iya," sambung pelayan lainnya. "Sama orang tuanya saja tidak seperti ini."
Laras pura-pura terkejut. "Benarkah?"
"Iya." Pelayan itu mengangguk. "Kalau digendong Tuan Evan, Baby memang kadang diam. Tapi tidak lama, pasti menangis lagi."
"Nyonya Carolin juga jarang berhasil menenangkannya."
"Kalau sudah menangis, biasanya kami yang kewalahan."
Laras mengusap lembut punggung Aurora. Dalam hatinya ia menjawab lirih.
'Karena aku ibunya...'
Namun, wajahnya tetap tenang. "Kasihan sekali."
"Iya, Nona." Pelayan tua itu menghela napas.
"Baby sebenarnya anak yang baik. Mungkin hanya butuh perhatian lebih."
Laras mengangguk pelan. Beberapa saat kemudian, ia berpura-pura bertanya dengan nada santai.
"Kalau boleh tahu..."
"Ya, Nona?"
"Tuan dan Nyonya memang sama-sama sibuk bekerja?"
"Iya."
"Ehm ... mereka terlihat sangat harmonis." Ucapan itu membuat beberapa pelayan saling berpandangan.
Salah seorang di antaranya tersenyum canggung.
"Namanya juga rumah tangga, Nona."
"Pasti ada saja masalah."
"Maksudnya?"
Pelayan tua itu menurunkan suaranya.
"Belakangan ini Tuan dan Nyonya sering berbeda pendapat. Terutama soal Baby."
Laras memasang ekspresi penasaran.
"Soal apa?"
"Nyonya lebih sering bekerja di luar. Sementara Tuan ingin Nyonya lebih banyak di rumah menemani Baby."
Pelayan lain ikut menimpali,
"Makanya Tuan sampai mencari ibu susu. Katanya Baby lebih membutuhkan kasih sayang daripada kemewahan."
Laras mengangguk pelan. Informasi itu mulai ia simpan baik-baik di dalam pikirannya.
Berarti benar dugaannya. Hubungan Evan dan Carolin tidak seharmonis yang mereka tunjukkan di depan orang lain.
Laras kembali menatap Aurora yang sedang tertidur nyaman di pelukannya. Senyum tipis terbit di wajahnya.
'Teruslah berbicara ... semakin banyak yang aku ketahui tentang rumah ini, semakin mudah aku menghancurkan mereka dari dalam.'
aku ambil kuaci dulu Thor
mau liat keributan mereka.
panik ga,panik donk ah🤣
kalian bersekongkol untuk menipu dan merampok Amelia
habisi jangan bersisa
biar mereka merasakan neraka dunia yg dulu mereka ciptakan buat dirimu
memainkan peran begitu epic
sampai semua orang tidak ada yg Sadar 👍
Makin seru ajh nih,,