NovelToon NovelToon
Mengejar Cinta Pertama Suamiku

Mengejar Cinta Pertama Suamiku

Status: tamat
Genre:Tamat
Popularitas:240k
Nilai: 4.5
Nama Author: Betti Cahaya

Mariam Musa dan Medina.

Medina mengetahui bahwa jauh di dalam hati Musa masih tersimpan cinta yang besar untuk Mariam. Medina sangat mencintai Musa, dan walau bagaimanapun dia tetaplah seorang istri yang ikut menderita kala melihat suaminya berjuang melupakan cinta pertamanya.
Terlebih setelah takdir mempertemukan mereka dalam situasi yang sulit.
Keihlasan Medina yang harus jatuh bangun mengejar Mariam.
Hanya untuk sebuah pengabdian agar suaminya bahagia.
Medina bodoh, tidak!
Ridho suami dan ridho Allohlah yang dia cari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Betti Cahaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Melamar Mariam

Aku menolak untuk percaya. Berkali-kali aku memohon meminta dibangunkan dari mimpi buruk ini, nyatanya aku tak juga bangun. Kecelakaan yang merenggut nyawa suamiku, benar-benar menghancurkan semangatku untuk hidup.

Hari-hari berlalu, waktu berganti, aku hanya tahu aku masih bernafas, dan jantungku masih berdetak, tapi aku tidak yakin kalau keadaanku layak untuk disebut masih hidup.

Tidak ada lagi semangat, tidak ada lagi tujuan, tidak ada lagi kawan, tidak ada lagi Mas Bian. Yang ada hanya kekosongan, kegelapan, kehampaan. Bahkan kehadiran Oktavia sempat tidak kurasakan efeknya. Kasian dia, Papanya meningal dan Mamanya seperti mayat hidup.

Aku hanya menatap nanar pada tingkahnya, dia yang mendapat banyak pelukan dari Eyang-eyangnya dan juga dari sodara-sodaraku dan Mas Bian. Kasian dia, apa aku bisa membesarkannya seorang diri?

Bayangkan ketika tubuh terluka parah, tapi tetap harus hidup. Bukankah menderita? Mas Bian, sosok yang begitu sempurna memahami diriku telah pergi. Bangunkan aku! Ini mimpi buruk!

"Mba? Mau tetep di sini apa ikut kita pulang ke kampung?" tanya Ibuku setelah 100 hari kepergian Mas Bian.

"Aku mau di sini, Bu."

"Yakin?"

"Nggih Bu, aku nggak mungkin ninggalin rumah ini, Bu, ini rumah peninggalan Mas Bian, bagaimanapun aku harus menjaganya, Bu."

Aku menatap setiap ujung rumah ini, dimana dulu banyak sekali kehangatan yang Mas Bian ciptakan. Rumah yang Mas Bian beli dengan penuh perjuangan, memeras keringat siang dan malam. Tidak mungkin aku meninggalkannya.

"Tapi Mba, ibu nggak tega ninggalin Mba di sini," bujuk Ibuku.

"Aku udah ikhlas, Bu, Insha Alloh ... walaupun semakin hari semakin terasa kekosongan yang Mas Bian tinggalkan, tapi aku udah lebih ikhlas, hanya tubuh Mas Bian yang pergi, Bu, jiwanya, kenangannya, kehangatannya, cintanya, dan kasih sayangnya masih ada, Bu, di sini ...," jawabku sambil meletakkan tangan di dadaku, "Di rumah ini, di tempat ini, di kota ini, Bu, semua mimpi dan harapan Mas Bian ada di sini."

Ibu hanya memelukku, aku pun sadar bahwa aku hanya sedang menguatkan diriku sendiri. Kenyataannya, aku takut, sangat takut, tentang apa saja yang akan terjadi besok, bagaimana aku menghadapi hidup ini tanpa Mas Bian? Bagaimana masa depan Oktavia? Kupeluk erat-erat tubuh Ibuku, berusaha mencari sumber kekuatan dari sana.

"Ibu hanya berpesan, hati-hati dengan statusmu sekarang Mba, status yang sering mengundang fitnah dan pandangan remeh." Aku tidak mengerti dengan ucapan Ibu, aku hanya fokus pada cara untuk tetap hidup.

"Kalau Mba butuh apa-apa, jangan sungkan sama Ibu atau Mas-masmu," lanjut Ibu kemudian.

"Jangan khawatir Bu!"

Aku tahu betapa khawatirnya Ibu pada keadaanku, namun Ibu juga berusaha menghargai semangatku.

"Ibu nanti akan sering dateng ya Mba, kalau nggak ya gantian sama Bu besan, pokoknya nanti siapa yang luang pasti dateng ke sini."

Besok, Ibuku akan pulang, setelah beberapa bulan ini menemaniku dan Oktavia. Mungkin Ibu mertuaku, atau kakak iparku akan bergantian datang ke sini. Aku harus bisa bertahan dan terus melaju ke depan, banyak sekali yang mendukung dan selalu memberi semangat. Namun hakekatnya, aku kuat karena Mas Bian selalu ada di hatiku, bayangannya selalu ada ketika aku menutup mata. Mas Bian, aku tidak pernah membayangkan akan mengalami patah hati yang menyedihkan seperti ini.

Tok ... tok ... tok ... !

"Assalamualaikum ... !"

"Waalaikumsalam ... !" Ibuku menghampiri suara di balik pintu.

"Assalamualaikum Mba Mariam ...?" ucap Medina menyalamiku.

"Waalaikumsalam ...,"

"Masya Alloh, Bu Aini?" seru Ibuku mengenali sosok yang datang bersama Medina, seorang Ibu yang pernah kubonceng di belakang jok motorku, kenapa dulu aku tidak menyadari kalau Beliau adalah Ibunya Mizan.

"Nggih Bu," jawab Bu Aini santun.

Ibuku meraih tangan Bu Aini hendak menciumnya, namun Bu Aini segera menarik tangannya sambil tersenyum. Kemudian Beliau menghampiriku yang duduk di kursi tanpa bangun ikut menyambut kedatangan Beliau.

Beliau duduk di sampingku, kemudian memelukku, dengan hangat. Kesedihan membuatku begitu lambat merespon, aku biarkan begitu saja pelukan ini menghangatkan kesedihanku.

"Innallaha ma'ashobirin ...!" ucapnya seraya melepaskan pelukanku.

"Terimakasih Bu Aini, udah repot-repot datang sampe ke sini." Ibuku berbasa-basi walaupun aku tahu, Ibuku merasa canggung atas kedatangan Bu Aini.

"Hem ... begini, saya datang ingin menyampaikan maksud baik saya," ucap Bu Aini setelah bermain mata dengan Medina.

"Oh ... ada apa ya, Bu?" tanya Ibuku.

"Mungkin ... kedatangan saya terlalu terburu-buru, tetapi saya hanya ingin menyegerakan maksud baik keluarga saya, bukan berarti harus dijawab dalam waktu dekat ini, jawab saja kapan pun Mba Mariam siap," ungkap Bu Aini.

"Menantu saya, Medina, sudah menceritakan semuanya, mengenai hubungan Mas Mizan dan Mba Mariam di masa lalu, saya tidak bermaksud ikut campur hanya saja, menantu saya ini meminta tolong untuk dibantu menyampaikan kepada Mba Mariam," lanjutnya, aku sempat melirik raut Ibuku yang penuh keheranan.

"Bissmillahirohmanirohim ... Mba Mariam ibu datang atas permintaan menantu saya, untuk melamar Mba Mariam untuk putra kedua saya Musa Hamizan." Detik itu aku hanya mampu mendengar kata-katanya, tanpa mampu mencerna sedikit pun maksud ucapannya.

Tiba-tiba rasa sesak memenuhi rongga dadaku, jangankan berpikir untuk sekedar bernafas saja rasanya begitu sakit dan berat. Tubuhku bergetar mengikuti jiwaku yang tergoncang. Aku melihat Medina hanya tertunduk.

"Apa ... aku tidak salah dengar?"

"Mba Mariam, tidak harus menjawabnya sekarang, kapan pun Mba Mariam siap," lanjut Bu Aini.

Tiba-tiba terlintas lagi di pikiranku, ketika darah terus menerus keluar dari kepala Mas Bian, kulihat diriku sendiri begitu panik, aku menangis, memohon pada dokter dan perawat, "Selamatkan suamiku, selamatkan suamiku!"

"Maaf Bu ... tapi Bapak Biantara meninggal dalam perjalanan menuju rumah sakit," jawab seorang bapak Polisi.

Aku berteriak, satu kali dua kali, kugoncang-goncangkan tubuh kaku Mas Bian, kupanggil-panggil namanya sekali, dua kali, tiga kali, sampai suaraku terasa mengambang, hilang.

Nafasku tercekat, wajah pucatnya seakan tersenyum padaku, satu-satunya senyum yang sama sekali tidak membuatku bahagia. Tangaku meraba-raba dada bidangnya, tempatku biasa bersandar, tempatku mengadu, tempatku mencari ketenangan dan kehangatan. Sepi. Kuletakan telingaku di sana, mencari irama yang selalu membuatku bahagia, kupejamkan mata berkali-kali, aku masih mencari dan terus mencari, irama detak jantung milik Mas Bian, milikku. Namun, sepi.

Runtuh rasanya duniaku saat itu.

Kuraih tangannya yang dingin, kenapa dingin? Tangan inilah yang sudah bekerja keras demi kehidupanku dan Oktavia, kenapa dingin? Tangan yang selalu menghadirkan keceriaan dan keajaiban dalam menapaki kehidupan yang penuh misteri. Kini dingin.

Tiba-tiba punggungku menghangat.

"Mba ... ! Istighfar Mba ... !" tangan hangat Ibuku menyadarkanku dari kepingan mimpi buruk.

"Astaghfirullohaladzim ... Astaghfirullohaladzim ... Astaghfirullohaladzim ... !" tuntun Ibuku dengan penuh kasih sayang.

"Assalamualaikum ... !"

Kudengar suara seorang laki-laki datang lalu tanpa menunggu jawaban dia masuk, mereka bicara dalam kata-kata yang aku tidak mengerti. Aku hanya merasa gelap. Gelap.

"Mariaaam ... !"

.....

1
Laela Syarif
😭😭😭
Aku siapa: Lanjutin dong
total 1 replies
Uswatun Khasanah
bener bener menguras emosi
🇮🇩 ♏🌹🅰️ 🇵🇸
Semua Allah... Aq makin benci Medina. Smua krna sikap ingin tahu, tdk sabaran & gegabahnya Medina. Smua krna kehausan Cintanya Medina, bukan hanya Mariam yg jd tumbal, tp 2 anak jd yatim piatu. Hal ini hrsnya jd beban lahir BaThiN Medina seumur hidup. Demi cinta Musa, byk org jd korbannya Medina.
🇮🇩 ♏🌹🅰️ 🇵🇸
Betuuuul... Smua ini gara2 Medina. Yg salahkan Mariam, nda ada otaknya smua. 😪😪😪
🇮🇩 ♏🌹🅰️ 🇵🇸
Kau tllu byk ikut campur urusannya org lain, Medina Setaaaaaang...!!! Jengkel tong lama2 ku liat kelakuanmu!!!
Vhina El husna
kasian sama medinanya
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Sbnre yg sdg km tuai adalah hasil dr Ketidak sabarnmu, Din.
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Gak ada yg bisa berbuat Adil selain Allah SWT.
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Ya Allah... Beratnya jd Mariam.
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Lanjoet
🇮🇩 ♏ Q 🎱 🇵🇸
Sabar... Sabar... Sabaaaaar....
🇮🇩 ♏ Q 🎱 🇵🇸
Gak usah mcm2 deh. Kesian si Medina. Kek gak punya hati aja sih Mariam. 😪😪😪
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Kadang... Lebih baik gak tahu. Drpd tahu & sakit hati sdri.
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Bidadari Surga bnr2 panjang sabarnya ya Medina.
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Pedihnyaaaa... 🤧🤧🤧
Wiwit Verina
kenapa tokoh medina dibuat gini bgt ya? emang author pernah liat wanita model gini? 😁
emang ada gitu hehehee
Aku siapa: Adaa sayaang
total 1 replies
Wiwit Verina
rmang didunia nyata ada ya yg kaya medina? 😂
Sulati Cus
kyknya si adam adalah sabiru
Sulati Cus
pasti hati ketar ketir dlm tidur pun kau sebut sbg istri pasti kecewa baru baca udah agak2 emosi
Wiwin Dwi Messiana
kapan ya lanjutan Adam,sabira?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!