Demi takhta tertinggi Klan Zhou, Zhou Yu dijebak oleh konspirasi kejam. Menggunakan ramalan palsu, para tetua mengasingkannya ke Pulau Sunyi—tempat para biksu tanpa kekuatan kultivasi, tempat di mana masa depannya sengaja dikubur hidup-hidup.
Enggan membiarkan takdirnya mati dalam kesunyian, Zhou Yu nekat melarikan diri ke Hutan Keramat yang tabu. Di sana, di balik kabut abadi, dia menemukan kerangka naga raksasa yang terantai.
Siapa sangka, setetes darah Zhou Yu justru menghancurkan segel kuno dan membangkitkan takdir yang sebenarnya: Garis Keturunan Iblis Kuno yang ditakuti langit dan bumi! Dengan tulang naga iblis di tubuhnya dan dendam yang membara di hatinya, Zhou Yu berjalan keluar dari pulau pengasingan.
"Kalian membuangku karena takut aku merebut takhta? Bersiaplah, karena sekarang aku kembali untuk meratakan seluruh klan!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanzT0k3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Takhta yang Berlumur Darah
Pagi hari di Kastil Klan Zhou disambut oleh aroma anyir darah yang belum sepenuhnya pudar dari lantai arena. Namun, di bawah langit Ibu Kota yang cerah, struktur kekuasaan klan telah berubah total dalam satu malam.
Di bawah komando tegas Kapten Yuan, pembersihan besar-besaran terhadap sisa-sisa antek faksi Zhou Gung dilakukan tanpa ampun. Mereka yang terlibat dalam konspirasi masa lalu dieksekusi di gerbang kastil, sementara sisanya dijebloskan ke penjara bawah tanah terdalam.
Zhou Yu kini memegang kendali mutlak. Tidak ada lagi yang berani menyebut nama "Tuan Muda Cacat". Kini, setiap murid klan yang berpapasan dengan bayangannya akan langsung berlutut dengan tubuh gemetar penuh rasa hormat yang bercampur ketakutan.
Di Aula Utama klan yang megah, Zhou Yu duduk di atas kursi kebesaran pemimpin. Jubah hitamnya yang bersulam benang perak pekat terurai di atas lantai giok.
Di hadapannya, Mu Rong Xue melangkah masuk dengan keanggunan yang biasa, namun sepasang mata indahnya kini memancarkan rasa hormat yang jauh lebih dalam dari sebelumnya.
"Kamar Dagang Mu Rong mengucapkan selamat atas kembalinya Sang Elang Sejati ke takhtanya," ucap Mu Rong Xue sembari memberikan hormat formal yang anggun.
Pertemuan hari ini bukan lagi sekadar kunjungan kasual, melainkan konsolidasi aliansi. Di atas meja giok, sebuah kontrak monopoli logistik dan distribusi sumber daya spiritual antara Klan Zhou dan Kamar Dagang Mu Rong resmi ditandatangani.
Kerja sama ini memastikan bahwa faksi Zhou Yu tidak akan kekurangan dana dan pasokan obat-obatan untuk memperkuat pasukan bayangannya.
Setelah urusan formal selesai, Mu Rong Xue melangkah sedikit lebih dekat. Dia mencondongkan tubuhnya, menatap wajah tegas Zhou Yu dengan tatapan mata yang berkedip jenaka namun sarat akan ketertarikan wanita yang mendalam.
"Tuan Muda Zhou Yu, Anda benar-benar pria yang penuh kejutan. Seluruh Ibu Kota kini gempar karena Anda. Apakah Anda tidak berniat merayakannya... bersamaku malam ini?"
Zhou Yu bahkan tidak mengedipkan mata mendengar godaan halus dari wanita tercantik di kalangan saudagar tersebut. Tatapannya tetap sedingin es abadi. "Aliansi kita adalah tentang keuntungan, Nona Mu Rong. Jangan mencampuradukkan bisnis dengan hal yang tidak perlu."
Mu Rong Xue sedikit tertegun, lalu terkekeh pelan menyembunyikan rasa kecewanya. Penolakan yang tegas dan karisma dominan Zhou Yu justru membuat rasa penasaran di hatinya semakin membara. Dia tahu, pria di depannya ini bukanlah tipe yang bisa ditaklukkan oleh kecantikan belaka.
Sementara Mu Rong Xue keluar dari aula dengan senyuman penuh arti, di luar gerbang kediaman pribadi Zhou Yu, sebuah pemandangan yang kontras sedang terjadi.
Lin Xinyue berdiri di sana dengan gaun putih yang tampak kusut. Wajahnya yang biasanya memancarkan keangkuhan dewi es kini tampak kuyu dengan lingkaran hitam di bawah matanya.
Sepanjang malam dia tidak bisa tidur, jiwanya terus-menerus disiksa oleh rasa bersalah dan penyesalan yang amat sangat. Dia datang dengan harapan bisa menemui Zhou Yu, memohon maaf, dan menjelaskan bahwa pembatalan pertunangan di masa lalu adalah karena tekanan sektenya.
Namun, langkah kakinya dihadang secara mutlak oleh tombak perak Kapten Yuan dan barisan pengawal zirah hitam.
"Minggir. Aku hanya ingin berbicara dengannya sebentar saja!" Lin Xinyue memohon, suaranya parau dan bergetar, kehilangan seluruh martabatnya sebagai Putri Suci Sekte Pedang Suci.
"Peri Lin, atas perintah langsung dari Pemimpin Klan, Anda adalah orang asing di kediaman ini," ucap Kapten Yuan dengan nada dingin tanpa emosi. "Tuan Muda Zhou Yu tidak sudi melihat wajah Anda, ataupun mendengar suara Anda. Silakan kembali, sebelum kami terpaksa menggunakan kekerasan."
Mendengar kata-kata "tidak sudi melihat wajah Anda", jantung Lin Xinyue serasa dihantam oleh gada raksasa.
Dia menatap pintu gerbang kayu yang tertutup rapat di hadapannya, menyadari bahwa pintu maaf dari Zhou Yu telah dikunci mati untuknya selamanya. Dengan hati yang hancur berkeping-keping dan rasa malu yang mendalam, dewi pedang itu berbalik dan berjalan pergi dengan langkah yang lunglai.
Kembali ke dalam ruang kerja pribadi klan, Zhou Yu sedang memeriksa sebuah slip giok kuno yang didapatkan dari ekstraksi paksa memori Zhou Gung kemarin. Abyssal Qi hitamnya mengalir ke dalam slip tersebut, menampilkan baris-baris informasi rahasia yang selama ini disembunyikan.
Mata merah darah Zhou Yu menyipit tajam saat membaca baris terakhir memori tersebut.
Hilangnya sang ayah beberapa tahun lalu ternyata bukan sekadar perebutan kekuasaan internal klan. Ada keterlibatan dari organisasi pembunuh bayangan nomor satu di Ibu Kota, Paviliun Bayangan Hitam, yang bergerak di bawah perintah rahasia dari faksi Pangeran Ketiga Kekaisaran Langit Timur.
'Pangeran Ketiga... Jadi faksi Kekaisaran yang menggunakan tangan Paviliun Bayangan Hitam menginginkan ayahku lenyap,' batin Zhou Yu.
Hawa membunuh yang pekat mendadak merembes keluar dari tubuhnya, membuat suhu ruangan terjun bebas. Zhou Yu mengangkat tangan kanannya, mengalirkan api hitam kecil untuk membakar slip giok tersebut hingga menjadi abu di udara.
Sret.
Tepat pada saat itu, sesosok bayangan intelijen dari pasukan bayangan Yuan muncul dari balik kegelapan ruangan, berlutut dengan satu kaki di lantai.
"Melapor, Tuan Muda. Seseorang dari istana kekaisaran baru saja mengantarkan ini untuk Anda."
Intelijen itu menyodorkan sebuah surat undangan mewah berwarna emas dengan segel lilin berlambang naga kekaisaran berkaki empat. Zhou Yu menerima surat tersebut dan membukanya.
Surat itu berisi undangan resmi dari Pangeran Ketiga Kekaisaran, mengundang Zhou Yu sebagai Pemimpin Baru Klan Zhou untuk menghadiri Perjamuan Teh Para Jenius Ibu Kota yang akan diadakan besok malam di Istana Musim Panas.
Membaca nama pengirim surat tersebut, sudut bibir Zhou Yu terangkat, membentuk seulas senyuman iblis yang sangat kejam. Dengan satu remasan tangan, surat emas itu langsung hancur menjadi debu halus di dalam genggamannya.
"Baru saja aku mencari mereka," Zhou Yu berbisik dengan nada yang membuat bulu kuduk intelijen di depannya berdiri, "mereka sudah tidak sabar untuk mengantarkan nyawa sendiri