Menjadi sekretaris di KALUMPERRI CORP seharusnya menjadi puncak karier Aulia Putri yang elegan. Namun, realitanya jauh dari ekspektasi. Alih-alih mengurus agenda bisnis bernilai triliunan, pekerjaan Aulia lebih mirip seorang peternak: menggembala Khatyr Ali Fatih, sang CEO super malas!
Khatyr itu jenius, tapi moto hidupnya adalah rebahan. Ia hobi bolos rapat, sembunyi di bawah meja, dan tidur di gudang arsip. Saat dewan direksi mulai gerah dan mengancam posisi Khatyr, sebuah kesepakatan rahasia terjalin. Aulia menjadi "otak" di balik layar, sementara Khatyr menjadi tameng korporatnya.
Di antara kejar-kejaran kocak di lorong kantor dan intrik politik perusahaan, Aulia sadar bahwa di balik kemalasan Khatyr, ada kejeniusan berbahaya yang siap melindungi dirinya. Mampukah Aulia menjinakkan bos ajaib ini, atau justru ia yang ikut terperangkap dalam pesona santainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehadiran Pemimpin Mahardika Group
Efek dari draf pembatalan perpanjangan kontrak sewa lahan SCBD yang dikirimkan oleh Kalumperri Land bekerja bagaikan bom waktu finansial yang meledak tepat di jantung pertahanan Mahardika Group.
Hari Kamis pagi itu, bursa saham Jakarta baru saja dibuka selama tiga puluh menit ketika rumor mengenai perselisihan antara Kalumperri dan Mahardika Group mulai berembus ke publik.
Meskipun tim humas kedua belah pihak berusaha menutupi informasi tersebut, kepanikan para investor tidak bisa dibendung.
Saham Mahardika Group langsung memerah, merosot tajam hingga 4,8 persen hanya dalam waktu satu jam pertama perdagangan.
Bagi perusahaan yang sedang mengalami krisis likuiditas akibat proyek Surabaya yang mangkrak, kehilangan lahan SCBD adalah vonis mati yang instan.
Di lantai 42 Gedung KALUMPERRI CORP, Aulia Putri duduk dengan tenang di balik meja kerjanya.
Ia mengenakan blazer abu-abu gelap dengan kemeja sutra putih di dalamnya.
Rambut cokelat panjangnya kembali disanggul rapi dan kencang.
Di wajahnya, kacamata baca berbingkai tipis bertengger manis, memancarkan aura seorang profesional sejati yang sepenuhnya fokus pada tugasnya.
Jari-jarinya menari lincah di atas papan ketik, menganalisis laporan mitigasi risiko baru yang dikirimkan oleh tim analis keuangan.
Namun, debaran jantung Aulia hari ini terasa jauh lebih tenang dan damai.
Rasa cemas dan ketakutan yang kemarin sempat mencengkeram dadanya akibat ancaman foto kotor Tiffany kini telah sepenuhnya sirna, digantikan oleh rasa percaya yang luar biasa kuat terhadap tameng baja yang melindunginya.
“Aku akan memaksa ayah Tiffany sendiri yang menyeret putrinya itu berlutut di hadapanmu untuk meminta maaf, Aulia...”
Janji Khatyr kemarin sore terus terngiang di telinganya, memberikan kehangatan manis yang senantiasa menggelitik hatinya di balik ketegangan suasana kantor.
Tepat pukul sebelas lewat lima belas menit siang, telepon interkom di meja kerja Aulia berdering dengan nada cepat dan panik.
Aulia menekan tombol jawab. "Ya, Murni? Ada apa?"
"M-Mbak Aulia! Darurat tingkat nasional!" suara Murni di seberang sana terdengar sangat gemetar dan berbisik panik.
"Pak Surya Mahardika... pemilik Mahardika Group sendiri baru saja keluar dari lift eksekutif! Wajahnya merah padam dan beliau sedang menyeret Mbak Tiffany dengan sangat kasar! Mereka berdua sedang berjalan menuju meja kerja Mbak sekarang!"
Aulia menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan untuk menstabilkan emosinya.
"Terima kasih, Murni. Tolong pastikan tidak ada staf lain yang mendekati koridor lantai eksekutif selama tiga puluh menit ke depan."
"Baik, Mbak!"
Aulia meletakkan gagang telepon interkom, lalu bangkit berdiri dari kursi ergonomisnya.
Ia merapikan ujung blazernya, melipat kedua tangannya di depan dada, dan berdiri tegak dengan dagu terangkat, menampilkan sosok wanita mandiri yang siap mempertahankan harga dirinya dengan cara yang sangat berkelas.
Denting.
Langkah kaki yang berat dan tergesa-gesa terdengar menggema di sepanjang lorong marmer lantai eksekutif.
Seorang pria paruh baya bertubuh tegap dengan setelan jas hitam yang tampak sedikit kusut melangkah masuk dengan napas memburu.
Wajahnya yang biasanya dipenuhi keangkuhan seorang konglomerat kini tampak sangat pucat, dengan gurat-gurat kepanikan yang luar biasa dalam di dahinya.
Pria itu adalah Surya Mahardika.
Di tangan kanannya, Surya sedang mencengkeram erat pergelangan tangan putrinya, menyeretnya dengan gerakan yang sangat kasar dan tanpa belas kasihan sedikit pun.
Tiffany Mahardika melangkah di belakang ayahnya dengan kondisi yang sangat memprihatinkan.
Tidak ada lagi gaun desainer Prancis yang glamor, tidak ada lagi tas tangan bermerek edisi terbatas yang biasa ia pamerkan dengan angkuh.
Tiffany hanya mengenakan terusan gaun hitam polos yang sangat sederhana. Wajah cantiknya yang biasanya dihiasi riasan tebal kini tampak sangat pucat, dengan mata bulat yang bengkak dan merah padam akibat menangis semalaman tanpa henti.
Rambut panjangnya yang biasa ditata rapi kini tampak sedikit acak-acakan, memancarkan aura keputusasaan yang teramat sangat.
Begitu Surya melihat Aulia Putri berdiri tegak di balik meja kerjanya, ia langsung menghentikan langkahnya. Pria paruh baya itu membungkuk sedikit, menatap Aulia dengan pandangan memohon yang sangat canggung dan tidak biasa bagi seorang pengusaha besar kelas atas.
"Selamat siang, Sekretaris Aulia Putri..." suara Surya terdengar sangat gemetar, sarat akan kecemasan finansial yang mendalam.
"Saya... saya adalah Surya Mahardika. Saya datang ke sini hari ini untuk memohon waktu Anda dan Pak Khatyr selama beberapa menit."
Sebelum Aulia sempat menjawab, pintu ganda kayu jati di belakangnya terbuka dengan desisan tajam yang elegan.
Khatyr Ali Fatih melangkah keluar dari ruang kerjanya. Hari ini, ia mengenakan setelan jas hitam klasik dengan kemeja putih bersih yang dikancingkan rapat, memancarkan aura ketampanan seorang pemimpin tertinggi yang sangat dingin, dominan, dan mengintimidasi seluruh ruangan.
Khatyr menghentikan langkahnya tepat di samping Aulia, melipat kedua tangannya di depan dada, lalu menatap Surya dan Tiffany dengan sepasang mata elang yang sangat tajam dan dingin tanpa ada rasa kasihan sedikit pun.
"Lantai empat puluh dua ini tidak menerima kunjungan keluarga tanpa adanya janji temu resmi yang disetujui oleh sekretaris pribadiku, Tuan Surya Mahardika," ujar Khatyr, nada suaranya yang berat dan berwibawa menggema mantap di seluruh koridor eksekutif, seketika membekukan atmosfer di dalam ruangan.
Surya Mahardika langsung menatap Khatyr dengan pandangan memohon yang teramat sangat, bahkan hampir saja berlutut di atas lantai marmer jika ia tidak menahannya demi sisa harga dirinya.
"Pak Khatyr... saya memohon dengan sangat! Tolong batalkan draf pembatalan perpanjangan sewa lahan SCBD itu!" seru Surya dengan suara bergetar menahan tangis keputusasaan.
"Perusahaan kami... Mahardika Group saat ini sedang berada di ujung tanduk! Jika kontrak sewa lahan itu dibatalkan, seluruh proyek gedung perkantoran dan mal kami di Surabaya dan Jakarta akan disita oleh bank, dan ribuan karyawan kami akan kehilangan pekerjaan mereka! Kami akan hancur total, Pak!"
Khatyr menyunggingkan senyum tipis, sebuah senyuman dingin yang sangat menawan namun sarat akan ancaman bahaya yang mematikan.
"Keputusan perpanjangan kontrak sewa lahan adalah murni penilaian risiko bisnis, Tuan Surya," jawab Khatyr tenang, matanya berkilat dingin.
"Aku merasa Mahardika Group saat ini memiliki risiko kepatuhan etika dan reputasi yang terlalu tinggi untuk menjadi mitra strategis jangka panjang Kalumperri Land. Terutama... ketika putri tunggalmu berani menggunakan taktik kotor, spionase ilegal, dan ancaman pencemaran nama baik untuk mengganggu privasi dan harga diri sekretaris pribadiku, Aulia Putri."
Surya Mahardika langsung berbalik menghadap putranya dengan wajah yang dipenuhi oleh kemarahan yang luar biasa dahsyat.
Ia mencengkeram bahu Tiffany dengan sangat kasar, memaksa putrinya itu untuk melangkah maju ke hadapan Aulia.
"Tiffany! Berlutut!" teriak Surya lantang, suaranya menggema keras di dalam ruangan eksekutif. "Berlutut di hadapan Sekretaris Aulia sekarang juga dan mohon ampun atas seluruh kebodohan dan kekejaman yang telah kamu lakukan!"
Tiffany tersentak kecil, air mata hangat langsung mengalir deras membasahi pipinya yang pucat. Tubuhnya gemetar hebat menahan rasa malu, kehinaan, dan ego sosialitanya yang kini hancur berkeping-keping di atas lantai marmer KALUMPERRI CORP.
"Ayah... aku mohon, jangan lakukan ini..." rengek Tiffany dengan suara parau yang sangat lirih, menatap ayahnya dengan pandangan memohon.
"Berlutut, Tiffany! Atau aku bersumpah demi nama ibumu, aku akan mencoret namamu dari seluruh daftar warisan Mahardika Group, mengusirmu dari rumah, dan membiarkanmu membusuk di jalanan tanpa uang sepeser pun!" ancam Surya tanpa kompromi, matanya menyala dengan kemarahan mutlak seorang ayah yang perusahaannya dihancurkan oleh kebodohan anaknya sendiri.
Mendengar ancaman terakhir dari ayahnya, Tiffany tidak memiliki pilihan lain.
Dengan tubuh yang gemetar hebat, ia perlahan-lahan menjatuhkan kedua lutut indahnya di atas lantai marmer yang dingin, tepat di hadapan kaki Aulia Putri yang dibalut sepatu flat hitam sederhana.