Di rumah megah keluarga Pramoedya, Nadia bukanlah siapa-siapa. Statusnya mengambang. Bukan sekadar pembantu, tapi juga tak sepenuhnya dianggap sebagai anak angkat. Demi bisa bertahan hidup dan membiayai kuliahnya, Nadia rela memeras keringat dari pagi buta hingga larut malam, mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tanpa mengeluh. Hingga malam jahanam itu tiba...Saat jam dinding menunjukkan tengah malam, Nadia yang baru sempat membersihkan kamar mandi akibat jadwal kuliahnya yang padat, dikejutkan oleh kepulangan Axel, putra tunggal sang majikan. Axel pulang dalam keadaan mabuk berat, kehilangan akal sehat, dan menyimpan amarah terpendam.
Dalam kegelapan malam dan di bawah pengaruh alkohol, Axel melompati batas yang tak seharusnya. Dia memaksa Nadia, menodai kesucian gadis itu dalam sebuah malam penuh tangis yang tak akan pernah bisa dimaafkan. Dan satu malam itu mengubah segalanya. Nadia hamil. Bukannya mendapatkan pertanggungjawaban, dia justru di campakkan dan diusir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22. Keinginan di Tengah Malam.
Waktu terus bergulir tanpa terasa. Dua bulan telah berlalu sejak hari pernikahan sederhana di KUA itu. Kandungan Nadia kini mulai memasuki usia tiga bulan lebih, dan perubahan hormon di tubuhnya makin sering membawa kebiasaan-kebiasaan baru yang aneh. Salah satunya adalah keinginan mendadak akan makanan tertentu yang datangnya tidak kenal waktu, atau yang biasa disebut orang sebagai mengidam.
Sabtu malam sekitar pukul sebelas, suasana kampung sudah sepi dan senyap. Angin malam berhembus cukup dingin, menusuk hingga ke tulang.
Di dalam paviliun belakang, Nadia terbangun dari tidurnya dengan langit-langit mulut yang terasa sangat getir. Tiba-tiba saja, kepalanya dipenuhi oleh bayangan semangkok bakso urat hangat dengan kuah kaldu yang gurih, lengkap dengan sambal merah yang pedas dan sedikit cuka. Demi membayangkan itu, air liur Nadia rasanya mau menetes.
Nadia duduk di tepi ranjang, memegangi perutnya yang masih tampak rata namun mulai sering bergejolak. “Ya Allah... pengen banget bakso,” batinnya nelangsa.
Ia melirik ke arah jam dinding. Sudah hampir tengah malam. Nadia tahu di depan gang atau di dekat perempatan pasar pasti masih ada tukang bakso yang mangkal. Namun, untuk keluar sendirian menembus gelapnya malam, Nadia tentu saja tidak berani. Kampung sudah sepi, dan udara di luar sangat dingin untuk kondisinya.
Pikiran untuk meminta bantuan kepada Ubay sempat terlintas. Nadia tahu Ubay ada di kamar rumah depan, karena motor RX-King cowok itu sudah terparkir rapi di garasi sejak jam sembilan malam tadi.
Namun, jemari Nadia yang baru saja memegang gagang pintu paviliun langsung ditarik kembali. Rasa segan dan sungkan yang teramat sangat seketika membentengi dirinya.
“Jangan, Nadia... kamu nggak boleh ngelunjak,” bisik hati kecilnya memperingatkan. “Mas Ubay itu sudah terlalu baik. Dia sudah kasih kamu tempat bernaung, nafkah, dan status sah. Mas Ubay itu bukan suami beneran yang menghamili kamu. Masa iya tengah malam begini kamu harus bangunin dia cuma buat minta beliin bakso? Kamu nggak tahu diri banget kalau sampai ngelakuin itu.”
Menekan ego dan rasa sungkannya, Nadia akhirnya memilih jalan tengah yang sedikit tidak masuk akal. Ia memakai jaket rajutnya yang tebal, lalu melangkah perlahan keluar dari paviliun menuju halaman depan rumah besar.
Nadia membuka pintu kayu rumah depan dengan sangat hati-hati, berusaha agar engselnya tidak berdecit dan membangunkan Ubay. Setelah berhasil keluar, gadis itu berdiri di undakan teras rumah, bersandar pada tiang beton sembari memeluk tubuhnya sendiri yang kedinginan.
Pandangan mata Nadia menatap lurus ke arah jalanan kampung yang remang-remang di balik jeruji gerbang besi. Ia berdiri di sana dengan penuh harap, menajamkan pendengarannya di tengah kesunyian malam.
Nadia berharap, benar-benar berharap ada keajaiban berupa ketukan mangkok dari tukang bakso keliling yang kebetulan lewat menghabiskan dagangannya. Tuk... tuk... tuk... Suara yang sangat ia rindukan itu terus ia tunggu dalam diam. Setiap ada sorot lampu motor yang lewat di ujung gang, jantung Nadia berdesir berharap itu adalah gerobak bakso. Namun, setelah motor itu berlalu, jalanan kembali sepi, meninggalkan Nadia yang terpaku memeluk dirinya sendiri di bawah langit malam yang dingin.
**
Hampir tiga puluh menit Nadia berdiri diam membeku di bawah temaram lampu teras. Angin malam bertiup semakin kencang, membuat dedaunan pohon mangga di halaman bergoyang pelan dan menciptakan bayangan yang bergerak-gerak di atas tanah. Nadia yang mengenakan jaket rajut kebesaran dengan rambut panjang terurai dan wajah pias karena menahan lapar, benar-benar tampak seperti siluet putih di tengah kegelapan.
Dari ujung gang, terdengar langkah kaki berderap santai disertai sorot lampu senter yang bergoyang naik-turun. Itu adalah tiga orang warga yang kebagian tugas ronda malam. Cak Hari penjual martabak, Bang Juki, dan Pak RT sendiri. Mereka sedang berjalan keliling kampung sambil sesekali memukul tiang listrik dengan potongan besi.
Teng... teng... teng...
Senter yang dipegang Bang Juki menyapu ke arah halaman rumah tua milik nenek Ubay. Begitu cahaya senter itu menangkap sosok wanita berambut panjang berdiri diam di atas teras, ketiga laki-laki itu seketika menghentikan langkah.
"A-Astagfirullahaladzim! Setan!!" teriak Bang Juki hampir melompat ke belakang, menyenggol tubuh Cak Hari sampai hampir jatuh ke selokan.
"Eh, apa itu putih-putih? Pocong apa kuntilanak?" sahut Cak Hari dengan suara melengking panik, langsung bersembunyi di balik punggung Pak RT yang bertubuh tambun.
Nadia yang kaget mendengar teriakan itu buru-buru maju dua langkah ke dekat pagar besi, melambaikan tangannya dengan cemas. "Nggak, Bapak-bapak! Ini saya... Nadia, istrinya Mas Ubay! Nggak usah takut, saya manusia, Pak..."
Mendengar suara lembut khas manusia yang sangat mereka kenal, Pak RT langsung menghembuskan napas lega sambil mengelus dadanya yang naik-turun karena kaget. Ia merebut senter dari tangan Bang Juki dan mengarahkannya ke wajah Nadia.
"Ya Allah, Mbak Nadia!" seru Pak RT, geleng-geleng kepala setelah ketakutan setengah mati. "Bapak pikir tadi kuntilanak penunggu pohon mangga! Lagian kamu ini ngapain berdiri diam di teras jam dua belas malam begini? Mana pakaiannya putih begitu, rambut nggak diikat. Bikin jantung orang tua mau copot saja!"
Nadia menunduk dalam-dalam, wajahnya seketika merona merah padam karena malu yang teramat sangat. Jemarinya saling bertautan dengan gelisah di balik kantong jaket. "M-Maaf, Pak RT... maaf, Cak Hari, Bang Juki. Saya nggak bermaksud nakut-nakutin..."
"Terus ngapain di luar, Mbak? Nyari angin? Dingin begini lho," tanya Cak Hari yang sudah mulai berani maju ke depan pagar.
Nadia menggigit bibir bawahnya, suaranya mengecil hampir seperti bisikan karena sungkan. "Itu... saya... saya lagi nungguin kalau ada tukang bakso keliling yang lewat, Cak. Tiba-tiba pengen banget makan bakso urat hangat..."
Mendengar jawaban polos itu, Pak RT, Cak Hari, dan Bang Juki saling berpandangan selama dua detik. Sedetik kemudian, kepanikan mereka tadi berganti dengan tawa terkekeh-kekeh yang tertahan agar tidak membangunkan warga kampung yang lain.
"Oalahhh!" Cak Hari menepuk jidatnya sendiri sambil tertawa geli. "Bawaan bayi toh ternyata! Lagi ngidam bakso to, Mbak?"
"Wah, wah, wah..." Bang Juki ikut menyenggol lengan Pak RT sembari terkekeh nakal. "Si Ubay ternyata tokcer bener ya, Pak RT! Baru nikah dua bulan lebih, bininya udah bunting aja! Tampang preman jalanan tapi gerakannya sat-set langsung gol!"
"Hush! Jangan keras-keras, Juk! Malu dilihat pengantin baru," tegur Pak RT sambil ikut tertawa kecil, merasa senang karena tebakannya tentang kebahagiaan rumah tangga Ubay terbukti. "Tapi hebat bener si Ubay, nggak pakai lama langsung jadi bapak!"
Suara tawa, kekehan, dan celetukan "tokcer" dari depan pagar itu bergema cukup jelas di keheningan malam. Di dalam rumah depan, kuping Ubay yang tajam sebagai anak jalanan langsung menangkap suara-suara bising tersebut.
Cklek.
Pintu utama rumah besar mendadak terbuka dengan kasar. Ubay muncul di ambang pintu dengan wajah bantal, matanya menyipit karena silau lampu senter, dan rahangnya mengeras karena tidurnya diganggu.
"Ada apa ini berisik-berisik di depan rumah gue?" tanya Ubay dengan nada suara berat yang dingin khas preman pasar, membuat tawa Cak Hari dan Bang Juki seketika terhenti di tenggorokan.
****