Aku masih perawan, itu yang di katakan Maudy ketika akhirnya Ia tau kalau suaminya selama ini mencoba menghindarinya karena kepercayaan turun temurun dari keluarga suaminya itu.
Pada saat resepsi pernikahan mereka entah karena apa, ada beberapa kembang mayang yang tiba-tiba mengering, dan itu membuatnya mendapat hinaan karena di percaya sudah tidak segel lagi.
Maudy yang mengira kalau suaminya menghindarinya karena memang tidak ada cinta, karena memang pernikahan mereka terjadi karena perjodohan.
Hingga akhirnya Ia tau alasan suaminya itu diam padanya selama berbulan-bulan. Yuk mampir di karya author remangan, jangan lupa bagi like komennya ya 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raisya Putri 🕊, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 Permintaan Susan
...****************...
Tidak terasa sudah lima hari Maudy tinggal di kampung halamannya, surat kepindahannya pun sudah Ia ajukan tinggal menunggu konfirmasi lebih lanjut. Hari ini Ia memutuskan untuk kembali ke Jakarta.
" Benarkah Nak, baiklah. Kamu hati- hati di jalan ya Nak, kalau ada apa-apa jangan segan untuk menghubungi Bunda ya Nak. "
Di balik pintu Gibran memperhatikan Bundanya mengobrol dengan seseorang melalui panggilan telpon, bibir Gibran tanpa sadar tertarik ke pipi karena merasa senang ketika tau Ibunya berbicara dengan siapa.
Ketika hampir memasuki kota besar ponsel Maudy berdering, Ia menepikan mobilnya untuk mengecek siapa yang tengah menghubungi nya saat ini. Keningnya berkerut karena nama pemanggil tidak ada di list kontaknya yang berarti nomor tidak di kenal. Maudy agak ragu untuk menerima panggilan itu namun setelah ponselnya berbunyi untuk kedua kali akhirnya Maudy pun menerimanya.
" Iya maaf, ini dengan siapa. "
Maudy terdiam mendengar suara di seberang
" Baik. " Hanya itu yang Maudy katakan sebelum Ia mengakhiri panggilan.
Maudy tidak langsung melanjutkan perjalanannya, Ia masih tidak percaya sekaligus bingung. Setelah berpikir lama akhirnya Maudy pun memutuskan menemui seseorang yang alamatnya sudah di kirimkan melalui pesan watsap.
Maudy mengedarkan pandangannya mencari seseorang, Ia memilih duduk di kursi taman menunggu kedatangan seseorang yang sangat ingin bertemu dengan nya itu.
" Hai, sudah lama menunggu. "
Maudy menoleh ke asal suara, Ia menatap wajah cantik wanita di depannya. Ingatannya melayang ke beberapa foto yang ada di kamarnya.
" Ah, nggak juga. Mari silahkan duduk. "
Susan duduk di samping Maudy yang sejak tadi sudah tidak sabar ingin mendengar hal apa yang ingin di bicarakan oleh kekasih dari suaminya itu.
" Langsung saja, kamu tentu sudah tau siapa aku dan bagaimana hubungan ku dengan Mas Gibran. Aku juga sudah tau siapa kamu, kamu bukan keponakan Bunda Ayu, tapi apapun status mu aku tidak peduli. Hubungan ku dengan Mas Gibran sudah berlangsung selama tujuh tahun dan kami saling mencintai, perasaan kami berdua begitu kuat hingga sulit untuk di akhiri. Aku tau hubungan kalian ada karena perjodohan, aku mengajak mu bertemu dengan tujuan agar kamu mau mengakhiri hubungan palsu kalian. Di antara kalian berdua sama sekali tidak ada rasa cinta, jadi untuk apa kalian berdua masih sama-sama mencoba bertahan dan menyakiti perasaan satu sama lain. "
Maudy hanya diam tak mengeluarkan sepatah katapun, Ia bingung bagaimana harus bersikap. Memang tak mudah untuk menghilangkan perasaan yang sudah lama terjalin, namun hubungan Maudy dan juga Gibran pun tidak bisa begitu saja di putuskan.
Ponsel Maudy kembali berdering ketika Ia sudah berada di balik kemudi, Ia kembali memeriksa ponsel nya, keningnya kembali berkerut ketika melihat nama yang tertera di layar ponselnya.
" Suami.......? suami siapa, aku tidak pernah menamai kontak orang lain dengan nama suami. "
Maudy benar-benar di buat bingung dengan semua yang baru saja dia alami, Maudy enggan untuk menerima panggilan dari kontak yang tidak Ia kenal.
" Bagaimana Gibran, apa sudah ada kabar. Ini sudah jam tiga loh, seharusnya Maudy sudah tiba dua jam yang lalu, Bunda takut dia kenapa-kenapa Nak. "
Bunda Ayu benar-benar khawatir karena sejak tadi tidak ada jawaban mengenai keberadaan menantunya.
" Ah apa mungkin Maudy tidak ingin menerima panggilan mu karena panggilan mu dari nomor tak di kenal. "
Gibran sebenarnya gelisah namun Ia mencoba terlihat tenang, Ia tidak ingin Bundanya menyadari kegelisahan yang Ia rasakan saat ini. Bunda Ayu mondar-mandir gelisah menunggu kabar dari menantunya hingga terdengar suara mobil di depan rumah.
Bunda bergegas keluar dan benar saja yang datang adalah Maudy, Bunda langsung memeluk menantunya itu.
" Kamu baik- baik saja, tidak kenapa-kenapa kan Nak. " Tanya Bunda dengan tangan menyentuh kedua lengan Maudy.
Maudy mengangguk dan mengatakan kalau dirinya baik-baik saja, Bunda meminta satpam untuk membawa masuk koper milik Maudy, mereka masuk bersamaan. Bunda Ayu mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Gibran.
" Kemana dia, tadi nampak gelisah menunggu kabar istrinya, giliran Istrinya datang malah ngilang, jangan sampai dia menemui wanita itu lagi. " Batin Bunda Ayu.
" Ah Nak, kamu pasti lelah. Naiklah ke atas, istrahat sebentar atau mandi, nanti turun kita ngobrol lagi. "
Maudy mengangguk dan pamit ke kamar, Ia memang merasa sedikit lelah. Bukan hanya lelah fisik tapi pikiran juga. Maudy perlahan membuka pintu dan sedikit terkejut karena suaminya ternyata berada di kamar.
Sebelumnya Ia jarang pulang tapi sekarang dia ada di kamar.
" Mas. " Sapa Maudy pelan.
" Baru tiba, darimana saja kamu. Kamu tidak tau bagaimana khawatirnya Bunda karena kamu telat sampai rumah, seharusnya kamu sudah tiba hampir tiga jam yang lalu. Bunda bahkan sampai mengira kalau ada sesuatu yang buruk tengah menimpa mu. "
Maudy meminta maaf pada suaminya dan kembali mengingat pembicaraan nya dengan wanita yang di cintai oleh suaminya.
" Maaf Mas, tadi aku bertemu dengan salah seorang teman ku, kebetulan dia ada disini. Sekali lagi aku minta maaf, nanti aku akan minta maaf langsung pada Bunda. "
Sebenarnya bukan hanya Bunda yang khawatir namun Gibran gengsi untuk mengakuinya sebagai.
" Maaf Mas, aku ingin membersihkan diri sebentar, aku gerah. "
Maudy mengambil handuk dan juga pakaian gantinya dan berderab kearah pintu kamar mandi, Gibran duduk di sofa. Rasanya Ia ingin marah, apalagi mendengar alasan yang membuat Maudy terlambat sampai rumah karena menemui salah satu temannya.
" Ada apa dengan ku, kenapa ada rasa tidak nyaman. " Gumam Gibran sembari menepuk pelan dadanya.
Maudy keluar setelah berganti pakaian, Ia mengira kalau suaminya sudah pergi namun ternyata tidak, Gibran masih saja betah duduk di sofa.
" Kenapa telpon ku tidak di angkat tadi. " Tanya Gibran yang perasaannya masih tidak nyaman.
Maudy yang baru akan membereskan barang bawaannya menyusunnya kedalam lemari sontak menghentikan aktifitas nya, Ia menoleh ke arah suaminya yang duduk di sofa dengan kedua tangan di lipat di dada.
" T- telpon ? apa Mas menelpon ku tadi, tapi bagaimana bisa. Aku bahkan tidak punya nomor kontak Mas begitu juga sebaliknya. " Ucap Maudy bingung.
Gibran mendengus kesal, Ia berderab ke arah meja rias mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi nomor Maudy. Maudy mengambil ponselnya dan dengan dahi berkerut Ia menatap layar ponselnya.
" Suami ? bagaimana bisa, gimana caranya. Kapan aku menyimpan nomor Mas Gibran apalagi sampai memberi nama suami. " Batin Maudy.
Gibran menatap wajah istrinya, Ia tersenyum sinis karena kenyataan nya ponsel milik istrinya itu berdering ketika Ia menghubungi nya.
" Kenapa, kamu ingin menyangkal dan mengatakan kalau tidak ada yang menghubungi mu sejak tadi. "
Masih dengan wajah bingung Maudy membaca nama yang tertera di layar ponselnya.
" Suami. " Sambil menatap wajah Gibran.
Gibran mendadak gugup setelah mengingat kalau memang Ia yang menyematkan nama itu di ponsel Maudy.
" Apa itu Mas Gibran. " Tanya Maudy lagi.
Gibran semakin gugup namun Ia mencoba bersikap biasa- biasa saja.
" Ya I-iyalah, memangnya suami mu siapa kalau bukan aku. Apa kamu lupa sudah menikah dengan ku, sudahlah aku ingin keluar sebentar. Kamu jangan lupa temui Bunda dan minta maaf padanya. " Ucap Gibran dengan suara sedikit keras.
Gibran bergegas keluar kamar, wajahnya sekarang sudah seperti kepiting rebus. Ia tidak ingin kalau sampai Maudy melihat raut wajahnya yang sekarang. Maudy semakin di buat bingung melihat tingkah aneh suaminya.
......................