***
Bagi Raka, Naya adalah candunya ...
Berbeda dengan Naya yang menganggap Raka sebagai masa lalu yang menyakitkan..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apri Ana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28
Raka menghisap rokoknya sambil melihat layar laptop yang terhubung dikamar yang Clara tempati, adegan yang terjadi dikamar itu. dimana kelima pria itu secara brutal memperkosa Clara membuat Clara menjerit dan menangis.
Jahat dan kejam? ya itulah Raka namun Raka tidak pernah memulai semuanya jika tidak ada yang memulai.
Selama ini Raka hanya diam, dia memang sudah mengetahui banyak kebusukan Clara dan keluarganya namun Ia hanya diam, tapi kali ini sepertinya Ia tak bisa berbaik hati pada Clara yang sudah membuat Raka kembali kehilangan Naya nya.
Raka sudah bertekad, dia tak akan membunuh Clara namun Ia akan membuat wanita itu hancur, sehancur hancurnya agar Ia juga merasakan apa yang Raka rasakan kali ini.
"Saya sudah membatalkan semua perjanjian dengan Ninecorp Tuan, dan bisa dipastikan besok perusahaan itu akan bangkrut." kata Nathan yang baru saja datang.
Raka tersenyum puas, "Kerjamu selalu bagus."
"Saya permisi Tuan." Nathan hendak keluar namun Raka kembali memanggilnya.
"Kau akan menemui Anna?" tanya Raka.
"Jika saya sudah selesai dan tak ada pekerjaan mungkin saya akan kesana." jelas Nathan.
"Bagus, pantau terus keadaan Naya dan selalu kabari aku jika ada sesuatu yang buruk." pinta Raka dengan raut wajah cemas.
"Baiklah pak, saya permisi."
Nathan menutup pintu ruangan Raka dan mendesah pelan, melihat bagaimana terpuruknya Raka saat ini. Nathan cukup tau bagaimana Tuannya itu sangat mencintai Naya namun dia juga tak bisa berbuat apapun untuk membuat Naya percaya padanya.
...
Malam harinya Raka kembali kerumah sakit untuk melihat keadaan Naya, meskipun Raka sudah berjanji taakan menganggu Naya lagi namun nyatannya ia masih tak bisa.
"Dia sudah tidur." kata Anna mengajak Raka keluar.
"Bagaimana keadaanya?" tanya Raka.
"Kau tau dia masih shock dan kecewa bahkan seharian ini dia hanya menangis." jelas Anna.
"Tapi aku tak pernah membohongi Naya, aku memang sudah bercerai dari Clara."
"Sepertinya sulit membuat Naya percaya kembali padamu."
Raka mengerang frustasi "Bolehkah aku meminta satu hal padamu?" tanya Anna.
"Apa?"
"Untuk sementara, tidak bisakah kau pergi dari hidup Naya, sampai semuanya tenang."
"Aku bisa gila!" kata Raka frustasi.
"Setidaknya buatlah dia tenang lebih dulu, aku janji akan selalu memberikan kabar tentang Naya padamu." kata Anna.
Raka hanya diam masih belum menjawab permintaan Anna.
"Aku mohon, sementara saja, biarkan dia tenang lebih dulu."
"Baiklah, tapi kau harus menepati janjimu dan selalu mengabariku tentang keadaan Naya." kata Raka menyerah.
"Ya tentu saja."
Dan sejak malam itu Raka sudah kembali ke jakarta tanpa membawa Naya.
...
Seminggu berlalu, Naya sudah pulang dari rumah sakit namun dokter menyarankan pada Naya agar tidak bekerja terlalu berat apalagi sampai stres.
Pagi ini Naya sudah bersiap untuk pergi ke restoran karena Ia mendapat kabar dari Tika jika banyak yang terjadi direstoran semenjak kejadian Clara melabraknya.
Naya sendiri juga sudah mempersiapkan mentalnya jika nantinya akan terjadi sesuatu pada dirinya atau usahanya, Bagi Naya sekarang Ia harus sehat dan bekerja untuk anak anaknya panti.
"Mbak yakin mau berangkat?" tanya Anna kala melihat Naya keluar dari kamarnya dan sudah rapi dengan pakaian kerjanya.
"Iya An, aku juga harus tau apa yang terjadi drestoran setelah kejadian itu." kata Naya.
"Tapi mbak, gimana kala-"
"Udah kamu tenang aja, aku udah nggak apa apa kok! apapun yang akan terjadi nanti aku udah siapin mental buat menghadapinya." kata Naya namun tetap saja Anna mengkhawtirkannya.
"Aku ikut ya mbak?" kata Anna menawarkan diri.
"Kalau kamu ikut gimana nanti kalau anak anak pulang? kasian kan malahan, udah aku bener nggak apa apa." kata Naya melihat kekhawatiran Anna yang berlebihan padahal Naya sendiri memang sudah fine fine saja.
"Ya udah deh mbak, kalau ada apa apa kabarin aku aja ya!"
"Iya, aku berangkat dulu." pamit Naya lalu memasuki mobilnya dan mobil melaju meninggalkan pekarangan panti.
Sesampainya di restoran, keadaan masih sangat sepi membuat Naya heran padahal ini sudah pukul 9 pagi, tapi kenapa para karyawannya belum terlihat datang? batinn Naya.
Naya keluar hanya menemukan Tika serta dua orang karyawan yang sudah ada disana.
"Kok sepi banget sih Tik?" tanya Naya mendekati Tika.
"Syukur Bu Naya sudah datang, karena banyak yang mau saya laporkan pada Bu Naya." kata Tika merasa lega, meskipun Tika sering datang kerumah sakit selama Naya sakit namun Tika tak pernah melaporkan apapun pada Naya karena Tika merasa belum waktunya Ia melaporkan segala kejadian yang ada direstorannya.
"Ya udah kita masuk aja," ajak Naya.
Kini Naya dan Tika sudah duduk disebuah sofa yang ada diruangan Naya.
Naya melihat banyak tumpukan map coklat yang ada dimejanya, sedikit binggung karena Ia sedang tak membuka lowongan pekerjaan tapi kenapa banyak sekali map seperti itu disini.
"Saya binggung bu mau mulai dari mana dulu menjelaskan pada bu Naya." kata Tika terlihat ragu.
"Udah, jelasin semua sama saya, saya udah nggak apa apa Tika." kata Naya sambil tersenyum.
Tika menghela nafas lalu mulai menjelaskan "Semenjak kejadian minggu lalu, restoran sangat sepi pengunjung, kadang hanya beberapa orang saja yang datang, tak cuma disini tapi didua cabang kita juga mengalami hal seperti ini Bu."
"Sudah saya duga." Naya tersenyum miris.
"Dan semenjak itu sudah tak ada lagi pemasukan diketiga restoran kita bu," kata Tika yang sebenarnya susah menjelaskan pada Naya apalagi melihat raut wajah Naya yang terlihat sedih.
"Dan map coklat yang menumpuk disitu adalah surat pengunduran diri dari para karyawan restoran Bu, mereka sudah menduga jika restoran ini akan tutup karena bangkrut jadi mereka memutuskan untuk mengundurkan diri lebih awal." jelas Tika lagi.
Tampak Naya mendesah pelan, bagaimana tidak usaha yang ia rintis dari nol harus mengalami kebangkrutan seperti ini.
"Bu Naya baik baik saja?" tanya Tika melihat Naya hanya melamun setelah mendengar penjelasan dari Tika.
"Lalu bagaimana dengan orang orang yang sudah memesan menu kita untuk acara pesta mereka?" tanya Naya.
"Mereka membatalkan semua Bu, ada beberapa yang minta uang dp dikembalikan namun ada juga yang hanya membatalkan." jelas Tika.
"Baiklah jika memang seperti ini, sepertinya kita harus menutup semua restoran kita." kata Naya dengan nada sedih.
"Tapi Bu, apa ibu yakin?" tanya Tika mendengar keputusan Naya.
"Ya mungkin ini yang terbaik, lagipula waktu sewa kita juga sudah mulai habis, dan semua uang yang tersisa gunakan untuk membayar gaji semua karyawan yang sudah mengundurkan diri ataupun yang belum." jelas Naya.
"Bu.." rasanya Tika berat sekali meninggalkan restoran Naya, Ia masih tak yakin bisa kembali memiliki bos sebaik Naya.
"Terimakasih Tika, sudah menemaniku dari Nol." kata Naya yang tak pernah melupakan loyalitas Tika padanya, sejak Naya membuka warung makan kecil kecilan hingga berkembang menjadi restoran seperti ini.
Tak terasa Tika sampai meneteskan air matanya.