NovelToon NovelToon
Takdirku Bersama Suami Mafiaku

Takdirku Bersama Suami Mafiaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Penyesalan Suami / Balas Dendam
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: PUTRI

Zara, gadis sederhana dan polos, dipersatukan dengan Adrian Romanov — pria dingin berkuasa yang membuat hidupnya benar-benar menderita. Dituduh, disakiti, dikucilkan, ia terbelenggu takdir kematian yang mengikatnya erat, selalu membayangi setiap langkahnya.

Namun sebutir nyawa kecil yang tumbuh di dalam dirinya yang memberi alasan untuk bertahan. Namun di balik semuanya tersembunyi rahasia besar. Nanti saat kebenaran terkuak, akankah ia lepas dari belenggu itu… atau justru terjerat makin dalam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PUTRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

nama asing di balik nama cincin itu

Uap hangat mengepul memenuhi ruangan berkeramik gelap yang dihiasi urat-urat halus berwarna keemasan itu. Air jatuh deras dari langit-langit, membasahi sekujur tubuh tegap yang berdiri diam di sana. Ia menghadap ke atas, membiarkan aliran air itu menyiram wajahnya, merambat turun melewati leher yang kokoh, membasahi dadanya yang berotot dengan garis yang tegas, hingga akhirnya menetes menyusuri lengan yang kekar lalu jatuh membasahi lantai yang licin. Perlahan ia membuka matanya; bola matanya berwarna biru pucat, bening dan dingin persis seperti bongkahan es yang belum pernah tersentuh panas. Ia meraih handuk tebal yang tergantung rapi di rak samping, melilitkannya erat di pinggang, lalu melangkah keluar dari bilik kaca yang melengkung indah itu.

Di kamar tidur, suara kicauan burung yang terdengar pelan dari luar jendela perlahan membangunkanku. Kubuka kelopak mataku perlahan, lalu mataku menyapu seluruh sudut ruangan itu dengan hati-hati. Tempat itu kini sudah kosong, tak ada tanda-tanda keberadaan Adrian di sana. Segera aku memeriksa keadaan diriku sendiri dengan cermat, memastikan bahwa semalam tidak terjadi apa-apa yang tidak pantas atau menyakitkan bagiku. Setelah merasa tenang dan yakin bahwa diriku tetap aman, aku bangkit dari tempat tidur, merapikan alas tidur dan melipat selimut sebaik yang kuberanikan saja — cukup agar terlihat rapi dan tidak berantakan, layaknya kebiasaan yang biasa kulakukan di rumah dulu.

Tak lama kemudian aku bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Namun saat aku baru saja selesai mandi dan hanya melilitkan handuk di tubuhku, tiba-tiba terdengar suara ketukan yang halus namun jelas terdengar dari balik pintu kamar. Jantungku seketika berdegup kencang karena panik — aku belum sempat mengenakan sehelai pakaian apa pun. Dengan tergesa-gesa aku kembali melangkah masuk ke kamar mandi dan memutar kunci pintunya hingga rapat, berharap orang yang berada di luar sana tidak akan berani masuk tanpa izin.

Ternyata yang datang adalah Yamal, sekretaris pribadi Adrian. Ia berdiri dengan sikap tenang sambil membawa sebuah tas kain berwarna polos di tangannya. Sebenarnya Adrian sudah bangun jauh lebih pagi dari semua orang, dan segera memerintahkannya untuk mengambilkan satu set pakaian yang layak untukku. Karena tidak mendengar ada suara jawaban dari dalam, Yamal pun membuka pintu kamar sedikit saja dengan sangat sopan. Melihat ruangan itu tampak kosong, ia pun menyampaikan dengan suara yang pelan namun jelas terdengar: “Mohon maaf mengganggu waktu istirahatmu, Nyonya Zara. Saya dikirimkan oleh Tuan Adrian untuk membawakan pakaian ini. Boleh saya taruh saja di depan pintu ya?” Ia tidak melangkah masuk sedikit pun, hanya meletakkan tas itu dengan hati-hati di ambang pintu, lalu segera berjalan pergi meninggalkan ruangan itu.

Baru setelah suara langkah kakinya benar-benar tak terdengar lagi, aku berani keluar dari tempat persembunyianku, mengambil tas itu, lalu kembali mengunci pintu kamar dengan rapat. Saat kubuka isinya, ternyata terdapat seperangkat pakaian yang terlihat sangat halus, rapi, dan tampak mahal harganya. Di atas meja kecil di sudut ruangan juga sudah tersedia sebuah kotak yang berisi perlengkapan merias wajah yang lengkap. Aku pun meluangkan waktu sejenak untuk merapikan penampilanku secukupnya saja — tidak berlebihan, cukup agar terlihat segar, bersih, dan sopan.

Setelah merasa siap, aku pun menuruni tangga menuju lantai dasar dengan mengenakan pakaian pemberian itu: sebuah kemeja berwarna putih gading yang bahannya terasa sangat lembut di kulit, dengan kerah yang sederhana dan lengan yang berakhir di bagian siku, kainnya sedikit melebar serta terbuat dari bahan yang tembus pandang namun halus dan sopan. Di luar kemeja itu terpasang sebuah rompi berwarna merah muda lembut yang warnanya perlahan memudar ke arah krem, dihiasi dengan sulaman halus serta butiran kecil yang berkilau cantik namun tidak berlebihan. Dipadukan dengan sebuah rok lurus yang panjangnya sampai di lutut, bermotifkan bunga-bunga samar dengan warna yang senada dengan rompi itu. Sebagai pelengkap yang sederhana namun anggun, aku mengenakan anting kecil berhias mutiara asli serta gelang emas tipis yang melingkar pas di pergelangan tanganku.

Saat aku melangkah masuk ke ruang tengah, aku melihat Adrian sudah berdiri menunggu di sana. Penampilannya pagi ini terlihat begitu memukau dan berwibawa: mengenakan kemeja putih bersih yang rapi, dilapisi dengan rompi bergaris halus berpadu warna hitam dan abu-abu yang dipasangkan dengan kancing berdesain klasik, membuat postur tubuhnya terlihat semakin tegap, bahunya tampak lebar dan memancarkan kekuasaan yang alami. Di pergelangan tangannya terpasang sebuah jam tangan bermutu tinggi dengan bingkai yang berkilau lembut, melengkapi setiap penampilannya yang tampak sempurna di mata siapa pun yang melihatnya.

Melihatku datang mendekat, Adrian melirik sekilas dari ujung kepala hingga ujung kakiku, lalu bergumam pelan hanya untuk dirinya sendiri: “Ternyata benar saja… jika diberi pakaian yang layak dan pantas, ia terlihat jauh lebih baik dari yang kubayangkan.” Setelah itu ia memanggil Yamal yang sedang menunggu di luar ruangan, menyuruhnya mengambil sebuah kotak kecil yang sempat tertinggal di dalam mobil.

Begitu kotak itu berada di tangannya, Adrian membuka tutupnya perlahan dengan hati-hati. Di dalamnya terlihat tersusun rapi dua pasang cincin kawin: satu pasang untuknya, dengan bentuk yang tegas, kokoh, dan sederhana namun berkelas, dihiasi deretan batu berlian kecil yang tersusun rapi. Sedangkan cincin untuk wanita memiliki satu batu permata yang agak besar di bagian tengahnya, yang berkilau memancarkan cahaya terang saat terkena sinar matahari, dikelilingi oleh butiran berlian yang lebih kecil. Namun ada sesuatu yang terasa aneh bagiku: ternyata untuk ukuran jariku disediakan dua pilihan ukuran yang berbeda, sedangkan untuk jarinya hanya tersedia satu ukuran saja.

Sambil menunggu aku menyelesaikan persiapannya, Adrian sempat duduk sebentar di kursi utama sambil membaca beberapa lembar dokumen yang tersusun rapi di atas meja. Namun karena merasa cukup lama tidak melihatku muncul dari arah tangga, akhirnya ia bangkit berdiri sambil membawa kotak cincin itu, lalu berjalan menuju arah ruang dapur. Di luar ruangan, Yamal tetap berdiri tegak di dekat pintu utama, sesekali melirik layar ponselnya untuk memeriksa jadwal kegiatan yang harus diselesaikan hari ini.

Saat aku melangkah masuk ke ruang dapur, mataku terbelalak takjub melihat betapa luas, terang, dan bersihnya ruangan itu. Lantainya terbuat dari marmer putih yang berkilau halus, lemari penyimpanan terbuat dari kayu yang diukir dengan sangat halus berpadu warna krem dan keemasan, sementara jendela-jendela besar yang membentang membiarkan cahaya matahari pagi masuk melimpah ke setiap sudut ruangan. Di tengah ruangan berdiri sebuah meja kerja yang sangat besar, dilengkapi dengan berbagai macam peralatan memasak yang tampak sangat bagus dan berkualitas tinggi. Sebenarnya semalam aku sempat berniat mencari jalan ke sini, namun keberanianku lenyap seketika saat listrik padam dan kegelapan menyelimuti seluruh rumah. Kini dengan cahaya yang terang benderang, aku segera membuka pintu lemari pendingin — ternyata isinya tidak terlalu banyak jenis makanan, hanya tersedia sedikit sayuran seperti brokoli, bawang bombai, buncis, serta beberapa ekor udang yang masih terlihat sangat segar. Itu sudah cukup bagiku untuk menyiapkan masakan sederhana namun layak untuk kami berdua.

Aku segera mencuci semua bahan makanan itu hingga benar-benar bersih, merebus brokoli hingga matang namun tetap renyah, lalu menumis bawang bombai hingga mengeluarkan aroma harum yang lembut. Setelah itu aku memasukkan udang ke dalam wajan, mengaduknya perlahan hingga berubah warna menjadi kemerahan, baru kemudian menambahkan buncis serta brokoli yang sudah ditiriskan airnya. Aku hanya membumbuinya dengan sedikit garam dan lada secukupnya saja, tanpa bumbu yang berlebihan agar tetap terasa alami dan segar. Tak lama kemudian masakan itu pun siap disajikan. Aku memindahkannya ke atas piring keramik yang tampak indah dan halus, lalu meletakkannya rapi di atas meja makan yang luas itu.

Belum sempat aku mengangkat sendok untuk mencicipinya sendiri, tiba-tiba sebuah bayangan tubuh yang tinggi menjulang terlihat melintas di ambang pintu — Adrian kini berdiri tegak di sana. Kali ini aku bisa melihatnya lebih dekat dan lebih jelas dari sebelumnya. Tubuhnya menjulang tinggi, berotot padat namun tetap terlihat ramping dan proporsional di setiap bagiannya. Garis wajahnya terlihat sangat tegas dengan rahang yang kokoh, kulitnya tampak bersih dan halus seperti porselen yang tidak pernah tersentuh debu, sementara matanya yang berwarna biru jernih persis seperti es di puncak gunung terlihat tajam namun menyimpan kilatan kelembutan yang tersembunyi dan jarang terlihat orang lain. Rambutnya berwarna pirang keemasan yang sedikit bergelombang lembut, jatuh menutupi sebagian dahinya dengan cara yang sangat alami.

Aku sempat terpaku diam sejenak melihatnya, sebelum akhirnya tersadar dan segera menurunkan kembali sendok yang sempat kuangkat ke udara. Adrian pun melangkah mendekat perlahan, membuka kembali kotak cincin yang masih ia bawa, lalu mengambil cincin miliknya sendiri dan memasangkannya dengan rapi di jari manis tangan kanannya. Setelah itu ia menyodorkan kotak itu ke arahku dan berkata dengan nada bicaranya yang tetap datar namun jelas: “Silakan pasangkan cincinmu sekarang juga.”

Baru pada saat itu aku teringat kembali akan hal yang terlewatkan kemarin. Saat pelaksanaan akad nikah berlangsung, kami sama sekali tidak sempat saling bertukar cincin karena Adrian begitu sibuk dengan berbagai urusan penting hingga hal itu sempat terlewatkan dari ingatannya. Aku pun mencoba memakai cincin yang pertama kali kugenggam — namun terasa agak terlalu longgar di jariku. Kemudian aku mencoba ukuran yang kedua, namun tetap saja rasanya belum pas dan masih terasa agak besar. Adrian sedikit mengerutkan keningnya melihat hal itu, lalu segera memanggil dengan suara yang cukup keras terdengar hingga ke luar ruangan: “Yamal! Kemari sekarang!”

Tak lama kemudian Yamal datang dengan langkah yang cepat namun tetap sopan, lalu membungkukkan badannya sedikit sebagai tanda hormat. “Ada perintah apa dari Tuan?”

“Bagaimana caramu membeli dan memilihkan cincin ini? Tidakkah kau memastikan ukuran jarinya dengan benar?” tanya Adrian dengan nada yang mulai terdengar sedikit kecewa dan kesal.

Wajah Yamal seketika berubah tampak penuh rasa bersalah. “Mohon ampun atas kelalaian saya, Tuan. Sebenarnya saya sempat mencatat ukuran jari untuk Nyonya Fara, namun saya keliru mengira bahwa ukuran jari Nyonya Zara persis sama dengan ukuran itu.”

Mendengar nama wanita yang asing itu terucap dari mulut Yamal, seketika kepalaku terasa pening dan penuh pertanyaan yang tak terjawab. Fara? Siapakah wanita yang bernama Fara itu? Apakah berarti cincin yang ada di hadapanku ini sebenarnya dipesan dan disiapkan untuk orang lain?

1
Nur Cha
fantasi kha ?
Putry Chan: sebenarnya bukan sih
total 1 replies
Intan Tan
👍
helena
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!