Author kembali dengan cerita lebih menantang,ingat ya dilarang meniru karya hasil buatan asli author. Up setiap hari dijam yang sama😍
Bagaimana jadinya jika kamu terjebak di dalam kisah tragis yang kamu tulis sendiri?
Anna, seorang penulis novel, mendadak terseret masuk ke dalam naskah terbarunya yang berjudul Transmigrasi: Menjadi Istri Tiga Pangeran Kejam. Ia terbangun dalam wujud tokoh utama wanita—seorang istri yang diabaikan, dianggap buruk rupa, dan dibenci oleh tiga pangeran berdarah dingin.
Mengetahui plot mengerikan yang menanti di depan mata, Anna harus memutar otak. Bisakah sang penulis menjinakkan tiga pangeran kejam ciptaannya, atau justru ia akan mati di tangan karakter yang ia buat sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kunjungan Tak Terduga Sang Putra Mahkota
"Hormat hamba, Yang Mulia Putra Mahkota. Maafkan hamba karena tidak dapat menyambut Anda dengan layak dalam kondisi seperti ini," ucap Hou Juntian seraya menangkupkan kedua tangannya dengan hormat. Meski dalam keadaan cemas, ia tetap menjaga etika di depan sang calon penguasa negeri.
Putra Mahkota mengangguk pelan, wajahnya tampak tenang namun menyimpan kedalaman pikiran. "Bangkitlah, Jenderal. Tidak masalah, aku hanya ingin melihat kondisi Pangeran Mo secara langsung," ucapnya dengan wibawa yang menenangkan.
"Silakan, Yang Mulia," jawab Juntian, lalu ia memandu Putra Mahkota berjalan menuju kamar Mo Jiu.
Begitu pintu kamar terbuka, suasana di dalam terasa berat oleh aroma obat-obatan. Mo Jiu yang sedang terbaring lemah berusaha sekuat tenaga untuk bangkit memberikan penghormatan, namun Putra Mahkota segera mengangkat tangannya, melarang pria itu untuk bergerak.
"Tetaplah beristirahat, Pangeran Mo," titah Putra Mahkota. Ia menatap Mo Jiu dengan tatapan yang sulit diartikan. "Kau benar-benar membuatku panik. Bagaimana mungkin seorang Pangeran Iblis Utara bisa terkena racun mematikan seperti ini?"
Putra Mahkota kemudian tersenyum tipis, sebuah senyum yang mengandung kekaguman sekaligus sedikit ironi. "Namun, kau sangat beruntung. Kau memiliki istri yang luar biasa, yang rela mempertaruhkan segalanya untuk mencari penawar demi dirimu."
Mendengar nama Tang Anning disebut, tatapan Mo Jiu seketika melembut, meski di dalamnya tersirat rasa sakit yang mendalam. Nama itu selalu menjadi pengingat akan pengorbanan yang tak ternilai, sekaligus penyesalan yang kini menghantui nuraninya.
"Yang Mulia... hamba juga hanyalah manusia yang tak luput dari kesalahan," suara Mo Jiu terdengar parau namun tulus. Ia menundukkan kepala, membiarkan beban yang selama ini ia pikul keluar bersama kata-katanya. "Hamba merasa sangat bersalah... karena pernah mendiamkan dan mengabaikan Tang Anning."
Suasana di kamar itu seketika hening. Baik Hou Juntian maupun Putra Mahkota terdiam sesaat, terpaku oleh pengakuan jujur dari seorang pria yang selama ini dikenal sebagai sosok tak tersentuh. Di ruangan itu, kebenaran tentang penyesalan Mo Jiu kini terungkap di depan mata, meninggalkan ruang bagi rasa simpati yang mendalam atas nasib rumah tangga mereka yang kini berada di persimpangan jalan.
***
Di bawah hamparan langit yang memutih, Tang Anning akhirnya tiba di kaki Gunung Salju. Perjalanan selama lima hari yang melelahkan itu tidak sia-sia; ia telah melintasi berbagai rintangan, mulai dari hadangan perampok gunung hingga membantu para pengemis yang tertimpa bencana di sepanjang jalan.
"Akhirnya tiba juga," gumamnya dengan napas yang mulai terengah-engah karena udara dingin. "Hmm... aku harus segera mencari Bunga Teratai Salju sebelum racun di tubuh Mo Jiu semakin parah."
Ia mulai menelusuri kedalaman pegunungan itu sendirian, namun langkahnya terhenti tiba-tiba saat sesosok bayangan hitam muncul di hadapannya dengan gesit. Tang Anning terkejut, namun segera menyadari bahwa itu adalah pengawal bayangan yang diutus oleh Hou Juntian.
"Nona Muda, biarkan hamba mengawal Anda," ucap pengawal itu dengan posisi hormat.
Tang Anning menatapnya dengan heran. "Kau mengikutiku selama ini? Apa kau disuruh oleh Pangeran Hou?" tanyanya.
"Benar, Nona Muda. Pegunungan ini terlalu berbahaya bagi Anda sendirian. Izinkan hamba menemani Anda demi keamanan Nona," jawab pengawal itu dengan nada tegas namun patuh.
Tang Anning terdiam sejenak, menimbang keadaan. "Baiklah, kebetulan sekali aku memang butuh bantuan," jawabnya akhirnya.
Dalam hatinya, Anning terus membatin, Hou Juntian, Mo Jiu, tunggulah aku kembali.
Setelah seharian penuh menyusuri lembah pegunungan bersama sang pengawal, mereka masih belum menemukan satu pun tanda-tanda keberadaan Bunga Teratai Salju yang legendaris itu. Kelelahan mulai menggerogoti fisik mereka, sehingga Tang Anning memutuskan untuk menghentikan pencarian sementara waktu dan beristirahat sebelum melanjutkan kembali misinya di bawah kegelapan malam yang membeku.
Di tengah dinginnya malam yang menyelimuti perkemahan mereka, aku memecah keheningan dengan pertanyaan yang sudah sejak tadi mengganjal di pikiranku. "Pengawal, siapa namamu?" tanyaku. Rasanya tidak mungkin jika aku terus memanggilnya 'Pengawal', terlalu kaku dan tidak nyaman.
Pria itu menoleh dengan tatapan yang sedikit terkejut namun tenang. "Nama hamba Wen Xie," jawabnya singkat.
"Nama yang bagus," balasku sambil tersenyum tipis. "Mulai sekarang aku akan memanggilmu Kakak Xie, bagaimana? Sudah lama aku ingin mempunyai seorang kakak, tapi apa daya, aku hanyalah anak tunggal dari klan Tang."
Ocehanku membuat Wen Xie terdiam sesaat. Ia tampak tidak menyangka dengan ajakanku. "Nona Muda, bukankah itu terlalu berharga bagi hamba yang hanya seorang pengawal bayangan?" ucapnya dengan nada yang sarat akan haru.
Aku menggeleng tegas. "Kakak Xie, tenang saja. Karena kau adalah anak buah Hou Juntian, maka kau sama saja saudara baginya, yang berarti kau juga saudaraku. Mulai hari ini, anggap aku sebagai adikmu, dan aku akan menganggapmu sebagai kakak angkatku."
"Terima kasih, Nona Muda... eh, Adik," jawabnya dengan suara yang sedikit bergetar.
Di dalam hati, Wen Xie meresapi momen itu. Baru pertama kali aku diangkat sebagai seorang kakak oleh Putri Tang Zhen. Sungguh berharga kebaikannya, maka aku bersumpah akan melindunginya dengan nyawaku, batinnya penuh tekad.
Namun, suasana hangat itu tiba-tiba berubah mencekam saat aku menyadari sesuatu yang ganjil dari udara di sekitar kami. Aku segera menutup hidung dengan sapu tangan.
"Kakak, ada bahaya! Kabut ini bukan sembarang kabut, melainkan racun yang menyelimuti lembah ini!" ucapku sambil menahan napas, memperingatkan Wen Xie agar segera bersiap menghadapi ancaman yang tak terlihat namun mematikan itu.
Terimakasih yang sudah spam like.
author punya give away buat kalian sebagai pembaca setia.
author akan masukin nama kalian sebagai karakter didalam novel author.
bagaimana? jika kalian setuju like komen author atau balas komen author "Setuju".
pastinya seru nama kalian jadi karakter dinovel author🥰🥰
ditunggu ya😍
Terima kasih sudah membaca Transmigrasi: Menjadi Istri Tiga Pangeran Dingin. Semoga kalian menikmati setiap bab yang Author tulis.
Jika kalian menyukai cerita ini, jangan lupa beri dukungan dengan like, komentar, dan vote agar Author semakin semangat melanjutkan kisah Tang Anning dan para tokohnya. 💖
Mohon maaf ya kalau untuk saat ini Author hanya bisa update 2 bab per hari. Bukan karena tidak ingin update lebih banyak, tetapi karena Author menulis cerita ini terlebih dahulu di buku tulis, lalu menyalinnya satu per satu ke aplikasi. Jadi prosesnya memang membutuhkan waktu.
Terima kasih atas kesabaran, dukungan, dan semangat yang selalu kalian berikan. Semoga kita bisa terus menikmati perjalanan cerita ini bersama. 🤗✨
Salam manis,
Author Diah Nation29 🌸