Dirga dan Asha..
Keduanya menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih saat duduk di bangku sekolah, Asha adalah cinta pertama Dirga begitu juga Dirga yang cinta pertama Asha.
Keduanya saling mencintai satu sama lain, bahkan mereka bermimpi untuk menikah suatu hari nanti.
Namun takdir berkata lain..
Orangtua Dirga menentang hubungan Asha dengan Dirga, meminta Asha untuk pergi dengan memberikan sejumlah uang kepada asha.
Asha pun pergi meninggalkan Dirga tanpa penjelasan yang jelas..
Lima tahun berlalu..
Asha kembali Ke Jakarta..
Asha berpikir semuanya sudah berubah, termasuk Dirga..
Namun takdir kembali mempertemukan Dirga dan Asha, bukan sepasang kekasih tapi Bos dan juga asisten pribadinya.
apakah mereka akan kembali bersatu ? atau justru sudah ada orang lain yang mengisi hidup mereka ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @Caramel_Machiato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1
Asha Prameswari, Gadis cantik berusia 28 tahun itu baru saja menginjakkan kakinya di Bandara Soekarno-Hatta pagi ini
Sudah tujuh tahun Asha tinggal di Surabaya, tempat ia mengejar gelar sarjana dan juga bekerja
Setelah kontrak kerjanya selesai, Asha memutuskan untuk pulang ke Jakarta.
Asha melihat ke sekelilingnya, tak banyak perubahan sebelum ia pergi ke Surabaya tujuh tahun lalu..
" Ashaa.. "
Asha menoleh, mencari sumber suara yang memanggil namanya..
Asha pun tersenyum dan melambaikan tangannya
" Naufal.. "
Teriak Asha sambil menghampiri pria itu..
" Selamat datang kembali ke Jakarta, Asha "
" Gimana rasanya balik ke Jakarta ? "
Asha berpikir sejenak..
" Biasa aja sih "
" Yakin biasa aja ? Ga ada yang pengen lo cari gitu ? "
Asha memukul pelan lengan Naufal.
" Apasih Fal, ga ada "
" Hahaha yaudah ayo kita cabut "
Asha mengangguk sambil tersenyum..
Naufal Ardiansyah, seorang arsitek di salah satu perusahaan ternama di Jakarta.
Ia dan Asha bersahabat sejak mereka kuliah di Surabaya dulu.
" Jadi gimana pertimbangan gue Sha ? Lo tinggal dulu di apartemen gue gimana ? "
" Tenang ada dua kamar, lagian gue juga ga macem-macem ko "
Ucap Naufal sambil mengemudikan mobilnya..
" Hmm yaudah deh, sampai gue dapet kerjaan lagi aja "
" Lo kan ada pengalaman jadi asisten pribadi Sha, coba coba aja lamar lagi Sha "
" Ya pengennya sih gitu ya, tapi lo tau sendiri Fal. Jakarta itu persaingannya keras, apalagi gue cuma S1 "
" Tapi lo kan pinter Sha, liat gue "
" Kenapa? Lo jelek ? "
" Dimata lo doang gue jelek Sha, dimata cewek lain mah gue ganteng "
Asha tertawa mendengar ucapan sahabatnya itu
" Ya deh terserah lo aja Fal "
Naufal pun ikut tertawa..
..
Setelah hampir 1 jam menempuh perjalanan, Asha pun sampai di apartemen milik Naufal..
Walaupun Naufal seorang laki-laki, tapi tempat tinggalnya bisa dibilang cukup rapih dan wangi.
" Gue pikir apartemen lo bakal berantakan gimana gitu "
" Duh Sha, gue udah bilang gue tuh beda sama cowok lain "
" Makanya nanti istri gue tuh pasti beruntung punya suami kayak gue "
" Ohh ya ? "
" Iyaah dong Sha "
Naufal menunjukkan kamar milik Asha yang sudah ia rapihkan.
" Ini kamar lo Sha, lo bisa istirahat disini "
" Makasih ya Fal, sumpah kalau ga ada lo gue ga tau harus tinggal dimana "
" Uang tabungan gue bener bener udah tipis banget Fal "
" Yaudah nanti gue coba bantu Lo cari kerjaan, sekarang Lo istirahat dulu aja deh Sha "
" Makasih ya Fal, kalau ga ada lo gue gatau deh gimana "
Naufal hanya tersenyum, karena tubuhnya yang lelah Asha pun akhirnya beristirahat dikamar yang sudah Naufal siapkan untuk dirinya"
Sore hari Asha dan Naufal duduk bersama di depan laptop milik Naufal, sudah hampir tiga puluh menit mereka mengirim pesan ke beberapa perusahaan.
Asha sangat berharap jika salah satunya bisa menerima Asha,,
" Gue yakin pasti ada ko Sha "
" Apalagi dengan pengalaman dan nilai kuliah lo yang bagus, siapa coba yang berani nolak seorang Asha "
Asha tertawa kecil dan memukul lengan Naufal
Naufal diam sejenak sambil memperhatikan Asha yang masih fokus menatap layar laptopnya.
Hingga akhirnya ia mulai kembali bersuara
" Sha "
" Hmm ?"
" Kalau suatu hari nanti lo ketemu lagi sama dia gimana ? "
Tangan Asha berhenti mengetik, ia diam untuk beberapa saat
" Kita nggak ada yang tau Sha, bisa aja kan lo ketemu sama dia dan dia nanya kenapa lo tiba tiba pergi waktu itu "
Asha mengetuk meja dengan jarinya sambil berpikir
" Gue berharap itu nggak pernah terjadi Fal "
" Ya lo boleh berharap kayak gitu, Sha "
" Tapi kita nggak tau kan kedepannya ?"
Asha diam
" Apa ga sebaiknya lo jujur aja sama dia ? "
" Udah ah gue nggak mau bahas dia, lagian udah berlalu juga kan "
Naufal tersenyum
" Gue tau Sha, lo masih sayang sama dia kan ? "
" Fal.. Stop "
" Gue cuma kasih tau aja Sha, karena kita harus mikirin hal-hal buruk dalam hidup kita juga kan "
Asha mengangguk sambil tersenyum
" Yaudah gue siapin makan malem dulu ya, lo lanjutin dulu aja Sha "
" Hmm makasih Fal "
Setelah Naufal pergi, Asha mulai memikirkan ucapan Naufal
Asha sendiri belum siap untuk kembali bertemu dengan seseorang yang menemani hari-harinya dulu
Bukan tanpa alasan Asha pergi saat itu, dan bukan juga keinginan Asha untuk meninggalkan saat itu
Asha keluar menuju balkon, menatap langit yang mulai gelap
" Gue berharap kita nggak akan pernah ketemu lagi "
" Dan gue berharap lo udah ketemu sama orang yang lebih baik dari gue Ga "
Setelah tujuh tahun berlalu..
Ucapan hari itu masih terngiang jelas di kepala Asha
Tujuh tahun lalu, ia pergi meninggalkan seseorang yang ia sayangi dan ia cintai
....
" Tolak.. "
" Tidak sesuai "
" Kurang pengalaman "
Ucap Reza sambil melihat beberapa kandidat di tablet miliknya, sambil menyindir bos sekaligus sahabatnya
" Gue ga suka orang yang kerjanya ga becus Za "
" Ya masalahnya sampai kapan Dirga, masa satupun ga ada yang cocok sama lo sih ? "
Dirga Mahesa, seorang CEO muda 30 tahun.
Dirga sosok pria tampan yang memiliki sikap dingin, tegas dan perfeksionis.
Karena itu pula, ia harus bergonta-ganti sekretaris dalam satu tahun terakhir.
Seperti saat ini, sudah hampir satu bulan Dirga belum menemukan sekretaris pengganti untuk membantu pekerjaannya.
Karena hal itu pula, Reza sahabat sekaligus wakil CEO perusahaan itu harus ikut lembur untuk membantu Dirga.
Reza terus membaca satu persatu cv para kandidat yang melamar
Bahkan tak terhitung sudah berapa gelas kopi yang ia habiskan untuk menemani Dirga malam ini
Hingga Reza membaca nama salah satu kandidat yang melamar menjadi sekretaris sahabatnya itu
" Ga "
" Hmm"
" Lo percaya sama pilihan gue kali ini nggak ? "
Dirga yang sedang membaca dokumen langsung menatap Reza
" Kenapa ? "
" Gue nemu orang yang cocok dari segi pengalaman kerjanya "
" Atur aja, paling kalau gue yang ga cocok langsung gue berhentiin "
" Gue yakin sih lo cocok untuk yang ini "
Tak ada jawaban lagi dari Dirga.
Reza pun tersenyum usil
Dirga sendiri tidak menaruh curiga kepada Reza, karena ia sendiri sudah percaya kepada Reza
" Setelah ini lo akan bilang makasih sama gue, Dirga Mahesa "
Batin Reza sambil menekan tahap wawancara