"Kematian adalah kepastian. Kabar baiknya, kau bisa menentukan bagaimana cara kau akan mati. Apakah dengan cara terhormat, ataukah terlaknat."
#Arsyelin
Arsyelin Wangsaguna adalah sorang detektif muda berbakat. Lulusan akademi detektif ternama dengan reputasi yang diakui seluruh dunia. Dalam petualangannya mengasah kemampuan, ia bertemu dengan sosok jin yang menyeretnya paksa untuk menemukan pembunuh teman manusianya. Sialnya, sosok jin dengan paras rupawan itu tak mau pergi meninggalkannya meskipun kasus kematian temannya telah berhasil ia ungkap.
Dan sungguh diluar dugaan, ternyata kasus kematian dengan organ yang hilang itu hanyalah puncak dari sebuah gunung es di lautan dalam. Yang mana kasus-kasus itu membawanya bertemu dengan sosok pangeran terbuang yang pernah dilelang di perdagangan budak.
Petualangan seperti apa yang akan dilakukan oleh gadis yang merupakan turunan dari bangsawan Jawa itu?
Ikuti kisah mereka hanya di The Death Blossom.
Nb: source materials cover from Pinterest.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Richa Susilo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21. The Chosen Girl
Seketika, Arsyelin menaikkan sebelah alis seraya
menyeringai begitu melihat reaksi keterkejutan pria di hadapannya. Tentu saja ia manusia. Memangnya ada istilah lain untuk menyebut makhluk berkaki dua
dengan otak genius yang memiliki wajah cantik nan anggun seperti dirinya?
Entah kenapa, meskipun pertanyaan pria ini memang
tidak salah. Karena selama sejarah hidup manusia, tak ada manusia yang bisa bertahan hidup di dalam air tanpa bantuan alat pernapasan dalam waktu yang sangat lama, sebagaimana yang Arsyelin lakukan. Jangan bicara kehendak Tuhan, memang benar, jika Tuhan berkehendak, apa pun bisa terjadi.
Namun, sebagai makhluk yang diciptakan dengan
fitrahnya untuk hidup di darat dan berenang di dalam lautan udara, sudah menjadi natur bagi manusia jika ia tidak mampu bertahan di dalam air tanpa bantuan alat
pernapasan.
Tentu saja Arsyelin sangat memahami maksud dari pertanyaan pria di hadapannya, yang kini tengah menatap dirinya seolah ia adalah alien yang datang dari dimensi antah berantah. Namun entah kenapa, gadis itu merasa sangat kesal ketika eksistensinya sebagai manusia diragukan. Mungkin karena ia hidup bersama jin yang begitu menjengkelkan. Sehingga membuatnya merasa enggan atau bahkan tidak mau menjadi bagian dari golongan mereka.
Karena perasaan itulah, Arsyelin menyipit tajam, bahkan sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan untuk mempertegas seruan tidak terimanya. “Apakah
penglihatanmu bermasalah, Tuan? Jika bukan makhluk yang masuk dalam kategori manusia, lalu menurutmu, aku ini apa?” Bukannya menjawab, sebaliknya, Arsyelin justru bertanya balik. Dengan nada ketersinggungan yang begitu nyata.
Tetapi sepertinya, sikap kasarnya itu sama sekali tak
mempengaruhi atau bahkan meluruhkan rasa penasaran pria asing di depannya. Karena pria itu masih saja melempari Arsyelin dengan tatapan seolah tak habis pikir dengan kejadian yang tengah terjadi di depan matanya. Pria itu bahkan mengabaikan benda kotak jelek yang kini dipegang erat oleh Arsyelin. Soal chip, apalagi. Pria itu bahkan sama sekali tak menyinggung tentang benda itu.
“Katakan padaku, bagaimana caramu bertahan hidup di bawah sana?” Kedua mata pria itu menyipit tajam menuntut penjelasan. Bagaimana mungkin manusia bisa bertahan hidup selama lebih dari satu jam di dalam air. Benar-benar sangat mustahil. Kecuali jika ia seorang penyihir.
Namun, ia juga tidak menemukan benda apa pun yang
sekiranya mencurigakan melekat pada tubuh gadis itu. Gadis yang kini berdiri dengan ekspresi kejengkelan yang begitu kentara itu sungguh melompat ke dalam
air dengan tangan kosong. Ia bahkan melihat dengan mata kepalanya sendiri. Jika ia hanya mendengar dari orang lain, ia pasti akan langsung tidak mempercayainya tanpa keraguan. Namun kali ini, “Dan ingat, jangan coba-coba mengelabuhiku atau
kau akan tahu sendiri risikonya,” lanjut pria itu dengan nada syarat peringatan.
Demi mendengar ancaman yang kekanakan itu, Arsyelin tertawa mencemooh. Semakin tertarik untuk mempermainkan pria sialan terkutuk yang telah mengerjainya habis-habisan ini. “Hentikan omong kosongmu itu, Tuan. Cukup akui saja kalau aku ini memang hebat. Bukankah kau sudah melihat sendiri
aku sama sekali tidak dilengkapi dengan peralatan menyelam? Skill milikku ini,” Arsyelin kembali mencondongkan tubuhnya, menyipit tajam, berujar
pelan namun penuh penekanan, “Aku yakin hanya segelintir orang saja yang memilikinya,” lanjutnya.
Setelah merasa puas begitu melihat ekspresi pria di hadapannya yang seketika tertegun dengan kening berkerut dalam, Arsyelin kembali menegakkan tubuhnya seraya menyeringai penuh keangkuhan.
“Selain itu, aku juga berhasil menemukan benda sialan
ini,” lanjutnya seraya mengeluarkan kotak kecil dari dalam saku celananya yang basah kuyup. Mengangkat benda itu hingga sejajar dengan wajahnya. Menggerak-gerakkan kotak kecil itu dengan gerakan dramatis seakan menyalurkan segenap emosi kejengkelannya pada benda itu. “Apakah kau akan menepati janjimu sekarang? Atau kau akan menjadi pecundang selamanya dan tidak mau menerima kenyataan?” desis Arsyelin tajam seraya menyeringai mencemooh.
Dan gadis itu sugguh tergelak dalam hati begitu
melihat ekspresi keterkejutan pria di hadapannya. Tawa itu nyaris saja lolos ke permukaan wajahnya andai saja ia tak berusaha mati-matian menahannya.
Lihatlah, bukan hanya matanya yang melebar seolah tak percaya. Bahkan mulut pria ini juga sedikit terbuka, seolah ingin mengatakan sesuatu namun kata-kata tak kunjung keluar dari lisannya. Entah karena begitu
terkejut atau karena takut bahwa mungkin saja apa yang menjadi kekhawatirannya menjadi kenyataan. Bahwa gadis yang ada di hadapannya ini sungguh bukan manusia.
Pria itu bahkan tak berharap banyak. Ia sama sekali tak berharap gadis yang seharusnya bersikap anggun ini akan berhasil mendapatkan chip itu. Benda kecil yang dengan sengaja ia masukkan ke dalam kotak bening yang terlihat seperti plastik ringan, yang akan terapung jika jatuh ke permukaan air. Yang mana sebetulnya, bahan pembuatnya adalah magnet yang sangat kuat. Yang akan langsung tertarik oleh medan magnet bumi. Alih-alih mengambang, unsur magnet yang kuat itu akan langsung menyeret benda itu ke dasar danau. Dan akan menjadi suatu kemustahilan bagi siapa pun untuk menemukannya. Bahkan jika dirinya mengerahkan pasukan khusus, mereka belum tentu mampu menemukan benda itu.
Jika demikian adanya, lantas apa tujuannya melakukan semua itu pada Arsyelin?
Sebetulnya, pria itu hanya ingin menguji nyali Arsyelin ketika dihadapkan pada kesulitan berat. Siapa sangka, hasilnya ternyata sungguh luar biasa.
“Tuan, apakah kau sungguh sangat terkejut dan sama
sekali tidak menyangka bahwa aku tidak akan membusuk di dasar danau, sampai-sampai kau sulit berkata-kata, bahkan hanya untuk menjawab pertanyaanku saja kau merasa kesulitan?” tanya Arsyelin seraya menyeringai mencemooh begitu
tak kunjung mendapatkan jawaban apa pun dari pria di hadapannya. Yang mana bukannya segera memberinya jawaban, malah terlihat tengah berpikir keras.
Namun, begitu pendengaran pria itu memproses
kalimatnya, pria itu segera mengalihkan pandangannya ke arah Arsyelin. Sekali lagi menatap lekat gadis itu, sebelum akhirnya tersenyum lebar dengan kedua mata menyipit penuh intimidasi.
Suatu sikap yang sungguh menyadarkan Arsyelin
bagaimana berbahayanya pria di hadapannya ini. Sosok ini pastilah tidak mendapat gelar sebagai pria paling disegani dalam organisasi tanpa alasan. Terlebih lagi organisasi itu adalah organisasi gelap yang paling berpengaruh di dunia. Membuat mulai bertanya-tanya. Apakah ia sungguh telah bersikap begitu keterlaluan terhadap pria ini?
Arsyelin menelan ludah. Tatapan lekat pria itu sungguh
bagai sihir. Begitu mengintimidasi, membuat siapa pun yang berada di bawah tatapan itu pasti akan langsung merasa dirinya sebagai sosok lemah. Namun, pikiran itu hanya bertahan sepersekian detik saja dalam benak Arsyelin. Beruntung ia sudah sering berlatih mengendalikan fungsi akal sehatnya. Membuatnya tidak harus mengalami kesulitan besar jika dihadapkan pada sosok-sosok mengerikan seperti yang ada di hadapannya saat ini.
Yang mana pikiran itu seketika mengalirkan keberanian dalam benak Arsyelin. Membuatnya membalas tatapan pria di hadapannya tanpa
sedikit pun rasa gentar. Ia bahkan dengan penuh percaya diri menaikkan dagunya dengan sikap menantang.
“Apa kau sungguh berencana membuatku kencing berdiri sebagaimana para anak buahmu yang tidak berguna itu dengan tatapanmu ini, Tuan? Asal kau tahu saja, aku sama sekali tidak takut denganmu. Aku juga tidak takut jika kau membunuhku saat ini juga. Jadi sekarang katakan saja, apa yang kau inginkan?” desis Arsyelin galak. Lantas dengan sangat berani, tanganya yang memegang kotak plastik itu terangkat, mendorong pelan dengan kekuatan tertahan dada bidang milik pria di hadapannya. “Aku sudah melakukan apa pun yang kau ingin aku
lakukan. Sekarang, bisakah kau menepati janjimu untuk melepaskan aku dan Elan?” lanjut Arsyelin dengan nada penuh tuntutan.
Sementara itu, di sisi lain, si pria sungguh dibuat kagum berkali-kali oleh gadis penuh kejutan di hadapannya ini. Ia sungguh tak pernah menyangka akan dipertemukan dengan gadis yang memiliki sejuta talenta seperti ini. Benar-benar gadis yang sangat sesuai dengan kriterianya. Bersama gadis ini,
misinya pasti akan berakhir dengan gemilang.
Pria itu lantas tersenyum lebar. “Tentu saja aku akan
menepati janjiku. Aku tidak ingin kau memanggilku pecundang kelak, ketika kita bertemu lagi,” ucap pria itu santai, menyeringai miring begitu melihat reaksi
Arsyelin yang tampak begitu jengkel setengah mati.
“Bagus. Tetapi, aku sungguh tak ingin bertemu denganmu lagi,” sahut Arsyelin, balas menyeringai.
“Benarkah? Kau adalah gadis yang kupilih. Karena itulah, kita pasti akan bertemu lagi,” ucap pria itu santai seraya mengangkat sebelah alisnya. Melangkah mendekat ke arah Arsyelin yang tampak terpaku tanpa kata. Yang jelas sekali tengah dirundung kedinginan.
Lantas, tanpa peringatan, pria itu kembali menyelimutkan mantel panjangnya pada tubuh Arsyelin. “Kau sungguh sangat berharga. Aku tidak ingin kau mati kedinginan. Percayalah, cara mati seperti itu sangat tidak keren,” ucap pria itu yang terdengar begitu bersahabat dengan nada hangat yang membuat Arsyelin mengerutkan kening kebingungan.
Apakah pria ini sedang mabuk? Ataukah dirinya yang sedang berhalusinasi?
padahal ini cerita yang paling aku suka.
aku sampai membaca ulang beberapa kali sambil nunggu cerita ini di lanjutin, karna cerita ini memang seseru itu
selamat membaca 😊😊
good job outhor.. 👍👍
kapan-kapan
*SELESAIKAN APA YG SDH KAMU MULAI *
BIAR GK ADA HUTANG DIANTARA KITA ,
HABIS AQ CEK KARYA AUTHOR NGEGANTUNG SMUA ... ENK TU FINISH 1 BKIN LAGI IGAN LONCAT2 ,BIAR GK BERSA SAKIT DITINGGL PAS SYNG2NYA wkwkwkwk...😁
OVERALL NICE STORY , SO IM WAITING UR UPDTE OKAY ,,,,😊
THANKS BE4