NovelToon NovelToon
Saat Aku Tak Lagi Menjadi Istri Gendutmu

Saat Aku Tak Lagi Menjadi Istri Gendutmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami / Putri asli/palsu
Popularitas:13.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rere ernie

Delapan tahun pernikahan membuat Naura rela mengorbankan segalanya demi keluarga. Ia melahirkan dua anak, meninggalkan kariernya, dan diam-diam membantu suaminya membangun kerajaan bisnis hingga menjadi konglomerat.

Namun setelah tubuh Naura berubah gemuk usai dua kali melahirkan, Erwin justru menganggapnya sebagai aib dan memilih wanita lain.

Diceraikan, dihina, bahkan dipisahkan dari anak-anaknya, Naura memilih bangkit daripada terus terpuruk. Ia kembali pada identitas yang selama ini disembunyikan sebagai pewaris keluarga kaya. Di saat yang sama, takdir mempertemukannya kembali dengan pria dari masa lalunya, yang membantunya mengubah hidup sekaligus mengembalikan tubuhnya menjadi sehat dan ideal.

Saat Erwin kehilangan semua yang dibanggakannya dan memohon agar Naura kembali, wanita itu hanya tersenyum dingin.

"Kau membuangku karena tubuhku gemuk setelah melahirkan kedua anakmu! Kini, kau akan kehilangan semua yang pernah kubangun untukmu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab¹⁰

Empat puluh menit kemudian, Naura turun dari mobil di taman kota dengan wajah yang masih mengantuk. Ia mengenakan setelan olahraga longgar berwarna hitam dan sepatu olahraga baru yang dipilihkan Kakek Guntur.

Belum sempat ia menguap lagi, suara yang sangat dikenalnya terdengar dari belakang.

"Terlambat tiga menit."

Naura menoleh pelan, Alaska berdiri santai sambil mengenakan pakaian olahraga sederhana. Meski hanya memakai kaus polos dan celana training hitam, penampilannya tetap menarik perhatian banyak orang yang lewat.

"Cuma tiga menit," gerutu Naura sambil mendengus pelan.

"Bagi orang lain mungkin cuma tiga menit," jawab Alaska tenang. "Tapi bagi pasien yang sedang menjalani terapi, disiplin itu bagian dari proses."

Naura memutar bola matanya. "Sejak kapan datang terlambat tiga menit dianggap dosa besar?"

"Sejak pasienku suka mencari alasan."

"Aku bukan mencari alasan."

"Lalu?"

"Aku hanya memberi penjelasan."

Alaska terkekeh pelan. "Kalau begitu, mulai besok kurangi penjelasannya. Datang tepat waktu akan jauh lebih meyakinkan."

"Dokter sepertimu pasti sering membuat pasien naik darah." Naura menghela napas panjang.

"Kalau pada akhirnya mereka sehat, berarti tugasku selesai." Alaska menyunggingkan senyum tipis, lalu menganggukkan kepala ke arah jalur pejalan kaki. "Ayo, kita mulai."

"Mau ke mana?"

"Pemanasan."

Naura mengikuti dengan malas. Baru lima menit berjalan, napasnya mulai memburu.

Hosh... hosh...

"Astaga...."

"Capek?"

"Enggak... hhhhhh... hanya sedang berdamai dengan paru-paruku." Naura terdengar ngos-ngosan.

"Tiga putaran," ucap Alaska santai sambil melirik Naura.

Naura langsung menghentikan langkahnya. "Tiga putaran?"

"Hm..."

"Kamu sedang mengajakku olahraga atau balas dendam?"

Alaska mengembuskan napas pelan. "Kalau aku ingin balas dendam, targetnya pasti lebih dari tiga putaran."

"Tiga putaran saja, lututku sudah protes." Naura menatap pria itu tidak percaya.

"Makanya kita mulai sekarang."

"Kalau aku menyerah di putaran pertama?"

"Aku temani sampai selesai."

Naura mendecak pelan. "Dokter sepertimu memang tidak memberi banyak pilihan, ya."

"Ada."

"Apa?"

"Jalan dengan kemauan sendiri... atau tetap jalan karena aku yang menyuruh."

Naura menggeleng pasrah.

Alaska lalu menganggukkan kepala ke arah lintasan. "Ayo, mulai sebelum kamu menemukan alasan baru."

Mereka mulai mengelilingi taman, pada awalnya Naura masih banyak mengeluh.

"Kakiku pegal."

"Lanjut."

"Napasku sudah pendek."

"Lanjut."

"Lututku protes."

"Lanjut."

"Kamu benar-benar tidak punya belas kasihan."

"Kalau aku gak punya belas kasihan, kau sudah aku suruh lari." Alaska terdengar santai.

Naura memelototinya. "Terima kasih ya, Dokter Iblis."

Sudut bibir Alaska terangkat tipis, Naura masih sama seperti yang ia kenal saat SMA dulu. Wanita itu masih keras kepala, blak-blakan, dan tidak pernah kehabisan jawaban. Dan karena itu, ia tidak pernah mengerti bagaimana seseorang bisa menyia-nyiakan wanita seperti Naura.

Satu putaran akhirnya berhasil dilewati. Begitu sampai di dekat bangku taman, Naura langsung menjatuhkan tubuhnya ke sana sambil mengusap keringat di dahinya.

"Hosh... hosh... cukup. Aku berhenti sampai di sini."

Alaska berdiri di depannya dengan kedua tangan dimasukkan ke saku jaket olahraga. "Baru satu putaran."

"Justru itu, satu putaran saja sudah membuatku seperti mau tumbang."

"Bukannya tumbang, Naura. Kamu hanya kelelahan... karena tubuhmu belum terbiasa bergerak."

"Kalau pasienmu semua seperti ini, pasti mereka kabur." Naura mengembuskan napas panjang.

"Tidak."

"Kenapa?"

"Karena mereka ingin sembuh."

Naura mendecak pelan. "Kamu selalu punya jawaban."

Alaska mengeluarkan sebotol air mineral dari tas kecil yang dibawanya, lalu menyodorkannya kepada Naura. "Minum dulu."

"Terima kasih." Naura langsung membuka tutup botol dan berniat meneguknya sekaligus.

"Pelan-pelan."

Gerakan Naura seketika terhenti. "Hah?"

"Minum sedikit demi sedikit."

Naura menatap Alaska dengan wajah tidak percaya. "Kamu bahkan mengatur caraku minum?"

"Aku hanya mencegahmu merasa mual."

"Jadi sekarang aku harus minta izin dulu kalau mau minum?"

"Tidak perlu, asal ikuti yang kubilang." Alaska tersenyum tipis.

Naura menggeleng pelan sambil meneguk air itu sedikit demi sedikit. "Baru kali ini aku bertemu dokter yang mengawasi pasien sampai urusan minum."

"Aku hanya menjalankan tugasku."

"Menurutku kamu lebih cocok jadi polisi."

Alaska terkekeh pelan. "Sayangnya aku lebih menikmati pekerjaanku sebagai dokter."

"Dokter yang cerewet."

"Dokter yang ingin pasiennya sehat."

Naura mendecak, tetapi sudut bibirnya perlahan ikut terangkat. Entah mengapa, saling berdebat dengan Alaska justru membuat pikirannya terasa jauh lebih ringan. Sudah lama sekali ia tidak bisa berbincang santai tanpa memikirkan masalah rumah tangga yang selama ini membebaninya.

Setelah sesi olahraga selesai, Alaska mengajak Naura menuju kafetaria sehat yang berada di dalam area rumah sakit. Begitu mereka duduk, seorang pelayan datang mengantarkan sarapan yang telah dipesan Alaska. Sepiring dada ayam panggang, salad sayuran segar, sebutir telur rebus, dan semangkuk oatmeal hangat tersaji rapi di atas meja.

Naura memandangi seluruh hidangan itu beberapa saat sebelum akhirnya mengalihkan tatapannya kepada Alaska dengan ekspresi datar. "Jangan bilang ini sarapanku."

"Benar." Alaska mengangguk tenang.

Naura mengembuskan napas panjang sambil kembali menatap makanan di depannya. "Aku sempat berharap kamu mengajakku makan nasi goreng, bubur ayam, atau setidaknya mi ayam. Ternyata yang menungguku... justru semangkuk oatmeal."

Alaska terkekeh pelan. "Kalau tujuanmu ingin sehat, ada beberapa makanan yang memang harus dikurangi. Kamu tidak sedang menjalani hukuman, hanya membiasakan tubuhmu menerima asupan yang lebih baik."

Naura menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Kalau aku kabur sekarang?"

"Aku tidak akan menghentikanmu."

Naura langsung mengangkat sebelah alis. "Serius?"

"Iya. Tapi besok pagi aku akan datang lagi ke rumahmu dan mengajakmu mengulang semuanya dari awal."

Naura menggeleng pelan sambil terkekeh pelan. "Kamu memang tidak pernah kehabisan cara."

"Aku hanya tidak ingin pasienku menyerah sebelum mencoba."

Ucapan itu membuat Naura terdiam sejenak. Tanpa banyak bicara lagi, ia mengambil sendok dan menyendok sedikit oatmeal ke mulutnya. Awalnya ia mengunyah dengan ragu, tetapi beberapa detik kemudian ekspresinya berubah. Alisnya terangkat tipis, lalu tanpa sadar ia kembali mengambil suapan kedua.

"Rasanya ternyata tidak seburuk yang kubayangkan." Ucap Naura.

Alaska tersenyum tipis melihat perubahan ekspresi itu. "Aku tidak mungkin menyuruh pasienku makan sesuatu yang bahkan aku sendiri tidak mau memakannya."

Naura mengangguk kecil sambil kembali menikmati sarapannya. "Baiklah, untuk yang ini aku mengaku salah."

Alaska memperhatikan Naura yang mulai makan tanpa dipaksa, pemandangan sederhana itu justru membuatnya merasa lega. Selama ini ia mengira wanita itu akan terus menolak semua sarannya, tetapi ternyata yang dibutuhkan Naura bukan paksaan, melainkan seseorang yang sabar mendampinginya melewati setiap proses.

Di balik dinding kaca kafetaria, Kakek Guntur yang sengaja datang lebih awal memperhatikan keduanya dengan senyum tipis. Melihat Naura kembali berbicara santai, bahkan sesekali menggerutu kepada Alaska seperti saat masih remaja, membuat beban di hatinya perlahan berkurang. Sudah lama sekali ia tidak melihat cucunya tampak setenang itu setelah semua yang terjadi dalam rumah tangganya.

*

*

*

Kenapa cerita ini cukup detail dan fokus pada perjalanan Naura menurunkan berat badan?

Alasannya sederhana, saya bukan mau bertele-tele ya. Tapi karena bagian itu memang menjadi inti dari judul dan perjalanan hidup Naura. Perubahan yang ia jalani bukan hanya soal penampilan, tetapi juga tentang kesehatan, kepercayaan diri, dan usahanya untuk bangkit setelah semua yang terjadi 😊

1
Muft Smoker
lanjuut kak ,, .
Muft Smoker: eheeeeeeee ,, 🫰🫰🫰🫰🫰😂😂😂😂😂
total 2 replies
Nie
semoga rencana mereka gagal,jgn sampe Naura menderita dan terpisah lagi dari anak²nya ya kak Re...
Muft Smoker
pasti kluargaa Tania
Muft Smoker
aduuh kak si tania buang aj bisa gx 😂😂😂😂
Muft Smoker: yx kak 😂😂😂😂
total 2 replies
Muft Smoker
terlambaat ,, terlambaat pake banget ,,
Muft Smoker
baru skraaang ooh km rasakan ,, tak punya istrii yg ad makhluk halus ,,
😂😂😂😂😂😂😂😂😂
Rhyzca Ayu
Lanjuuuttt~~semangaat thoor☕☕☕🍩🍩🍩
Fia Ayu
Senyumin aja dulu lah😂
Fia Ayu
Wkwkwk dia mengasihani dirinya sendiri 🤣🤣🤣
Muft Smoker
ayoo coba inget2 ,, nama sypa tu???punya pengaruh apa di Dunia bisnis???🤭🤭🤭🤭😂😂😂😂
jgn sampe syok yx klo udh inget ,,
❥␠⃝ ͭ🍁MI-🅨🅤🅛🅘🅐🅝🅣🅨👻ᴸᴷ
Ciee mulai kepo nih Naura sebentar lagi bucin tuhhh🤭🤣
❥␠⃝ ͭ🍁MI-🅨🅤🅛🅘🅐🅝🅣🅨👻ᴸᴷ: wkwkwk pasti seru &lucu ya kak 🤣
total 2 replies
Fia Ayu
Gk usah kepo naura, orang itu dirimu sendiri 😂
Rere🌠: Bisa-bisa cemburu sama diri sendiri entar dia🤣🤣🤣
total 1 replies
Fia Ayu
Baca ini, ke inget drakor my venus, yg maen min ji appa😁yg lg viral itu 🤭
Fia Ayu: Iya kan😂
total 2 replies
aleena
Tania Tania
seharusnya kamu nyadar diri sudahlah hidup numpang
mencuri perhatian orang Tua naura
sekarang mau apalagi

sinting emang🤭
Rhyzca Ayu
Ceritanya sangat menarik,, alurnya bagus gk berbelit2,,, pokoknya jooss jiisss thor❤❤🌹🌹💪💪💪
Rhyzca Ayu
Naah loohh sat set getun mburi khan win,, syukuriinnn😂😂😂semangaat thor~~lanjuutkaan❤❤☕☕
❥␠⃝ ͭ🍁MI-🅨🅤🅛🅘🅐🅝🅣🅨👻ᴸᴷ
makan tuhh kaget dan Syock mu Erwin mantan istri yang baik rela hidup sederhana nikah sama kamu tapi kamu sia2kan lebih memilih batu krikil nyesel kan selamat menikmati karma kalian wahai para pecundang🤣
❥␠⃝ ͭ🍁MI-🅨🅤🅛🅘🅐🅝🅣🅨👻ᴸᴷ: meleyot sebelah🤭🤣🤣kalang kabut mau benerin ke dokternya🤣
total 4 replies
aleena
ngapain menyesal
toh kamu cuman mau naura saat langsing
Muft Smoker
hei Tania ,, jgn sirik jd manusia km hanya laa org asing yg kebetulan jatuh di atap yg sama ,,

orang sirik tanda nak mampus ,,
🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭
😁😁😁😁😁😁😁
Muft Smoker
astgaaaa 😂😂😂😂😂😂 ,,
tu bukan cahaya ilahi naura ,,
tu cahaya harapan km ,,
cuma ketutup ma dokter yg km sebut iblis🤭🤭🤭🤭😂😂😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!