Cinta pertama seharusnya indah.
Tapi milik Lay Amelty Ranza berubah jadi neraka.
Ahber Mazchar, ketua OSIS paling dingin, bilang dia cinta Lay.
Andkay, si badboy posesif, berteriak "LO HANYA MILIK GUE!"
Eskay, sahabat terbaik Ahber, tiba-tiba mendekati Lay diam-diam.
Tapi di balik senyum mereka... ada darah.
15 tahun lalu, keluarga Ahber membantai satu keluarga di Gudang B-09.
Sekarang balas dendam itu datang. Melalui cincin perak bergambar burung.
Cincin pertama: Milik Burung, si pembunuh.
Cincin kedua: Milik Nayla, adik yang pura-pura mati.
Cincin ketiga: Sekarang ada di tangan Ahber.
Di dalamnya tersimpan 3 Triliun dan rahasia yang bisa menghancurkan 2 keluarga besar.
Keluarga Mahesa dan Keluarga Dirga mengincar mereka.
Dan ada "A"... dalang yang mempermainkan semuanya dari awal.
Lay diculik. Dikhianati. Dipaksa memilih.
Sampai pesan terakhir itu masuk ke HP Ahber:
"Maaf gue salah."
Salah mencintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nila edrina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34
BAB 34
JEJAK YANG TERSISA
Suara sirene polisi semakin mendekat.
Lampu merah dan biru mulai memantul di batang-batang pohon, memecah gelapnya malam.
"Ayo, sekarang!" seru Bram.
Tanpa banyak bicara, Arka menarik lengan Ahber. Dengan berat hati Ahber berdiri, tetapi tatapannya masih terpaku pada jasad pria bertato yang kini terbujur kaku.
Kesempatan mereka mendapatkan nama dalang telah lenyap dalam hitungan detik.
Mereka berlari menembus hutan kecil di belakang Taman Angsana.
Beberapa menit kemudian, rombongan itu tiba di sebuah gudang tua yang tampak terbengkalai. Pintu besi berkarat dibuka oleh salah satu anak buah Bram.
Setelah semuanya masuk, pintu kembali ditutup rapat.
Suasana di dalam gudang begitu sunyi.
Ahber masih menggenggam sobekan foto yang ditemukannya.
Tatapannya tak lepas dari bagian foto yang wajah Arka sengaja disobek.
"Kenapa harus wajahmu?" gumamnya.
Arka menghela napas panjang.
"Aku juga tidak tahu."
Bram melangkah mendekat.
"Boleh kulihat?"
Ahber menyerahkan foto itu.
Begitu melihat tulisan merah di balik foto, wajah Bram berubah.
"Tulisan ini..."
"Kau mengenalnya?" tanya Ahber cepat.
Bram mengangguk pelan.
"Dulu, setiap ancaman dari kelompok itu selalu ditulis dengan tinta merah."
"Mereka sengaja meninggalkan pesan agar korbannya hidup dalam ketakutan."
Ahber mengepalkan tangan.
"Jadi mereka memang sudah mengincar kami sejak lama?"
"Lebih tepatnya..." ucap Bram lirih, "mereka tidak pernah berhenti mengawasi kalian."
Kalimat itu membuat ruangan kembali hening.
---
Di tempat lain...
Seorang pria duduk di sebuah ruangan yang hanya diterangi lampu meja.
Di depannya, sebuah layar menampilkan rekaman CCTV dari sekitar Taman Angsana.
Pria itu tersenyum tipis.
"Pria bertato itu gagal menjaga mulutnya."
Seseorang berpakaian hitam berdiri di belakangnya.
"Maaf, Tuan."
"Semua sudah dibereskan."
Pria itu mengangguk pelan.
"Bagus."
"Lalu bagaimana dengan Ahber?"
"Masih hidup."
Pria itu tertawa kecil.
"Biarkan."
"Semakin dekat dia pada kebenaran..."
"...semakin besar rasa sakit yang akan dia rasakan."
Ia mengambil sebuah bingkai foto dari meja.
Foto lama itu memperlihatkan lima orang yang sedang tersenyum.
Namun satu wajah telah dicoret menggunakan spidol hitam.
"Sebentar lagi..."
"Semua akan kembali seperti lima belas tahun yang lalu."
---
Sementara itu...
Di gudang, Bram mengeluarkan beberapa berkas lain dari dalam tasnya.
"Masih ada sesuatu yang belum kalian lihat."
Ia membuka sebuah peta kota.
Beberapa titik diberi tanda lingkaran merah.
"Apa ini?" tanya Ahber.
"Lokasi kematian orang-orang yang pernah menyelidiki kasus Andkay."
Ahber menelan ludah.
"Berapa orang?"
"Tujuh."
"Tujuh?" ulang Arka kaget.
Bram mengangguk.
"Dan semuanya meninggal dengan cara yang berbeda."
"Kecelakaan."
"Perampokan."
"Bunuh diri."
"Padahal kenyataannya..."
"Mereka dibunuh."
Ahber merasakan bulu kuduknya berdiri.
"Berarti selama ini..."
"Mereka menghapus semua saksi."
"Tepat."
Bram lalu menunjuk satu titik yang belum diberi tanda silang.
"Hanya ada satu orang yang masih hidup."
"Siapa?"
"Seorang mantan penyidik."
"Namanya..."
"Seno."
Arka langsung mengangkat kepala.
"Pak Seno?"
"Kau mengenalnya?" tanya Bram.
Arka mengangguk.
"Dulu beliau pernah melatihku."
"Tapi katanya beliau menghilang."
Bram menarik napas.
"Beliau tidak menghilang."
"Beliau bersembunyi."
Ahber langsung berdiri.
"Kalau begitu kita harus menemuinya."
"Itu juga rencanaku."
---
Keesokan paginya...
Ahber pulang ke rumah dengan tubuh yang sangat lelah.
Ia bahkan belum sempat memejamkan mata.
Begitu membuka pintu rumah, suasana terasa aneh.
Rumah begitu sepi.
"Lay?" panggilnya.
Tidak ada jawaban.
Ia mencari ke ruang tamu, dapur, hingga halaman belakang.
Kosong.
Di atas meja hanya ada secangkir teh yang sudah dingin.
Ponsel Ahber tiba-tiba bergetar.
Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.
> "Kalau ingin orang yang kau sayangi tetap hidup, berhentilah mencari pembunuh Andkay."
Ahber langsung mencoba menelepon nomor itu.
"Nomor yang Anda tuju sudah tidak aktif."
Tangannya mengepal.
Belum sempat ia berpikir lebih jauh...
Ponselnya kembali bergetar.
Kali ini sebuah foto dikirim.
Foto itu memperlihatkan Lay.
Ia tampak sedang berjalan sendirian tanpa menyadari seseorang memotretnya dari kejauhan.
Wajah Ahber langsung memucat.
"Mereka..."
"...mengawasi Lay."
Kemarahannya memuncak.
"Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh keluargaku."
Di saat yang sama, di sebuah mobil hitam yang terparkir tak jauh dari rumah Ahber, seseorang memperhatikan semua gerak-geriknya melalui teropong.
Pria itu tersenyum tipis.
"Permainan sudah dimulai."
"Dan kali ini..."
"...bukan hanya Ahber yang menjadi target."
Mobil hitam itu perlahan melaju meninggalkan lokasi.
Sementara Ahber masih berdiri di depan rumah dengan ponsel yang bergetar di tangannya.
Ia belum menyadari bahwa sejak pagi tadi...
Setiap langkahnya telah diawasi.
BERSAMBUNG...
like + bunga biar semangat deh/Smile/