Kepindahan Arumi ke sekolah elit di ibu kota membawanya menjadi wali kelas Azzam dan Azzura, si kembar anak konglomerat yang dikenal paling bermasalah. Dengan ketulusan dan kesabarannya, Arumi berhasil mengubah mereka menjadi pribadi yang lebih baik.
Takdir kemudian mempertemukannya kembali dengan Zaky Tanuwijaya, ayah si kembar sekaligus cinta pertama yang pernah menghancurkan hatinya di ambang pernikahan. Kini, Zaky yang telah menjadi duda ingin menebus kesalahan masa lalu dan memenangkan kembali hati Arumi.
Namun, ibunda Zaky terus menanamkan ketakutan kepada Azzam dan Azzura bahwa ibu tiri hanyalah wanita yang mengincar harta. Di tengah penolakan si kembar dan luka lama yang belum sembuh, mampukah Arumi membuka kembali hatinya dan membuktikan bahwa kasih sayang tulus mampu mengalahkan prasangka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 31
Wisnu melangkah perlahan dari arah mobilnya. Namun, bukannya berjalan menuju teras rumah Arumi, pandangannya justru terkunci rapat pada sosok pria tinggi berjas rapi yang berdiri di samping si kembar. Mata Wisnu mendadak berkaca-kaca. Ia setengah tak percaya dengan apa yang ditangkap oleh penglihatannya sendiri.
Sosok di hadapannya adalah orang yang sangat berarti dalam hidupnya, pria yang pernah menyelamatkan nyawanya bertahun-tahun lalu saat Zaky menuntut ilmu di universitas ternama di Amerika Serikat, tempat Wisnu kala itu bekerja sebagai staf kampus. Selama tinggal di Washington, Zaky dan Wisnu memang dikenal cukup dekat.
Tanpa membuang waktu, Wisnu bergegas memotong langkahnya dan menghampiri Zaky.
"Tuan... Tuan Zaky?! Ini... ini benar-benar Anda?!" tanya Wisnu dengan suara bergetar, menatap Zaky penuh haru.
Zaky menarik napas panjang. Menyingkirkan sejenak rasa sesak dan egonya bahwa pria di hadapannya ini adalah saingan terberatnya yang sebentar lagi akan meminang Arumi, Zaky mengukir senyum tipis.
"Iya, Nu. Ini aku, Zaky," jawab Zaky lembut.
"Ya Tuhan... Saya benar-benar serasa bermimpi bisa bertemu kembali dengan Anda di sini, Tuan Zaky!" seru Wisnu, matanya merebak basah. "Kalau bukan berkat pertolongan Anda saat saya mengalami kecelakaan hebat di Washington dulu, mungkin sekarang nama saya sudah tinggal kenangan."
Tak sanggup menahan emosinya, Wisnu langsung memeluk erat tubuh Zaky, pria yang sudah ia anggap sebagai dewa penolong dalam hidupnya. Zaky membalas tepukan hangat di punggungnya Wisnu.
Seluruh keluarga besar yang berkumpul di halaman, terutama Arumi dan kedua orang tuanya, hanya bisa terpaku dan menatap pemandangan itu dengan rasa tak percaya. Pak Darmawan bahkan sampai mematung, tak menyangka pria yang dipuji-puji calon menantunya selama ini adalah pria yang sama yang sangat ia benci.
Melihat momen emosional itu, kedua orang tua Wisnu melangkah mendekat dengan raut wajah tak kalah syok.
"Nu... jadi pria tampan dan berwibawa ini yang sering kamu ceritakan ke Ibu selama ini, Nak?" tanya ibunya Wisnu memegang lengan putranya. "Ini Tuan Zaky yang pernah menyelamatkanmu itu? Yang rela mendonorkan darahnya demi menyelamatkan nyawamu di Amerika?"
"Betul, Bu! Akhirnya Wisnu bisa bertemu lagi dengan Tuan Zaky di sini... di rumahnya Arumi!" jawab Wisnu dengan binar bahagia yang membuncah.
Deg!
Mendengar Wisnu menyebut nama Arumi keluar dari bibirnya dengan begitu lugas, dada Zaky seketika terasa diremas kuat. Ada rasa tak rela yang begitu membakar di dalam hatinya, menyadari bahwa penolong dan orang yang ditolong kini berada di persimpangan takdir merebutkan wanita yang sama.
Wisnu tersenyum hangat, menatap Zaky penuh rasa hormat yang mendalam. Ia memegang lengan pria yang pernah menyelamatkan nyawanya itu.
"Tuan Zaky, sebuah kehormatan besar jika Anda berkenan masuk ke dalam rumah calon istri saya dan menjadi saksi di acara lamaran ini," ujar Wisnu tulus.
Namun, Zaky menggelengkan kepalanya pelan. Raut wajahnya menyiratkan luka yang berusaha ia sembunyikan rapat-rapat. "Maaf, Nu... Aku tidak bisa," tolak Zaky dengan nada datar namun rapuh.
Penolakan itu seketika memancarkan raut kecewa di wajahnya Wisnu. Di sudut teras, Pak Darmawan yang mencoba mencairkan suasana berdehem keras. "Mari, para tamu sekalian, dipersilakan masuk dan menikmati hidangan yang sudah disediakan. Acara lamaran akan segera kita mulai!" serunya memecah keheningan.
Arumi yang berdiri di ambang pintu bersama ibunya tak henti-hentinya memandangi Zaky. Dadanya terasa sesak, ia benar-benar tak tega membiarkan pria yang sangat dicintainya menjadi saksi bisu momen penyerahan hatinya kepada pria lain.
Wisnu sendiri bukanlah pria sembarangan. Ia adalah Kepala Desa dari desa sebelah yang sangat dihormati dan disayangi warganya. Selain bijaksana, jujur, dan sukses memajukan desanya, sosoknya yang tampan dan mapan sempat membuat banyak gadis desa patah hati saat mendengar ia akan segera melepaskan masa lajangnya bersama Arumi.
Wisnu menarik napas panjang, lalu kembali menatap Zaky. "Saya sungguh berharap Tuan Zaky mau menjadi saksi... Itu pun kalau Tuan berkenan."
Belum sempat Zaky merespons, Azzam dan Azzura mendadak melangkah maju menerobos kerumunan. Kedua remaja itu sudah bulat bertekad untuk menggagalkan acara ini.
"Om Wisnu!" panggil Azzura dengan suara lantang penuh keberanian, menghentikan langkah semua orang. "Apakah Om tidak tahu kalau Papah kami dan Bu Arumi itu sebenarnya saling mencintai?!"
Deg!
Gumam kaget langsung membahana di antara keluarga besar Arumi dan rombongan Wisnu. Wajah Wisnu menegang seketika. Refleks, matanya terlempar ke arah Arumi yang berdiri menyandar di pinggir pintu. Di sana, Arumi tengah menunduk dengan air mata yang menetes deras di pipinya. Sorot mata Arumi yang penuh kerapuhan itu sama sekali tidak tertuju padanya, melainkan terkunci rapat pada Zaky.
Azzam ikut menyambung dengan tegas. "Om, kehadiran kami ke sini bersama Papah dan Nenek adalah untuk memperbaiki hubungan Papah dan Bu Arumi yang sempat kandas dua belas tahun yang lalu!"
Dengan lugas dan tanpa ada yang ditutupi, Azzam menceritakan seluruh kronologi kehancuran hubungan ayahnya dan Bu Arumi di masa lalu, termasuk fitnah keji yang dirancang oleh mendiang ibu mereka, yakni Citra.
Pak Darmawan yang mendengarkan setiap detail cerita dari mulut anak-anaknya Citra seketika merasakan nyeri di dadanya. Namun, seiring berjalannya cerita, rasa benci mendalam yang ia simpan selama belasan tahun ini perlahan memudar.
Nyonya Maya kemudian melangkah maju ke hadapan Pak Darmawan dan Bu Aminah. Dengan mata bersimbah air mata, ia menundukkan kepalanya dalam-dalam di depan keluarga Arumi.
"Semua yang dikatakan cucu saya benar..." isak Nyonya Maya dengan suara bergetar. "Saya dan mendiang suami saya yang dulu mengancam Zaky... Kami mengancam akan menghancurkan Arumi dan keluarganya jika Zaky tidak mau meninggalkan Arumi dan menikahi Citra. Putra saya terpaksa berkorban dan menderita belasan tahun demi melindungi keselamatan Arumi dan Anda sekalian... Maafkan saya...
Wisnu mengusap dadanya yang terasa sesak. Ia benar-benar tak menyangka, pria yang selama ini ia kagumi dan anggap sempurna baik dari segi fisik maupun finansial, rupanya memiliki kisah percintaan yang begitu tragis dan penuh pengorbanan.
Keheningan melingkupi pekarangan rumah tersebut. Wisnu berdiri terpaku di tempatnya, menatap bergantian antara Zaky yang tertunduk menahan luka, dan Arumi yang menangis dalam kepasrahan.
Hati Wisnu bergejolak dahsyat. Pria bijak itu kini berada di persimpangan jalan yang sangat sulit. Cinta yang sudah ia pupuk selama tiga tahun lamanya menuntutnya untuk egois dan tetap melanjutkan acara lamaran demi memiliki Arumi. Namun, nurani dan rasa hutang budinya pada Zaky berbisik lain, menagih keikhlasan untuk merelakan Arumi demi menyatukan kembali dua insan yang saling mencintai setengah mati.
Bersambung...
mungkin dulu yudi miskin makanya citra ninggalin yudi?
achh penasaran bgt
mana si citra udah meninggal lg jd ga bisa nanya
berarti dulu si citra jebak zaky untuk tanggung jawab sm anak yg di kandung, kasian zaky 🥹
Wisnu Ama indah?
apakabar tu berdua
cieeeee
pak Arya
Ama pelakor jaman sekarang
udah pada rada lain yaa
🤣
bisa jadi perang dunia ke 2 ini
kalau nemuin lipstik di jas nya 😱