Saat Planet Diamond runtuh menjadi abu akibat amukan monster legendaris Typhon, sebuah pengorbanan darah terakhir mengirim dua benih harapan ke Planet Bumi. Namun, badai dimensi memisahkan takdir mereka secara kejam.
Alan, bocah Pegasus berusia tujuh tahun yang cerdas, terdampar di danau sebuah kastil kuno. Ia ditemukan oleh Jacob, sang Raja Vampir penguasa malam yang mematikan. Di dunia yang dipenuhi predator berdarah dingin, Alan harus bertahan hidup, menyembunyikan sayapnya, dan tumbuh bersama seorang Pangeran Vampir misterius.
Sementara itu, di belahan kota seberang, seorang bayi perempuan berambut seputih salju terlahir dari kristal pualam ajaib di tengah hutan. Dirawat oleh sepasang petani miskin yang menamainya White Crystal, bayi itu menyembunyikan rahasia besar: setiap kali kulitnya menyentuh air, udara musim panas mendadak membeku menjadi es.
Dua penyintas terakhir. Dua klan bumi yang saling bertolak belakang—Vampir yang dingin dan Petani yang naif.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19. Justin Dalam Bahaya
"Pergi kau mahluk jelek! Jangan berani-berani mendekati tubuhku!" teriak Justin histeris sembari memukul-mukul permukaan air menggunakan tinju kecil vampirnya, mencoba memberikan perlawanan fisik yang tidak berarti.
Nessie mengeluarkan suara desisan panjang yang memekakkan telinga. Lehernya yang lentur meliuk cepat di udara, lalu dengan pergerakan secepat kilat yang merobek air, monster itu menggunakan ujung moncongnya yang kasar untuk mendorong keras tubuh Justin hingga anak itu terpelanting beberapa meter di atas air.
Justin mencoba menyelam ke dalam air untuk bersembunyi di balik kegelapan dasar danau, namun usahanya berakhir sia-sia. Indra penglihatan malam milik monster purba itu tetap bekerja dengan teramat tajam menembus visibilitas air.
Nessie kemudian meluncur maju, melilitkan bagian bawah lehernya yang berotot kuat pada lingkar pinggang Justin, lalu menjepit kaki kanan anak itu menggunakan gigitan rahangnya yang teramat kuat, mengunci seluruh pergerakan motoriknya.
Justin mengerang kesakitan, jemari tangannya mencengkeram erat kulit monster yang terasa licin, dingin, dan berlendir tersebut, berusaha melepaskan diri menggunakan seluruh sisa kekuatan vampir yang dia miliki. Dia memukul berkali-kali leher Nessie menggunakan kepalan tinjunya, namun lapisan otot dan sisik monster itu terasa sekeras bongkahan batu karang purba.
"Lepaskan aku, Mahluk bodoh! Alan! Tolong aku, Alan!" jerit Justin penuh kepanikan yang luar biasa saat dia mulai merasakan tubuhnya ditarik perlahan masuk tenggelam ke dalam air.
Dia terus meronta, menendang, dan mencakar kulit Nessie, namun lilitan itu justru bergerak semakin kencang, membuat sirkulasi tubuh Justin terkunci total. Separuh dari anatomi tubuhnya kini sudah tenggelam di bawah air, dan monster itu bersiap membawanya turun ke dasar danau yang paling dalam.
Justin memejamkan kedua matanya rapat-rapat saat tubuhnya terseret semakin dalam menembus kegelapan air. Dia mulai memasrahkan takdir hidupnya pada alam semesta, mengira bahwa paru-paru vampirnya akan hancur terhimpit oleh tekanan hidrolik di dasar danau yang kelam.
Namun, sebuah keanehan navigasi terjadi. Monster air itu ternyata tidak membawanya turun secara vertikal menuju dasar danau kastil. Nessie justru meluncur horizontal dengan tingkat kecepatan berenang yang luar biasa dahsyat, membelah arus bawah air yang kian deras melaju ke arah depan.
Tiba-tiba, indra pendengaran Justin menangkap gema suara gemuruh air yang berbeda dari karakteristik tenang danau kastil miliknya. Dia memberanikan diri untuk membuka kelopak matanya sejenak dan seketika itu juga matanya membelalak takjub berbaur ngeri; mereka berdua saat ini sedang meluncur melewati sebuah terowongan batuan karang raksasa alami di bawah tanah kastil.
Sinar bulan purnama yang menembus celah-celah sempit langit karang memperlihatkan bahwa karakteristik air di sekeliling mereka kini berubah wujud menjadi berbuih putih, terasa jauh lebih pekat, kental, dan memendam rasa yang berbeda.
Ini... karakteristik air ini bukan lagi air tawar danau... ini adalah air asin samudra! batin Justin berteriak panik setengah mati di dalam benaknya.
Nessie membawa tubuh Justin melesat keluar dari ujung terowongan batuan karang tersebut, dan dalam sekejap mata, panorama di sekeliling mereka bertransformasi total menjadi hamparan samudra luas yang tak bertepi di bawah langit malam.
Hantaman gelombang ombak besar menerpa keras tubuh mereka saat monster air itu mendadak muncul ke permukaan, berenang menuju ke arah tepi sebuah pantai yang teramat sunyi, terisolasi, dan dipenuhi oleh jajaran batuan karang yang hitam dan tajam.
Nessie menyeret paksa tubuh Justin naik ke daratan yang dilapisi oleh hamparan pasir berwarna hitam pekat, tepat di depan mulut sebuah gua karang raksasa yang posisinya tersembunyi di bawah kaki tebing terjal yang menjulang tinggi. Itulah titik sarang peraduan kuno sang monster.
Bau amis laut yang teramat pekat, menyengat, berbaur dengan aroma busuk dari sisa-sisa tulang-belulang hewan buruan masa lalu yang membusuk langsung menusuk tajam ke dalam indra penciuman Justin.
Justin terengah-engah dengan tubuh yang basah kuyup, lemas, dan mati rasa setelah diseret paksa melintasi arus bawah tanah bermil-mil jauhnya dari benteng aman kastil Luminara.
Dia mencoba mengumpulkan sisa tenaganya untuk bangkit berdiri dan melarikan diri, namun Nessie bergerak lebih cepat, menghempaskan kembali tubuh kecil pangeran vampir itu ke atas hamparan pasir hitam menggunakan kibasan ekornya yang teramat berat.
Monster air purba itu seolah-olah tidak ingin membiarkan mangsa malamnya memiliki celah untuk lolos sebelum dia benar-benar siap menikmati santapannya di dalam sarang.
Justin menatap ke sekeliling radius pantai terisolasi tersebut dengan pandangan mata yang dipenuhi keputusasaan yang mendalam. Kastil batu hitam milik ayahnya sudah sama sekali tidak terlihat lagi di garis cakrawala.
Di hadapannya kini hanya ada deburan gelombang ombak samudra yang ganas dan seekor monster purba bersisik legam yang menatapnya dengan kilat mata kuning yang lapar.
"Alan... di mana kau sekarang... tolong aku..." bisik Justin parau, volume suaranya nyaris hilang tak berbekas, tenggelam oleh deru gemuruh angin pantai yang bertiup kencang membelah kesunyian malam malam purnama.
****
Monster Nessie tinggal di dalam gua yang berada di tepi pantai. Makhluk ini hanya akan muncul di danau pada malam-malam tertentu, seperti bulan purnama, untuk mencari mangsa.
_____________________________
Brukk!
Alan mendarat di area belakang kastil dengan napas sedikit terengah. Ia mengedarkan pandangan, mencari sosok sahabatnya.
"Di mana Justin? Apakah dia sudah sampai?" gumamnya cemas. Namun, ia tidak melihat keberadaan Justin di sekitar kastil maupun di permukaan danau yang tenang.
Plak!
Alan memukul keningnya sendiri. Ia baru teringat kalau Justin tidak bisa terbang sepertinya. Putera Raja Jacob itu pasti kebingungan dan terpaksa berenang untuk menyeberang.
"Bodohnya aku! Bagaimana kalau dia tidak bisa berenang dan tenggelam?"
Alan mulai panik. Ia segera terbang kembali, menyusuri tepi danau yang berbatasan dengan hutan. Namun, Alan sama sekali tidak melihat Justin di sana. Ia pun mendarat, lalu menyentuh rumput serta permukaan tanah dengan telapak tangannya.
Sambil memejamkan mata, ia mencoba merasakan sisa energi Justin di tempat itu.
Belum puas, Alan terbang rendah dan menyentuh permukaan air danau yang dingin. Ia kembali memejamkan mata, memfokuskan kekuatannya untuk melihat kengerian yang sebenarnya baru saja menimpa Justin di kedalaman air tersebut.
Begitu ujung jemari Alan menyentuh permukaan air yang dingin, sebuah riak energi menyengat kesadarannya. Alan memejamkan mata rapat-rapat, dan seketika dunianya berubah menjadi bayangan buram berwarna biru gelap yang mencekam.
Di dalam penglihatan batinnya, Alan melihat Justin yang sedang berjuang keras membelah air. Namun, pemandangan itu berubah mengerikan saat sebuah bayangan raksasa muncul dari kegelapan.
Alan bisa merasakan kepanikan Justin saat leher panjang Nessie melilit tubuh kecil sahabatnya itu.
Degghh!
"Tidak..." bisik Alan, tubuhnya gemetar di tepi danau.
Penglihatan itu terus berlanjut. Alan melihat Justin tidak ditarik ke dasar danau, melainkan diseret dengan kecepatan tinggi menembus sebuah celah gua bawah air.
Air di dalam penglihatannya berubah dari tawar menjadi asin, dipenuhi buih-buih putih yang ganas. Ia melihat Justin diseret keluar dari area danau, melewati terowongan batuan karang, hingga akhirnya muncul di permukaan samudra yang luas.
Bayangan terakhir yang ditangkap Alan adalah sosok Justin yang tergeletak lemas di atas pasir hitam sebuah pantai terpencil, tepat di depan mulut gua karang yang gelap, sementara sosok Nessie menjulang tinggi di atasnya.
Alan membuka mata dengan napas memburu. Matanya yang ungu kini berkilat penuh amarah dan kecemasan.
"Dia membawanya ke lautan! Justin dalam bahaya!"
Tanpa membuang waktu, Alan mengepakkan sayap putihnya sekuat tenaga. Ia melesat tinggi ke angkasa, terbang melintasi hutan dan menuju ke arah aroma garam laut yang tercium dari kejauhan. Ia tidak peduli seberapa jauh jaraknya; ia harus menyelamatkan saudaranya sebelum terlambat.