Warning!! Novel ini tidak ada pengajaran apapun, hanya murni pemikiran author. Yang nggak suka boleh skip!!
*****
Karena kecerobohanya, Luna kehilangan keperawanan di tangan bos nya sendiri yang bernama Gamma Emiliano Johnson.
Pria mapan yang digandrungi banyak kaum hawa itu mencoba bertanggung jawab atas perbuatannya kepada Luna, tapi wanita itu justru menolak mentah-mentah karena Gamma sudah memiliki istri.
"Kau tidak perlu tanggung jawab, itu hanya bagian tubuh yang tidak penting bagiku." ~ Aluna Olivia.
"Kalau begitu, kita lanjutkan saja apa yang sudah terjadi." ~ Gamma Emiliano.
Bukannya menghentikan kesalahan, mereka justru meneruskan hubungan terlarang itu. Dan dari situlah Skandal Cinta mereka dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virzha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji Gamma.
Seharian bekerja terasa begitu tegang bagi Luna, sejak tadi Gamma dan Arsen seperti orang yang berperang dingin. Luna yang menjadi satu-satunya orang yang tidak tahu apa-apa hanya menurut saja saat kedua pria itu meminta ini itu. Luna benar-benar seperti menghadapi dua bayi besar yang sedang rewel-rewelnya.
"Luna, kau sudah selesai 'kan? Ayo kita pulang." Arsen keluar dari ruangannya yang berada disebelah Gamma, ia menghampiri Luna di mejanya. Jam sudah menunjukkan pukul 6 sore dan sudah waktunya pulang.
"Luna, bawakan aku berkas laporan hari ini." Disaat yang bersamaan Gamma juga keluar dari ruangannya, pria itu memerintah Luna dengan nada datarnya.
Luna menatap Arsen dan Gamma bergantian, ia terlihat bingung harus menanggapi yang mana dulu. Tapi ingat jika Gamma adalah bosnya yang sebenarnya, Luna mengangguk mengiyakan permintaan pria itu.
"Baik Tuan, saya akan menyiapkannya dulu," ucap Luna membuka kembali file-file yang baru saja ditata rapi.
"Tidak perlu Luna, ini sudah jam pulang kantor, tidak seharusnya Kak Gamma memberi Luna pekerjaan lagi," tutur Arsen menatap Gamma dengan wajah kesal yang tidak ditutupi. Ia merasa Gamma ini kadang terlalu mengada-ada.
"Aku tahu apa yang harus aku lakukan. Luna, bawakan berkasnya sekarang juga, sekalian buatkan aku kopi," ucap Gamma balas menatap Arsen sengit, ia langsung masuk kedalam ruangannya kembali.
"Saya akan membuatkan kopi untuk Tuan Gamma dulu Tuan Arsen, permisi." Luna buru-buru berbicara sebelum Arsen sempat membuka mulutnya. Ia tidak mau menjadi sasaran kemarahan Gamma jika ia tidak segera menemui pria itu.
"Luna, jika sikap Kak Gamma keterlaluan kau bisa menolaknya. Kau memang bekerja dengannya, tapi bukan berarti dia bisa semena-mena padamu," ujar Arsen masih tidak rela jika melihat Luna harus bekerja lembur disaat semua karyawan sudah pulang.
"Tidak apa-apa Tuan, ini memang sudah tugas saya," sahut Luna mengulas senyum tipisnya, ia langsung saja pergi ke dapur kantor untuk membuatkan Gamma kopi.
*****
Luna masuk kedalam ruangan Gamma setelah membuatkan kopi. Wajahnya terlihat cukup takut karena Gamma pasti akan marah. Seharian ini Gamma sudah menatapnya seperti ingin membunuh orang. Ia hanya berharap kalau Gamma tidak melakukan hal yang seperti dulu lagi.
"Permisi Tuan, ini kopi Anda," ujar Luna meletakkan kopi milik Gamma perlahan disamping pria itu.
Gamma mengangkat wajahnya, ia terus menatap Luna dengan pandangan yang sulit diartikan. Ditatap seperti itu terus menerus membuat Luna salah tingkah sendiri.
"Ehm, Tuan bilang meminta berkas laporan yang hari ini. Saya sudah membawakannya," sambung Luna mengulurkan berkas yang dibawa olehnya kepada Gamma.
Gamma menatap berkas itu, ia mengambilnya tanpa mengatakan apapun. Namun detik berikutnya ia langsung menarik tangan Luna hingga wanita itu jatuh ke pangkuannya.
"Tu-an?" Luna berseru kaget, ia sudah berpikir macam-macam tapi ternyata Gamma tidak melakukan apapun.
"Aku sangat merindukanmu," bisik Gamma memeluk Luna, mencium dalam-dalam tengkuk Luna yang memiliki harum vanila yang sangat manis.
Luna mengigit bibirnya, ia bingung harus menjawab apa karena saat ini malah ia merasa sangat gugup.
"Kau tidak merindukanku? Tanya Gamma menguyel-uyel pipi Luna, tidak seperti biasanya yang sangat kasar, tapi pria itu bersikap lembut kepada Luna.
"Kita sejak tadi bertemu Tuan," kata Luna.
"Ya, tapi sejak tadi kau tidak bersamaku." Gamma mengerucutkan bibirnya, terlihat cemberut dan ngambek karena seharian ini Luna memang terasa sangat jauh sekali dengannya. Ia tidak bisa leluasa karena ada Arsen disana.
"Memang kita tidak seharusnya bersama 'kan Tuan?" ucap Luna, kali ini ia mengalihkan pandangannya agar bisa menatap Gamma.
Gamma mengulurkan tangannya untuk menangkup kedua pipi Luna. "Aku tahu kau pasti akan terus menolakku Luna, aku tidak meminta kau terus bertahan di sisiku. Tapi selama semuanya baik-baik saja, mau kah kau terus seperti ini?" pinta Gamma dengan suara lirihnya.
Gamma tahu permintaannya itu terdengar sangat bodoh, tapi menurutnya itu lebih baik. Semakin ia memaksa Luna, wanita itu semakin menjauhinya. Jika ia menceraikan Clarissa juga bukan jalan yang bagus karena saat ini ia sedang mencaritahu tentang wanita itu. Gamma curiga jika Clarissa punya maksud tertentu selain berselingkuh dibelakangnya.
"Tapi mau sampai kapan Tuan? Anda tidak kasihan dengan Nyonya Clarissa?" Luna bertanya kembali, haruskah ia seegois itu terus menerus melanjutkan hubungan cinta yang salah ini?
"Sampai semuanya jelas, saat ini aku sedang mengumpulkan bukti agar bisa membongkar kebusukan Clarissa. Kali ini aku sangat meminta padamu Luna, jangan menolakku. Tetaplah di sisiku sampai aku membuktikan kalau Clarissa memang bukan wanita yang baik," ucap Gamma mengusap-usap pipi Luna, tatapannya terlihat sayu dan penuh permohonan.
"Lalu, jika Nyonya Clarissa sudah terbukti bersalah, apakah Tuan akan melepaskan saya?"
Gamma mengerutkan dahinya mendengar ucapan Luna itu. "Sebegitu inginnya kau pergi dariku Luna? Kau tidak ingin hidup bersamaku? Kita akan menikah dan hidup bahagia Luna, kau mencintaiku 'kan?" ujar Gamma.
Luna menundukkan wajahnya, ia tidak tahu harus menjawab apalagi, karena perlahan-lahan dinding yang ia bangun untuk menahan dirinya semakin rapuh.
"Tidak perlu menjawab, aku sudah tahu jawabannya Luna. Setelah aku membuktikan semuanya, aku akan datang padamu. Kita akan menikah," kata Gamma sudah tahu jawabannya meski Luna tidak menjawabnya.
"Tuan, saya tidak tahu harus seperti apalagi. Tolong jangan membuat saya semakin sulit," kata Luna menangis, tidak tahan juga menahan perasaannya yang selama ini terpendam.
Gamma menghela nafas panjang, ia menarik Luna kedalam pelukannya. "Tidak ada yang sulit jika kita melakukannya sama-sama Luna. Percaya padaku dan teruslah genggam tanganku, aku yakin kita bisa menemukan jalan untuk kebahagiaan kita nantinya," ucap Gamma menggenggam tangan Luna lalu membawa tangan itu ke bibirnya.
Mendengar kata-kata itu, akhirnya pertahanan Luna runtuh juga. Ia tidak menolak karena ia memang mencintai pria ini.
"Apa kau berjanji tidak akan mengingkari janjimu kali ini?" Tanya Luna dengan tatapan sayunya.
"Tidak akan, percayalah padaku Luna. Aku juga mencintaimu," kata Gamma tanpa keraguan sama sekali, ia benar-benar merasa sudah terperangkap dengan sosok wanita ini dan tidak mau kehilangannya sampai kapanpun.
"Sebelumnya kau juga mengatakan itu padaku, tapi nyatanya kau meninggalkanku dan tidak pernah kembali," lirih Luna mengingat kenangan beberapa tahun silam yang kembali muncul diingatkannya.
Gamma mengerutkan dahinya, bingung tentunya karena ucapan Luna itu. "Mengatakan itu padamu? Kapan aku mengatakannya?" Tanya Gamma mengingat-ingat semuanya, tapi seingatnya ia tidak pernah berkata seperti itu pada Luna.
"Apa kau tidak pernah mengingat apapun?" Luna justru balik bertanya, hatinya sakit sekali karena Gamma tidak mengingatnya sama sekali.
"Mengingat apa Luna? Apa kita pernah punya sesuatu di masa lalu?" Gamma mengerutkan dahinya semakin dalam, mencoba mengingat masa lalunya. Namun, semakin mengingatnya kepala Gamma malah sakit.
"Sudah lupakan itu Tuan, ini sudah malam. Jika sudah tidak ada lagi yang perlu dibahas, saya akan pulang," ujar Luna bangkit dari pangkuan Gamma, ia tidak mau mengatakan apapun, jika Gamma sudah melupakannya, ia pun akan mencoba melupakannya.
Gamma memegang kepalanya yang tiba-tiba sakit, ia menatap punggung Luna yang berjalan menjauh. Geraian rambut Luna yang kecoklatan dan bergerak-gerak seiring langkahnya itu seketika mengingatkan Gamma pada seseorang, tapi tidak terlalu jelas. Kepalanya malah semakin sakit sekali karena terus memaksa mengingatnya.
"Arghhhhhhhh!" Gamma tidak tahan, ia berteriak keras, kepalanya seperti berputar-putar dan sangat pusing sekali.
Luna yang tadinya sudah sampai diambang pintu langsung menoleh, ia terkejut saat melihat Gamma mengerang kesakitan.
"Tuan," ucap Luna berlari menghampiri Gamma. "Tuan kenapa Tuan?" Tanya Luna dengan wajahnya paniknya.
"Kepalaku sakit," jawab Gamma seraya terus memegang kepalanya yang berdentam-dentam seperti dipukuli habis-habisan.
"Saya akan membawa Anda kerumah sakit," kata Luna dengan cekatan mengandeng tangan Gamma, meletakkan tangan itu dilehernya dan ia memapah tubuh pria yang memiliki bobot tidaklah ringan itu.
"Antar aku pulang saja."
Happy Reading.
TBC.
eh awal bab so 🔥🔥🔥