Elisa tidak pernah menyangka novel yang baru semalam ia baca akan menjadi awal petaka hidupnya. Saat membuka mata, ia sudah berada di tubuh Lady Nandikara, putri bangsawan dari Wilayah Timur yang terkenal cantik, tapi angkuh, bermulut tajam, dan paling dibenci semua orang.
Tapi bagusnya, Lady Nandikara itu hanya karakter pendukung saja, yang Elisa ingat, dia muncul hanya sesekali, tokoh yang tidak penting.
Ketika mengetahui posisinya dalam novel, Elisa mengambil satu keputusan. Dia tidak akan ikut campur dalam alur cerita. Cukup hidup tenang, menjadi gadis pendiam, lalu bertahan sampai akhir.
Namun, rencananya mulai berantakan. Ketika sepasang mata tajam dan sedingin es milik Putra Mahkota mulai terpaku padanya. Sejak saat itu, kedamaian yang selama ini ia rencanakan dengan matang perlahan hancur, Elisa terseret ke dalam obsesi seorang pria yang tak pernah menerima penolakan.
Semakin Elisa berusaha menjauh dari alur cerita, semakin takdir menyeretnya ke pusat konflik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saasaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lamaran Yang Menggemparkan
Leon baru saja keluar dari hutan perburuan. Di pundaknya tergantung busur, sementara beberapa pelayan membawa hasil buruannya dari belakang. Di sisi kanan berjalan ayahnya, Duke Snow, sedangkan di sisi kiri ada Tuan Winter. Ketiganya baru kembali setelah mengejar buruan hingga jauh ke dalam hutan.
Namun, baru beberapa langkah mendekati area perkemahan, mereka langsung disambut kegaduhan yang belum juga mereda.
"Yang Mulia mendapatkan rusa bertanduk emas!"
"Benarkah? Itu rusa legendaris!"
"Dan pangeran Erlan baru saja melamar Lady dari Timur!"
"Astaga, beliau melamarnya di depan semua orang!"
Langkah Leon mendadak terhenti. Tatapannya langsung mencari sumber keramaian. Kerumunan para bangsawan perlahan terbuka, memperlihatkan sosok yang menjadi pusat perhatian.
Di sana berdiri Pangeran Erlan dengan wajah setenang biasanya. Ekspresinya tetap datar, seolah lamaran yang baru saja ia ucapkan bukanlah sesuatu yang mengejutkan.
Tak jauh di depannya berdiri Nandikara Winter.
Wajah gadis itu pucat. Pandangannya tidak tertuju pada Erlan, melainkan pada bangkai rusa bertanduk emas yang tergeletak di tanah. Tubuh mungilnya tampak sedikit gemetar, napasnya tidak beraturan, sementara sorot matanya dipenuhi ketakutan yang sulit disembunyikan.
Leon hanya mampu menatap pemandangan itu tanpa berkedip.
Pangeran Erlan, melamar Nandikara.
Dadanya mendadak sesak oleh perasaan yang bahkan tidak mampu ia jelaskan. Ada sesuatu yang menusuk pelan di dalam hatinya ketika menyaksikan semuanya dengan mata kepala sendiri. Ia tidak tahu mengapa.
Yang dia tahu, melihat Nandikara berdiri di hadapan pria lain membuat dadanya terasa berat.
Selama ini, sebenarnya hati kecil Leon sudah mulai meyakini sesuatu. Sejak Pangeran Erlan berkali-kali mencari Nandikara. Sejak pria itu terus terlibat masalah dengannya. Sejak pangeran mulai melakukan hal-hal yang sama sekali tidak sesuai dengan sifat aslinya.
Leon mengenal putra mahkota itu cukup lama. Erlan bukan tipe pria yang membuang waktu untuk seseorang yang tidak penting. Ia dingin, tenang, dan selalu menjaga jarak. Bahkan kepada para putri bangsawan yang terang-terangan mengejarnya, Erlan tidak pernah memberi perhatian sedikit pun.
Karena itulah, setiap kali melihat Erlan terus berurusan dengan Nandikara, Leon diam-diam mulai curiga. Meski begitu, ia tidak pernah menyangka dugaannya akan menjadi kenyataan secepat ini.
Pangeran Erlan benar-benar bergerak. Bukan hanya mendekati Nandikara, tetapi langsung melamarnya di hadapan seluruh bangsawan kerajaan.
Leon mengepalkan tangannya tanpa sadar. Tatapannya masih tertuju pada Nandikara yang tampak ketakutan, lalu beralih kepada Erlan yang berdiri tegak tanpa sedikit pun menunjukkan keraguan.
Untuk pertama kalinya, Leon merasakan kenyataan yang begitu pahit. Pria yang selama ini tidak pernah menginginkan siapa pun kini justru bergerak paling cepat untuk mendapatkan Nandikara Winter, gadis yang pernah Leon tolak di hadapan semua orang.
***
"Yang Mulia, ini adalah suatu kehormatan besar bagi keluarga kami." Tuan Winter segera membungkukkan badan dengan penuh hormat. Napasnya masih sedikit memburu karena baru saja berlari menghampiri putrinya."Namun, apakah aku tidak sedang bermimpi? Dan apakah Yang Mulia benar-benar yakin dengan keputusan ini?"
Beberapa saat sebelumnya, saat mendengar keributan di tengah para bangsawan, Tuan Winter langsung bergegas menghampiri. Jantungnya sempat berdebar kencang. Pikiran pertamanya hanyalah satu, Nandikara pasti kembali membuat masalah.
Namun begitu mengetahui kenyataan yang terjadi, langkahnya justru terhenti. Putrinya dilamar secara terang-terangan oleh Putra Mahkota.
Rasa lega yang sempat muncul seketika bercampur dengan kegelisahan. Tuan Winter buru-buru mengambil alih pembicaraan. Dia mengenal sifat putrinya yang terkadang bertindak tanpa berpikir panjang. Sedikit saja jawaban yang keliru bisa dianggap sebagai penghinaan terhadap keluarga kerajaan dan memancing amarah sang pangeran.
Tatapan Erlan yang sejak tadi hanya tertuju pada Nandikara perlahan beralih kepada Tuan Winter. Wajahnya tetap datar tanpa sedikit pun menunjukkan keraguan."Aku akan mengirim lamaran resmi kepada keluarga Winter setelah acara ini selesai."
Suaranya tenang, namun begitu tegas hingga membuat seluruh orang di sekitar terdiam.
"Aku juga menginginkan izin dari kalian. Karena setelah pertunangan ini disepakati, aku ingin Nandikara langsung menempati istanaku. Jangan membawanya kembali ke Timur."
Suasana yang semula sudah hening menjadi semakin sunyi. Ucapan itu bagaikan petir di siang bolong.
Elisa sontak mengangkat kepalanya. Mata indahnya membulat penuh keterkejutan, dia hampir saja membuka mulut untuk memprotes keputusan sepihak itu.
Apa? Langsung tinggal di istana? Siapa yang bilang aku setuju?
Namun sebelum satu kata pun keluar, Nyonya Winter dengan cepat menggenggam tangan putrinya. Jemarinya mencengkeram pelan, memberikan isyarat agar Elisa tetap diam. Elisa menoleh kepada ibunya. Nyonya Winter hanya menggeleng tipis sambil menatapnya penuh peringatan.
Jangan bicara.
Mereka sedang berhadapan dengan Putra Mahkota. Bahkan Raja Simon sendiri sering kali kesulitan menghadapi keras kepala putranya, apalagi mereka yang hanya keluarga bangsawan rendah dari wilayah timur.
Elisa akhirnya menggigit bibir bawahnya. Dengan berat hati ia menahan semua protes yang memenuhi kepalanya.
Di sisi lain, Tuan Winter kini berdiri berdampingan dengan istrinya. Suri juga segera berdiri di samping Nandikara, wajahnya masih dipenuhi kebingungan. Keempat anggota keluarga Winter itu saling berpandangan. Tidak ada satu pun dari mereka yang menduga keadaan akan berkembang sejauh ini.
Belum selesai rasa terkejut mereka akibat lamaran sang pangeran, kini Erlan kembali mengajukan permintaan yang jauh lebih sulit untuk dijawab.
Tuan Winter menarik napas panjang. Pikirannya bekerja keras mencari kalimat yang paling tepat. Ia ingin menolak secara halus, tetapi juga tidak ingin dianggap menentang kehendak Putra Mahkota. Di sisi lain, ia pun tidak mungkin langsung menyerahkan putrinya begitu saja tanpa membicarakannya terlebih dahulu bersama keluarga.
Keringat dingin mulai muncul di pelipisnya. Tatapan tajam Erlan masih menunggu jawaban. Beruntung, sebelum Tuan Winter sempat membuka suara, Raja Simon melangkah maju dengan senyum tipis.
"Sudah cukup." Suara sang raja terdengar hangat, memecah ketegangan yang sejak tadi menyelimuti suasana. "Erlan, persoalan sebesar ini sebaiknya dibicarakan secara kekeluargaan. Tidak perlu dilakukan di hadapan semua bangsawan."
Raja Simon kemudian mengalihkan pandangannya kepada keluarga Winter."Tuan dan Nyonya Winter, bagaimana jika malam ini kalian memenuhi undanganku untuk makan malam di istana? Kita dapat membicarakan urusan kedua anak ini dengan lebih tenang."
Mendengar ucapan sang raja, Tuan Winter seolah memperoleh jalan keluar dari situasi yang menyesakkan. Ia segera membungkukkan badan dengan hormat."Merupakan kehormatan bagi keluarga kami, Yang Mulia."
Rasa lega perlahan memenuhi dadanya. Setidaknya untuk saat ini ia berhasil selamat dari tatapan penuh intimidasi milik Pangeran Erlan.