NovelToon NovelToon
Janda Perawan Vs Dokter Tampan

Janda Perawan Vs Dokter Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dokter / Janda
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Dua bulan setelah menikah dengan Benni Ardiansyah, kebahagiaan Winarsih Larasati berubah menjadi penderitaan. Saat Benni bekerja sebagai TKI di Jepang, ibu mertuanya menguasai seluruh uang kiriman dan terus menyiksa hidup Winarsih.

Fitnah demi fitnah membuat Benni percaya bahwa istrinya telah berselingkuh, hingga tanpa mencari kebenaran ia memilih menceraikannya.

Kini Winarsih harus berjuang sendiri dengan bekerja mengantar roti. Di tengah perjuangannya, takdir mempertemukannya dengan seorang dokter tampan yang baru ditugaskan dari kota ke desa Sekar Sari.

Akankah pertemuan itu menjadi awal kebahagiaan baru? Ataukah luka masa lalu masih membayangi kehidupan Winarsih?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24 : Winarsih Jujur

Malam mulai menyelimuti Desa Sekar Sari. Suasana di rumah dinas Dokter Arga terasa sunyi. Hanya suara jangkrik yang terdengar dari halaman depan.

Arga duduk di ruang tamu dengan secangkir teh hangat yang sejak tadi tidak juga disentuh. Tatapannya kosong mengarah ke luar jendela.

Bayangan Winarsih yang tiba-tiba menghindarinya terus memenuhi pikirannya. Ia mencoba mencari alasan.

"Apa aku mengatakan sesuatu yang salah?" Arga menggeleng pelan. "Tidak mungkin."

Ia masih mengingat jelas bagaimana pagi tadi Winarsih mempercayakan harapannya kepadanya agar membantu menemukan Benni. Tidak mungkin dalam hitungan beberapa jam sikap wanita itu berubah sedrastis itu tanpa alasan.

"Berarti pasti ada sesuatu yang terjadi setelah aku pergi." Arga mengembuskan napas panjang.

Rasa gelisah itu semakin sulit diabaikan. Belum lagi, beberapa menit sebelumnya Kenji mengirimkan pesan singkat.

"Arga, aku mulai mencari datanya. Kebetulan ada satu perusahaan yang memiliki karyawan bernama Benni. Besok aku akan coba memastikan identitasnya."

Walaupun belum pasti, kabar itu sudah cukup membuat Arga sedikit lega. "Winarsih pasti ingin mendengar ini."

Tanpa berpikir panjang lagi, Arga keluar rumah dan berjalan menuju kontrakan Ibu Ratna. "Aku harus menemuinya malam ini."

Tak lama kemudian...

Arga sudah berdiri di depan rumah kontrakan sederhana yang ditempati Winarsih bersama Ibu Ratna. Arga berjalan menuju teras.

Tok... tok... tok...

Beberapa saat kemudian pintu terbuka. Ibu Ratna tampak sedikit terkejut. "Eh, Dokter Arga."

"Selamat malam, Bu."

"Malam, Dok. Mari masuk."

"Terima kasih, Bu."

Arga melangkah masuk ke ruang tamu yang sederhana.

Ibu Ratna segera mempersilahkannya duduk. "Ada perlu apa malam-malam begini, Dok?"

Arga tersenyum sopan. "Saya ingin bertemu Mbak Winarsih, Bu."

Mendengar nama itu, Ibu Ratna berjalan menuju kamar Winarsih. Lalu ia mengetuknya...

Tok... tok...

"Winarsih..." Suara Ibu Ratna terdengar hingga ke dalam kamar.

Winarsih yang sedang melipat pakaian langsung menghentikan kegiatannya. "Iya, Bu?"

"Ada Dokter Arga."

Mendengar nama itu, tubuh Winarsih langsung membeku. Jantungnya kembali berdegup kencang. Ucapan Clarissa sore tadi kembali terngiang di telinganya. Winarsih menggenggam ujung bajunya erat.

Ia langsung berjalan menuju pintu dan membukanya sedikit, tidak terlalu lebar. "Bu..." ucapnya lirih.

"Iya?"

"Tolong bilang... saya sudah tidur."

Ibu Ratna tampak bingung. "Lho, kenapa?"

"Saya... saya sedang tidak ingin bertemu siapa pun."

Ibu Ratna mengernyit, tetapi akhirnya mengangguk pelan. Ia kembali ke ruang tamu. "Maaf ya, Dok."

Arga mengangkat wajah.

"Winarsih katanya ingin istirahat."

Senyum Arga perlahan memudar. "Oh... begitu."

Ia terdiam beberapa saat. Entah mengapa, penolakan itu justru semakin menguatkan dugaannya bahwa Winarsih sedang menyembunyikan sesuatu.

Arga lalu berkata pelan, "Bu... sebenarnya saya hanya ingin menyampaikan kabar."

"Kabar apa, Dok?"

"Saya sudah mendapatkan sedikit informasi mengenai Benni."

Kalimat itu terdengar jelas hingga ke dalam kamar. Winarsih yang sejak tadi bersandar di balik pintu langsung membelalakkan mata.

"Mas... Benni?"

Tanpa sadar ia membuka pintu kamarnya.

Ceklek...

Ibu Ratna dan Arga sama-sama menoleh. Winarsih berdiri di ambang pintu dengan napas yang sedikit memburu.

Tatapannya langsung tertuju kepada Arga. "Dokter..." ucapnya pelan.

Arga berdiri dari duduknya, tatapan mereka bertemu. Untuk beberapa detik, tidak ada satu pun yang berbicara.

Akhirnya Winarsih memberanikan diri melangkah mendekat. "Tadi... Dokter bilang sudah mendapat kabar tentang Mas Benni?"

Arga mengangguk pelan. "Belum kabar yang pasti. Tapi temanku di Jepang sudah mulai menemukan petunjuk. Dia sedang memastikan apakah Benni yang dimaksud adalah suamimu."

Mata Winarsih langsung berkaca-kaca. "Benarkah, Dok?"

"Iya."

Air mata Winarsih perlahan menetes. "Terima kasih... terima kasih banyak, Dok."

Arga memperhatikan wajah Winarsih yang terlihat begitu lega, tetapi ia juga menangkap sesuatu yang mengganjal.

Dengan suara lembut ia bertanya, "Mbak Winarsih..."

"Iya, Dok?"

"Kalau memang tidak ada apa-apa... kenapa tadi sore Mbak menghindari saya?"

Pertanyaan itu membuat senyum Winarsih seketika menghilang. Tubuhnya kembali menegang. Bibirnya terbuka, tetapi tak satu kata pun mampu keluar.

Ia hanya menundukkan kepalanya, sementara kedua tangannya saling menggenggam erat, seolah sedang berjuang menyembunyikan sesuatu yang begitu berat untuk diungkapkan.

Ibu Ratna memperhatikan Arga dan Winarsih bergantian. Ia bisa merasakan suasana canggung yang begitu kental di antara keduanya.

Wanita paruh baya itu tersenyum tipis. "Kalau begitu... Ibu tinggal dulu, ya."

Winarsih langsung menoleh. "Bu..."

Ibu Ratna mengusap pelan lengan Winarsih. "Dokter Arga datang baik-baik. Pasti ada yang ingin dibicarakan."

"Tapi, Bu..."

Ibu Ratna menggeleng lembut. "Kalau memang ada salah paham, lebih baik diselesaikan dengan bicara baik-baik." Ia lalu menoleh kepada Arga. "Dok, tolong jangan terlalu keras sama Winarsih. Anak ini kalau punya masalah, lebih sering dipendam sendiri."

Arga mengangguk hormat. "Iya, Bu."

"Kalau begitu Ibu ke belakang dulu."

Setelah berkata demikian, Ibu Ratna perlahan berjalan menuju dapur, sengaja memberi ruang bagi mereka berdua untuk berbicara.

Kini hanya tersisa Arga dan Winarsih di ruang tamu. Suasana kembali sunyi, Winarsih masih menundukkan kepalanya. Jemarinya saling meremas gelisah.

Arga menatapnya beberapa saat sebelum akhirnya membuka suara. "Mbak Winarsih."

"Iya, Dok."

"Apa sebenarnya yang terjadi?"

"Tidak ada apa-apa."

"Kalau memang tidak ada apa-apa, kenapa Mbak tiba-tiba menghindari saya?"

Winarsih menggeleng pelan. "Saya hanya..." kalimatnya terputus.

Arga mengembuskan napas pelan. "Saya bukan sedang memaksa Mbak bercerita. Tapi saya ingin tahu, apakah ada seseorang yang mengganggu Mbak?"

Winarsih langsung menggeleng. "Tidak ada."

Arga menatapnya lekat. "Mbak tidak pandai berbohong."

Winarsih semakin gugup. "Sore tadi wajah Mbak terlihat ketakutan. Bahkan saat melihat saya, Mbak langsung pergi. Itu bukan sikap Mbak yang biasanya."

Winarsih menggigit bibirnya pelan.

"Tolong jujur sama saya. Saya mungkin bisa membantu."

Mendengar kata membantu, mata Winarsih kembali memanas.

"Saya tidak ingin terus membuat Dokter repot."

"Bagi saya, membantu orang bukan sebuah beban."

Winarsih menggeleng pelan. "Justru itu..."

Arga mengernyit. "Maksud Mbak?"

Winarsih menarik napas panjang. Ia sadar, kalau terus diam, Arga tidak akan berhenti bertanya. Namun ia juga tidak bisa menceritakan ancaman Clarissa begitu saja.

Beberapa detik berlalu.

Akhirnya ia mengangkat wajah. "Dok..."

"Iya?"

"Saya hanya tidak ingin merusak hubungan Dokter dengan Nona Clarissa."

Arga tampak terkejut. "Clarissa?"

Winarsih mengangguk pelan. "Saya sudah punya banyak masalah dalam hidup saya. Saya tidak ingin masalah pribadi Dokter ikut menjadi masalah saya juga."

Arga masih menatapnya tanpa berkedip. "Saya tidak mengerti."

Winarsih tersenyum pahit. "Nona Clarissa pasti sangat menyayangi Dokter. Sepertinya dia salah paham kepada saya. Saya tidak ingin karena keberadaan saya, hubungan Dokter dengannya menjadi semakin buruk."

Arga mengernyit semakin dalam. "Clarissa menemui Mbak?"

Winarsih langsung terdiam, ia baru sadar telah keceplosan.

Bibirnya kembali terkatup rapat.

Arga menangkap perubahan ekspresi itu. "Jadi benar... apa setelah saya mengantar Mbak ke pabrik pagi tadi, Clarissa menemui Mbak?"

Winarsih kembali menundukkan kepalanya. Ia tidak menjawab, namun diamnya sudah menjadi jawaban yang cukup bagi Arga.

Rahang Arga mengeras. "Apa yang dia katakan kepada Mbak?"

Winarsih buru-buru menggeleng. "Tidak... tidak ada apa-apa."

"Mbak."

"Sungguh, Dok. Saya hanya tidak ingin membuat keadaan semakin rumit."

Arga menghela napas panjang, berusaha menahan emosinya. "Mbak Winarsih... Saya dan Clarissa sudah berpisah."

Ucapan itu membuat Winarsih perlahan mengangkat kepalanya. Matanya membulat karena terkejut.

"Berpisah...?"

Arga mengangguk pelan. "Hubungan kami sudah berakhir beberapa bulan yang lalu. Jadi, apa pun yang dikatakan Clarissa kepada Mbak... itu bukan salah Mbak."

Winarsih benar-benar terdiam. Selama ini ia mengira Clarissa masih menjadi kekasih Arga. Karena itulah ia memilih menjauh.

Namun kini, kenyataan yang baru saja didengarnya membuat pikirannya semakin kacau. Ia mulai bertanya-tanya, jika Arga dan Clarissa memang sudah berpisah, lalu mengapa wanita itu masih begitu ingin mengatur kehidupan Arga dan sampai datang mencarinya ke Desa Sekar Sari?

1
Amoera
kasihan winarsih/Sob/
Amoera
wihh, Dokter keren😍
Amoera
suka banget ka sama ceritanya, novel ter-the best🥰
Arditya
Ayo dokter arga pepet terua winarsih🤣
It's me Sky: iya kaka🤣
total 1 replies
Arditya
kagak beres deh ini ada preman, aduh winarsih.
Arditya
kacau ni nenek lampir, ko kesel ya thoor
Arditya
Ko kesel ya, sama si benni😄
Arditya
Gila mertua jahat tuh si Sulastri, ini sih cerita menyayat hati kaum wanita. Apalagi yang punya mertua seperti Sulastri, pingin di rujak bibirnya🤭
Arditya
Karyamu luar biasa sekali thoor, aku suka banget sama ceritanya. Semangat thoor😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!