Anton adalah seorang pria biasa yang hidupnya hancur dalam semalam setelah dicampakkan dan dipermalukan secara brutal oleh pacarnya demi seorang anak konglomerat. Di titik terendahnya, saat rasa sakit dan keputusasaan memuncak, Anton secara tak terduga membangkitkan [Sistem Mata Dewa] yang memberinya kemampuan luar biasa untuk melihat menembus segala jenis benda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Anton meninggalkan keempat pembunuh bayaran itu hidup-hidup dalam keadaan terjepit lantai baja. Dia melangkah tenang menuju lift khusus untuk naik ke lantai paling atas kapal Leviathan.
Ting.
Pintu lift terbuka perlahan di lantai VVIP yang sangat mewah. Lorong di lantai eksklusif ini dihiasi dengan berbagai lukisan mahal dan patung emas murni di setiap sudutnya.
Ada dua orang penjaga berbadan kekar yang berdiri tegak di depan pintu kamar nomor satu. Mereka langsung menodongkan senjata laras panjang saat melihat Anton keluar dari dalam lift sendirian.
"Berhenti di sana anak muda. Area ini tertutup rapat untuk tamu biasa sepertimu," bentak salah satu penjaga itu dengan wajah garang.
Anton hanya memberikan senyum tipis yang meremehkan. Dia memfokuskan pandangan matanya ke arah senjata laras panjang yang mereka pegang erat-erat.
Sring.
[Manipulasi Atom aktif. Target penguraian adalah senjata api logam.]
Krak.
Senjata laras panjang canggih di tangan kedua penjaga itu tiba-tiba retak dan hancur berkeping-keping. Serpihan besinya jatuh berjatuhan mengotori lantai marmer yang mengkilap.
"A-apa yang terjadi dengan senjata andalanku?" teriak penjaga itu panik menatap kedua telapak tangannya yang kini kosong melompong.
Bugh.
Sebelum mereka berdua sadar apa yang terjadi Anton sudah melesat maju ke depan. Dia memukul titik saraf di leher keduanya secara bergantian dengan gerakan yang sangat presisi.
Dua penjaga elit itu langsung pingsan dan ambruk ke lantai tanpa bisa memberikan perlawanan sama sekali.
Brak.
Anton menendang pintu kamar VVIP itu dengan sekuat tenaga hingga terbuka lebar. Dia berjalan masuk dengan langkah santai seolah sedang memasuki ruang tamunya sendiri.
Di dalam kamar yang sangat luas dan mewah itu Victorio sedang duduk bersandar di sofa empuk. Dia memegang segelas anggur merah mahal sambil dikelilingi oleh empat orang wanita cantik berpakaian minim.
Victorio terkejut setengah mati melihat Anton masuk ke kamarnya hidup-hidup. Gelas anggur di tangannya langsung terjatuh dan pecah berantakan di atas karpet sutra.
"K-kau. Bagaimana kau bisa sampai ke sini tanpa lecet sedikit pun? Di mana semua anak buah elitku?" teriak Victorio dengan suara bergetar hebat.
Keempat wanita penghibur di sofa itu langsung menjerit ketakutan melihat kedatangan penyusup. Mereka berlari berhamburan mencari tempat bersembunyi di balik tempat tidur raksasa.
"Anak buahmu sedang sibuk bermain dengan lantai baja di bawah sana. Jadi aku memutuskan untuk datang menyapamu secara langsung malam ini," jawab Anton dengan nada ramah yang dibuat-buat.
Anton berjalan tenang menuju meja bar yang ada di sudut ruangan mewah tersebut. Dia menuangkan sedikit anggur ke dalam gelas kosong dan meminumnya dengan pelan untuk menikmati rasanya.
"Penjaga. Penjaga masuk ke dalam sini sekarang juga," teriak Victorio ke arah luar pintu yang sudah terbuka lebar.
"Percuma saja kau berteriak sampai tenggorokanmu putus. Dua anjing penjagamu di luar sudah tidur pulas bermimpi indah," ucap Anton sambil memutar-mutar gelas di tangannya.
Wajah Victorio seketika berubah menjadi sepucat kertas HVS. Dia baru menyadari bahwa pemuda misterius di depannya ini bukanlah manusia biasa yang bisa diremehkan.
Victorio segera membuka laci meja di depannya dengan kasar. Dia mengeluarkan sebuah pistol berlapis emas dan menodongkannya dengan kedua tangan yang gemetar hebat ke arah Anton.
"Jangan berani mendekat selangkah lagi. Aku akan menembak kepalamu hingga hancur berkeping-keping," ancam Victorio berusaha keras menyembunyikan rasa takut di hatinya.
Anton malah tertawa pelan nan merdu mendengar ancaman murahan tersebut. Dia meletakkan gelasnya di atas meja dan berjalan perlahan mendekati Victorio menantang maut.
"Tembak saja kalau kau memang punya nyali sebesar itu. Aku sangat ingin tahu apakah peluru emasmu itu bisa menembus kulitku," tantang Anton membuka kedua tangannya lebar-lebar.
Victorio menggertakkan giginya kuat-kuat menahan amarah yang membara. Dia menarik pelatuk pistol emasnya tanpa ragu lagi untuk mengakhiri hidup pemuda itu.
Dor.
Peluru emas melesat kencang membelah udara menuju tepat di antara kedua mata Anton. Namun tepat setengah meter sebelum mengenai wajahnya peluru itu tiba-tiba berhenti total di udara terbuka.
"A-apa itu tidak mungkin terjadi," gumam Victorio membelalakkan matanya tidak percaya melihat keajaiban fisika di depannya.
Anton tidak menggunakan manipulasi atom kali ini karena dia ingin mencoba hal lain. Dia menggunakan prediksi probabilitas tingkat tingginya untuk mencari celah aman dan hanya memiringkan lehernya sedikit saja.
Wush.
Peluru emas itu tiba-tiba kembali melaju dan meleset tipis dari pipi Anton. Peluru mahal tersebut akhirnya bersarang menancap di dinding kayu belakang dengan suara keras.
Victorio merasa seolah peluru pelacaknya baru saja menembus tubuh hantu yang tidak berwujud padat.
"Kau ini sebenarnya makhluk iblis dari mana," teriak Victorio benar-benar kehilangan seluruh kewarasannya malam itu.
Anton melesat maju dengan kecepatan yang tidak bisa diikuti oleh mata manusia biasa. Dia langsung mencengkeram leher Victorio dengan satu tangan dan mengangkat tubuh pria angkuh itu tinggi-tinggi.
"Argh lepaskan leherku. Aku tidak bisa bernapas sama sekali," rintih Victorio memelas sambil memukuli punggung tangan Anton dengan sia-sia.
"Kau sangat suka pamer kekayaan dan kekuasaan palsumu di depan orang lain kan Victorio," ucap Anton dengan nada suara dingin yang menusuk hingga ke tulang.
Anton mengaktifkan mata dewanya lagi pada tingkat maksimal. Kali ini dia meretas langsung sistem perbankan bayangan utama milik keluarga kartel Victorio yang tersebar di seluruh benua Eropa.
"Aku akan membuatmu mengerti arti keputusasaan yang sesungguhnya mulai detik ini juga," lanjut Anton menatap tajam tepat ke dalam manik mata lawannya yang ketakutan.
Hanya butuh waktu kurang dari lima detik komputasi bagi Anton untuk mengalihkan seluruh aset. Ratusan triliun rupiah uang tunai berpindah tangan ke rekening rahasia Anton tanpa meninggalkan jejak digital sama sekali.
"Coba periksa ponsel pintarmu sekarang juga. Lihat baik-baik sisa saldo di rekening utama keluargamu yang kau banggakan itu," perintah Anton sambil melepaskan cengkeramannya dari leher pria itu.
Bruk.
Victorio jatuh terduduk keras di lantai sambil terbatuk-batuk rakus mencari pasokan oksigen. Dia segera merogoh saku jasnya dan mengeluarkan ponsel pintarnya dengan terburu-buru.
Mata Victorio membesar hampir keluar dari kelopaknya saat melihat layar ponselnya menyala. Aplikasi perbankan khusus miliknya hanya menampilkan angka nol besar berwarna merah di semua riwayat rekeningnya.
"T-tidak mungkin ini terjadi padaku. Ayahku pasti akan mengulitiku hidup-hidup malam ini juga," ratap Victorio sambil menjambak rambutnya sendiri dengan histeris.
"Semua uang operasional kartel lenyap tanpa sisa. Siapa kau sebenarnya Tuan," tanya Victorio menangis menatap wajah dingin Anton.
"Uang satu miliar dolar yang kau banggakan di ruang lelang tadi hanyalah uang receh untuk pengemis bagiku. Sekarang kau dan seluruh anggota kartelmu resmi menjadi gembel kelaparan di jalanan," ucap Anton tersenyum sinis penuh kemenangan.
Victorio langsung bersujud pasrah di bawah kaki Anton sambil menangis tersedu-sedu. Kesombongannya sebagai pewaris tunggal kartel emas Eropa telah hancur lebur malam ini tanpa sisa kehormatan.
"Tolong kembalikan sebagian uang itu Tuan yang berkuasa. Aku mohon ampun atas kelancanganku. Jadikan aku anjing penjagamu saja tidak apa-apa asal kau mengampuniku," mohon Victorio merendahkan dirinya mencium ujung sepatu Anton.
"Aku sama sekali tidak butuh anjing penjaga yang lemah dan bodoh sepertimu," jawab Anton menendang bahu Victorio hingga pria itu terpental membentur dinding kamar.
Anton berjalan santai menuju kursi kebesaran Victorio dan duduk bersandar dengan sangat nyaman. Dia mengambil sebatang cerutu Kuba dari atas meja dan menyalakannya perlahan.
"Clara masuklah sekarang. Kamar baru kita malam ini sudah siap untuk ditempati," teriak Anton ke arah luar pintu tanpa mempedulikan pria malang di lantai.
Clara berjalan masuk perlahan dengan membawa koper kecil milik mereka berdua. Matanya menatap tubuh Victorio yang sedang menangis memelas di sudut ruangan dengan pandangan kasihan namun juga sangat puas.
"Anda benar-benar tidak kenal ampun sedikit pun Tuan Anton," ucap Clara sambil tersenyum tipis meletakkan koper tersebut di dekat lemari.
"Dunia bawah tanah ini tidak butuh orang-orang yang terlalu banyak bicara tanpa kemampuan nyata. Mulai malam ini kapal Leviathan dan seluruh isinya akan berada di bawah kendali mutlakku," balas Anton sambil mengembuskan asap cerutunya ke udara perlahan.
Pesta pelelangan bawah tanah yang seharusnya menjadi ajang pamer kekayaan ini baru saja berubah menjadi panggung pertunjukan kebangkitan dewa baru. Tidak ada satu pun bos mafia atau pemimpin kartel di dunia ini yang bisa menghentikan langkah penaklukan Anton sekarang.