Pernikahan yang berlandaskan rasa bersalah juga karena ingin bertanggung jawab membuat Icha terjebak dalam situasi rumah tangga yang sangat menyedihkan. Kehadirannya tak dianggap ada oleh suami yang dia cintai. Namun, dia masih bisa tetap bertahan.
"Bukan aku yang menginginkan pernikahan ini, kak Adit. Tapi kenapa kamu malah membuat aku semakin lama semakin tersiksa? Apakah aku harus tetap bertahan, atau malah pergi jauh meninggalkan kehidupan yang menyedihkan ini?" Marisa Aurelia.
"Beri aku waktu untuk belajar mencintai kamu, Icha. Jika aku sudah siap nanti, maka rumah tangga kita pasti akan baik-baik saja." Aditya Hutomo.
Namun, bukannya malah membaik. Rumah tangga yang sudah dasarnya rusak itu malah semakin rusak dengan munculnya orang ketiga. Akankah Icha masih tetap bertahan dengan Aditya yang semakin dingin padanya? Atau ... Icha malah memilih pergi meninggalkan kehidupan pahit yang selama ini menyiksa hati juga pikirannya.
Ikuti kisahnya di sini. Di Sebatas menikah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
*Bab 21
Lalu ....
Plak! Sebuah tamparan mendarat di pipi Icha. Seketika, tamparan itu membuat Icha langsung terdiam tanpa bisa berucap satu patah kata lagi.
Dengan tatapan yang penuh luka, Icha melihat Aditya yang ada di hadapannya saat ini. Sementara Aditya yang sudah terlanjur marah, tidak sedikitpun merasakan penyesalan setelah menampar istrinya.
"Kau tamar aku, dokter Aditya?"
"Ya. Aku tampar kamu. Itu aku lakukan supaya kamu sadar akan siapa kamu. Kau tahu, aku bukan hanya akan menampar kamu hari ini. Tapi, aku juga akan menceraikan kamu. Kamu mengerti!"
Icha benar-benar kaget. Dia ternganga dengan mata yang melebar. Sungguh, akhir penantian panjang yang pahit luar biasa. Sangking pahitnya, dia sampai mati rasa.
Tidak tahu harus merasakan rasa apa lagi. Yang jelas, air mata karena luka itu tidak bisa tumpah lagi. Mungkin karena sudah terkuras habis, jadi tidak punya stok lagi sekarang.
"Kau ... akan menceraikan aku?" tanya Icha setelah berhasil menguasai diri.
"Ya. Aku akan menceraikan kamu. Karena kau tidak cocok dengan aku. Kau mengerti!"
Setelah berucap kata-kata itu, Aditya langsung membawa Serry pergi dengan cara memapah perempuan itu dengan penuh kelembutan.
Sementara yang ada di sana, ada yang ikut pergi meninggalkan tempat tersebut. Dan ada juga yang masih diam mematung untuk melihat Icha yang masih berdiri tegak di tempatnya.
Beberapa saat mematung, Icha akhirnya memilih pergi meninggalkan tempat tersebut. Karena masalah itu, dia merasa tidak pantas lagi berada di rumah sakit sebagai pegawai. Dia pun membulatkan tekad untuk langsung pergi dari sana.
Saat dia ingin menjalankan motornya, tiba-tiba dia menyadari kalau motor yang dia naiki tidak baik-baik saja. Ban motornya kempes seperti tertusuk oleh paku saat dia periksa.
"Ya ampun. Siapa yang melakukan hal itu padanya? Suster gila yang malang," ucap salah seorang dari tiga orang suster yang berada tak jauh dari tempat Icha berada.
"Kenapa harus merasa kasihan padanya sih? Dia pantas mendapatkan perlakuan seperti itu. Karena, dia perempuan yang tidak tahu diri. Bisa-bisanya mengaku sebagai istri dokter Aditya. Orang jelas-jelas, kalau dokter Aditya itu sudah punya calon istri yang cantik dan baik."
"Ah, apa kejadian tadi itu karena dia mendadak gila ya? Melabrak suster Serry hanya gara-gara rasa cemburunya yang tidak beralasan."
"Tapi ... apa mungkin dia benar-benar istri dokter Aditya? Soalnya, tadi aku dengar kalau ada yang bilang, dokter Aditya akan menceraikan dia akibat ulahnya hari ini."
"Cerai? Itu hanya kata-kata yang sengaja dokter Aditya ucapkan buat menolong suster Icha saja. Mana mungkin dia akan menceraikan suster iya. Iyakan suster?" tanya salah seorang suster itu malah mengajak Icha bicara.
Belum sempat Icha menjawab. Suster itu malah berucap mendahului Icha dengan cepat.
"Soalnya, gak nikah. Ha ha ha .... "
"Ha ha ha .... " Kedua temanya juga ikut tertawa. Menyambut tawa renyah yang penuh
dengan penghinaan itu.
Icha yang malas. Tidak ingin menjawab setiap ucapan yang dia dapatkan. Namun, saat itu dia ingat akan sahabatnya yang dulu selalu ada. Dwi Anggraini. Sahabat yang paling selalu ada ketika dia sedang dapat masalah. Tapi sekarang, malah tidak ada lagi.
Namun ....
"Kalian ini gak punya kerjaan? Ngapain ngurusin orang lain sekarang? Urusin aja hidup kalian sendiri. Hidup kalian aja masih gak bener dan berantakan."
Suara itu ... suara tinggi saat marah, dan paling lembut saat bahagia. Icha langsung menoleh untuk melihat si pemilik dari suara yang bikin hatinya bahagia.
"Dwi." Icha berucap lirih sambil tersenyum.
"Suster, Dwi." Salah satu dari tiga suster yang menertawai Icha berucap dengan suara pelan.
Sementara yang lainnya menahan diri akibat takut.
Nyali mereka tiba-tiba menciut saat melihat Dwi. Dwi terkenal galak juga sedikit berkuasa. Makanya, dia agak dihormati dari kalangan rekan suster bawahannya.
"Kenapa kalian masih di sini, ha? Ingin aku panggilkan satpam buat ngurus kalian bertiga yang sudah bikin rusuh?"
"Ti--tidak, suster Dwi. Tidak perlu. Kami pergi sendiri saja."
"Ya kalo gitu, cepat minggat sekarang. Males banget aku lihat kalian yang suka bikin rusuh ada di sini."
"Iy--iya suster Dwi. Kami pergi sekarang."
Ketiga suster tersebut langsung berjalan cepat meninggalkan parkiran. Sementara Dwi, dia juga ingin pergi setelah urusannya selesai. Tanpa bicara dengan Icha lagi tentunya. Karena dia masih kesal dengan ulah sahabatnya itu.
Namun, saat dia ingin meninggalkan parkiran, Icha langsung menahan tangannya agar tidak pergi. Sontak saja, dia yang sudah melangkah, langsung terhenti karena hal itu.
"Makasih banyak, Dwi. Kamu udah selalu ada buat aku."
"Jangan bicara berlebihan, suster Icha. Aku hanya tidak suka dengan penindasan. Lagian, apa kamu masih tidak bisa membalas mereka. dengan cara kamu sendiri, ha? Apa kamu begitu suka ditindas oleh mereka semua. Heran aku sama kamu ini."
"Aku merasa tidak perlu membalas. Makanya aku diam."
"Jika begitu, lakukan saja sesuka hatimu. Aku tidak berhak bicara lagi. Karena mungkin, pikiranmu itu yang selalu tepat. Sampai suamimu diambil orang juga kamu pikir tidak perlu bertindak. Dasar tidak berguna. Mempertahankan milik sendiri saja tidak bisa."
Setelah berucap, Dwi langsung pergi meninggalkan Icha. Kata-kata Dwi yang sedikit keras itu terasa memukul batin Icha secara langsung dan sangat brutal.
Tidak bisa melakukan apa-apa karena tidak punya dukungan dari siapapun adalah kelemahan yang dirinya miliki. Merasa semakin sedih, Icha langsung meninggalkan parkiran tanpa membawa motor lusuhnya ikut bersama.
Icha berjalan kaki menelusuri jalan raya yang ramai dan berdebu. Terasa cukup miris apa yang dia alami sekarang. Garis takdir seakan semuanya tertulis hanya hal-hal yang buruk untuk hidupnya.
Icha terus berjalan dengan wajah yang dia tundukkan. Tanpa sadar, sebuah mobil berhenti di sampingnya. Dua orang laki-laki langsung keluar dari mobil itu. Satu diantara mereka langsung menangkap Icha dan menyeret tubuh kurus itu untuk mereka bawa ke mobil.
Icha ingin berontak. Sayangnya, dia tidak bisa melakukan apapun. Tenaga yang dia miliki tidak ada satu perempat dari tenaga itu miliki. Ingin berteriak, mulutnya di bekap kuat. Jangankan berteriak, bernapas saja terasa sulit.
Laki-laki itu langsung melepaskan tubuh Icha ke tempat duduk. Lalu, mobil langsung berjalan cepat meninggalkan tempat sebelumnya.
"Siapa kalian? Lepaskan aku!"
"Tolong ...! Tolong aku ...! Tolong!"
Icha berteriak keras. Namun sayang, tidak akan ada hasilnya. Karena mereka sedang berada dalam mobil yang sekarang melaju cukup kencang melewati jalan yang terbilang cukup sepi.
"Diam kamu perempuan! Jangan berisik!"
"Siapa kalian, ha? Mau apa kalian padaku sebenarnya?"
"Siapa kami, itu tidaklah penting. Yang terpenting sekarang adalah, kami akan mengajak kamu bersenang-senang."
"Bukankah kamu kekurangan kasih sayang? Maka kami akan mencukupi semua kasih sayang yang kurang itu."