"Hana mengorbankan kariernya sebagai otak di balik kesuksesan 3 cabang Rumah Makan demi menjadi ibu rumah tangga seutuhnya. Namun, pengorbanannya dibalas dengan siksaan mental dari mertua cerewet dan perubahan sikap Adrian, suaminya yang perlahan kembali ke tabiat aslinya sebagai playboy.
Semuanya menjadi makin runyam saat mereka membawa pulang seorang baby sitter muda nan cantik dari kampung halaman. Di depan Hana dia adalah pengasuh yang lugu, namun di depan Adrian, dia adalah penggoda yang siap merebut semua yang telah Hana bangun dengan tetesan keringat. Saat Hana sadar dia dikhianati di rumahnya sendiri, haruskah dia tetap bertahan, atau mengambil kembali 3 rumah makan yang merupakan haknya dan meninggalkan mereka dalam kemiskinan?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Sidang Cerai yang Penuh Air Mata Kepalsuan
Bab 32: Sidang Cerai yang Penuh Air Mata Kepalsuan
Tiga minggu berlalu sejak malam perampokan dokumen itu, namun mendung di hati Hana tidak pernah benar-benar beranjak. Hari ini, ruang sidang Pengadilan Agama Jakarta Selatan terasa begitu dingin, sedingin lantai ubin yang dipijak oleh Hana. Dinding-dinding ruangan yang dicat hijau pucat seolah ikut memancarkan aura suram, menyaksikan bagaimana sebuah mahligai pernikahan yang dulunya dibangun dengan janji-janji suci kini siap didekonstruksi secara paksa di bawah palu hakim.
Hana duduk di kursi pesakitan sebelah kiri. Ia mengenakan gamis katun sederhana berwarna abu-abu redup, dipadukan dengan kerudung instan berwarna senada yang membingkai wajah tirusnya. Tidak ada lagi riasan wajah yang anggun; kulitnya tampak pucat pasi, matanya cekung dengan lingkaran hitam yang semakin mempertegas kelelahan batinnya yang teramat masif. Tubuhnya yang kian kurus tampak bergetar halus setiap kali ia mencoba menarik napas. Luka fisik pasca-keguguran belum sepenuhnya pulih, namun ia harus memaksa dirinya berdiri di ruang sidang ini untuk mempertahankan apa yang tersisa dari harga dirinya.
Namun, pemandangan di seberang kanannya sungguh menjadi belati yang mengiris-iris dadanya tanpa ampun.
Adrian duduk di kursi tergugat dengan setelan jas hitam necis yang tampak mahal—jas yang dibeli menggunakan sisa uang dari hasil pencairan dana talangan ruko warisan ayah Hana yang telah digadaikan. Di sampingnya, duduk Ibu Broto yang mengenakan kebaya brokat modern berwarna hijau toska menyala, lengkap dengan kalung dan gelang emas yang berkilauan di bawah lampu ruang sidang.
Dan yang paling membuat dada Hana sesak hingga sulit bernapas: Santi berdiri anggun di barisan kursi penonton tepat di belakang Adrian. Santi mengenakan blus sutra berwarna merah muda yang dipadukan dengan rok span hitam, rambutnya ditata rapi dengan jepitan mutiara. Gadis pelayan itu tidak lagi menyembunyikan wajah aslinya. Ia menatap Hana dari kejauhan dengan sepasang mata yang menyipit, menyunggingkan senyuman miring yang penuh dengan kemenangan dan penghinaan yang teramat pekat.
Di samping Adrian, berdiri Pak Hermawan, seorang pengacara hukum keluarga bermata tajam dan berwajah licik yang terkenal sering memenangkan kasus-kasus sengketa dengan cara-cara kotor di balik layar.
"Sidang perkara perceraian dan sengketa harta bersama antara Hana binti almarhum Baskoro melawan Adrian bin Broto, dinyatakan dibuka dan terbuka untuk umum," ujar Hakim Ketua sembari mengetuk palu kayunya sekali. Suara ketukan itu menggema, memicu detak jantung Hana yang kian berdegup kencang karena rasa cemas yang tak bertepi.
Pengacara Hana, Pak kusno—seorang pria paruh baya yang jujur namun tampak kelelahan menghadapi taktik kotor lawan—berdiri terlebih dahulu. "Yang Mulia, kami mengajukan gugatan cerai mutlak atas dasar perselingkuhan yang dilakukan oleh Tergugat dengan seorang pelayan rumah tangga bernama Santi. Kami juga menuntut pengembalian hak asuh penuh atas seluruh aset harta bawaan milik Penggugat, berupa sertifikat ruko tiga lantai di kawasan pusat kota, serta hak paten nama dagang 'Rasa Hana' yang merupakan warisan murni dari almarhum ayah Penggugat. Dokumen-dokumen tersebut telah diambil secara sepihak dan tanpa hak oleh Tergugat."
Mendengar tuntutan itu, Pak Hermawan, pengacara Adrian, langsung berdiri dengan senyuman meremehkan yang teramat menyebalkan. Ia merapikan jasnya, lalu melangkah maju ke depan meja hakim dengan membawa sebuah map kulit berwarna hitam.
"Keberatan, Yang Mulia," sahut Pak Hermawan dengan suara lantang yang menguasai seisi ruangan. "Semua tuduhan yang dilayangkan oleh pihak Penggugat adalah fiktif dan merupakan bentuk dari manipulasi fakta. Pertama, mengenai tuduhan perselingkuhan. Saudari Santi di sini adalah staf asisten rumah tangga resmi yang dipekerjakan untuk merawat Ibu Broto dan membantu operasional dapur rumah tangga. Tidak ada satu pun bukti fisik yang sah secara hukum yang menunjukkan adanya hubungan spesial di antara klien kami dan Saudari Santi."
Santi yang duduk di kursi penonton langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam, menempelkan sapu tangan ke sudut matanya seolah-olah ia adalah korban fitnah yang teramat terzalimi. Ibu Broto pun ikut mendesah dramatis, menggeleng-gelengkan kepalanya sembari menatap Hana dengan pandangan penuh rasa benci yang dibuat-buat.
"Kedua, mengenai kepemilikan aset," lanjut Pak Hermawan dengan nada suara yang sengaja dilebih-lebihkan untuk menarik simpati hakim. "Klien kami sama sekali tidak pernah merebut atau mencuri sertifikat apa pun. Di dalam map ini, kami membawa bukti yang teramat valid dan tak terbantahkan: Surat Kuasa Mutlak Pengalihan Aset dan Hak Paten yang ditandatangani secara langsung oleh Penggugat, Saudari Hana, di atas meterai sepuluh ribu rupiah, dan telah disahkan oleh notaris resmi pada tanggal dua puluh lima bulan lalu."
Pak Hermawan menyerahkan lembar kertas putih bermeterai itu kepada Hakim Ketua. Hana menatap lembar kertas itu dari kejauhan. Itu adalah kertas kosong yang dicuri dan ditandatangani secara paksa saat tubuhnya lemas di bawah pengaruh obat tidur dosis tinggi malam itu. Tanda tangan di atas kertas itu memang miliknya—goyangan penanya yang khas sangat jelas terlihat—namun proses pembuatannya adalah sebuah kejahatan perampokan yang teramat kotor.
"Tanda tangan ini palsu, Yang Mulia! Mereka memaksakan tangan saya saat saya sedang tidak sadarkan diri di bawah pengaruh obat penenang!" seru Hana dengan suara yang bergetar hebat, air matanya mulai mengalir membasahi pipinya yang cekung. Ia mencoba berdiri dari kursinya, namun tubuhnya yang lemas membuatnya kembali terduduk dengan napas yang terengah-engah.
"Harap tenang, Penggugat. Biarkan penasihat hukum Anda yang berbicara," tegur Hakim Ketua dengan nada datar namun tegas.
Pak Kusno, pengacara Hana, mencoba membela. "Yang Mulia, klien kami saat itu baru saja mengalami keguguran dan berada dalam kondisi stres psikologis yang sangat berat. Tanda tangan tersebut diambil tanpa konsensus yang sadar dan di bawah pengaruh obat tidur yang sengaja dicekokkan oleh pihak Tergugat!"
Pak Hermawan langsung menyambar pembelaan itu dengan tawa kecil yang sinis. "Obat tidur? Stres psikologis? Yang Mulia, ini adalah bentuk dari ketidakstabilan mental yang dialami oleh Penggugat pasca-keguguran. Kami memiliki bukti medis dari rumah sakit yang menyatakan bahwa kehamilan Penggugat gugur akibat kondisi rahimnya yang memang sudah lemah dari awal, ditambah dengan sifat Penggugat yang sangat emosional dan tidak stabil."
Pak Hermawan melirik ke arah Adrian, memberikan kode. Adrian langsung memasang wajah yang teramat sedih, menundukkan kepalanya sembari menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada dengan akting yang luar biasa rapi.
"Yang Mulia..." ucap Adrian dengan suara yang dibuat serak dan bergetar, seolah-olah ia adalah seorang suami yang teramat menderita akibat kelakuan istrinya. "Saya sangat mencintai istri saya... Saya sudah berjuang mati-matian menyelamatkan restoran keluarga kami yang hampir bangkrut karena kesalahan resep Hana sendiri. Surat kuasa itu diberikan oleh Hana secara sukarela malam itu karena dia merasa bersalah atas keguguran anaknya dan kehancuran bisnis kami. Dia sendiri yang bilang ingin menyerahkan semuanya kepada saya agar saya bisa mengelola restoran itu dengan lebih baik. Namun sekarang... setelah saya berhasil mendapatkan dana talangan untuk restoran, dia tiba-tiba berubah pikiran dan menuduh saya yang bukan-bukan karena pengaruh kecemburuan sosialnya terhadap asisten rumah tangga kami."
"Kamu bohong, Adrian!!! Kamu pembohong!!!" teriak Hana dengan histeris. Dada Hana naik turun dengan cepat, rasa sesak yang luar biasa menghantam paru-parunya. Rasa kecewa, sedih, dan terhina yang teramat mendalam bergolak hebat di dalam benaknya. Bagaimana bisa pria yang dahulu berlutut memohon cintanya, pria yang telah meniduri pelayannya di bawah hidungnya, kini berdiri di depan hukum dan membalikkan fakta dengan begitu kejamnya?
"Cukup! Penggugat, jaga sikap Anda di dalam ruang sidang!" tegur Hakim Ketua sekali lagi, mengetuk palunya dengan keras.
Ibu Broto yang duduk di kursi samping Adrian menyunggingkan senyuman sinis yang teramat puas. Ia berbisik pelan ke arah Adrian, "Bagus, Le... Teruskan aktingmu. Perempuan mandul itu memang harus disingkirkan tanpa sisa."
Santi dari barisan penonton meremas tas tangannya dengan kegirangan yang tak tertahankan. Kelicikan yang ia rancang bersama Adrian dan Ibu Broto berjalan dengan sangat sempurna tanpa ada satu pun celah hukum yang bisa ditembus oleh pengacara Hana yang miskin itu.
Sidang berlangsung selama lebih dari tiga jam, dipenuhi dengan pemutaran fakta-fakta palsu, saksi-saksi bayaran dari pihak Adrian—termasuk notaris korup yang menyatakan bahwa Hana menandatangani surat itu dalam kondisi sadar dan sehat walafiat—hingga bukti-bukti medis yang telah dimanipulasi sedemikian rupa untuk menunjukkan bahwa Hana mengalami gangguan jiwa ringan pasca-keguguran.
Hana hanya bisa duduk termangu di kursinya. Setiap kata makian, kebohongan, dan fitnah yang keluar dari mulut Adrian dan pengacaranya terasa seperti paku-paku berkarat yang ditancapkan secara paksa ke dalam jantungnya. Pengacara Hana yang jujur tidak mampu berbuat banyak menghadapi tembok konspirasi hukum yang telah dibangun dengan sangat rapi menggunakan uang hasil gadaian ruko milik Hana sendiri. Sungguh sebuah ironi yang teramat kejam: harta Hana dipakai untuk membiayai kelicikan yang akan merampas harta itu sendiri darinya.
Setelah melakukan musyawarah selama lima belas menit di ruang belakang, para hakim kembali ke meja persidangan. Suasana ruang sidang seketika berubah menjadi sunyi senyap, menyisakan suara detak jantung Hana yang terasa bagai genderang perang yang bertalu-talu.
Hakim Ketua membetulkan letak kacamatanya, lalu mulai membacakan keputusan akhir sidang sengketa dan perceraian tersebut.
"Menimbang bahwa bukti-bukti formal berupa Surat Kuasa Mutlak Pengalihan Aset yang diajukan oleh pihak Tergugat adalah sah secara hukum dan telah disahkan oleh notaris yang berwenang... Menimbang bahwa dalil-dalil perselingkuhan yang diajukan oleh pihak Penggugat tidak memiliki bukti fisik yang cukup kuat di mata hukum..."
Hana memejamkan matanya dengan rapat, air matanya mengalir deras membasahi pipinya yang kian tirus. Ia tahu... ia tahu akhir dari keputusan ini bahkan sebelum hakim membacakannya hingga selesai.
"Maka dengan ini, Majelis Hakim memutuskan:
Mengabulkan gugatan cerai yang diajukan oleh Penggugat, dan menyatakan pernikahan antara Hana binti Baskoro dan Adrian bin Broto resmi putus karena perceraian.
Menyatakan seluruh aset berupa sertifikat ruko tiga lantai di pusat kota, tanah warisan, serta hak paten nama dagang 'Rasa Hana' adalah sah milik Tergugat, Adrian, berdasarkan Surat Kuasa Mutlak yang telah ditandatangani oleh kedua belah pihak.
Menolak seluruh tuntutan pembagian harta gono-gini dan ganti rugi yang diajukan oleh Penggugat."
TOK! TOK! TOK!
Ketukan palu hakim sebanyak tiga kali itu terasa seperti hantaman petir yang meremukkan seluruh sendi kehidupan Hana. Keputusan hukum telah diketok. Hana resmi bercerai dari Adrian, namun ia harus keluar dari pernikahan itu sebagai pihak yang kalah mutlak—terusir, difitnah sebagai wanita tidak stabil, dan kehilangan seluruh harta warisan peninggalan almarhum ayahnya tanpa tersisa sepeser pun.
Hana menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangannya yang gemetar hebat. Isak tangis yang teramat pedih dan sunyi keluar dari tenggorokannya yang tersekat. Kehilangan bayi, kehilangan suami, dan kini kehilangan seluruh warisan harga dirinya... Penindasan ini terlalu nyata, terlalu kejam untuk ditanggung oleh seorang wanita seorang diri di pojokan ruang sidang yang dingin ini.
Di seberang ruangan, Adrian langsung memeluk Ibu Broto dengan wajah yang dipenuhi oleh kelegaan yang luar biasa. Ibu Broto menepuk-nepuk punggung anaknya dengan senyuman kemenangan yang melebar hingga ke telinga.
Sementara itu, Santi berdiri dari kursi penonton, melangkah perlahan mendekati meja Adrian dengan gaya yang sengaja dibuat meliuk-liuk anggun. Begitu ia melewati kursi Hana yang masih tertunduk menangis, Santi sengaja menghentikan langkah kakinya sejenak.
Santi membungkukkan tubuhnya sedikit, lalu berbisik dengan nada suara yang teramat tipis namun penuh dengan sengatan racun yang mematikan di dekat telinga Hana.
"Mbak Hana... terima kasih ya atas ruko dan nama restorannya. Santi janji... Santi akan menjaga Mas Adrian dan harta warisan ayah Mbak ini dengan sangat baik... Lebih baik Mbak Hana sekarang bersiap-siap mengemasi baju-baju bekas Mbak dari rumah kami, sebelum kami melemparnya ke tempat sampah luar."
Santi terkekeh pelan, sejenis kekehan iblis yang merayakan kemenangan di atas penderitaan orang lain, lalu melengos pergi sembari menggandeng lengan Adrian dengan mesra di depan mata semua orang. Hana hanya bisa memegangi dadanya yang terasa begitu sakit, menatap punggung ketiga pengkhianat itu dengan kegetiran yang telah mencapai batas puncaknya di dalam ruang sidang yang kini perlahan mulai sepi.