Bilawal Kenta Faaruq nama seorang anak lelaki tampan yang mempunyai arti lelaki yang selalu menjaga kehormatan, harga diri dan bijak dalam bertindak apapun nyatanya tidak sesuai dengan kenyataan.
Al biasa dia dipanggil oleh teman-temannya adalah seorang ketua Basis di sekolahannya. Tiada hari tanpa masalah yang menghiasi hari-harinya. Keluar masuk ruang BP dan kantor polisi selalu ia lakoni namun tak kunjung jua dikeluarkan dari sekolahnya karena keponakan dari kepala sekolah tempatnya belajar sekaligus papanya menjadi penyumbang utama di sana.
Suatu hari Al bertemu dengan Makaila yang tidak lain ketua OSIS yang terkenal galak.
Konflik terjadi antara mereka berdua sampai akhirnya Al menyukai Makaila dan menjadi cinta pertamanya. Segala cara Al lakukan agar Makalia menyukainya, sampai Makalia menjadi target musuh anak Basis Al.
Segala cara Al lakukan untuk melindunginya sampai nyawa menjadi taruhannya.
Hi jangan lupa follow akun IG snow_white97suga
Tik-tok. snowwhite19975
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Snow White, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Selamat Datang Di Kehidupan Bilawal
Makaila benar-benar menepati janjinya menemani Bilawal hari ini seharian, mulai menemani nonton meskipun ia sama sekali tidak suka genre filmnya yang ditonton.
Selama di dalam bioskop Makaila hanya bisa menahan napas panjang dan sedikit rasa takut karena yang mereka tonton adalah film thriller kesukaan Bilawal. Sesekali Makaila dibuat terkejut dengan adegan pertikaian yang mengerikan serta diiringi sound selalu membuatnya kaget.
"Udah selesai, kan? Jadi gue boleh pulang." Makaila mencoba untuk pergi selesai menonton karena menurutnya kesepakatannya sudah selesai.
"Enak aja, baru juga jam 4 sore, perjanjian seharian berarti sampai jam 8 malam."
"HAH! Enak aja sampe jam segitu!" Makaila memelototi Bilawal karena tidak setuju dengan perjanjiannya.
"Terserah." Kata terakhir Bilawal dengan cuek meninggalkan Makaila yang terdiam sendirian.
"Bilawal RESEK!" Teriak Makalia kesal membuat yang ada di sekitarnya menoleh keheranan.
Langka kaki Bilawal terhenti dan senyumnya penuh kemenangan karena berhasil membuat Makaila kesal. Ternyata mudah baginya untuk menaklukan Makaila tidak seperti yang dibayangkan.
"Udah marahnya? Gue laper."
"Bodo amat! Makan sendiri gue mau pulang!" Sungutnya dengan sinis dan jutek meninggalkan Bilawal begitu saja.
Baru saja Bilawal merasa senang karena bisa membuat Makaila menurut kepadanya, tapi nyatanya memang Makaila bukan tipe perempuan yang penurut dan sangat jutek sekali.
Sesaat Bilawal menghela napas sejenak lalu menyusul Makaila yang lebih dulu jalan di depan sana. Tanpa berpikir panjang Bilawal berjalan melewatinya sambil menarik tas Makaila dan menarik paksa agar ikut dengannya.
"Lepaskan gue!" Makaila sedikit meronta mencoba melepaskan tasnya yang ada di genggaman Bilawal.
"Nggak! Lo harus ikut gue makan, kalau nggak gue cium lo di sini juga!" Ancam Bilawal yang terus berjalan menarik tas Makaila secara paksa.
Deg, ancaman Bilawal membuat Makaila terdiam membisu sambil terus berjalan mengikuti langkah kakinya. Ia tidak bisa melawan karena Makaila tidak ingin mengambil resiko mempermalukan dirinya sendiri di depan umum.
Tatapannya begitu tajam dengan sikap dinginnya terus menatap Bilawal yang begitu lahap menikmati makanan pesanannya. Ramen adalah kesukaan Bilawal dan ia bisa menghabiskan banyak porsi ramen.
"Lo nggak mau makan?" tanya Bilawal yang melihat Makaila hanya terdiam dengan wajah dingin menatapnya sedari tadi tanpa menyentuh makannya.
"Nggak lapar, liat lo makan aja gue udah kenyang."
Bilawal berhenti mengunyah dan menatap Makaila begitu lekat, entah kenapa ia sangat menyukai tatapan sinis Makaila saat menatapnya meskipun sebenarnya itu buka tatapan suka melainkan rasa benci kepadanya.
"Oke. Jangan ngeluh lapar," kata terakhir Bilawal tidak memperdulikan dan melanjutkan makanya.
Sejurus kemudian Makaila pamit ke toilet dan diam-diam Bilawal mendekati tas Makaila yang disimpan di bangku, ia terlihat menggantungkan sesuatu di tasnya tanpa sepengetahuan Makaila.
Sebelum mengantarkan Makaila pulang ke rumahnya, Bilawal meminta izin untuk mampir ke suatu tempat yaitu area boxing miliknya yang sering dikunjungi Bilawal untuk berlatih setiap hari.
Bilawal mendapat kabar dari Fabio kalau salah satu temannya dipukul oleh Artama dan antek-anteknya. Setelah menempuh setengah jam perjalanan motor ninja berwarna hitam berhenti di depan ruko lantai dua yang lumayan besar.
Setelah memarkirkan secara sembarang dan menurunkan standar motornya langkah kaki Bilawal begitu lebar masuk ke dalam, ia lupa jika Makaila masih berada di atas motor ninja-nya.
Hanya tawa ringan dan keheranan saat Makaila melihat Bilawal meninggalkannya begitu saja dan meninggalkannya di atas motor. Dengan rasa dongkol ia menyusulnya masuk ke dalam arena boxing.
Sesampainya di dalam Makaila sedikit terkejut karena ada begitu banyak teman-temannya Bilawal, lebih tepatnya anggota BASIS-nya. Suara yang tadinya terdengar sangat ramai kini mendadak redup saat mereka menyadari kehadiran Makaila di sana.
Dirinya sedikit kikuk karena menjadi pusat perhatian temannya Bilawal, entah apa yang harus dilakukannya yang jelas Makaila sedang mencari sosok Bilawal yang meninggalkannya begitu saja.
Kedua bola mata Makaila menyapu isi ruangan yang sedikit besar dan terang, di sana ia melihat satu ring tinju berada tepat di tengah dan di sisi kanan dan kirinya banyak macam-macam barbel serta alat-alat gym yang sangat lengkap.
Ternyata di sini bukan hanya arena boxing saja tapi tempat Bilawal melatih fisik bersama temannya yang lain. Tidak ada yang Makaila kenal dari begitu banyak wajah di sana, hanya Bilawal yang ia kenal saja serta seseorang yang berada di samping temannya yang terluka.
Terdengar suara samar mereka berbicara begitu sangat serius sementara Makaila masih berjalan perlahan menghampiri Bilawal sambil matanya masih menyisir tempat itu.
"Gue pengen pulang." Suara Makaila terdengar sangat tidak nyaman berada di sana dan Bilawal menoleh ketika masih berbicara dengan Zein.
"Sebentar lagi gue antar," balas Bilawal yang sepertinya sangat serius berbicara dengan Zein.
Mau tidak mau akhirnya Makaila menunggu Bilawal dan mendengarkan cerita Zein yang bisa sampai dipukul seperti ini. Wajahnya banyak luka lebam dan bibir bagian atasnya berdarah.
Hati Makaila sedikit tidak tenang berada di sana karena merasa kurang nyaman, kenapa bisa Makaila berada di antara mereka semua. Apalagi kali ini mereka sedang terlibat pertikaian.
Banyak pertanyaan yang ingin sekali Makaila tahu tentang Bilawal, apakah dia juga akan seperti Zein yang setiap hari menjadi target musuh dan berkelahi sampai babak belur.
"Kita nggak bisa gini terus, menurut gue mereka udah keterlaluan dan kita harus balas, Al," ujar salah satu dari mereka yang menyarankan agar membalas dendam.
Spontan kedua bola mata Makaila membulat mendengarnya, apakah mereka akan tawuran. Sedari tadi Bilawal tidak melarang Makaila berada di sana jadi ia tahu cerita yang terjadi.
"Oke. Kasih tahu yang lain kita ketemu di jalan layang," titah Bilawal memberitahu rencananya.
"Lo mau kemana?" tanya Makaila spontan dengan wajah sedikit gelisah menatap Bilawal yang berdiri di sampingnya.
"Sorry, lo balik sama Zein, ya. Gue nggak bisa anter."
"Hah? Tapi lo mau kemana?" Makaila mengulangi pertanyannya dengan ekspresi sedikit gelisah dan ketakutan.
Belum sempat Bilawal menjawab terdengar suara langkah kaki yang terdengar begitu ramai sekali, seperti segerombolan yang memaksa masuk ke dalam ruangan tempat Bilawal.
"Selama malam semua!" Suara yang begitu berat dan membuat semua terlihat terkejut akan kedatangannya.
Beberapa orang datang menggunakan jaket varsity yang sama berwarna hitam dengan kombinasi putih di bagian lengannya saja. Dia adalah musuh bebuyutan Bilawal yang sudah menghajar Zein.
Deg, hati Makaila mencelos sangat ketakutan melihat wajah sangar dengan tatapan dingin serta senyum jahat terlukis di bibir mereka, seperti hendak menyantap makanan kesukaannya.
Bilawal masih terlihat sangat tenang dan semua yang tadinya berdiri menghadapnya mendadak memutar badan menoleh ke arah Artama. Teman-teman Bilawal merapatkan barisan mendekati leadernya, dan Bilawal secepat kilat menarik Makaila agar berdiri di belakangnya.
Ia mencoba menyembunyikan Makaila dari pandangan Artama dengan antek-anteknya, karena kalau sampai tahu semua akan kacau dan Makaila akan celaka.
"Maaf, gue udah bawa lo ke dalam masalah," bisik Bilawal menoleh ke arah Makaila yang ada di belakangnya.
Makaila hanya terdiam dan masih memperhatikan suasana yang begitu tegang, ia takut jika akan ada perkelahian hebat di sini.
"Zein, tolong bawa dia balik," pinta Bilawal dengan suara pelan kepada Zein dan lelaki berambut cepak hanya mengangguk ringan seraya masih menahan rasa sakitnya.
Tanpa banyak bicara Zein menarik tangan Makaila yang masih berada di belakang Bilawal tanpa sepengatahuan Artama dan antek-anteknya, ia segera berlari membawa Makaila ke parkiran belakang ruko.
Makaila masih panik dan ketakutan saat harus meninggalkan Bilawal, ada rasa gelisan apa yang akan terjadi di dalam sana membuat Makaila tidak ingin pergi.
"Kita harus pergi!" Zein menyuruh Makaila yang masih berdiri mematung untuk segera naik ke atas motornya.
"Tapi Bilawal gimana?"
"Dia nggak akan kenapa-kenapa, banyak temen gue di sana. Dan sekarang gue harus anter lo pulang kalau nggak nanti gue yang kena pukul Bilawal."
Entah pikiran Makaila begitu sangat kalut dan ketakutan, tapi di sisi lain juga ia tidak boleh berada di sini karena akan menimbulkan masalah baru. Terpaksa dengan berat hati Makaila menaiki motor yang dikendarai oleh Zein dan pergi dari sana.
Ia berharap tidak akan terjadi apa-apa kepada Bilawal, bukan tanpa alasan karena jika terjadi sesuatu pasti dirinya akan terseret lebih jauh karena ia juga ada di sana sebelum kejadian.