NovelToon NovelToon
Terjebak Di Kamar Presdir Kejam

Terjebak Di Kamar Presdir Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / CEO
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Maya sabir

Milly, seorang pelayan hotel yang polos dan akan berubah menjadi mimpi buruk. Saat membersihkan Penthouse mewah milik Arkananta Mahendra presdir muda yang terkenal kejam, perfeksionis, dan tak tersentuh ia justru menemukan sang Presdir tergeletak tak berdaya akibat racun, tepat di bawah ranjangnya.
Sialnya, Milly memegang gelas beracun itu tepat saat pengawal masuk. Dituduh sebagai pembunuh bayaran, Milly disekap oleh Arkan yang selamat dari masa kritis. Namun, alih-alih menyerahkannya ke polisi, Arkan yang paranoid terhadap musuh bisnisnya justru memanfaatkan kecerobohan Milly.
"Kau punya dua pilihan, Gadis Ceroboh. Membusuk di penjara atas tuduhan pembunuhan, atau menjadi istri kontrakku untuk memancing musuhku keluar."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya sabir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 23

Keesokan paginya, matahari baru saja memecah cakrawala saat Clarissa sudah duduk tegak di ruang kerja pribadinya. Sisa-sisa amarah semalam telah berganti menjadi ketenangan yang dingin dan penuh perhitungan. Di hadapannya, beberapa berkas mengenai latar belakang Millyanita dan panti asuhannya sudah tersusun rapi, hasil kerja kilat dari orang-orang suruhannya yang bergerak sejak subuh.

"Nona Clarissa," seorang pria berjas hitam, kepala informan keluarga Gunarto, membungkuk hormat. "Kami menemukan bahwa kontrak pernikahan mereka tidak terdaftar di sistem firma hukum utama Mahendra. Ini memperkuat dugaan bahwa ada perjanjian bawah tangan yang sifatnya sangat rahasia antara Arkananta dan gadis itu."

Clarissa menyunggingkan senyum sinis, jemarinya yang lentik mengetuk-ngetuk permukaan meja kaca. "Tentu saja. Arkan tidak sebodoh itu untuk melegalisasikan harta gono-gini dengan gadis panti. Mereka pasti punya titik lemah, dan panti asuhan itu adalah pusat semesta dari seorang Milly."

Sebelum ia sempat menyusun rencana lebih jauh, ponsel di atas mejanya bergetar. Nama 'Tante Sofia' berkedip di layar. Clarissa buru-buru mengubah raut wajahnya, memasang nada suara selembut dan seanggun mungkin sebelum menggeser tombol hijau.

"Halo, Tante Sofia? Selamat pagi," sapa Clarissa, berpura-pura tenang meski dadanya bergemuruh.

"Clarissa, sayang," suara Sofia Mahendra di seberang telepon terdengar masih menyisakan kejengkelan akibat kejadian semalam, namun penuh dengan intrik. "Tante tidak bisa tidur memikirkan kelancangan gadis itu. Eyang Ambar juga sangat murka. Kami tidak akan membiarkan Arkan dipermalukan lebih lama lagi di mata kolega bisnis kita."

Clarissa menarik napas dalam, memancing reaksi yang ia inginkan. "Saya juga sangat mencemaskan Arkan, Tante. Arkan pria yang hebat, tapi gadis itu... dia tidak tahu cara menjaga wibawa nama Mahendra. Sikapnya yang keras kepala bisa menghancurkan reputasi yang dibangun Eyang selama puluhan tahun."

"Benar! Karena itu, Tante dan Eyang sudah memutuskan," terdengar suara dengusan tajam dari Sofia. "Minggu depan ada perjamuan amal tahunan Mahendra Foundation. Seluruh keluarga elite dan pers akan hadir di sana. Tante akan memaksa Arkan membawa perempuan itu. Kita lihat, apakah dia bisa tetap bersikap sombong saat dihadapkan pada ujian tata krama tingkat tinggi, sendok perak, dan tatapan seratus pasang mata kelas atas."

Clarissa tersenyum lebar di balik telepon, matanya berkilat puas. "Itu ide yang sangat cemerlang, Tante. Dan jangan khawatir... saya pribadi yang akan memastikan malam itu menjadi malam yang paling tak terlupakan dalam hidup Milly."

Sementara badai konspirasi sedang dirancang di luar, suasana di dapur mansion Mahendra justru terasa sangat canggung namun menggelitik.

Milly, yang sudah rapi dengan kemeja flanel longgar dan rambut yang dicepol asal-asalan, berdiri di depan meja konter dapur dengan dahi berkerut dalam. Di hadapannya, Arkan baru saja turun dengan setelan kerja formalnya yang sempurna jas abu-abu gelap, dasi yang terikat rapi, dan aura intimidatif yang telah kembali sepenuhnya.

"Jam sembilan kurang lima menit, Nona Milly," ucap Arkan sembari melirik jam tangan Rolex-nya dengan gestur elegan. Ia duduk di kursi bar dapur, menatap Milly yang tampaknya masih kebingungan. "Bagaimana? Sudah menemukan panggilan yang tepat untukku?"

Milly memajukan bibirnya, meletakkan piring berisi roti panggang dengan sedikit hentakan kecil. "Saya sudah memikirkannya semalaman sampai kepala saya mau pecah, Tuan... eh, Arkan."

"Lanjutkan," sahut Arkan datar, namun matanya berkilat jenaka menanti jawaban.

"Kalau panggil 'Mas', rasanya aneh sekali, seperti di toko-toko kelontong dekat panti. Kalau panggil 'Abang', nanti dikira saya mau pesan bakso," gumam Milly polos sambil mengetuk dagunya dengan telunjuk. "Bagaimana kalau... 'Pak Suami' saja? Kedengarannya sangat formal tapi tetap... yah, sesuai kontrak."

Arkan yang baru saja menyesap kopi hitamnya seketika terbatuk kecil. Ia menatap Milly dengan pandangan tidak percaya. "Pak Suami?" Ulangnya, memastikan indra pendengarannya tidak salah tangkap.

"Iya! Kan formal tapi memperjelas status, jadi kalau di depan pelayan atau orang luar, mereka tahu kalau Tuan maksud saya, kamu adalah suami saya," jawab Milly mantap, merasa idenya sangat taktis dan brilian.

Arkan mengembus napas pendek, menggeleng-gelengkan kepalanya pasrah atas selera penamaan istrinya yang di luar nalar itu. Namun, sebelum ia sempat memprotes lebih jauh, ponsel di saku jasnya bergetar keras.

Ekspresi santai di wajah Arkan menguap dalam sekejap saat melihat nama ibunya yang tertera di layar. Ia mengangkat telepon itu, mendengarkan selama beberapa detik tanpa memotong sepatah kata pun. Guratan di dahinya perlahan mengeras, dan aura sedingin es kembali menguar dari tubuhnya.

"Baik. Kami akan datang," ucap Arkan pendek sebelum mematikan sambungan sepihak.

Milly yang menyadari perubahan atmosfer itu langsung terdiam. "Ada apa?"

Arkan memasukkan kembali ponselnya, lalu menatap Milly dengan tatapan dalam yang sarat akan keseriusan. "Ibuku baru saja menyampaikan pesan dari Eyang. Minggu depan, perjamuan amal resmi keluarga Mahendra akan diadakan. Dan mereka... secara khusus meminta kehadiranmu sebagai Nyonya Besar Mahendra yang baru."

Milly tertegun, genggamannya pada tepi konter dapur mengencang. Ia tahu, undangan ini bukanlah sebuah bentuk penerimaan, melainkan sebuah medan perang terbuka yang sengaja disiapkan untuk menjatuhkannya. Namun, melihat Arkan yang berdiri kokoh di hadapannya, jiwa keras kepala Milly perlahan kembali bangkit. Perang di lingkaran elite Jakarta telah resmi dimulai.

"Perjamuan amal?" Milly mengulang kata-kata itu dengan gumaman pelan setelah Arkan beranjak ke kantornya pagi itu.

Milly memandang pantulan dirinya di cermin koridor mansion. Selama ini, ia tidak pernah peduli dengan apa yang orang katakan tentang kemeja flanelnya yang kebesaran, rambutnya yang sering dicepol asal, atau cara jalannya yang sesekali tersandung karpet. Namun, mengingat tatapan merendahkan dari Sofia dan Nenek Ambar semalam serta senyum penuh kemenangan terselubung milik Clarissa ada sesuatu yang bergejolak di dalam dada Milly.

Aku tidak boleh membuat Arkan malu, batin Milly tegas.

Milly tahu betul, jika ia hancur di perjamuan itu, yang diserang bukan hanya harga dirinya, tetapi juga kredibilitas Arkan sebagai pemimpin Mahendra Group yang sudah membelanya mati-matian. Jiwa keras kepalanya yang tak kenal takut seketika beralih mode Mode Belajar Ekstrem.

"Bara!" panggil Milly lantang saat melihat asisten pribadi Arkan itu baru saja hendak memeriksa laporan keamanan di ruang depan.

Bara menoleh, membungkuk takzim. "Ya, Nyonya Besar?"

"Carikan saya mentor tata krama terbaik di kota ini. Yang paling galak, yang paling perfeksionis, yang tahu segalanya tentang sendok perak, urutan garpu, cara berjalan, hingga cara menatap balik sosialita ular tanpa berkedip," perintah Milly dengan binar mata bertekad bulat di balik kacamata bulatnya. "Kita punya waktu satu minggu, dan saya harus menguasainya."

Bara sempat tertegun melihat aura Milly yang mendadak berubah menjadi sangat taktis, mirip dengan sang Presdir jika sedang merencanakan akuisisi perusahaan. "Baik, Nyonya. Segera saya siapkan."

Mulai hari itu, mansion Mahendra berubah menjadi kamp pelatihan militer berkedok kelas bangsawan. Bara mendatangkan Madam Evelyn, seorang instruktur etiket keturunan ningrat yang terkenal bertangan besi.

"Punggung tegak, Nyonya Milly! Jangan biarkan dagu Anda merosot seolah Anda sedang mencari koin jatuh di lantai!" seru Madam Evelyn tegas sembari mengetukkan penggaris kayu ke meja makan.

Milly mendesah berat, menahan beban sebuah buku tebal yang diletakkan di atas kepalanya saat ia harus berjalan memutari ruang makan dengan gaun latihan yang panjang. Kakinya yang biasa memakai sandal jepit kini dipaksa berteman akrab dengan heels setinggi 9 cm. Dua kali ia hampir mencium lantai marmer, namun setiap kali ia goyah, bayangan wajah angkuh Clarissa langsung melintas di benaknya, membuat Milly kembali menegakkan tubuhnya dengan paksa.

"Lagi!" seru Milly keras kepala saat buku di kepalanya terjatuh untuk yang kesepuluh kalinya. "Kita coba lagi sampai saya bisa berjalan sambil memegang gelas tanpa tumpah setetes pun!"

Di sudut ruangan, diam-diam Arkan memperhatikan latihan keras istrinya dari balik pilar. Ada rasa hangat sekaligus tidak tega melihat jari-jari kaki Milly yang mulai memerah, namun ia juga tahu bahwa ini adalah perisai yang dibutuhkan Milly untuk menghadapi serigala-serigala bergaun sutra di luar sana.

Sementara Milly sibuk memeras keringat di mansion, di sebuah kafe privat di kawasan elite Menteng, Clarissa Gunarto sedang menyesap teh kamomilnya dengan senyum dingin. Di hadapannya, duduk seorang kepala pelayan senior yang mengenakan seragam Mahendra Foundation orang dalam yang berhasil dibeli oleh uang keluarga Gunarto.

"Semua persiapan sudah matang, Nona Clarissa," bisik pria itu sembari menyerahkan sebuah dokumen susunan acara perjamuan amal.

Clarissa membuka dokumen tersebut, matanya tertuju pada sesi live auction (lelang amal) dan pidato sambutan keluarga. "Bagus. Saat sesi lelang nanti, pastikan daftar barang yang harus dilelang oleh Millyanita ditukar dengan daftar barang palsu berharga rendah. Saya ingin dia berdiri di atas panggung, menyebutkan nominal yang salah, dan terlihat seperti orang bodoh yang tidak tahu nilai seni di depan ratusan kolektor internasional."

Clarissa menjeda kalimatnya, kilat korosif di matanya semakin pekat saat membayangkan kehancuran Milly. "Dan jangan lupa, pastikan pelayan yang menuangkan minuman di mejanya menyenggol gaunnya sebelum dia naik ke panggung. Kita lihat, bagaimana 'Nyonya Besar' pilihan Arkan itu mengatasi gaun yang kotor dan penghinaan di depan kamera jurnalis."

"Baik, Nona. Sesuai perintah Anda," jawab pelayan itu patuh.

Clarissa menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap jalanan Jakarta di luar jendela dengan tawa kecil yang sinis. “Nikmati waktu belajarmu, Milly. Karena di malam perjamuan nanti, aku sendiri yang akan memastikan upacara kelulusanmu berakhir di tempat sampah.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!