Jika tidak tahan dengan konflik tajam. Maka di larang keras masuk Novel ini..!!
Tidak peduli apapun profesiku, patah hati tetaplah meninggalkan rasa sakit begitu dalam. Aku pun memiliki hati. Tapi.. Pertemuan kala itu sudah mengalihkan duniaku dan mengubah hidup kita. Aku tidak pernah tau kesalahan itu menjadi masalah yang begitu besar.
Tak ada cinta yang mudah untuk di lalui, begitu pula rasa ini untukmu. Tak bisa ku jabarkan pula mengapa aku bisa menitipkan hatiku pada sosok yang bertolak belakang dengan hidupku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NaraY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Dua puluh lima detik.
"Diam.. nurut sama Abang..!!"
Netta tersentak mendengar bentakan Bang Yudha.
"Abang tau kamu marah dan kecewa, tapi marahmu tidak bisa menyelesaikan masalah. Cukup sudah yang terjadi di antara kita sampai anak harus jadi korban"
Netta menatap mata Bang Yudha.
"Sakit sekali tau kenyataan ini Bang"
"Abang juga menyimpan beban yang sama. Malah saat itu sudah ada benih Abang di rahim mu. Abang sudah hampir gila mikir kamu sama anak kita dek" Bang Yudha mengunci Netta sampai tidak bisa berkutik. Entah Netta sedang mengigau atau tidak, tatapannya sungguh terasa aneh.
"Lepaassss..!!!"
"Mana yang di lepas sayaang??" goda Bang Yudha yang tau Netta tak bisa berkutik. Hampir dua tahun Bang Yudha menahan rindunya untuk Netta. Hari ini rasanya ia tidak mampu lagi untuk menahan segala perasaan yang sungguh menyiksa.
Bang Yudha mendekatkan wajahnya pada Netta.
"Sungguh kamu tidak rindu belaian sayang dari Abang? Abang nggak mau di bandingkan sama si Rico itu. Masa bodo mau dia ngamuk atau tidak?"
"Jangan bawa-bawa Bang Rico...." nafas Netta sudah semakin sesak, tapi ucapnya itu langsung terbungkam bibir Bang Yudha. Hangat.. wangi.. tak pernah berbeda dengan yang dulu. Tak tau kenapa dirinya tak bisa menolak saat tangan Bang Yudha patroli menelusuri lekuk tubuhnya.
Entah siapa yang memulai, keduanya saling memberi rasa. De*ah hangat dari keduanya meluncur begitu saja.
...
Netta berkeringat dan tidur di udara dingin. Sedangkan Bang Yudha masih memercing merasakan lututnya yang rasanya mau terlepas.
"Haduuuhh.. Dasar perempuan. Bilangnya nggak.. ternyata...." Bang Yudha menjitak kecil kening Netta.
"Buat kopi enak nih.. dingin sekali" Bang Yudha berlari kecil ke garasi menahan dingin mengambil kopi di bagasi mobil. Sebelum bertemu Netta, memang dirinya sempat belanja beberapa kebutuhan. Ia lebih senang memasak sendiri karena lidahnya kurang cocok dengan masakan luar negeri.
:
"Akhirnya terpakai disini barang-barang ini" gumamnya sambil memasak makan malam. Bang Yudha melongok melihat Netta masih tertidur dalam selimut tiga lapis yang tebal tanpa mengenakan apapun. Bang Yudha menuang makanan tersebut dalam dua piring.
Netta menggeliat dan menunjukan tubuhnya yang putih mulus. Bang Yudha segera masuk ke dalam kamar dan menutupi tubuh Netta.
"So sexy sayang. Lama nggak bertemu.. kamu semakin mengkhawatirkan saja. Klepek-klepek Abang lihat gayamu." gumam Bang Yudha.
"Kenapa kita harus bertemu dengan cara seperti ini?" Bang Yudha membelai rambut Netta.
"Bang Yudhaaa" Netta meracau memanggil nama Bang Yudha.
"Kalau memang ada Abang.. kenapa bisa ada Lingga?" Bang Yudha menunduk mengusap dadanya yang terasa tak karuan.
:
"Puas Abang mencari keuntungan????" tanya Netta dengan ketus.
"Memangnya kamu nggak mau??"
"Nggak.. Abang yang paksa" jawab Netta.
"Oke.. Abang yang salah sampai kamu minta lagi"
Netta memalingkan wajahnya yang bersemu merah. Netta menyeruput kopinya menghilangkan rasa gugup dalam dada.
"Sejak awal Abang menangani kasus Papa.. sungguh tidak pernah berniat menghilangkan nyawa siapapun. Mama menyongsong peluru peringatan yang Abang lepaskan ke samping lahan kosong"
"Nggak mungkin.. Abang pasti mengancam." sergah Netta.
"Abang masih punya perasaan. Nyawa itu mahal harganya. Siapa lah Abang ini.. tidak berhak Abang mencabut nyawa manusia padahal Allah meniupkan ruh untuk memberi kita kehidupan"
Netta terdiam meresapi setiap kata dari suaminya yang penyayang.
"Kenapa kamu nggak pertahankan anak kita?" tanya Bang Yudha.
"Jangan pernah kamu membenci dia. Abang yang salah sudah membuatmu mengandungnya. Limpahkan semua salah itu sama Abang. Abang lebih terima daripada kamu menghilangkan anak kita"
Netta menendangkan kakinya menghantam tulang kering Bang Yudha.
"Aaawwhh..!!" pekik Bang Yudha.
Sesaat kemudian Netta berdiri dan menendang lagi, Bang Yudha terperanjat menghindari serangan Netta yang membabi buta.
"Netta benci Abang.. kenapa takdir harus pertemukan kita kalau sesulit ini untuk di jalani??"
Netta terus menghajar Bang Yudha dan tak ada balasan dari pria itu hingga Netta lelah sampai akhirnya menangis kencang di dada Bang Yudha.
"Menangis lah.. sampai hatimu terasa lega..!!" Bang Wira membelai sayang punggung Netta kemudian sedikit mengangkat dagu dan sedikit mengecupnya. Bang Yudha mengangkat Netta dan membawanya ke dalam kamar.
Rasa tidak terima pada kenyataan bahwa Netta telah memiliki seorang putra dengan wanita lain membuat jiwanya sebagai seorang pria tertantang.
...
dddrrttt.. dddrrttt.. ddrrrtttt...
Bang Yudha melirik ponsel Netta.. ada nama Bang Rico disana.
"Aseemm.. opo sih????" rasanya Bang Yudha ingin sekali membanting ponsel Netta.
"Bang Yuuddhh.." rengek Netta saat Bang Yudha merenggangkan tangannya.
"Hhsstt.. Abang disini. Kenapa?" Bang Yudha berniat menyingkirkan ponsel Netta, tapi apa daya.. tingkah nakal Netta di luar dugaan mbuat Bang Yudha kalang kabut.
"Aaaww" pekik nakal Netta semakin mengganggu jalan kerja pikiran Bang Yudha.
:
Bang Rico mendengar suara 'aneh' di balik ponselnya. Terdengar suara Netta yang tak pernah ia dengar manjanya sekalipun.
"Astagfirullah.. dia terjebak badai salju. Tapi kenapa begini suaranya?? Apa Netta masih berdua sama Bang Yudha disana?" gumam Bang Rico.
Di dua puluh lima detik panggilan telepon itu ia mematikan ponselnya.
"Aku nggak ingin suudzon.. aku sangat mencintai Netta. Mana mungkin dia mengulang kesalahan yang sama untuk kedua kali"
.
.
.
.
mba Nara "pot" itu apa sih...apa sebutan utk sahabat atau apa...tlng jwb dong