NovelToon NovelToon
Aversion To You

Aversion To You

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / Dark Romance / Cintapertama
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Pernikahan Aurora dengan Jonathan Carser—menjadi neraka saat ia menjadi korban pengkhianatan dan manipulasi.

Puncaknya, ia dipaksa menghadapi keraguan sang suami atas bayi laki-laki nya yang terlahir dengan paras begitu mirip dengan mantan kekasih masa lalunya, Braxley Valerio-Desmon.

Ketika kebenaran mulai terkuak dan Jonathan semakin brutal meluapkan amarahnya, Siapkah Aurora menghadapi kenyataan pahit, menerima kebenaran?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

030

Suasana megah dan hangat menyelimuti ruang keluarga utama di Mansion Valerio-Desmon malam itu.

Cahaya lampu kristal memantul indah di atas lantai marmer, sementara aroma kayu cendana yang menenangkan menyeruak di setiap sudut ruangan. Namun, kemewahan itu bertolak belakang dengan drama kecil yang sedang berlangsung di tengah ruangan.

"Pokoknya Mommy tidak kasih izin kamu keluar, apalagi menginap di luar mansion malam ini! Sekali tidak, tetap tidak!" tegas Aurora Desmon. Wanita anggun itu melipat kedua tangannya di dada, menatap putra sulungnya dengan pandangan tidak bisa diganggu gugat dari atas sofa kulit.

Draco Valerio-Desmon, pria yang di kampus dikenal sangat dingin, arogan, dan ditakuti bagai iblis tak tersentuh, kini sedang berlutut di lantai berlapis karpet tebal. Ia memeluk kedua lutut sang ibunda dengan raut wajah bertekad yang dibuat-buat pasrah.

"Please, Mom... Draco janji tidak bakal minum alkohol apalagi mabuk," bujuk Draco dengan nada memohon yang sangat jarang terdengar. "Teman-temanku sudah menunggu. Kami hanya akan belajar—"

"Mommy tidak percaya," potong Aurora cepat tanpa keraguan sedikit pun. Ia sangat paham tabiat teman-teman putranya jika sudah berkumpul di luar.

Di sofa seberang, Celestia—adik perempuan Draco—sedang bersandar santai sembari menahan tawanya. Melihat sang kakak yang biasanya bersikap bagaikan raja di luar rumah kini berlutut memohon pada ibunya adalah pemandangan paling menghibur minggu ini.

"Kau benar-benar tragis, Draco," celetuk Celestia dengan nada menyebalkan dan senyum mengejek yang terkembang lebar.

Draco menoleh tajam, menatap adiknya dengan tatapan jengkel. Tanpa membuang waktu, jemarinya meraih segenggam kulit kacang dari piring kecil di atas meja, lalu melemparnya tepat ke arah wajah Celestia.

Puk!

Kulit kacang itu mengenai dahi adiknya.

"Kau benar-benar ikut campur!" sungut Draco kesal. "Aku akan memohon pada Daddy untuk kepindahanmu ke asrama kampus agar kau mandiri di sana. Awas kau, ya!"

Celestia bukannya takut, ia justru menjulurkan lidahnya mengejek.

"Wlee! Coba saja kalau bisa!"

Gadis muda itu kemudian membetulkan posisi duduknya, berbalik menatap Aurora dengan raut wajah bersungguh-sungguh.

"Lagipula ya, Mom... kekasihnya di kampus itu sangat sombong! Dia bahkan tidak pernah menyapaku tiap kali kami berpapasan di area parkiran. Hih, calon menantu macam apa itu!"

Mendengar ocehan adiknya, Draco hanya menggelengkan kepalanya perlahan. Dalam hatinya, ia tahu betul siapa yang sedang dimaksud oleh Celestia.

Adiknya tentu merujuk pada Bianca—gadis dengan riasan tebal yang selama ini dikenal publik sebagai kekasih resminya. Namun, pikiran Draco saat ini sama sekali tidak tertuju pada Bianca. Bayangan wajah mahasiswi beasiswa yang galak, polos, dan penuh kepasrahan yang kini berada dalam cengkeraman-nya lah yang terlintas di benaknya.

"Tidak, Mom," potong Draco tenang, memperbaiki posisi duduknya. "Kekasihku sangat baik. Dia cantik... dan cukup manis."

Ucapan itu meluncur begitu halus dari bibir Draco.

Aurora yang mendengarnya tersenyum tipis, mengira sang putra sedang membela Bianca. Celestia mendengus geli, menganggap Draco sudah dibutakan oleh cinta.

Tidak ada satu orang pun di ruangan itu yang menyadari bahwa kata 'kekasihku' yang diucapkan Draco merujuk pada Lynzzie—gadis yang benar-benar ia anggap sebagai miliknya.

Aurora menghela napas panjang, melunakkan tatapannya melihat kegigihan putra sulungnya. "Baiklah. Kalau memang kalian ingin belajar bersama, ajak saja pacarmu kemari. Daddy-mu tidak pulang hari ini karena ada urusan bisnis di luar kota, jadi kau bebas membawa kekasihmu ke mansion. Agar dia juga bisa lebih akrab dengan adikmu."

"NO!!!" jerit Celestia spontan dengan mata membelalak lebar. "Aku tidak akan pernah bisa akrab dengannya! Dia senior yang sombong, dan jangan lupakan make-up tebalnya itu! Entah apa yang dilihatnya..." Celestia menunjuk Draco dengan telunjuknya. "...sampai dia mau memacari gadis seperti itu!"

Draco menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan arti tersembunyi. Bayangan Lynzzie yang selalu tampil polos tanpa riasan tebal, namun memiliki kecerdasan otak yang luar biasa, membuat dadanya berdesir hangat.

"Kau akan iri kalau aku membawanya ke mansion," balas Draco santai dengan nada percaya diri yang tinggi. "Kau pasti akan sangat iri pada kepintarannya. Lihat saja nanti."

"Pfhhhhhh....! Iri?" Celestia tertawa mengejek, melempar bantal sofa kecil ke arah Draco. "Halah, Kakak banyak alasan! Dia itu hanya jago berjalan lenggang-lenggok di catwalk kampus! Mau belajar bersama apa coba?"

Draco tidak membalas lagi dengan kata-kata. Sebuah senyuman miring yang penuh kemenangan terukir di wajah tampannya. Rencana baru tiba-tiba tersusun dengan sangat rapi di dalam kepalanya.

Jika sang ibu menyuruhnya membawa kekasihnya ke rumah untuk belajar bersama, maka ia punya alasan yang sangat sah dan tak terbantahkan untuk menyeret Lynzzie masuk ke dalam wilayah pribadinya malam ini.

Draco bangkit berdiri dari posisinya. Dengan gerakan cepat dan langkah kaki yang ringan, ia berlari kecil menuju sofa tempat adiknya duduk. Sebelum Celestia sempat menghindar, Draco langsung menghamburkan rambut panjang adiknya yang tertata rapi hingga menjadi berantakan secara acak.

"Ahhh! Rambutku rusak, Draco! Mommy, lihat Kakak!" jerit Celestia histeris sembari menepis tangan Draco yang tertawa puas.

"Terima kasih izinnya, Mom!" seru Draco santai sambil melangkah mundur dan memutar tubuhnya menuju tangga utama.

Di dalam saku celananya, jemari Draco sudah meraba ponsel pintarnya. Ia menaiki anak tangga satu per satu dengan senyum tipis yang dingin dan penuh dominasi. Sang pangeran Desmon telah mendapatkan panggung barunya, dan malam ini, Lynzzie tidak akan punya jalan untuk melarikan diri dari cengkeramannya.

Draco melangkah menaiki tangga melingkar menuju lantai dua mansion, meninggalkan suara teriakan kekesalan Celestia dan tawa halus ibunya di ruang keluarga.

Setelah pintu kamar mewahnya yang bernuansa gelap dan luas tertutup rapat, meredam seluruh kebisingan luar, helaan napas panjang lolos dari bibirnya.

Karena tidak diizinkan keluar rumah malam ini, Draco merebahkan tubuh tingginya di atas ranjang king-size. Kamar itu terasa begitu sepi dan dingin bagi sang pangeran Desmon.

Jemari panjangnya merogoh ponsel di dalam saku, menggeser layar, dan langsung menekan ikon panggilan video ke satu-satunya nomor yang selalu menghiasi daftar panggilan teratasnya.

***

Di sudut penthouse, ponsel Lynzzie berdering nyaring. Melihat nama 'Draco' berkedip di layar, gadis itu hanya bisa mendesah pasrah sebelum akhirnya menggeser tombol hijau dan meletakkan ponselnya bersandar pada tumpukan buku tebal di meja belajar.

Layar ponsel menyala, menampilkan wajah Draco yang setengah terbaring di ranjangnya dengan tatapan lurus dan tenang.

"Sayang, kau sedang apa?" tanya Draco dengan suara datar, tanpa senyum, namun dengan nada memiliki yang amat kental.

Di seberang layar, Lynzzie yang sedang memegang pulpen langsung menghentikan gerakannya. Wajahnya secara otomatis memperlihatkan ekspresi berpura-pura hendak muntah, menatap layar dengan tatapan sangat malas.

"Sayang?" gumam Lynzzie sinis. "Bukankah kemarin panggilanmu 'Baby'? Huh, kurasa esok aku akan dipanggil 'Ghost Woman'."

Draco terkekeh pelan dari balik layar, suara tawa rendahnya bergema halus di dalam kamarnya yang sepi. "Jangan merajuk. Aku menelpon karena ada hal penting."

"Apa lagi?" tanya Lynzzie ketus, kembali mencoret-coret kertas catatannya. "Kalau kau mau menyuruhku melakukan hal aneh-aneh lewat panggilan video, aku akan langsung mematikannya."

"Datanglah ke mansion ku malam ini. Kita akan belajar bersama," ujar Draco langsung pada intinya, tanpa basa-basi sedikit pun.

Gerakan tangan Lynzzie seketika membeku. Matanya membelalak menatap wajah Draco di layar ponsel.

Selama satu tahun penuh ia terikat dalam hubungan terselubung dan penuh paksaan ini, Draco selalu datang ke penthouse, membawa nya ke hotel mewah, atau area tersembunyi kampus.

Ini adalah pertama kalinya pria itu mengajak Lynzzie melangkah masuk ke dalam area paling privat dan sakral dalam hidupnya: mansion kediaman utama keluarga Valerio-Desmon.

"Tidak! Aku takut!" tolak Lynzzie cepat dengan nada panik yang tak bisa disembunyikan.

Draco mengernyitkan alisnya tipis, menatap respons Lynzzie dengan pandangan menelisik.

"Ada aku. Untuk apa kau takut? Aku tidak mungkin mengajakmu bercinta di sini. Banyak pelayan dan CCTV milik Daddy di setiap sudut."

"Tidak! Itu pasti hanya alasanmu!" sembur Lynzzie, menggelengkan kepalanya tegas. "Aku tahu betul bagaimana otaknya bekerja, Draco. Kau pasti punya rencana gila lain. Lagi pula, untuk apa aku ke sana? Keluarga Terhormat seperti kalian tidak seharusnya dimasuki oleh orang sepertiku!"

"Mommy yang memintanya," potong Draco tenang, melemparkan alasan yang paling ampuh. "Dia ingin aku membawa 'kekasihku' untuk belajar bersama di rumah malam ini karena aku dilarang keluar. Kalau kau tidak datang, aku bisa saja menyuruh sopirku menjemputmu secara paksa, atau..."

Draco menggantung kalimatnya, menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan ancaman. "...aku akan mengirimkan rekaman tadi pagi ke grup angkatan kita."

Lynzzie mengepalkan tangannya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa geram dan tidak berdaya kembali menguasai dadanya. Pria ini memang selalu tahu tombol mana yang harus ditekan untuk melumpuhkannya.

"Kau benar-benar iblis, Draco," bisik Lynzzie dengan napas memburu.

"Aku menganggap itu sebagai pujian, Sayang," balas Draco santai, lalu membetulkan posisi duduknya di ranjang. "Mobil jemputan sudah meluncur ke penthouse-mu. Bersiaplah. Pakai pakaian yang sopan dan rapikan bukumu. Kita benar-benar akan belajar."

Sebelum Lynzzie sempat melontarkan umpatan balasan, Draco sudah lebih dulu memutus panggilan video tersebut secara sepihak.

Draco meletakkan ponselnya di atas meja nakas, bersandar pada kepala ranjang sembari memandangi langit-langit kamarnya. Sebuah senyuman tipis dan penuh intrik terukir di bibirnya.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Mohon dukungannya untuk meninggalkan Komentar kalo suka cerita ini ya kak reader 🌷

1
Astrid Kucrit
lyn,cuma kamu yang draco inginkan
Rosdianah 🌷: ma'aciww komentar nya kak🙏🏻
total 1 replies
Siti Kamisah Hasnul
Linzy ternyata anak Jonathan...wahhhhh...kacau ini
Rosdianah 🌷: jangan kacau dulu kak🤭
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
gak nyangka udah di tahap baca ceritanya anaknya AJ brarti si braxley ini cucunya vexana sama landon 🤣
Rosdianah 🌷: hehe iya kak, kembarannya Braxton disebelah kak🤭
total 1 replies
Mia Camelia
jonathan harus di kasih pelajaran tambahan nih 🤣🤣🤣tuh orang gak ada takut nya
😔
Rosdianah 🌷: Wajib digoyeng 🤣🤭
total 1 replies
Ainun Mahya
nggk up nih kak?
Rosdianah 🌷: huhu besok author Double Up 🫶🙏🏻
total 1 replies
Ainun Mahya
vote meluncur🤭🤭
Rosdianah 🌷: uhuy ma'aciww kak🫶
total 1 replies
Mia Camelia
widieww....braxley tipe2 blackflag banget gak sih🤔🤣😂
Rosdianah 🌷: wkwkw🤭
total 1 replies
Mia Camelia
selamat thor udah meluncur karya baru lagi🥳🥳🥳
makin prokdutif banget thor bulan ini udh baru lgi muncul🥳
Rosdianah 🌷: Huhu🫶 Ma'aciww kak, Dan ma'aciww juga asas setiap Jejak Nya selama ini. semoga cerita nya. happy reading 🥰
total 1 replies
Hennyy exo
wow karya mu emang bagus thor
Rosdianah 🌷: ma'aciw kak🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!