NovelToon NovelToon
Fake Lines

Fake Lines

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / Penyesalan Suami / Angst
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di bawah pendar lampu Los Angeles, hidup Lux Victoria hancur dalam semalam. Maksud hati hanya memeriksa kesehatan, hasil tes justru menyatakan dirinya hamil. Padahal, Lux bersumpah belum pernah tersentuh pria mana pun.

Demi membuktikan kebenarannya, Lux Nekat membeli tes Kehamilan di larut malam.

Takdir konyol justru mempertemukannya dengan Braxton Valerio Desmon, putra kedua dari pengusaha kaya keluarga Desmon.

Demi memenangkan taruhan konyol bersama teman-temannya, Braxton nekat mencium Lux di depan apotek.

Sial bagi mereka, keluarga Lux yang menguntitnya mendapati situasi tersebut dan salah paham.

Kejadian beruntun itu menyeret Lux dan Braxton ke dalam jerat kesalahpahaman, di mana pernikahan paksa menjadi satu-satunya jalan keluar yang disiapkan kedua orang tua Lux.

Happy reading 🌷🦋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

##6

Suara desis minyak panas beradu dengan bahan makanan memecah heningnya pagi di dalam Penthouse. Aroma gurih dari irisan daging asap dan telur yang sedang digoreng mendadak memenuhi area dapur terbuka bernuansa marmer hitam tersebut.

Lux berdiri di depan kompor listrik, memegang spatula kayu dengan satu tangan, sementara tangan lainnya sesekali menguncir rambut panjangnya yang sedikit berantakan.

Namun, penampilan Lux pagi itu sama sekali jauh dari kata lazim untuk seseorang yang tinggal bersama orang asing—atau lebih tepatnya, pria yang baru resmi menjadi suaminya kemarin malam.

Gadis itu hanya mengenakan crop tank top bertali kain amat tipis—sejenis baju tidur bertali satu jari yang biasa ia gunakan saat menyendiri di dalam kamarnya—dan sepotong panties atau celana dalam biasa tanpa lapisan celana luar sama sekali.

Paha mulusnya terekspos sepenuhnya, memanjang bebas tanpa canggung. Tato artistik berukir rumit yang menghiasi lengan, bahu, hingga menjalar halus ke tulang selangka dan pinggulnya terpampang nyata di bawah pendar lampu gantung dapur.

Lux bukan sedang berniat menggoda Braxton. Sama sekali tidak. Bagi gadis yang tumbuh di tengah kebebasan kota Los Angeles ini, sifatnya memang pada dasarnya acuh tak acuh, berani, dan tidak peduli pada aturan sosial konvensional.

Namun pagi ini, ada motivasi tambahan di balik aksinya: amarah yang membakar.

Lux tidak terima Braxton menolak mentah-mentah permintaannya untuk merahasiakan pernikahan mereka di kampus nanti. Karena Braxton bersikeras tidak ingin menyembunyikan status mereka, Lux memutuskan untuk memperlihatkan seluruh 'keburukan', keliaran, dan kebiasaan tanpa kompromi yang dimilikinya mulai hari ini.

Ia ingin membuat Braxton merasa tidak nyaman, risih, dan menyesal setengah mati karena telah mempertahankan ikatan konyol ini.

Di dalam kamar tidur sebelah kiri, Braxton baru saja selesai mengancingkan kemeja santainya dan merapikan sisa-sisa pakaian dari koper ke dalam lemari.

Mendengar suara gaduh dari arah dapur, ia menggeser pintu kamar untuk keluar, berniat mengambil segelas air hangat.

Namun, baru dua langkah Braxton melintasi koridor utama—

Langkah kakinya mendadak terhenti total.

Kedua matanya membelalak lebar, matanya memaku pada sosok wanita yang sedang santai membalikkan telur di depan kompor.

Braxton melongo tak percaya dengan pemandangan yang tersaji di depan matanya. Tenggorokannya mendadak mengering seketika, otaknya memproses pemandangan liar itu dengan kejutan yang luar biasa.

"Apa maksudmu berpakaian seperti itu di dalam rumah, Lux?!" seru Braxton, suaranya meninggi dipenuhi rasa syok yang tak tertahankan.

Lux tidak berbalik. Ia hanya melirik Braxton dari sudut matanya dengan raut wajah acuh tak acuh, lalu kembali fokus menata piring.

"Kenapa?" tanya Lux santai, intonasinya terdengar begitu polos namun kentara sekali menantang.

Braxton memegang pelipisnya, melangkah cepat mendekati batas area dapur namun tetap menahan dirinya di jarak aman.

Pandangannya bergerak liar, berusaha keras mengalihkan fokus dari paha mulus dan lekuk tubuh istrinya yang hanya tertutup selembar celana dalam tipis tersebut.

"Kau bertanya kenapa?!" Braxton menghembuskan napas keras, suaranya bergetar menahan gejolak emosi dan rasa canggung yang luar biasa. "Kau tinggal bersama seorang pria di sini, Lux! Dan kau berkeliaran di dapur hanya mengenakan pakaian dalam?!"

Lux mematikan kompor listrik. Ia memutar tubuhnya perlahan, menyandarkan pinggulnya pada tepi konter dapur. Ia melipat kedua tangannya di bawah dada—sebuah gestur yang justru membuat penampilannya semakin terbuka—dan menatap Braxton dengan senyum miring yang penuh ejekan.

"Katakan saja kalau kau hanya pria mesum yang akan berdiri hanya karena melihatku seperti ini," tembak Lux dengan nada bicara yang amat tajam dan dingin. "Murahan!"

Mendengar kata 'mesum' dan 'murahan' meluncur mulus dari bibir Lux, Braxton tiba-tiba mengusap wajahnya dengan kasar menggunakan kedua telapak tangannya. Pria narsis itu menggeram frustrasi, mengusap tengkuknya yang terasa panas.

"Kau gila?!" seru Braxton, menatap Lux dengan pandangan tak percaya. "Aku bukan gay, Lux! Dan aku pria normal! Bagaimana mungkin aku tidak keberatan dengan cara pakaianmu yang seperti itu?! Bisakah pakaian seperti itu kau gunakan hanya di dalam kamar?!"

Lux terkekeh hambar, sama sekali tidak merasa bersalah atau risih. Ia mengangkat bahunya dengan gaya meremehkan.

"Tidak," jawab Lux pendek dan tegas. "Ini Penthouse-ku juga. Dan aku bebas ke mana pun yang kumau di dalam ruangan ini dengan pakaian apa pun yang kubutuhkan."

Lux melangkah mendekati meja makan dengan santai, mengabaikan fakta bahwa setiap gerakannya memamerkan tatonya dan kulit mulusnya secara terang-terangan di depan Braxton.

"Harusnya kau jangan terlalu birahi," lanjut Lux dengan nada mengajari yang amat menjengkelkan. "Masa hanya melihat seperti ini saja kau sudah panik setengah mati? Di pantai LA, semua orang melihat wanita berpakaian seperti ini setiap hari. Kau saja yang berlebihan."

"Ini bukan pantai Sunset Boulevard, Lux! Ini dalam rumah!" tegas Braxton, giginya mengatup rapat.

Sabar Braxton yang biasanya setebal baja mendadak runtuh sepenuhnya menghadapi kelakuan gila dan sifat pemberontak wanita di depannya ini. Tanpa berpikir panjang, Braxton menyambar jaket bomber tebal milik dirinya sendiri yang tergeletak di atas sofa ruang tamu.

SRET! BUGH!

Dengan satu lemparan yang cukup keras dan presisi, Braxton melempar jaket tebal itu tepat ke arah dada Lux.

"Pakai itu!" perintah Braxton dengan suara berat, mengintimidasi. "Dan jangan berkeliaran seperti itu lagi di depanku!"

Lux menyambar jaket tebal yang kini menutupi bagian depan tubuhnya. Matanya berkilat marah. Ia melempar kembali jaket itu ke atas konter dapur dengan hempasan kasar.

"Kau siapa mengaturku?!" tanya Lux dengan nada menantang, matanya menancap tajam ke sepasang mata cokelat Braxton.

Braxton melangkah maju dua tindak, memangkas jarak di antara mereka hingga aura dominannya melingkupi area dapur tersebut. Ia menatap Lux dari atas ke bawah tanpa ragu.

"Kau lupa?" bisik Braxton, suaranya penuh penekanan yang tak bisa diganggu gugat. "Aku suamimu."

"Suami di atas kertas!" potong Lux cepat, suaranya melengking. "Kau tidak punya hak atas tubuhku, atas apa yang kupakai, atau bagaimana aku berperilaku di dalam Penthouse ini!"

"Aku memang tidak punya hak atas tubuhmu, tapi aku punya hak untuk tidak disiksa oleh pemandangan gila seperti ini setiap pagi!" balas Braxton tak mau kalah. "Kita buat garis batasan yang jelas jika kau memang ingin bermain dengan aturan!"

"Bagus! Mari kita bicarakan garis batasan itu!" Lux menunjuk lantai di antara mereka. "Garis batasannya adalah: kau urus dirimu sendiri, dan aku urus diriku sendiri! Kau dilarang mengomentari pakaianku, atau cara hidupku. Jika kau merasa terganggu, kau yang harus menundukkan pandanganmu atau masuk ke dalam kamarmu sendiri!"

Braxton tertawa sinis, menggeleng-gelengkan kepalanya. "Logikamu benar-benar bengkok, Lux. Kau yang memancing konflik dengan berpakaian kurang bahan di area bersama, tapi kau yang menyuruhku bersembunyi di kamar?"

"Karena aku tidak pernah memintamu berada di sini!" sembur Lux penuh penekanan. "Kau yang memilih untuk mengiyakan kebohongan ayahku dan ikut terseret ke dalam Penthouse ini! Jadi tanggung akibatnya!"

Debat panas itu menggema di seluruh sudut Penthouse yang luas, menciptakan ketegangan mendidih yang membakar udara di antara mereka.

Braxton mengepalkan tangannya di samping paha, bernapas berat menahan amarah yang bercampur dengan rasa canggung yang amat sangat.

Menyadari bahwa berdebat dengan wanita sekeras batu seperti Lux tidak akan membawa hasil, Braxton akhirnya mendengus keras.

"Terserah padamu, Gadis Gila," desis Braxton dingin. "Tapi jangan salahkan aku jika suatu saat pertahanan diriku hilang karena ulah konyolmu sendiri."

Braxton berbalik secara mendadak, melangkah lebar-lebar menuju kamarnya dan memukul pintu kayu itu hingga tertutup rapat.

Brak!

Lux berdiri sendirian di dapur, napasnya memburu cepat. Kemenangan kecil dalam perdebatan tadi tidak membuat amarahnya mereda, melainkan semakin menyulut rasa frustrasi di dadanya. Ia menatap makanan di atas piring dengan pandangan benci, lalu menyambar garpu dan mulai makan dalam keheningan yang tegang.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Sepuluh menit berlalu. Lux menyelesaikan sarapannya dengan cepat. Rasa kenyang di perutnya sama sekali tidak mampu menenangkan pikirannya yang terus berputar liar.

Sifat curiga dan dendamnya pada Braxton masih membumbung tinggi. Pikiran-pikiran aneh mulai merayapi otaknya. Pria itu baru saja dari kamar dan membereskan pakaiannya.

Mengingat sifat Braxton yang narsis, jahil, dan lancang—seperti ciuman paksa di apotek—Lux mendadak diserang oleh kecemasan konyol namun membakar.

Bagaimana jika pria brengsek itu menyembunyikan sesuatu? Bagaimana jika dia sengaja mengerjaiku saat aku sedang memasak tadi? pikir Lux, logikanya mulai terdistorsi oleh amarah murni.

Dengan langkah kaki telanjang yang mantap—masih hanya mengenakan crop tank top tipis dan celana dalam—Lux melangkah lebar-lebar melintasi koridor. Tanpa mengetuk pintu atau memberikan peringatan sedikit pun, Lux mendorong pintu kamar Braxton hingga terbuka lebar.

Brak!

Braxton yang sedang duduk di tepi tempat tidur sambil menatap layar ponselnya terlonjak kaget. Ia mendongak mendadak, matanya kembali melebar saat melihat Lux berdiri di ambang pintu dengan penampilan yang masih sama liarnya.

"Apa lagi sekarang, Lux?!" tanya Braxton, suaranya dipenuhi rasa lelah dan jengkel yang amat sangat. "Kau belum puas membuatku darah tinggi?"

Lux tidak menjawab. Dengan pandangan mata yang liar dan penuh tuduhan, ia melangkah masuk ke dalam kamar Braxton, mengabaikan sama sekali aturan batas wilayah yang ia buat sendiri tadi pagi.

Gadis itu berjalan lurus menuju lemari pakaian kayu walnut milik Braxton, lalu menarik pintunya hingga terbuka lebar.

Braxton melompat dari tempat tidur, berdiri mematung memperhatikan tingkah gila istrinya. "Hei! Apa yang sedang kau lakukan?! Itu lemariku!"

Lux mulai mengaduk-aduk tumpukan kemeja dan celana yang baru saja dirapikan Braxton dengan kasar. Tangannya bergerak cepat memeriksa sudut-sudut lemari, melongok ke dalam laci bagian bawah, dan memindahkan tumpukan pakaian dalam milik Braxton dengan tak sabar.

"Lux! Kau gila, hah?!" seru Braxton, melangkah mendekat dan mencoba menahan lengan Lux. "Apa yang kau cari di dalam lemariku?!"

Lux menepis tangan Braxton dengan kasar, membalikkan tubuhnya dan menatap Braxton dengan pandangan penuh selidik yang tajam.

"Aku ingin memeriksa," sahut Lux dengan suara lantang tanpa ada rasa malu sedikit pun, "apakah kau tidak menyembunyikan pakaian dalamku di sini selama aku sedang memasak tadi!"

Ruangan itu mendadak hening seketika.

Braxton membeku di tempatnya. Mulutnya sedikit terbuka, matanya menatap Lux seolah gadis di depannya ini baru saja berbicara dalam bahasa asing dari planet lain.

"Apa... apa katamu?" ulang Braxton, suaranya menurun drastis, antara shock dan tak percaya. "Kau pikir aku mencuri pakaian dalammu?!"

"Siapa yang tahu!" sembur Lux tanpa ragu, dadanya naik turun memburu amarah. "Kau pria asing yang tiba-tiba menciumku di depan apotek demi taruhan konyol! Kau pria nekat yang mengaku menghamili ku padahal kita tidak pernah tidur bersama! Pria gila sepertimu sanggup melakukan hal yang jauh lebih menjijikkan dari sekadar mencuri celana dalamku!"

Braxton menatap Lux selama lima detik penuh tanpa berkedip. Rasa jengkel di dadanya mendadak meluap menjadi gelombang kekehan yang tak tertahankan.

Braxton memegang perutnya, lalu tertawa keras di depan wajah Lux—sebuah tawa ejekan yang amat renyah.

"Hahahahaha! Demi Tuhan, Lux Victoria!" Braxton tertawa hingga matanya sedikit menyipit. "Tingkat rasa percaya dirimu benar-benar berada di luar nalar!"

"Jangan tertawa, Brengsek!" amuk Lux, memukul dada Braxton dengan kepalan tangannya.

Puk!

Braxton tidak meringis. Ia justru menangkap pergelangan tangan Lux dengan lembut namun mengunci rapat, menghentikan pukulan gadis itu. Braxton melangkah satu tindak mendekati Lux, menundukkan tubuhnya hingga jarak wajah mereka kembali menipis.

Tawa di wajah Braxton perlahan surut, digantikan oleh senyum miring nan provokatif yang menjadi ciri khasnya.

"Dengar, Nyonya Desmon," bisik Braxton dengan suara berat yang menggelitik telinga Lux. "Aku memang menyukai hal-hal yang menantang, dan aku mengakui kau memiliki tubuh yang sangat indah di balik pakaian dalam tipismu itu..."

Pandangan mata cokelat Braxton bergerak turun sejenak meneliti lekuk tubuh Lux, sebelum kembali mengunci mata abu-abu gadis itu.

"...Tapi aku sama sekali tidak tertarik untuk menjadi pencuri pakaian dalam," lanjut Braxton dengan intonasi rendah yang penuh dominasi. "Jika aku menginginkan pakaian dalammu, aku akan memintamu melepasnya sendiri di depanku. Bukan mencurinya secara diam-diam seperti pecundang."

Deg.

Kata-kata itu menghantam indra pendengaran Lux seperti sengatan listrik. Sentuhan tangan Braxton di pergelangan tangannya terasa mendadak begitu panas. Lux membeku, napasnya tertahan di tenggorokan saat menyadari betapa intim dan beraninya ucapan pria di depannya ini.

Rasa hangat perlahan merambat naik ke pipi Lux, bukan karena rasa malu, melainkan karena amarah murni yang kian membakar harga dirinya. Lux menghentakkan tangannya, melepaskan cengkeraman Braxton.

"Kau..." desis Lux, suaranya bergetar menahan dendam. "Kau benar-benar pria paling tidak berengsek yang pernah kutemui sepanjang hidupku!"

"Terima kasih atas pujiannya, Istriku," sahut Braxton santai, merapikan kembali kemejanya yang sedikit kusut sambil melemparkan senyum kemenangan.

"Tutup mulutmu!" teriak Lux, berbalik secara mendadak dan melangkah cepat keluar dari kamar Braxton.

Ia memungut jaket *bomber* tebal milik Braxton yang tadi dilemparnya di dapur, lalu menghempaskannya ke lantai koridor dengan injakan kaki yang kasar sebagai bentuk pelampiasan amarah, sebelum akhirnya menghambur masuk ke dalam kamarnya sendiri.

Brak!

Pintu kamar Lux kembali tertutup rapat dengan dentuman yang menggelegar.

Di dalam kamarnya yang berantakan akibat ulah Lux, Braxton menyandarkan tubuhnya di tepi tempat tidur. Ia menatap lemari pakaiannya yang terbuka acuh tak acuh, lalu mengusap wajahnya yang terasa hangat.

Senyum miring di bibirnya perlahan memudar, berganti dengan helaan napas panjang yang sarat akan kekaguman sekaligus keputusasaan.

Ia menatap pintu kamarnya yang terbuka, menyadari bahwa kehidupan pernikahan paksa mereka baru saja dimulai, dan gadis bertato dengan sifat liar itu telah berhasil membuat kehidupannya berputar balik dalam kurun waktu kurang dari dua puluh empat jam.

1
Mita Paramita
😍😍😍😍😍
Rosdianah 🌷: ma'aciww komentar nya kak 🥰🥰🥰
total 1 replies
Hennyy exo
pengen deh cowok yg kaya braxton🤭
Rosdianah 🌷: hihi🤭
total 1 replies
Hennyy exo
ihh makin suka thor🤭
Rosdianah 🌷: ma'aciww kak 🫶
total 1 replies
Hennyy exo
wow alurnya menarik dan penulisannya bagus
Hennyy exo
ihh greget banget ama braxton🤭
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
nayla tsaqif
Istri AJ / mommy braxy zephir,, knp jd cherry,, 😌??
Rosdianah 🌷: huhuhu author typo 🙏🏻🙏🏻😭😭
total 2 replies
nayla tsaqif
Emg kak, soalnya daddy mommy braxton dulu king dan queen drama,, 😌
Rosdianah 🌷: wkkwk🤣
total 1 replies
Nita Kurniawati
yampun, part ini bikin AQ mewek 😭
semangat ya bang, buat meluluhkan hati Lux
Rosdianah 🌷: huhu ma'aciww komentar nya kak🫶
total 1 replies
Mia Camelia
batu ketemu batu ini mah🤣sama2 keras kepala🤔
Rosdianah 🌷: wkwkwk🤣
total 1 replies
Feni sang penulis novel
kakak maaf ya tadi aku salah menyebutin novel judul aku maksud aku seperti ini judulnya adalah jalan menuju masa depan itu yang asli judulku
Feni sang penulis novel
assalamualaikum kak maaf ya aku kurang sopan aku izin berkomentar aku sudah membaca semuanya alurnya Saya suka dan saya ingin memberikan bintang 5 kalau boleh kalau kakak mengizinkan saya ingin sekaligus promosi juga di sini Saya mempunyai novel yang berjudul menuju jalan masa depan semoga kakak suka dan babnya juga ada 9 bab terima kasih
Mita Paramita
king drama nih Braxton 🤣🤣🤣
Rosdianah 🌷: wkwkwk Braxton Sama Braxley anak Daddy AJ ya kak. jangan lupa baca Cerita Braxley dijudul.sebelah🤭
total 1 replies
Mita Paramita
🔥🔥🔥
Rosdianah 🌷: Happy reading kak 🥳
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!