Di mata publik, Rania hanyalah anak bungsu Keluarga Baskara yang manja, dan menjadi beban keluarga. Semua orang lebih memuja kakaknya, Resti, yang merupakan model sukses. Padahal di balik layar, Rania adalah gadis mandiri yang membangun toko rotinya sendiri dari nol tanpa bantuan siapa pun.Malam pernikahan megah tiba, namun Resti justru kabur ke Prancis demi karier modelnya. Demi menyelamatkan nama baik Keluarga Baskara, Rania dipaksa menjadi pengantin pengganti untuk menikahi Rangga, CEO dingin pewaris Pratama Group.
Rangga murka karena merasa ditipu. Dia mengira Rania adalah gadis manja yang sengaja menjebak kakaknya demi harta. Namun, saat Rangga mulai tahu kemandirian Rania—dan aroma roti buatan Rania justru menyembuhkan penyakit mag kronisnya—sang CEO mulai cemburu buta dan gengsi untuk mengaku bucin.Sanggupkah Rania membungkam mulut semua orang yang dulu meremehkannya?
UP SETIAP HARI JAM 06.00
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ketoprak Encok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Kepergian Kevin yang terbirit-birit meninggalkan jejak keheningan yang cukup canggung di dalam toko roti Sweet Crumb. Para karyawan sibuk pura-pura merapikan toples kue di rak, sementara para pelanggan berbisik-bisik sambil mencuri pandang ke arah pasangan suami istri yang kini berdiri berhadap-hadapan di dekat meja konter.
Rangga Pratama masih berdiri dengan postur kaku, kedua tangannya terlipat di depan dada. Tatapan matanya yang tajam dan menyelidik menghujam lurus ke arah Rania, seolah-olah ia sedang menginterogasi tersangka kasus kriminal tingkat tinggi.
Rania membalas tatapan itu dengan mendengus keras. Ia memutar bola matanya malas, melipat tangannya mengikuti gaya sang suami, lalu menghela napas panjang penuh kejengkelan. Dan menyeret Suaminya ke ruangannya kemudian menutup pintu.
"Apa lagi, Tuan CEO yang terhormat?!" semprot Rania ketus. tidak tahan dengan keheningan penuh kecurigaan yang diberikan suaminya. "Kau mau menginterogasiku seperti buronan kelas kakap? Dia itu Kevin! Teman masa kecilku dari zaman kita masih pakai seragam TK sampai sekarang jadi pebisnis! Kami hanya berteman biasa, tidak ada hubungan apa-apa! Puas sekarang jawabannya?!"
Rangga terdiam sejenak. Alis tebalnya sedikit terangkat, mencerna setiap informasi yang baru saja dilontarkan oleh istrinya. Rasa cemburu yang tadinya membakar dadanya perlahan mereda, digantikan oleh kesadaran bahwa ia telah bertindak terlalu jauh dan kekanak-kanakan di hadapan umum tadi. Namun, gengsi raksasa yang sudah mendarah daging membuat Rangga menolak untuk langsung melunak.
Dengan ekspresi wajah yang masih dibuat sedingin mungkin, Rangga menggelengkan kepalanya pelan. "Aku belum puas."
Mendengar jawaban itu, Rania merasa urat di pelipisnya hampir putus. Emosinya yang memang terkenal korek api langsung menyala terang. "Lalu kau mau apa lagi, hah?! Mau minta surat sumpah di atas meterai kalau aku tidak selingkuh?! Mau pecat dia dari muka bumi?! Mau beli toko ini lalu merobohkannya demi kepuasan egoismu?!" cicit Rania geram, suaranya sedikit meninggi.
Rangga tidak membalas bentakan itu dengan kemarahan. Pria itu justru melangkah mendekat, memperpendek jarak di antara mereka hingga aroma parfum kayu bercampur mint miliknya menguar ke indra penciuman Rania.
Wajah Rangga tetap datar, nadanya tenang dan dingin seperti biasanya. Namun, jika seseorang melihat lebih jeli ke dalam sorot matanya, terpancar ekspresi memelas yang begitu kontras—persis seperti anak anjing terlantar yang meminta1 belas kasihan.
"Panggil aku 'Mas' lagi seperti tadi," bisik Rangga pelan, tepat di dekat telinga Rania dengan suara baritonnya yang khas. "Jangan panggil aku 'Tuan CEO terhormat' atau nama kasarnya lagi... panggil aku 'Mas'."
Rania tertegun. Ia mematung sesaat, menatap wajah suaminya dengan mata terbelalak tidak percaya. Pria arogan, dingin, dan paling gengsian sedunia ini baru saja memohon untuk dipanggil dengan sebutan mesra di tempat umum?
Rania mendengus sinis, menepis bayangan kelembutan itu dari kepalanya, lalu memalingkan wajahnya dengan angkuh. "Ogah!" tukasnya ketus. "Mimpi di siang bolong kalau aku mau manggil kau 'Mas' secara sukarela tanpa ada tekanan!"
Tanpa menunggu balasan lagi dari Rangga, Rania memutar tubuhnya dan melangkah pergi meninggalkan suaminya begitu saja menuju dapur belakang, meninggalkan sang CEO berdiri terpaku dengan sisa-sisa rasa penasaran yang bercampur aduk di dadanya.
•
•
Malam harinya, suasana di Penthouse mewah keluarga Pratama terasa jauh lebih sunyi dari biasanya. Jam dinding besar di ruang utama telah menunjukkan pukul sepuluh malam.
Di dalam kamarnya sendiri—sebuah kamar bernuansa minimalis dengan dominasi warna abu-abu lembut dan seprai kasur bermotif garis-garis bersih—Rania sedang duduk di atas karpet bulu sambil merapikan laporan keuangan toko rotinya di atas meja laptop.
Tiba-tiba, suara rintihan kesakitan yang tertahan terdengar dari arah koridor luar kamar.
Ugh...
Rania menghentikan jari-jarinya di atas keyboard. Ia mendengarkan dengan seksama. Suara rintihan itu terdengar lagi, disusul oleh suara gedebuk pelan seolah seseorang sedang terduduk lemas di lantai dekat pintu kamarnya.
Merasa khawatir, Rania segera menutup laptopnya dan berdiri. Ia melangkah cepat membuka pintu kamar. Alangkah terkejutnya ia ketika melihat Rangga Pratama—pria angkuh yang biasanya berjalan dengan punggung tegak sempurna—kini sedang terduduk bersandar di dinding koridor luar kamarnya. Wajah tampan pria itu tampak pucat pasi, keningnya dibanjiri oleh keringat dingin, dan tangan kanannya mencengkeram erat area perut bagian atasnya dengan kuat.
"Hei! Kak ! Kau kenapa?!" seru Rania panik, spontan berlutut di sebelah suaminya.
Rangga meringis kesakitan, menggigit bibirnya pelan. "P-Perutku..." rintihnya dengan suara parau yang terdengar begitu lemas. "Mag... mag ku kambuh parah... Rasanya seperti terbakar..."
Rania langsung teringat kebiasaan buruk suaminya yang sering melewatkan waktu makan siang akibat terlalu sibuk bekerja—atau mungkin, hari ini emosinya yang meledak-ledak di toko roti membuat asam lambungnya naik drastis. Rasa iba langsung mengalahkan rasa kesalnya.
Dengan susah payah, Rania merangkul tubuh tegap Rangga, memapah pria itu bangkit berdiri, dan membimbingnya masuk ke dalam kamarnya sendiri. Rania membaringkan tubuh Rangga secara perlahan di atas kasurnya yang empuk.
"Tunggu sebentar! Jangan mati dulu di kamarku!" cerca Rania panik bercampur cemas, lalu bergegas berlari keluar menuju dapur untuk menyiapkan obat lambung dan membuatkan mangkuk sup ayam hangat.
Lima belas menit kemudian, Rania kembali masuk ke dalam kamarnya membawa sebuah nampan berisi mangkuk sup ayam hangat yang mengepulkan uap harum, segelas air putih hangat, dan obat lambung cair.
Rangga sedang berbaring miring dengan selimut menutupi setengah tubuhnya. Wajahnya masih terlihat pucat, dan matanya terpejam lemah.
Rania duduk di tepi tempat kasur, meletakkan nampan di nakas samping, lalu mengambil mangkuk sup dan sendoknya. Ia menyendok kuah sup hangat tersebut perlahan, lalu menurunkannya mendekati bibir Rangga.
"Nih, makan dan minum obatnya dulu supaya mag-nya mereda," ujar Rania dengan nada galak yang dibuat-buat untuk menyembunyikan rasa khawatirnya. "Makanya, jadi orang jangan hobi marah-marah tidak jelas. Lambungmu itu protes kan akhirnya?"
Rangga perlahan membuka matanya. Ia menatap mangkuk sup di tangan Rania, lalu melirik ke arah tangan kanannya sendiri yang tergeletak lemas di atas kasur. Alih-alih bangun dan mengambil sendok itu sendiri, Rangga justru memasang wajah semakin melas.
"Tanganku... lemas sekali, Rania," bisik Rangga dengan suara lemah yang terdengar begitu menyedihkan, sangat kontras dengan wibawa CEO-nya. "Jari-jariku bahkan tidak sanggup mengangkat sendok ini. Rasanya sakit sekali..."
Rania menyipitkan matanya, menatap suaminya dengan curiga. "Alasan! Tadi siang tanganmu itu masih kuat banget mencengkeram tangan Kevin sampai hampir patah! Sekarang bilang lemas?"
"Tadi siang itu beda. Itu masalah harga diri pria," elak Rangga lemah, memejamkan mata lagi sambil meringis kecil, memastikan akting kesakitannya dengan sangat meyakinkan. "Tapi sekarang... aku benar-benar tidak bertenaga. Kalau kau tidak mau menyuapiku, ya sudah... biarkan saja aku kelaparan dan kesakitan di sini sampai pingsan."
Rania mendengus kesal luar biasa. Ingin rasanya ia menimpuk kepala suaminya dengan mangkuk sup tersebut. Namun, melihat keringat dingin yang masih menempel di kening Rangga, hatinya yang lembut tidak tega juga.
"Ck! Menyusahkan sekali!" gerutu Rania kesal, namun tangannya tetap bergerak mengambil sendok berisi sup hangat tersebut. Ia mendekatkannya ke mulut Rangga. "Awas ya kalau ini cuma akal-akalan aktingmu? Buka mulutmu, cepat!"
Rangga perlahan membuka mulutnya, menelan suapan sup buatan Rania dengan ekspresi tenang. Rasa hangat dari sup itu berpadu dengan kehangatan luar biasa yang merayap di dadanya—bukan karena supnya, melainkan karena perhatian tulus yang diberikan oleh wanita di hadapannya.
Di bawah temaram lampu tidur kamar, Rania terus menyuapi Rangga suapan demi suapan dengan sabar, sementara Rangga menikmati setiap detik momen tersebut dalam diam, menyimpan rasa hangat yang membuncah di dalam hatinya yang selama ini membeku.
•
•
•
•