NovelToon NovelToon
Sistem Cashback 10x: Semakin Boros, Semakin Kaya!

Sistem Cashback 10x: Semakin Boros, Semakin Kaya!

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Sistem / Kaya Raya / Tamat
Popularitas:53.3k
Nilai: 5
Nama Author: Galih Lestari

"Dikhianati istri, diperas mertua, membesarkan anak yang bukan darah dagingnya.

Raka Pratama hidup bak budak — sampai ia terlahir kembali dengan Sistem Cashback 10x. Sekarang, setiap rupiah yang ia habiskan kembali sepuluh kali lipat.

Perceraian? Ia yang memulai. Konglomerat yang mengancam? Hancur. Pejabat korup? Ditangkap hidup-hidup. Dari nol menuju jajaran orang terkaya dunia — ini bukan dongeng. Ini balas dendam.
"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galih Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6

Bab 6 - Mata Pemimpin

Mulai hari ini, setiap kebohongan akan memiliki rekaman.

Raka menekan tombol pesan.

Layar laptop menampilkan rincian pembelian: empat kamera kecil, satu router cadangan, langganan cloud terenkripsi selama dua tahun, dan jasa teknisi resmi untuk pemasangan sore itu juga. Totalnya Rp 18.700.000.

Ia membaca ulang syarat layanan, memastikan kamera hanya dipasang di area miliknya: pintu masuk, ruang tengah, koridor kecil menuju dapur, dan sudut meja tempat dokumen disimpan.

Tidak ada kamar tidur.

Tidak ada kamar mandi.

Tidak ada celah untuk tuduhan kotor.

Raka mengambil napas pendek, lalu mengonfirmasi pembayaran.

[Transaksi tervalidasi.]

[Pengeluaran sah kepada pihak ketiga: Rp 18.700.000.]

[Cashback 10x diproses: Rp 187.000.000.]

Notifikasi bank muncul beberapa detik kemudian.

Saldo: Rp 16.372.443.900.

Angka itu tidak lagi membuat dadanya bergetar seperti hari pertama. Justru sebaliknya, angka itu membuat pikirannya semakin dingin. Uang bukan sekadar uang. Uang adalah waktu, pilihan, dan jarak dari orang-orang yang dulu memakai kata keluarga untuk memasang borgol.

Sore harinya, teknisi datang dengan seragam abu-abu dan kotak peralatan kecil.

"Pak Raka, sesuai order, titik pemasangan empat area, ya?" tanya pria itu.

"Betul. Semua rekaman masuk cloud. Akses hanya dari akun saya."

"Ada audio?"

"Matikan."

Teknisi itu mengangkat alis. "Biasanya pelanggan minta audio juga, Pak."

"Saya butuh bukti aktivitas, bukan perangkap privasi."

Pria itu terdiam sebentar, lalu mengangguk lebih sopan. "Baik, Pak. Itu lebih aman secara hukum."

Raka berdiri di ruang tengah, memperhatikan bor kecil menembus dinding dekat pintu masuk. Suara mesin itu pendek-pendek, seperti paku yang menutup satu per satu peti masa lalunya.

Di kehidupan sebelumnya, ia selalu kalah karena tidak punya bukti.

Ratna bisa menangis di depan tetangga.

Bu Sumini bisa mengaku tidak pernah meminta uang.

Budi bisa menghilangkan barang, lalu menuduh Raka pelupa.

Semua itu dulu berakhir dengan satu kalimat yang sama: "Kamu terlalu sensitif."

Sekarang, Raka hanya perlu menunggu mereka berbicara di tempat yang tepat.

Setelah teknisi pulang, ia menguji kamera dari laptop dan ponsel. Pintu masuk terlihat jelas. Ruang tengah bersih. Meja dokumen masuk dalam bingkai. Tidak ada area pribadi yang tersentuh.

Ia menyimpan kontrak layanan, invoice, dan bukti pembayaran ke folder terenkripsi.

Baru setelah itu, panel biru muncul di sudut pandangannya.

[Host telah membangun jalur perlindungan aset dan bukti mandiri.]

[Hadiah khusus dibuka: Mata Pemimpin.]

[Fungsi: membaca potensi kemampuan, kecenderungan perilaku, dan peringatan risiko pada individu yang diamati.]

[Batasan: tidak membaca pikiran. Tidak menjamin kesetiaan. Tidak menggantikan bukti, kontrak, dan penilaian Host.]

[Apakah Host ingin mengaktifkan?]

Raka menatap kalimat terakhir itu cukup lama.

Tidak menjamin kesetiaan.

Bagus.

Ia sudah muak dengan kata setia yang mudah dijual di meja makan dan mudah dikhianati di belakang pintu.

"Aktifkan."

Tidak ada kilatan besar. Tidak ada rasa sakit. Hanya tekanan ringan di belakang mata, seperti ketika seseorang terlalu lama menatap layar di ruangan gelap.

Lalu dunia berubah.

Di atas foto teknisi yang masih tersimpan pada aplikasi layanan, muncul lapisan tulisan tipis.

[Dimas Arya]

[Potensi teknis: 61]

[Disiplin kerja: stabil]

[Risiko: mengikuti prosedur perusahaan; mudah ragu jika ditekan atasan]

Raka menyipitkan mata.

Ia membuka rekaman singkat pemasangan. Saat wajah teknisi terlihat jelas, lapisan itu kembali muncul. Bukan pikiran. Bukan rahasia. Hanya kesimpulan dingin, seperti laporan singkat yang dipadatkan dari sikap, gerakan, suara, dan pola keputusan.

Raka berdiri di depan cermin.

Tidak ada panel di atas kepalanya sendiri.

"Tidak bisa dipakai untuk menipu diri sendiri," gumamnya.

Itu juga bagus.

Malam itu, ia keluar dari apartemen. Alphard hitam meluncur pelan menembus jalan Surabaya yang mulai padat. Lampu toko, spanduk makanan, dan deretan motor memantul di kaca mobil. Beberapa orang di parkiran masih menoleh, tetapi Raka tidak lagi peduli pada tatapan itu.

Ia berhenti di sebuah kafe yang cukup ramai. Tempatnya sederhana, bersih, dan cukup pantas untuk bertemu klien. Ia memilih meja dekat kaca, memesan kopi hitam, nasi ayam, dua potong kue untuk staf di kasir, dan membayar beberapa pesanan pelanggan acak yang sedang menunggu.

"Pak, ini serius dibayar semua?" kasir perempuan itu bertanya, bingung.

"Serius. Anggap saja promo kecil."

"Atas nama siapa?"

"Tidak perlu nama."

Total tagihan Rp 3.860.000.

[Transaksi tervalidasi.]

[Cashback 10x diproses: Rp 38.600.000.]

Saldo: Rp 16.407.183.900.

Di belakangnya, seorang mahasiswa berjaket lusuh menoleh berkali-kali.

"Makasih, Pak," kata mahasiswa itu, agak canggung. "Saya tadi hampir batal pesan."

"Makan saja. Jangan dipikirkan."

Saat Raka menatapnya, tulisan tipis muncul.

[Nama tidak diketahui]

[Potensi akademik: 72]

[Ketekunan: tinggi]

[Risiko: percaya diri rendah; mudah menyerah saat tekanan ekonomi meningkat]

Raka memutar gelas kopinya.

Nilai itu lebih tinggi dari teknisi tadi.

Ia mengalihkan pandangan ke kasir.

[Nama tidak diketahui]

[Potensi operasional: 58]

[Kecenderungan: ramah, cepat panik saat antrean panjang]

[Risiko: tidak cocok memimpin tim besar]

Lalu ke manajer kafe yang sedang menegur barista dengan suara rendah.

[Nama tidak diketahui]

[Potensi manajerial: 69]

[Kecenderungan: menjaga standar, sulit percaya pada bawahan baru]

[Risiko: kaku saat menghadapi perubahan mendadak]

Raka menahan senyum.

Seluruh ruangan tiba-tiba terlihat seperti papan catur. Bukan karena semua orang bisa dibeli. Justru karena tidak semua orang layak didekati. Ada yang rajin tetapi rapuh. Ada yang pintar tetapi licin. Ada yang biasa saja tetapi stabil.

Di kehidupan sebelumnya, ia memilih orang berdasarkan rasa iba, tekanan keluarga, dan janji manis.

Hasilnya, ia mati sendirian.

Sekarang, ia akan memilih berdasarkan kemampuan, rekam jejak, kontrak, dan waktu.

Seorang pria berjas murah duduk dua meja dari Raka, berbicara keras lewat telepon.

"Tenang, Pak. Dokumen bisa saya atur. Yang penting uang muka masuk dulu."

Mata Raka bergerak sekilas.

[Nama tidak diketahui]

[Potensi negosiasi: 74]

[Kecenderungan: oportunis]

[Risiko: tinggi; manipulatif terhadap klien yang tidak memahami prosedur]

Raka mengembuskan napas.

Angka tinggi tidak berarti orang baik.

Itu pelajaran pertama Mata Pemimpin.

Ia membuka aplikasi catatan dan menulis tiga baris.

Potensi bukan kesetiaan.

Risiko bukan vonis.

Kepercayaan harus diuji dengan tindakan.

Setelah itu, ia membuka daftar pengeluaran baru: langganan basis data bisnis legal, layanan akuntansi awal, platform manajemen proyek, dan ruang rapat harian di dekat pusat kota untuk pekan depan. Semuanya nyata. Semuanya berguna. Semuanya memiliki invoice.

Total Rp 27.450.000.

[Transaksi tervalidasi.]

[Cashback 10x diproses: Rp 274.500.000.]

Saldo: Rp 16.654.233.900.

Raka menatap angka itu, lalu membuka email kantor.

Ada pesan dari manajernya.

Subjek: Deadline modul pembayaran.

Isi emailnya singkat dan dingin.

Raka, pastikan besok pagi sudah selesai. Klien tidak mau tahu alasan. Kalau perlu lembur sampai subuh.

Ia membaca kalimat itu dua kali.

Dulu, email seperti itu cukup untuk membuatnya berkeringat. Ia akan meminta maaf, membeli kopi sachet, lalu bekerja sampai mata perih demi gaji yang selalu habis sebelum pertengahan bulan.

Sekarang, saldo di rekeningnya lebih besar dari omzet tahunan perusahaan kecil tempat ia bekerja.

Lebih penting lagi, ia baru saja mendapatkan alat untuk menemukan orang-orang yang jauh lebih layak daripada bos yang hanya tahu menekan.

Teleponnya bergetar.

Nama Ratna muncul di layar.

Raka membiarkannya berdering sampai mati.

Beberapa detik kemudian, pesan masuk.

Ratna: Kamu di mana? Ibu masih marah. Pulang dan minta maaf.

Raka menatap pesan itu tanpa emosi.

Lalu ia mengetik balasan.

Aku sedang bekerja.

Ia berhenti sebentar, menghapus kalimat itu, lalu menulis yang baru.

Urusan Ibu bukan daruratku.

Pesan terkirim.

Tanda dibaca muncul hampir seketika.

Tidak ada balasan.

Raka menutup ponsel, membuka dokumen kosong, dan mulai mengetik surat pengunduran diri. Setiap kata terasa ringan. Bukan karena ia membenci pekerjaan sebagai programmer. Ia membenci hidup sebagai orang yang selalu diperintah untuk mengejar mimpi orang lain sambil mengubur hidupnya sendiri.

Di luar kaca kafe, hujan tipis mulai turun. Lampu jalan memanjang di aspal basah seperti garis-garis kontrak yang baru ditandatangani.

Raka menyimpan dokumen itu dengan nama sederhana.

Resign_Raka_Pratama.pdf.

Besok, ia akan menyerahkannya.

Ia mengangkat cangkir kopi yang sudah mulai dingin, menatap pantulannya sendiri di kaca, dan tersenyum tipis.

"Mulai sekarang, aku bukan lagi budak korporat."

1
Wega Luna
ka,rumah kita dekat dong ,saya tinggal di belakang perumahan Citraland🤣🤣🤣🤣, sawah saya sudah dibeli Citraland,,cuma masih boleh ditanami belum dibangun🤭🤭🤭
casanova
kurang suka bacanya
Tyo Reanu
bener2...dont judge a book by its cover....
Tyo Reanu
Awalnya, sempat mengira cerita ini hanya akan seperti cerita2 sistem pada umumnya, cheesy,dendam,absurd...dan saya mintamaaf yang sebesar2nya untuk penulis akan itu.
mungkin sepertinya, baru kali ini aku baca cerita di platform online yang punya alur, bahasa dan kekuatan cerita kaya gini.
terimakasih untuk cerita luarbiasa nya Gan....
irena
bagus banget ceritanya thor
Anonim
ceritanya menarik
Zidan Official
knp GK ceraiii aja woii
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
Aang Reza
bagus👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!