Alena menikah dengan Hendra meski tak direstui keluarganya karena dianggap miskin. Selama lima tahun ia dihina, dianggap mandul, dan hanya diberi satu juta rupiah sebulan untuk kebutuhan rumah. Saat Alena mulai berusaha bangkit, tekanan ibu mertua membuat Hendra akhirnya berselingkuh. Alena memilih bertahan, hingga ia menemukan jalan untuk membuktikan dirinya dan membalas semua perlakuan yang menyakitkan itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SARAPAN
Pagi pertama setelah pernikahan itu datang dengan suasana yang sama sekali berbeda dari biasanya. Matahari sudah cukup tinggi menyinari ruang tengah, namun meja makan masih bersih melompong tanpa satu piring atau gelas pun.
Hendra turun dari kamar dengan wajah masih mengantuk. Ia berjalan menuju ruang makan sambil mengancingkan kemejanya. Di sana sudah ada Ibu Sari yang duduk santai di kursi sambil memegang kipas tangan. Tak lama kemudian Siska turun dengan pakaian kerja yang sangat rapi dan wangi, rambutnya disusun indah, wajahnya bermakeup cantik.
"Selamat pagi Bu, Mas Hendra," sapa Siska dengan suara manis sekali.
"Pagi juga Nak. sini duduk," ajak Ibu Sari tersenyum lebar.
Hendra duduk di kursi kebiasaannya, lalu menatap meja yang kosong melompong. Ia menoleh ke arah ibunya.
"Bu... kita tidak sarapan pagi ini?" tanya Hendra bingung.
Ibu Sari menatap meja sebentar, lalu tersenyum tenang.
"Ah iya, Ibu lupa bilang. Hari ini nggak ada masakan Ndra. Siska juga sudah siap berangkat kerja, jadi pasti nggak sempat memasak," jawab Ibu Sari santai.
Siska ikut tersenyum sopan. "Maaf ya Mas. Aku harus berangkat pagi-pagi sekali takut terlambat. Aku nggak terbiasa memasak di pagi hari."
Hendra tertegun sejenak. Dulu setiap pagi, sebelum matahari terbit, meja sudah penuh dengan makanan hangat buatan Alena.
"Kalau begitu bagaimana Bu? Kita nggak sarapan pagi," kata Hendra.
"Ya sudah, kalian beli saja di luar. Sekalian belikan juga untuk Ibu dan Dinda. tapi pakai uangmu saja atau uang Siska," perintah Ibu Sari seenaknya.
Siska langsung menunduk membetulkan kerah bajunya.
"Maaf Bu, uangku hari ini pas-pasan untuk makan siang. Jadi aku nggak bisa pakai uang ku beli makanan " tolak Siska halus.
Ibu Sari langsung menatap Hendra. "Ya sudah, Hendra saja yang pergi beli. Cepatlah nanti kalian terlambat."
Hendra hanya bisa menghela napas panjang. Ia bangkit berdiri.
"Baiklah, aku akan pergi. Kalian tunggu di sini."
Tidak lama kemudian Hendra kembali membawa bungkusan makanan. Mereka makan seadanya dengan cepat, tanpa percakapan hangat seperti dulu.
Setelah selesai makan, Siska langsung berdiri merapikan bajunya.
"Ayo Mas, kita berangkat ke kantor. Kita kan satu kantor, jadi bisa jalan sama" ajak Siska tersenyum manis.
Hendra hanya mengangguk pasrah. "hem..iya."
Mereka berdua berjalan keluar rumah menuju mobil. Di dalam perjalanan, suasana di dalam mobil terasa canggung sekali.
"Mas kamu kenapa diam saja? Apa Mas masih kepikiran soal pagi tadi?" tanya Siska memecah keheningan.
"Bukan begitu. Aku hanya terbiasa dengan suasana yang berbeda saja," jawab Hendra pelan.
"Ah, itu karena Mas belum terbiasa dengan kehadiranku. Nanti lama-lama juga akan terbiasa kok. Aku akan berusaha menjadi istri yang baik buat Mas," ucap Siska lembut sambil menepuk pelan punggung tangan Hendra.
Sesampainya di kantor, semua rekan kerja tampak terkejut melihat mereka datang bersama. Beberapa orang berbisik-bisik di belakang punggung mereka.
Saat jam istirahat tiba, Budi datang menghampiri Hendra yang sedang duduk sendirian di kantin.
"Ndra... aku dengar kamu baru menikah minggu yang lalu? apa Itu benar?" tanya Budi ragu.
Hendra mengangguk pelan. "Iya Benar."
"Kamu ini kenapa Ndra? Padahal kamu belum lama berpisah sama Alena. Apa kamu nggak mikir dulu?" Budi menatapnya tak percaya.
"Itu... keadaan yang memaksaku Bud. Aku nggak punya pilihan lain," jawab Hendra lemas.
"Pilihan selalu ada Ndra. Kamu saja yang tidak berani mengambilnya,Kamu nggak ingat baiknya Alena dulu? Bangun pagi, masak, bersihkan rumah, dia nggak pernah menuntut apa-apa. Sekarang lihatlah, kamu sendiri yang harus beli sarapan," Budi menggelengkan kepala kecewa.
Kata-kata Budi menancap tajam di hati Hendra. Ia teringat kembali wajah Alena yang selalu tersenyum menyambutnya setiap pagi.
"Aku tahu Bud... aku sadar aku sudah melakukan kesalahan besar," gumam Hendra pelan.
"Sudah terlambat untuk menyesal sekarang. Kamu harus menanggung semuanya sendiri," Budi berdiri dan pergi meninggalkan Hendra.
Sementara itu di meja kerjanya, Siska justru tampak sangat senang. Ia menyapa semua orang dengan ramah, seolah menjadi nyonya besar di kantor itu.
Setelah pulang kerja,hal yang sama terulang lagi. Tidak ada makanan siap saji, tidak ada rumah yang bersih. Dan Hendra mulai menyadari bahwa wanita yang ia nikahi sekarang, sama sekali bukan wanita yang bisa mengerti dan menyayanginya dengan tulus seperti Alena.