NovelToon NovelToon
DIPAKSA MENIKAHI CEO DUDA

DIPAKSA MENIKAHI CEO DUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas Dendam / BTS
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: MHKaylid_

Di sebuah hotel mewah, Alyssa dipaksa menunggu "pembelinya".

"Aku sudah bayar mahal! Mana gadisnya?"

bentak pria bertubuh tambun sambil membanting gelas.

Mariska tersenyum licik.

"Tenang saja, Tuan. Dia memang keras kepala, tapi malam ini dia pasti jadi milik Anda."

"Aku tidak mau! Lepaskan aku!" teriak Alyssa sambil berusaha melepaskan diri.

"Diam!" hardik Mariska sembari menampar pipi Alyssa. "Kalau bukan karena aku membesarkanmu, kau sudah mati kelaparan! Sekarang giliranmu membalas budi."

Air mata Alyssa jatuh, tetapi keberaniannya tidak ikut runtuh.

Saat para pria lengah, ia mendorong salah seorang dari mereka hingga terjatuh, lalu berlari sekuat tenaga menyusuri lorong hotel.

"Kejar dia!" teriak pria hidung belang itu murka.

"Jangan sampai gadis itu lolos!"

Suara langkah kaki bergema di sepanjang koridor.

Dengan napas memburu, Alyssa membuka pintu sebuah kamar yang tidak terkunci dan segera menguncinya dari dalam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MHKaylid_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17

Mulai saat ini, ia bukan hanya harus menemukan Isabel.

Ia juga harus mencegah Alyssa mengorbankan dirinya sendiri karena rasa bersalah yang semakin menguasai hatinya.

Suasana di Mansion Laurent akhirnya sedikit lebih tenang.

Dokter keluarga sebenarnya sudah dipanggil oleh Adrian. Namun sebelum dokter itu tiba, Lucas sudah berada di ruang kerjanya untuk membersihkan diri dan mengganti kemeja yang robek akibat gesekan peluru.

Lengan kanannya kini hanya dibalut kain sementara.

Darah memang sudah berhenti mengalir, tetapi luka itu masih tampak merah.

Di luar ruang kerja...

Alyssa berdiri sambil memeluk sebuah kotak P3K.

Ia menarik napas panjang beberapa kali.

Tangannya masih dingin.

Ucapan Leonardo tadi pagi masih terngiang di telinganya.

"Daddy jadi berdarah karena Kak Alyssa..."

Perlahan ia mengetuk pintu.

Tok.

Tok.

"Masuk."

Suara Lucas terdengar tenang dari dalam.

Alyssa membuka pintu perlahan.

Lucas sedang duduk di sofa dekat jendela.

Kemeja hitamnya sudah dilepas, menyisakan kaus tipis berwarna putih yang di bagian bahu kanannya telah robek agar luka mudah dibersihkan.

Begitu melihat Alyssa membawa kotak P3K, Lucas sedikit mengernyit.

"Kau kenapa?"

Alyssa mengangkat kotak itu.

"Aku..."

"Aku ingin mengobati lukamu."

Lucas tersenyum tipis.

"Tidak perlu."

"Dokter keluarga akan segera datang."

Alyssa menggeleng.

"Tidak."

Lucas menatapnya.

"Aku merasa..."

"...ini tanggung jawabku."

Ruangan mendadak hening.

Lucas menghela napas pelan.

"Bukan salahmu."

"Aku tahu."

"Tapi tetap saja..."

Ia menggenggam kotak P3K itu lebih erat.

"Kalau aku tidak melakukan apa-apa..."

"...aku akan merasa lebih bersalah."

Lucas memperhatikan wajah gadis itu.

Lingkar hitam di bawah matanya terlihat jelas.

Ia pasti tidak tidur semalaman.

Akhirnya Lucas mengangguk kecil.

"Baik."

"Tapi hanya membersihkan lukanya."

"Kalau ternyata lebih parah..."

"...dokter tetap akan memeriksanya."

Alyssa mengangguk cepat.

"Terima kasih."

Ia duduk di samping Lucas.

Jarak mereka tidak terlalu jauh.

Untuk pertama kalinya...

Alyssa melihat luka itu dari dekat.

Bekas gesekan peluru memang tidak menembus bahu, tetapi kulitnya robek cukup panjang.

"Apa sakit?"

Lucas tersenyum kecil.

"Tidak terlalu."

Alyssa mendengus pelan.

"Bohong."

Lucas terkekeh.

"Kau bisa tahu?"

"Kalau tidak sakit..."

"...otot bahumu tidak akan setegang ini."

Lucas menoleh sedikit.

"Kau memperhatikan?"

Alyssa langsung salah tingkah.

"A-aku hanya menebak."

Lucas tidak menggoda lagi.

Ia membiarkan Alyssa membuka kotak P3K.

Gadis itu mengambil kapas.

Antiseptik.

Perban.

Namun setelah memperhatikan luka beberapa saat...

Ia justru berkata,

"Ada daun sirih di taman belakang?"

Lucas berkedip.

"Daun sirih?"

"Iya."

Lucas tampak heran.

"Untuk apa?"

"Kalau ada..."

"...luka ini bisa lebih cepat bersih."

Lucas tersenyum tipis.

"Kau percaya pengobatan tradisional?"

Alyssa mengangguk pelan.

"Aku belajar sedikit."

Lucas menekan tombol interkom.

"Maria."

Tak lama kemudian seorang pelayan menjawab.

"Ya, Tuan?"

"Tolong ambil beberapa lembar daun sirih segar."

Maria sempat terdiam beberapa detik.

"...Daun sirih?"

"Iya."

"Baik, Tuan."

Beberapa menit kemudian...

Maria datang membawa beberapa lembar daun sirih yang baru dipetik.

Alyssa tersenyum kecil.

"Terima kasih."

Maria menyerahkannya dengan rasa penasaran.

"Nona bisa mengobati luka dengan itu?"

Alyssa mengangguk malu-malu.

"Saya hanya mencoba."

Maria pun pamit.

Kini hanya tersisa Alyssa dan Lucas.

Alyssa meminta semangkuk air hangat.

Lalu mencuci daun-daun itu dengan hati-hati.

Lucas memperhatikannya sejak tadi.

Gerakannya begitu tenang.

Sangat berbeda dengan Alyssa yang selalu tampak gugup.

"Kau sering melakukan ini?"

Alyssa mengangguk pelan.

"Dulu."

"Dulu?"

"Iya."

Ia mulai meremas daun sirih perlahan.

Lucas bertanya lagi.

"Siapa yang mengajarimu?"

Alyssa terdiam beberapa saat.

Tatapannya perlahan kosong.

"Seorang nenek."

"Nenekmu?"

Alyssa menggeleng.

"Bukan."

Belum pernah sebelumnya Alyssa menceritakan masa lalunya kepada siapa pun di mansion itu.

Namun entah mengapa...

Hari itu ia ingin bercerita.

"Aku tidak pernah mengenal orang tuaku."

Lucas hanya mendengarkan.

"Seingatku..."

"...aku dibesarkan oleh Isabel."

Lucas sedikit terkejut.

"Isabel membesarkanmu?"

"Iya."

Alyssa tersenyum kecil.

"Tapi jangan bayangkan seperti ibu yang lembut."

Lucas diam.

"Isabel..."

"...pemarah."

"Galak."

"Kalau sedang kesal..."

"...apa saja bisa dilempar."

Lucas menatapnya.

"Kepadamu?"

Alyssa mengangguk pelan.

"Dulu aku sering dimarahi."

"Kadang hanya karena menjatuhkan gelas."

"Kadang karena terlambat pulang."

"Kadang..."

"...karena aku menangis."

Lucas mengepalkan tangan tanpa sadar.

Alyssa malah tersenyum tipis.

"Tapi sekarang aku mengerti."

Lucas mengernyit.

"Mengerti?"

"Waktu itu..."

"...kami sangat miskin."

"Setiap hari Isabel bekerja keras."

"Sering tidak makan."

"Sering pulang dengan wajah lelah."

"Aku rasa..."

"...ia hanya tidak tahu cara menunjukkan kasih sayangnya."

Lucas tidak langsung menjawab.

Alyssa melanjutkan sambil mulai membersihkan luka Lucas perlahan.

"Maaf."

"Perih sedikit."

"Tidak apa."

Gerakan Alyssa sangat hati-hati.

Ia bahkan meniup pelan luka itu agar rasa perih berkurang.

Lucas memperhatikannya tanpa berkedip.

"Ada satu orang..."

"...yang selalu melindungiku."

"Siapa?"

"Seorang nenek tua."

"Namanya?"

"Aku memanggilnya Nek Ranti."

"Sebenarnya bukan keluarga."

"Tetangga kami di perkampungan."

Wajah Alyssa perlahan berubah lebih hangat.

"Rumahnya kecil sekali."

"Atapnya bocor."

"Kalau hujan..."

"...kami harus menaruh ember di mana-mana."

Lucas membayangkan suasana itu.

"Setiap kali Isabel marah..."

"...aku sering lari ke rumah Nek Ranti."

"Nenek itu selalu membuka pintunya."

"'Masuk, Nak.'"

"'Jangan takut.'"

Suara Alyssa mulai bergetar.

"'Nenek bikin teh hangat ya.'"

Lucas tetap diam.

"Aku sering menangis di pangkuannya."

"Nenek tidak pernah bertanya kenapa."

"Ia hanya mengusap kepalaku."

"'Nangislah kalau memang ingin menangis.'"

Air mata Alyssa mulai menggenang.

"Nenek bilang..."

"'Hati manusia itu seperti luka.'"

"'Kalau tidak dibersihkan, akan bernanah.'"

"'Makanya menangis itu tidak apa-apa.'"

Lucas merasakan dadanya sedikit sesak.

Alyssa tersenyum kecil di sela air matanya.

"Nek Ranti juga suka mengobati orang."

"Orang sekampung datang kepadanya."

"Dengan daun-daunan."

"Akar."

"Rempah."

"Kadang minyak buatan sendiri."

"Kau belajar darinya?"

"Iya."

"Aku selalu membantu."

"Menumbuk kunyit."

"Mencuci daun."

"Merebus air."

"Menyiapkan ramuan."

"Nenek sering bilang..."

"'Ilmu ini bukan untuk mencari uang.'"

"'Kalau bisa menolong orang...'"

"'...tolonglah.'"

Ruangan kembali sunyi.

Alyssa mengoleskan ramuan sederhana dari daun sirih yang telah diremas, lalu menutup luka Lucas dengan perban bersih.

"Sudah."

Lucas melihat balutan itu.

Rapi.

Sangat rapi.

"Kau benar-benar belajar."

Alyssa tersenyum malu.

"Hanya sedikit."

Lucas menatap wajahnya.

"Bagaimana dengan Nek Ranti sekarang?"

Senyum Alyssa perlahan menghilang.

"Nenek meninggal."

"Karena sakit."

"Aku tidak punya uang untuk membawanya ke rumah sakit."

Suara Alyssa mulai serak.

"Sampai sekarang..."

"...aku masih merasa bersalah."

Lucas perlahan berkata,

"Itu bukan salahmu."

Alyssa menggeleng.

"Dulu aku juga berpikir begitu."

"Tapi setiap kehilangan..."

"...selalu membuatku merasa seharusnya aku bisa berbuat lebih."

Ia menatap perban di bahu Lucas.

"Makanya..."

"...aku tidak ingin kehilangan Isabel juga."

"Dan..."

Ia berhenti sejenak.

"Aku juga tidak ingin ada orang lain terluka karena aku."

Lucas menatapnya lama.

Kemudian, dengan suara pelan namun mantap, ia berkata,

"Alyssa."

Gadis itu mengangkat wajah.

"Terima kasih."

Alyssa tampak bingung.

"Untuk apa?"

"Karena sudah merawat lukaku."

"Dan..."

Lucas tersenyum tipis.

"Karena sudah cukup percaya untuk menceritakan masa kecilmu."

Mata Alyssa kembali berkaca-kaca.

Sudah lama sekali...

Tidak ada yang benar-benar mendengarkan ceritanya tanpa menghakimi.

Di luar pintu, tanpa mereka sadari, Leonardo berdiri diam sambil memegang dinosaurus kesayangannya.

Bocah itu sebenarnya datang untuk melihat keadaan ayahnya.

Namun ketika mendengar cerita Alyssa tentang masa kecilnya yang penuh luka, wajah kecilnya perlahan berubah.

Ia tidak lagi melihat Alyssa hanya sebagai "orang asing yang membuat Daddy terluka."

Untuk pertama kalinya, di hati seorang anak kecil itu, muncul secercah rasa iba yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!