Kirana cuma pengen kuliah tenang. Tapi dosen paling galak sekampus malah jadi orang yang bikin jantungnya berdebar tanpa alasan.
Status dosen dan mahasiswi jadi tembok pemisah. Masa lalu kelam Alden jadi ancaman yang siap menghancurkan semuanya.
Satu pertanyaan tersisa: berani nggak, Kirana, jatuh cinta pada orang yang paling dilarang buat dicintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon W_ Wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: ALDEN MEMBELA KIRANA DI DEPAN UMUM
Sesi diskusi kelompok gabungan hari itu diadakan di ruang seminar yang lebih besar, karena beberapa kelompok lain juga menggunakan ruang diskusi biasa untuk keperluan yang sama. Kirana duduk bersama anggota kelompoknya, mempersiapkan revisi terakhir laporan sebelum pengumpulan resmi minggu depan.
"Kir, ini bagian kesimpulan udah oke belum menurut kamu?" tanya Aji, menunjukkan layar laptopnya.
"Coba aku baca dulu," Kirana mencondongkan badan, memeriksa dengan seksama bagian yang dimaksud.
Di tengah kesibukan itu, suara ribut dari meja sebelah menarik perhatian mereka. Kirana menoleh, mendapati sekelompok mahasiswa dari kelas lain sedang berbicara cukup keras, sepertinya sedang membahas topik yang membuat beberapa dari mereka terkekeh dan sesekali melirik ke arah Kirana.
"...katanya sih emang beneran deket, cuma pinter nutupin aja..."
"...pantes nilai proyeknya bagus terus, ada backing-an..."
Kalimat kalimat itu terdengar cukup jelas sampai ke telinga Kirana, membuat wajahnya memanas menahan malu dan marah yang bercampur aduk. Dia mencoba fokus kembali ke laporan, tapi tangannya sedikit gemetar mengetik di keyboard.
"Kir, jangan didengerin," Nadia berbisik, menyenggol lengannya pelan. "Mereka cuma iri aja liat hasil presentasi kita kemarin bagus."
"Aku tau, Nad, tapi tetep aja kerasa nyakitin," Kirana menjawab pelan, mencoba menahan air mata yang mulai menggenang karena tuduhan yang tidak adil itu.
Suara suara itu semakin keras, salah satu mahasiswa dari kelompok sebelah bahkan sengaja mengeraskan suaranya lebih jauh, seolah ingin memastikan Kirana mendengar setiap kata yang mereka ucapkan.
"Coba aja kalau bukan karena deket sama dosennya, mana mungkin nilai kelompok itu bisa setinggi itu," kata seorang mahasiswa, tertawa kecil bersama teman temannya.
Kirana menahan diri untuk tidak bereaksi, meski dadanya terasa semakin sesak menahan emosi. Tapi sebelum dia sempat memutuskan harus bagaimana, pintu ruang seminar terbuka, dan Alden masuk untuk sesi pengecekan progress kelompok kelompok yang sedang bekerja di sana.
Suasana ruangan langsung berubah lebih tenang begitu melihat kehadiran dosen itu, tapi mahasiswa yang tadi berkomentar masih sempat berbisik bisik dengan nada mengejek, tidak sepenuhnya menyadari bahwa Alden sudah cukup dekat untuk mendengar sebagian dari percakapan mereka.
"Ada yang perlu saya klarifikasi?" Alden bertanya, suaranya tegas, matanya menatap langsung ke arah kelompok yang tadi berkomentar.
Ruangan hening seketika, mahasiswa yang tadi berbicara terlihat gugup, tidak menyangka akan tertangkap basah oleh dosen yang justru menjadi topik pembicaraan mereka.
"Nggak, Pak, kami cuma ngobrol biasa," salah satu dari mereka menjawab, suaranya sedikit gemetar.
"Saya dengar cukup jelas apa yang kalian obrolkan," Alden melanjutkan, nadanya semakin tegas. "Tuduhan tentang nilai yang didapat karena kedekatan personal itu serius. Kalau kalian punya bukti konkret, silakan laporkan resmi ke kaprodi, bukan cuma jadi bahan gosip di ruangan umum seperti ini."
Kelompok itu terdiam, tidak ada yang berani membalas lebih jauh menghadapi ketegasan Alden yang tiba tiba muncul di depan mereka.
"Penilaian saya selalu berdasarkan kualitas kerja, bukan hubungan personal," lanjut Alden, suaranya cukup keras hingga terdengar oleh hampir seluruh ruangan. "Kalau ada yang meragukan objektivitas saya sebagai dosen, silakan ajukan komplain resmi. Tapi menyebar tuduhan tanpa dasar seperti ini cuma merusak reputasi orang lain tanpa alasan yang jelas."
Kirana menatap dari kejauhan, terkejut sekaligus terharu melihat Alden membela dirinya secara terbuka seperti itu, meski dia tahu tindakan ini juga membawa risiko besar bagi Alden sendiri, mengingat situasi mereka yang sedang menjadi sorotan.
"Maaf, Pak, kami cuma bercanda," salah satu mahasiswa lain mencoba meredakan situasi, terlihat menyesal.
"Bercandaan yang bisa merusak reputasi orang lain bukan lagi sekadar bercanda," Alden menjawab tegas, sebelum akhirnya mengalihkan perhatiannya ke kelompok kelompok lain untuk melanjutkan sesi pengecekan progress seperti biasa.
Suasana ruangan tetap hening beberapa saat, mahasiswa yang tadi berkomentar terlihat malu dan enggan melanjutkan obrolan mereka lebih jauh. Nadia menepuk bahu Kirana pelan, mencoba memberikan dukungan diam.
"Untung Pak Alden dateng pas waktu yang tepat," bisik Nadia, tersenyum kecil.
"Iya," Kirana mengangguk, meski hatinya masih dipenuhi berbagai perasaan yang sulit dia urai, antara rasa terharu, khawatir, dan sedikit rasa bersalah karena tindakan Alden tadi bisa jadi semakin memperkuat kecurigaan orang lain tentang kedekatan mereka.
Alden mendekati kelompok Kirana untuk mengecek progress mereka seperti biasa, wajahnya kembali ke ekspresi profesional yang tenang, seolah tidak ada yang terjadi beberapa menit sebelumnya.
"Gimana progress laporan akhirnya?" tanyanya, duduk sejenak di kursi kosong dekat meja mereka.
"Udah hampir selesai, Pak, tinggal finalisasi bagian kesimpulan," jawab Kirana, mencoba menjaga suaranya tetap tenang meski jantungnya masih berdebar kencang dari kejadian tadi.
Alden mengecek beberapa bagian laporan dengan cepat, memberikan sedikit masukan sebelum akhirnya berdiri untuk melanjutkan pengecekan ke kelompok lain. Tapi sebelum benar benar beranjak, dia sempat melirik Kirana sekilas, matanya menyimpan sesuatu yang sulit diartikan, campuran antara kekhawatiran dan ketegasan yang baru saja dia tunjukkan.
"Lanjutkan kerja bagus kalian," katanya, lalu berjalan menjauh menuju kelompok lain di sisi ruangan.
Begitu Alden cukup jauh, Bagas yang duduk di sebelah Kirana berbisik, "Kir, tadi itu keren banget sih Pak Alden bela kamu di depan semua orang."
"Iya, tapi aku juga khawatir, Gas," Kirana menjawab pelan, meremas ujung bajunya.
"Kalau ini malah bikin orang makin curiga gimana?"
"Mungkin aja," Bagas mengangguk, mempertimbangkan kekhawatiran itu. "Tapi setidaknya sekarang orang orang tau, kalau ada yang nuduh sembarangan, mereka bakal berurusan langsung sama Pak Alden."
Sepulang dari sesi diskusi itu, Kirana berjalan bersama Tesa menuju gerbang kampus, menceritakan detail kejadian yang baru saja terjadi di ruang seminar.
"Kir, itu serius Pak Alden bela kamu di depan orang orang?" Tesa terkejut mendengar cerita itu, matanya membelalak.
"Iya, Tes. Aku juga nggak nyangka bakal setegas itu," Kirana mengangguk, masih merasakan campuran emosi dari kejadian tadi.
"Wah, ini sih udah kayak adegan drama beneran," Tesa tersenyum lebar, meski nada suaranya juga menunjukkan sedikit kekhawatiran. "Tapi Kir, kamu bener, ini bisa jadi bumerang juga. Orang orang bisa makin curiga kenapa dia sampe bela kamu segitunya."
"Aku juga mikirin itu, Tes," Kirana menghela napas panjang. "Tapi entah kenapa, di saat yang sama aku juga ngerasa... terharu banget liat dia berani ambil risiko kayak gitu buat aku."
Tesa menatap sahabatnya dengan senyum lembut. "Itu tandanya dia beneran serius sama perasaannya ke kamu, Kir. Nggak banyak orang yang berani ambil risiko sebesar itu kalau nggak beneran peduli."
Kirana tersenyum kecil, meski hatinya masih dipenuhi berbagai kekhawatiran tentang konsekuensi yang mungkin timbul dari tindakan Alden tadi. Di tengah semua ketidakpastian yang mereka hadapi, ada satu hal yang semakin jelas baginya, keyakinan bahwa perasaan Alden padanya bukan lagi sekadar dugaan atau harapan semata, melainkan kenyataan yang baru saja dia buktikan sendiri di depan mata banyak orang, meski dengan risiko yang begitu besar bagi dirinya sendiri.
Sepanjang perjalanan pulang, pikiran Kirana masih dipenuhi kejadian hari itu, sekaligus pesan dari Sarah yang masih belum dia balas dengan pasti. Dua hal besar yang harus dia hadapi bersamaan, kepercayaan dan pembelaan yang baru saja Alden tunjukkan, serta ketidakpastian tentang apa yang sebenarnya diinginkan Sarah dari pertemuan yang dia tawarkan. Malam itu, dia tahu, keputusan yang akan dia ambil selanjutnya bisa jadi akan menentukan arah hubungan rumit ini ke depannya.