(Novel Kedua = KOS-an BERHANTU)
Bagas melompat senang karena berhasil mendapatkan pekerjaan sebagai staff accounting di salah satu pabrik gula sesuai dengan cita-citanya. Meski lokasinya berada di pedesaan, tidak menyurutkan semangatnya sama sekali. Sebenarnya, Bagas mendapat fasilitas tempat tinggal atau mess namun sengaja ia tolak. Bagas lebih memilih tinggal di kost atau kontrakan karena menurutnya, lebih nyaman dan bebas. Sungguh keputusan yang akan ia sesali seumur hidup. Sebab inilah awal mula dari serentetan pengalaman mistis di luar nalar yang menimpanya hingga meninggalkan trauma berkepanjangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon siyuk sie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21 - Muntah Sejadi-Jadinya
Andre, Bagas dan Bian terlihat syok saat sampai di kontrakan. Mereka segera mengambil air putih di dapur untuk diminum dengan harapan kondisinya akan segera membaik.
"Tenang mas!"
"Syok pak ustad, apa maksud dari semua ini?"
"Begini mas Juan, kalau mas Juan masih ingat, bukankah di teras masjid tadi, sudah saya katakan bahwa pak karyo dan keluarganya ini terasa asing bagi saya."
"Iya pak, saya ingat."
"Nah, saat itu saya mencurigai keganjilan ini. Sejujurnya, saya sudah bisa menebak bahwa pak Karyo dan keluarganya bukanlah manusia. Maka dari itu, saya minta kalian untuk mengantarkan saya ke rumahnya. Sekedar membuktikan bahwa kecurigaan saya ini benar. Sekaligus memutus rantai tipu muslihat mereka, menyadarkan kalian."
"Kok nasib saya ini persis seperti Bian dan Lastri ya?"
"Beda Wan," sergah Bagas.
"Ini lebih parah lagi. Lastri cuma nampakin diri ke Bian saja dan cuma dia seorang. Sedangkan ini satu keluarga loh, entah keluarga beneran atau keluarga settingan dan mereka niatnya jelas, ingin menjodohkanmu dengan Marni," imbuh Bagas.
"Iya Wan serem banget," sahut Andre.
"Pak ustad, misalkan fakta ini tidak terbongkar untuk waktu yang lama, Bagaimana nasib saya?"
"Saya rasa, kalian akan kian masuk ke dalam tipu muslihat mereka."
"Parah banget nih, kita bertiga dijadikan sasaran semua dan semuanya tepat sasaran, gila!" gerutu Andre.
"Tapi aneh juga ya pak ustad, mereka kan posisinya di luar rumah kontrakan tapi kok ikut mengganggu juga?"
"Hal itu sudah biasa mas Juan. Selain karena mereka suka usil, aura kalian sudah terlihat beda, beragam ketakutan sudah banyak yang bersarang di tubuh kalian dan ketakutan-ketakutan itu yang mereka sukai."
"Sialan memang!"
"Lalu, untuk makanan yang sering keluarga pak Karyo berikan itu gimana pak ustad? Maksud saya, apakah itu beneran makanan manusia ataukah tipu muslihat juga?"
"Hemm... yang saya khawatirkan, itu juga sekedar tipu muslihat mas Bagas. Dulu pernah ada orang yang disasarkan hingga masuk ke alam lain, alam para lelembut gitu. Di sana, dia disambut baik dan dijamu dengan beragam makanan lezat namun saat sadar pada keesokan harinya, makanan-makanan sisa yang belum sempat mereka makan itu berubah menjadi bangkai tikus, bangkai ular bahkan bangkai kera."
Seketika itu juga Andre, Bagas dan Juan muntah sejadi-jadinya hingga tubuh mereka terasa begitu lemas. Ustad Fahri sampai harus turun tangan, membuatkan mereka bertiga teh hangat manis.
"Minum ini dulu mas biar mualnya hilang!"
Andre, Bagas dan Juan menenggak teh hangat buatan ustad Fahri dengan perlahan.
"Mengejutkan memang tapi ini jauh lebih baik karena sudah ketahuan, daripada nanti-nanti, pasti lebih parah dari ini."
Andre, Bagas dan Juan mengangguk bergantian.
Di antara mereka bertiga, Juan yang mendapat dampak paling parah. Syok berat yang ia alami menyebabkan tubuhnya tumbang. Ia mengalami demam beberapa hari sebelum akhirnya, Andre dan Bagas membawanya ke IGD Rumah Sakit. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa Juan menderita sakit tipes dan harus menjalani rawat inap di Rumah Sakit.
"Gak apa-apa ya Wan, opname di sini dulu!"
"Iya Gas yang penting aku sembuh. Badanku rasanya remuk."
"Memang kejadian mistis bisa menguras energi. Beberapa kali aku dengar, kalau habis lihat penampakan makhluk halus, energi manusia dan makhluk halus itu saling serap. Seringkali kalau manusianya yang kalah, bakalan sakit kayak gini."
"Lah, kalau misal yang kalah setannya gimana Ndre?"
"Itu yang belum aku tahu Gas."
"Wah informasimu gak valid."
"Coba tanya Bian aja, dia kan sudah berteman dengan makhluk-makhluk seperti itu!"
"Hemm...."
Andre dan Bagas membantu mengurus segala administrasinya hingga menunggui Juan di Rumah Sakit sampai kekasihnya Ratna datang menjenguk di hari berikutnya.
"Ndre, Gas, makasih banyak ya sudah repot-repot ngurusin Juan!"
"Ratna gak perlu sungkan! kami bertiga memang tinggal di rumah kontrakan yang sama, sudah pasti harus saling membantu," jawab Bagas.
"Karena kamu sudah di sini, aku dan Bagas pamit berangkat kerja dulu ya!"
"Iya Ndre terima kasih."
"Wan, kita kerja dulu ya!"
"Iya Ndre."
Andre dan Bagas pun berlalu menuju pabrik untuk bekerja.
*****
"Loh, Juan kemana ini kok gak kelihatan?" tanya pak Harun saat istirahat makan siang.
"Juan opname pak, sakit tipes," jawab Bagas.
"Wah, kecapekan kayaknya dia."
"Bukan pak! bukan karena kecapekan tapi karena habis digangguin makhluk astral."
"Loh, jin-jin di kontrakan kalian itu?"
"Rasanya bukan deh pak."
"Gimana maksudnya?"
Bagas menatap Andre sesaat sebelum menghela napas panjang lalu mulai bercerita panjang lebar.
"Parah juga ya gangguannya kali ini?"
"Itu dia pak, tambah nekat saja. Kami sudah berusaha bertahan tapi kok mereka tetap tidak mau menyerah."
"Tapi, kondisi rumah kontrakan sudah aman gitu."
"Iya, sejak Bian pindah jadi aman terkendali. Kami sempet seneng tuh pak. Lah ternyata malah datang gangguan dari luar rumah."
"Hemm.... susah juga kalau begini."
Pak Harun mengembuskan napas dalam seraya menyurut kopi susu dari gelasnya.
*****
Malam harinya, Ratna mengirimkan pesan singkat kepada Bagas dan Andre agar mereka tidak perlu berjaga di Rumah Sakit karena malam itu, dia yang akan menjaga Juan, Bagas meng-iyakan.
"Malam ini kita di rumah saja Ndre!"
"Iya, ini tadi Ratna juga udah WA aku kok."
"Ya sudah, cari makan dulu yuk Ndre!"
"Ayo! sate ayam enak kayaknya."
"Boleh."
Andre dan Bagas lekas melaju menuju penjual sate ayam terdekat dan lekas memesan dua porsi untuk mereka.
"Makan di sini saja ya Gas!"
"Oke."
"Makam di sini dua ya pak!"
"Iya mas."
Setelah menunggu beberapa saat, pesanan mereka siap. Andre dan Bagas tampak menikmatinya dengan lahap.
"Pak beli satenya lima porsi ya! ini uangnya, saya tinggal dulu, nanti saya ambil lagi!" pinta salah seorang pembeli perempuan.
"Iya mbak."
Entah kenapa suara perempuan itu terdengar tidak asing dan lekas menarik perhatian Andre dan Bagas yang langsung mengarahkan pandangannya ke pembeli tersebut.
"Astaghfirulloh!"
Andre dan Bagas terjingkat seketika sebab pembeli perempuan itu memiliki wajah yang sama persis seperti Marni.
"Ndre.."
"Aku tahu Gas."
Perempuan itu terus melangkah pergi melewati Andre dan Bagas yang tengah tertegun melihatnya. Andre dan Bagas terus saja mengamati perempuan tadi hingga benar-benar menghilang dari pandangan.
"Itu tadi apa Ndre..?"
"Marni.."
"Ayo cepet habisin Ndre, kita pulang langsung habis ini!"
"Iya."
Rasa takut menyergap cepat. Meski begitu, di dalam hati mereka masih ada keraguan perihal kebenaran sosok Marni ataukah hanya manusia yang memiliki wajah yang persis seperti Marni. Usai makan, Andre dan Bagas lekas melajukan motornya untuk kembali ke rumah kontrakan.
😫 BAB 21 SELESAI 😫
mampir kak..